PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MASALAH BARU


Tabib Hua menggelengkan kepalanya dan berkata pelan,


"Nak Fei Yang, keponakan mu itu sungguh luar biasa, kelihatannya kelak prestasinya bisa melampaui mu.."


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Tak perlu nanti, saat inipun dia sudah melampaui aku.."


"Mungkin bila kami suami istri bergabung kami masih punya peluang mengimbanginya.."


"Tapi kini mustahil kami bisa bergabung."


"Setelah ini, bila istri ku bisa berbicara dan bergerak secara normal, layaknya orang awam, aku sudah sangat bersyukur.."


ucap Fei Yang sambil menatap kearah istrinya dengan senyum penuh kebahagiaan.


Tabib Hua, boleh saya bantu pindahkan istri ku tidur di kasur sana.?"


tanya Fei Yang sambil menoleh kearah tabib Hua.


"Sebaiknya biarkan saja begitu, posisi itu adalah posisi terbaik, untuk sirkulasi peredaran darahnya agar lebih lancar."


ucap Tabib Hua sambil membereskan peralatan medisnya di bantu cucunya Hua Lung.


Fei Yang mengangguk pelan, lalu dia ikut duduk bersila di hadapan istrinya.


Fei Yang terus menatap wajah istrinya dengan mesra.


Wajah Fei Yang terlihat sangat lega dan bahagia.


Karena lelah lahir batin, Fei Yang tanpa sadar pun ikut tertidur dalam posisi bersila di hadapan istrinya.


Fei Hsia dan anak anak yang menunggu di depan pondok saat melihat tabib Hua dan cucunya, berjalan keluar dari dalam pondok.


Mereka langsung berdiri menghampiri tabib Hua,


"Tabib bagaimana keadaan Kakak Lian,..?"


tanya Fei Hsia penuh perhatian.


"Pengobatan berjalan cukup lancar, dia kini sedang tertidur pulas.."


"Seharusnya tidak ada masalah.."


"Nanti bila sudah bangun dari tidurnya, aku baru akan melakukan pemeriksaan ulang.."


ucap tabib Hua sambil tersenyum lega.


"Terimakasih banyak tabib Hua."


"Tabib saya sudah menyiapkan beberapa masakan sederhana di pondok tabib Hua.."


"Tabib silahkan menikmati sedikit ucapan terimakasih dari kami.."


ucap Fei Hsia dengan penuh hormat.


"Ha..ha..ha..! benarkah, kelihatannya selera makan ku benar benar sedang beruntung.."


"Terimakasih nona, kalau begitu aku permisi dulu.."


ucap Tabib Hua bersemangat berjalan menuju pondoknya.


Setelah tabib Hua pergi, Fei Hsia dan anak anak baru masuk kedalam pondok.


Tapi saat tiba di depan kamar, melihat Fei Yang dan Xue Lian tertidur pulas dalam posisi bersila.


Fei Hsia segera memberi kode ke anak anak agar tidak berisik, dan segera pergi dari sana.


Fei Hsia sendiri membantu menutup rapat pintu kamar tersebut.


Menjelang pintu tertutup rapat, Fei Hsia menatap Fei Yang dengan kagum.


Lalu sambil menghela nafas pelan, dia menutup pintu itu hingga rapat.


Setelah itu dia baru menyusul anak anak meninggalkan pondok.


Fei Hsia mengajak anak anak untuk pergi kelokasi pondoknya yang baru mulai di bangun oleh Fei Yang.


Tapi saat mereka tiba di sana, mereka melihat Nan Thian sudah hadir duluan di sana.


Nan Thian di bantu Kim Kim terlihat sedang melanjutkan pekerjaan Fei Yang yang baru berjalan 1/4 nya.


Zi Zi dengan gembira langsung menghampiri Nan Thian dan berkata,


"Kakak tampan apa yang bisa Zi Zi bantu..?"


Nan Thian yang terlihat sedang memasang tiang pondasi pondok berhenti sebentar menoleh kearah Zi Zi dan berkata,


"Di sana ada akar rotan, bibi kecil bisa bantu pilin jadi tali kecil dan kuat.."


"Aku memerlukannya untuk pengikat sambungan tiang tiang penyangga pondok."


Fei Hsia dan kedua kembar menyusul ketempat Zi Zi mereka duduk di sana membantu Zi Zi memilin tali akar rotan.


Sementara mereka sedang bekerja sama, bahu membahu, dengan gembira, membantu mendirikan pondok untuk tempat tinggal Zi Zi dan Fei Hsia.


Di dalam pondok sendiri, setelah beberapa waktu berlalu, Xue Lian akhirnya terbangun dari tidur pulas nya.


Saat sepasang matanya terbuka, melihat suami tercintanya dengan setia duduk tertidur di sana menungguinya.


Xue Lian sangat bahagia dan terharu, hingga tidak bisa menahan sepasang matanya yang indah untuk kembali basah.


Air bening seperti kaca mengembang di sana tanpa bisa dia cegah.


Xue Lian mengulurkan tangannya dengan lembut menyentuh wajah suaminya dari berkata pelan,


"Terimakasih suami ku, maafkan aku sayang."


"Maafkan aku yang selama ini, tidak bisa menjalankan kewajiban ku, sebagai seorang istri, juga sebagai seorang ibu, yang baik bagi mu juga bagi anak anak kita.."


Fei Yang yang merasa ada yang menyentuh wajahnya, juga ada yang sedang berbicara dengannya.


Dia pun langsung membuka matanya.


Saat melihat siapa yang sedang tersenyum bahagia, dengan sepasang mata basah, tangan terulur menyentuh lembut wajahnya.


Fei Yang dengan senyum penuh kebahagiaan membalas menggenggam tangan lembut itu.


"Istri ku,.."


hanya kata itu yang keluar dari mulut Fei Yang.


Dia sudah tidak bisa menahan diri untuk maju memeluk Xue Lian dengan lembut.


Xue Lian juga balas merangkul punggung Fei Yang dengan erat.


"Suamiku bisa kembali membalas memeluk mu, berbicara dengan mu, itu adalah anugrah kebahagiaan terbesar dalam hidup ku.."


ucap Xue Lian sambil menangis haru memeluk suaminya.


Fei Yang tidak sanggup berbicara, hanya mengangguk, dengan kepala sedikit menengadah keatas.


Mencegah airmata haru, bahagia dan gembira runtuh kebawah.


Beberapa saat mereka berdua berpelukan dalam hening.


Fei Yang akhirnya berkata,


"Sayang aku akan pergi memanggil tabib Hua untuk kemari memeriksa kondisi mu.."


"Tidak usah sayang, biar kita kesana mengunjunginya, sekaligus mengucapkan terimakasih pada nya.."


ucap Xue Lian sambil tersenyum lembut.


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Begitu juga boleh jadi kamu bisa menghirup udara segar di luar sana.."


Xue Lian mengangguk, lalu dia mencoba menggerakkan kakinya untuk bangun.


Tapi ekspresi wajah Xue Lian seketika berubah saat dia menyadari.


Sepasang kakinya meski bisa sedikit di gerakkan, tapi tidak punya kemampuan untuk berdiri.


Dengan kaget dia menatap suaminya dan berkata,


"Yang ke ke, kaki ku.. sepertinya lumpuh.."


"Bisa di gerakkan tapi tidak kuat untuk berdiri."


ucap Xue Lian sambil memijat mijat kedua pahanya sendiri.


Feri Yang dengan wajah cemas dan kaget, buru buru kembali berlutut di sisi istrinya.


Dia dengan cepat melakukan pemeriksaan, beberapa saat kemudian dia berkata,


"Sayang kamu tunggu sebentar, aku pergi cari tabib Hua kemari.."


Xue Lian sambil mengigit bibir bawahnya sendiri mengangguk cepat.


Dia masih terus memijat mijat kedua kakinya sendiri.


Fei Yang selesai berkata, sudah melesat keluar dari dalam pondok.


Di tempat lain sebuah pondok baru selesai di buat, terlihat Nan Thian, Kim Kim, Fei Hsia, Zi Zi , dan si kembar Fei Yung, Fei Lung.


Berdiri di depan pondok yang baru didirikan, mereka semua terlihat menatap kearah hasil karya, kerja keras mereka sambil tersenyum puas.


Bayangan Fei Yang yang melesat kearah pondok tabib Hua dengan sangat cepat.


Mengangetkan mereka semuanya.