PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
ORANG TUA XUE LIAN


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Sebentar aku ambilkan dulu pakaian mu yang berserakan di lantai.."


Fei Yang menciumi kening Xue Lian dengan lembut.


Lalu dia keluar dari balik kelambu tipis, turun dari kasur mengumpulkan satu persatu pakaian Xue Lian.


"Sayang ini pakaian mu.."


ucap Fei Yang menaruh semua pakaian Xue Lian di atas kasur.


Setelah itu dia baru mengurus pakaiannya sendiri yang juga berserakan di atas lantai.


Setelah berpakaian, Fei Yang menunggu di depan pondok dengan santai.


Fei Yang sambil melamun tersenyum bahagia seorang diri.


Dia benar-benar tidak menyangka, nenek nenek genit itu, ternyata adalah gadis yang sangat dia cintai dan rindukan selama ini.


"Lao Thian kamu benar-benar pintar mempermainkan ku, tapi aku tetap akan mengucapkan terima kasih pada mu.."


gumam Fei Yang sambil menatap langit biru dan awan berarak di atas sana.


"Hayo lagi ngelamunin siapa ? yang di Xi Xia atau yang di Song ?"


tanya Xue Lian sambil melingkarkan kedua tangannya di depan leher Fei Yang dan menempelkan dagunya yang runcing di bahu Fei Yang.


"Ehh kamu sudah siap,.."


"Ayo,.."


ucap Fei Yang bangun berdiri sambil menggendong Xue Lian di punggungnya.


Xue Lian sambil tertawa gembira nemplok di punggung Fei Yang berkata,


"Lihat kamu semakin pandai menyenangkan hati wanita, pasti belajar dari mereka ya..?"


"Sudah berapa kali kamu melakukan hal ini kepada mereka..? hayo jawab dengan jujur..?"


ucap Xue Lian sambil menahan senyum dan mengeratkan pelukannya.


Fei Yang sambil tersenyum menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku akan menjawabnya, tapi setidaknya beri aku kesempatan menjawabnya satu persatu..'


"Bila seperti ini, gimana aku menjawabnya.."


"Jawab saja, awas kalau berani macam-macam aku akan mencekik leher mu.."


ancam Xue Lian sambil menahan tawa.


"Baik baik, tuan putri aku akan jawab semua nya, daripada nanti Lao Lao jadi janda muda ."


ucap Fei Yang setengah menyindir, setengah menggoda Xue Lian.


Xue Lian pun jadi tertawa, mendengar ucapan Fei Yang, dengan gemas dia mendaratkan ciuman nya di leher Fei Yang.


Hingga membentuk tanda merah di sana, Fei Yang tidak menolaknya dia malah tersenyum bahagia.


Sambil melangkah meninggalkan pondok Fei Yang berkata,


"Pertama aku tidak pernah ngelamunin siapa pun, selain gadis cantik yang pernah menyelamatkan dan menampung ku disini.."


"Kedua aku jujur katakan pada mu, aku memang pernah gendong mereka, tapi itu karena situasi saat itu."


"Aku lupa berapa kalinya, karena aku tidak mau mengingatnya."


"Tapi saat ini dan selanjutnya, asalkan kamu tidak berkeberatan, aku hanya akan menggendong mu seorang seumur hidup ku ."


"Bagaimana puas..?"


Xue Lian tertawa gembira, dia tidak menjawabnya dengan kata-kata, melainkan memberikan sebuah ciuman lembut di pipi Fei Yang, mewakili isi hatinya.


Fei Yang pun tersenyum gembira dan membalas mencium pipi Xue Lian, sambil melanjutkan langkahnya.


"Kakak Yang semakin hapal ya, dengan seluk beluk hutan ini.."


tanya Xue Lian.


Fei Yang sambil tersenyum berkata,


"Aku pernah pulang kemari mencari mu dan menghabiskan beberapa waktu disini.."


"Hanya saja waktu itu mungkin kita belum berjodoh, aku belum berhasil menemukan mu.."


"Kakak tua mu tahu hal itu, Saga Sagi juga bisa jadi saksi ."


"Saat itu aku juga sedang sibuk membina beberapa pelayan ku dan sedang membentuk Mo Ciao di Hoa San."


"Aku berencana menggunakan Mo Ciao untuk menarik perhatian mu datang kesana menemui ku.."


ucap Xue Lian sambil tertawa.


"Kamu ingin aku menemui mu, mengapa kamu malah terus menyamar jadi Lao Lao..?"


tanya Fei Yang heran.


"Ohh itu, itu saran dari ibu ku.."


"Ibu ku pernah bilang seorang gadis berpetualang di dunia persilatan yang penuh bahaya.."


"Lebih aman menyamar jadi nenek tua ataupun wanita jelek, hal itu akan memudahkan kita melihat jelas hati manusia.."


ucap Xue Lian menjelaskan alasannya.


Fei Yang mengangguk setuju dengan pendapat tersebut.


Tanpa terasa mereka berdua telah tiba di tepi kolam tempat mereka berdua pertama kali bertemu dulu.


Fei Yang mencari tempat rindang menurunkan Xue Lian dan berkata,


"Sayang kamu tunggu sebentar, aku akan mengambil barang nya.."


"Di sini lebih sejuk, aku pergi sebentar, setelah itu kita baru main air.."


ucap Fei Yang sambil tersenyum penuh arti.


Xue Lian menutupi mulutnya menahan tawa dan berkata,


"Pergi sana cepat dasar genit.."


Fei Yang sambil tersenyum melakukan gerakan ingin mencium Xue Lian.


Tapi Xue Lian bergerak mundur sambil menahan dada Fei Yang dengan tangan nya, dia berkata sambil menahan senyum.


"Udah pergi sana,.. nanti semakin panas cuacanya.."


Fei Yang sambil tertawa membalikkan badannya dengan cepat dia sudah melayang kearah tepi kolam di mana dia mengubur kedua benda itu


Tidak lama kemudian Fei Yang sudah mengeluarkan dua benda kesayangannya, yang masih terbungkus rapi di dalam gulungan kain sutra kuning, yang biasanya di gunakan untuk menulis surat titah raja..


Fei Yang menyimpan kedua benda itu kembali kedalam cincinnya, kain kuning nya Fei Yang bakar karena sudah kotor oleh tanah.


Fei Yang juga mengeluarkan tiga benda dari cincinnya, untuk di simpan di saku bajunya.


Setelah itu dia kembali ketempat Xue Lian sedang duduk santai menunggunya.


Sesaat kemudian terlihat Fei Yang dan Xue Lian sudah berendam di bawah guyuran air terjun kecil.


Di bagian yang tidak terkena sinar matahari, karena tertutup oleh batu tebing dan pohon bambu yang tumbuh di atasnya.


Tempat itu sangat teduh dan cocok di gunakan untuk berendam dan mendapatkan guyuran air terjun kecil yang tidak pernah berhenti mengalir.


Fei Yang dan Xue Lian larut dalam kemesraan mereka, tidak ada yang mereka perbincangkan, selain berpelukan dan berciuman mesra.


Setelah puas mereguk kenikmatan kemesraan suami istri dengan bebas di alam terbuka, dengan tubuh tertutup air kolam yang bening.


Fei Yang terlihat merangkul mesra Xue Lian dari belakang, sedangkan Xue Lian menyandarkan kepalanya di dada Fei Yang.


"Sayang dalam petualangan ku, aku sempat bertemu kedua orang tua mu.."


ucap Fei Yang pelan.


Xue Lian buru-buru memutar badannya dan berkata,


"Kakak Yang serius, mereka ada di mana sekarang..?"


Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,


"Mereka berdua ada di hutan bambu kuning, sebelah timur kota Tai Yuan.."


"Ayo kak kita bersiap siap,..aku ingin pergi kesana menemui mereka.."


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak bisa sayang, ayah mu berpesan agar aku menjaga mu, dan aku dilarang membawa mu kesana.."


"Mengapa kak ?"


tanya Xue Lian dengan wajah sedih, seperti ingin menangis.