
"Kakak jadi setelah turun dari puncak Feng Huang San ( Puncak Burung Phoenix )."
"Kakak langsung bergabung dengan kelompok laskar pembela rakyat kecil, di bawah Jendral Zhu Yuan Zhang.?"
tanya Nan Thian yang terlihat bersemangat, mendengar cerita patriotik kakaknya.
Di mana kakaknya mengambil jejak patriotik kakeknya jendral Yue Fei, yang namanya telah melegenda dan mengguncang seluruh tanah air daratan tengah.
Yue Lin tersenyum dan berkata,
"Tidak adik ku, awalnya aku selalu turun tangan seorang diri, menghajar para pejabat Mongolia dan pasukannya, yang menindas rakyat Han kita."
"Saat nama ku mulai terkenal, semakin banyak pemuda yang ikut bergabung dengan ku, untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintahan penjajah penindas rakyat kecil.."
"Dalam pergerakan kami, suatu hari kami tanpa sengaja saat kami menyerang perkemahan pasukan Yuan, kami berhasil menolong sejumlah tahanan.."
"Diantaranya ternyata ada pimpinan kelompok pemberontak terkemuka, kelompok bendera merah Guo Zhi Sing.."
"Guo Zhi Sing yang merupakan bagian dari Ming Ciau (Aliran Partai Terang ), lalu dia menawari kami untuk bergabung dengan pergerakan nya melawan dinasti Yuan."
"Karena memilki tujuan yang sama, aku pun menerima baik tawaran nya.."
"Ikut bergabung di kelompoknya, di sana aku baru bertemu dengan menantunya Jendral Guo Zhi Sing, yang bernama Zhu Yuan Zhang."
"Karena merasa cocok dan akrab, aku pun akhirnya mengabdi padanya, kakak ipar mu pun putri dari beliau.."
ucap Yue Lin sambil tersenyum malu.
"Ohh jadi kakak sudah menikah sekarang ? bagaimana dengan nasib Kui Mei ? bukankah kakak dulu sangat menyukainya..?"
tanya Nan Thian sambil menatap kakaknya.
Yue Lin tersenyum dan berkata,
"Kakak ipar mu itu, ya Kui Mei itu.."
"Setelah kasus kejadian mu itu, 1 tahun kemudian, kakak ipar mu ikut pergi meninggalkan Xu San."
"Di kemudian hari aku baru kembali bertemu dengan nya di markas besar ayah mertua ku Zhu Yuan Zhang.."
"Ternyata Kui Mei aslinya bernama Zhu Ying Mei, dia adalah putri kandung Zhu Yuan Zhang dengan nyonya Ma, Cucu luar dari Guo Zhi Sing.."
"Sewaktu kecil kakak ipar mu terpisah dari ayah ibunya, saat ayah ibunya sedang terkepung dan bertempur melawan pasukan Mongolia."
"Kemudian dia di selamatkan ayah di bawa ke Xu San."
"Setelah meninggalkan Xu San, dia pergi ke wilayah selatan, secara tidak sengaja berjumpa dengan orang tuanya dalam perantauannya.."
"Begitulah ceritanya adik ku.."
ucap Yue Lin sambil tersenyum.
"Lalu kakak ipar kenapa tidak ikut kemari..?"
tanya Nan Thian lagi.
"Aku takut dia kembali menyukai mu.."
ucap Yue Lin sambil tersenyum menggoda adiknya.
"Kakak ini bicara apa ? kami waktu itu masih kecil, kami hanya.."
ucap Nan Thian berusaha menjelaskan dengan gugup.
"Ha..ha..ha..lihat kamu ini tetap tidak berubah, kakak hanya menggoda mu saja.."
"Tak perlu seserius itu.."
ucap Yue Lin sambil tertawa lebar.
Setelah itu dia baru berkata,
"Kakak ipar mu sedang ada anak kecil, jadi dia tidak praktis untuk ikut."
"Lagipula dia memang tidak tahu aku kemari menemui mu.."
"Aku waktu itu ada di wilayah Shan Xi, aku termakan jebakan pangeran Kubilai Khan, putranya pangeran Tolui.."
"Seluruh pasukan ku musnah, saat aku hampir ikut musnah, sahabat mu Nona Kim Kim tiba tiba datang menolong ku.."
"Setelah berkenalan, dia membawa ku kembali ke Xu San, lalu membawa aku dan kedua orang tua kita kemari untuk menemui mu."
ucap Yue Lin memberi penjelasan sambil tersenyum.
Nan Thian hanya tersenyum malu, dia tidak marah dengan candaan kakaknya.
Karena kakak nya ini memang pandai bicara, suka bercanda, lebih terbuka, tidak seperti dirinya yang tertutup dan tidak pandai bicara.
Dia tidak heran, justru sikap Nan Thian yang seperti ini yang disukainya.
Menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
Untuk mengurangi kecanggungan kakak tampan nya, Zi Zi pun akhirnya ikut bersuara,
"Selamat ya kakak Yue dan Kakak ipar Zhu, kini sudah d karuniai anak.."
"Kalau boleh tahu keponakan kami itu putra atau putri..?"
tanya Zi Zi sambil tersenyum.
"Ohh itu, kami di karuniai seorang putri yang cantik sama seperti ibunya ."
jawab Yue Lin sambil tersenyum bangga.
"Selamat ya kak.."
sambung Nan Thian ikutan gembira.
"Ya, kamu kini sudah jadi paman orang, jadi cepatlah jangan tunda tunda lagi, segera susul kakak.."
"Setelah urusan pernikahan kalian di bicarakan oleh ayah ibu di sana.."
ucap Yue Lin sambil tersenyum gembira.
Zi Zi langsung tertunduk malu dengan wajah merah padam, sedangkan Nan Thian terlihat tersenyum canggung, tidak tahu mau jawab apa.
Hati kecilnya berbisik padanya, semua tidak semudah yang terlihat.
Dia selalu merasa hubungan nya dengan Zi Zi tidak akan berjalan semudah itu.
Mungkin ini sudah merupakan suratan takdir asmaranya batin Nan Thian.
Tapi di sisi lain hatinya juga berpikir mungkin semua ini hanya kekhawatirannya yang berlebihan saja.
Kembali ketempat pertemuan Yue Feng, Hong Yi, Fei Yang Xue Lian dan Fei Hsia.
Setelah mendengarkan cerita Fei Yang dan Xue Lian hingga selesai.
Suasana di tempat itu menjadi sedikit berduka, atas nasib yang menimpa Xue Lian.
Sesaat kemudian Yue Feng pun berkata,
"Semua kesuraman yang telah berlalu biarlah berlalu, setidaknya kini semuanya mulai ada titik terang.."
"Aku yakin bibi Xue Lian pasti akan segera pulih kembali.."
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Kamu benar kakak Feng, kondisinya memang sudah banyak perubahannya.."
"Kini dia pun sedikit demi sedikit mulai bisa berjalan dengan pelan."
ucap Fei Yang bersemangat.
Xue Lian sambil tersenyum berkata,
"Semua ini masih harus berterimakasih pada Fei Hsia yang terus tanpa lelah membantu dan menyemangati ku, belajar berjalan, juga Nan Thian yang pagi siang malam, selalu membantu menyalurkan hawa api dan es surgawi nya, untuk membantu pemulihan kondisi sepasang kaki ku ini."
Hong Yi mengangguk dan berkata,
"Itu sudah sewajarnya bagi Nan Thian melakukan hal itu.."
"Ohh ya Paman guru Yang, saya melihat kedekatan putra ku Nan Thian yang tak berguna itu, dengan putri paman guru.."
"Sepertinya mereka sangat cocok, terus terang saja aku juga sangat menyukai Zi Zi.."
"Bagaimana bila kita bantu ikatkan mereka dalam tali pernikahan saja.."
"Maaf bila permintaan ku ini agak sedikit kurang pantas, di saat seperti ini.."
"Tapi demi kebahagiaan anak anak, aku tidak bisa berpikir terlalu banyak.."
ucap Hong Yi sambil tersenyum.
Dia menatap kearah Fei Yang Xue Lian dan Fei Hsia selaku guru Zi Zi dengan penuh harap.
Fei Yang saling pandang sejenak dengan istrinya, mereka berdua terlihat bingung dan agak kesulitan berbicara.
Tapi sesaat kemudian, Xue Lian pun berkata pelan,
"Kakak Yang, semua terserah pada mu, aku sebagai ibunya hanya bisa ikut saja.."
"Apapun keputusan mu aku akan mendukungnya.."