
Kejadian yang terjadi begitu cepat, tentu saja sangat menarik perhatian orang orang dunia persilatan, yang berkumpul di sana.
Padahal semua yang hadir di sana tahu dengan jelas, keempat gadis itu memiliki kecepatan dan perubahan jurus yang sangat cepat dan tak terduga.
Tenaga dalam mereka berempat juga tidak bisa diremehkan.
Setidaknya tenaga dalam mereka, tidak di bawah pendekar kelas satu, setaraf ketua partai dunia persilatan.
Hal ini bisa di lihat, saat keempat gadis itu menghajar orang orang yang hendak memaksa masuk sebelumnya.
Dengan melakukan pengendalian pedang jarak jauh, dan mampu melepaskan energi pedang menyerang lawan dari jarak jauh.
Kemampuan seperti ini, tidak sembarang orang bisa memainkannya.
Bila orang tersebut tidak menguasai ilmu tenaga dalam yang cukup, ilmu seperti itu tidak mungkin bisa di gunakan.
Di samping itu semua yang hadir sebagian besar juga mengenali beberapa orang yang di hajar keempat gadis itu juga bukan orang sembarangan.
Mereka adalah jagoan dunia persilatan yang cukup ternama.
Seperti He Nan San Koai ( tiga siluman He Nan)
Si tangan geledek (Pi Lik Sou) dan Pedang tanpa bayangan ( Wu Ying Cien).
Tapi yang lebih mengejutkan mereka saat ini adalah, pemuda tampan yang tidak mereka kenal, yang datang bersama wakil ketua Kai Pang Siaw Hong.
Dengan mudahnya pemuda itu, tidak sampai satu gebrakan, juga tidak tahu apa yang dia lakukan, tahu tahu kempot gadis itu sudah di tahlukkan nya.
Fei Yang sendiri bersikap pura pura tidak tahu, akan kekagetan orang orang yang sedang berkumpul di sana.
Selesai memberi hormat Fei Yang langsung memutar badannya hendak meninggalkan tempat tersebut.
"Tuan muda,..! tunggu sebentar..!"
Teriak salah satu gadis baju putih yang menjadi juru bicara itu.
Fei Yang menghentikan langkahnya, lalu menoleh kebelakang dan berkata,
"Di antara kita tidak ada permusuhan."
"Bila ada sikap ku yang kurang berkenan di hati nona nona, saya minta maaf, apa begitu boleh ?"
ucap Fei Yang berusaha sebisa mungkin tidak membuat keributan tidak perlu.
"Tuan muda jangan salah paham, justru kami yang harus minta maaf.."
"Kami punya mata tapi tidak bisa melihat, ucapan wakil ketua Siaw tadi sangat tepat.."
"Untuk itu sekali lagi kami berempat meminta maaf, dan mengundang tuan muda, untuk mengunjungi lembah kebebasan bersama wakil ketua Siaw.."
ucap gadis itu sambil menatap Fei Yang dengan tatapan kagum dan penuh hormat.
Mendengar penjelasan gadis itu, Fei Yang pun tersenyum lebar dan berkata,
"Kalau meminta maaf itu tidak perlu, nona terlalu bersungkan.."
"Mengenai penawaran nona,..tentu saja dengan senang hati, Fei Yang akan menerimanya."
Gadis itu mengangguk pelan,.lalu sambil tersenyum manis di balik cadarnya, dia berkata,
"Nama ku Zhu Li tuan muda Yang,.. silahkan ikut dengan ku.."
"Biar Zhu Li yang mengantar Wakil ketua Siaw dan Tuan muda Yang kedalam.."
Fei Yang mengangguk gembira dan berkata,
"Nona Zhu terlalu sungkan, usia ku kini 25 tahun, terserah nona Zhu mau panggil aku kakak Yang boleh, adik Yang juga boleh, yang penting jangan panggil aku tuan muda.."
Zhu Li tertawa kecil di balik cadarnya dan berkata,
"Kalau begitu aku panggil kakak Yang saja.."
Fei Yang mengangguk, lalu dia dan Siaw Hong berjalan beriringan masuk kedalam lembah, mengikuti Zhu Li yang menjadi penunjuk jalan buat mereka.
Setelah masuk kedalam lembah, Fei Yang menemukan, ternyata lembah yang indah itu, hanya di isi gadis muda, tidak ada pria nya sama sekali.
Di dalam hati Fei Yang menebak, jangan jangan jati diri Pai Su Seng yang sebenarnya, adalah seorang wanita.
Siaw Hong dan Fei Yang diantar oleh Zhu Li menuju sebuah ruangan penerimaan tamu yang luas.
Di dalam ruangan tersebut belum ada yang hadir di sana.
Fei Yang mengikuti Siaw Hong mengambil sebuah tempat duduk, yang terletak di baris belakang dan paling pojok.
ucap Zhu Li menawarkan.
Fei Yang dan Siaw Hong serempak menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak perlu, kami biar jadi pengamat di sini saja.."
Zhu Li tersenyum tak berdaya dan berkata,
"Baiklah terserah kakak berdua, Zhu Li pamit dulu kembali kedepan.."
"Silahkan adik Zhu,.. terimakasih banyak sampai jumpa nanti "
ucap Fei Yang sambil tersenyum lembut.
Melihat senyum Fei Yang, Zhu Li langsung merasa wajahnya panas jantungnya berdebar-debar tidak karuan.
Zhu Li cuma mengangguk kecil, dia tidak berani menatap Fei Yang lama lama.
Dengan perasaan kacau balau, dia buru-buru meninggalkan ruangan tersebut.
Sepanjang perjalanan ke mulut lembah, dia memukuli kepalanya sendiri.
Dan memaki maki kecanggungan dirinya yang memalukan.
"Adik Yang, kelihatannya bukan saja ilmu silat mu yang berkembang pesat, ilmu mengacaukan perasaan wanita mu juga semakin tinggi.."
ucap Siaw Hong sambil tertawa.
Fei Yang tersenyum canggung menanggapi ucapan temannya.
"Kakak Siaw bisa aja, ilmu kucing kudis ku mana bisa di bandingkan kegagahan ilmu tapak naga kakak.."
Siaw Hong sambil tertawa berkata,
"Untuk orang lain mungkin itu naga, untuk adik Yang aku tidak malu katakan itu cuma cacing.."
"Ayo bersulang, mumpung ada arak bagus di sini.."
ucap Siaw Hong gembira.
Fei Yang pun mengangkat cawan nya, sedangkan Siaw Hong langsung minum dari poci giok nya.
Setelah menghabiskan satu poci arak itu, Siaw Hong yang memang paling doyan minum.
Menoleh kearah salah seorang pelayan berdiri di depan pintu ruangan.
"Nona kecil,..! kemarilah,..!"
ucap Siaw Hong sambil melambaikan tangannya memanggil gadis pelayan itu mendekat.
Pelayan itu dengan sopan menghampiri Siaw Hong dan berkata,
"Ya tuan ada yang bisa saya bantu.."
"Nona bisakah kamu bantu aku bawakan beberapa guci arak yang lebih besar dari ini.."
"Ini isinya terlalu sedikit,.."
ucap Siaw Hong sambil tersenyum lebar.
Gadis itu sambil menahan senyum mengangguk cepat dan berkata,
"Baik tuan Siaw, mohon di tunggu sebentar, kami akan segera menyiapkan nya.."
Melihat tingkah laku temannya ini, Fei Yang hanya tersenyum dan menggeleng kecil.
Dia cukup mengenal karakter Siaw Hong, jadi dia sama sekali tidak heran.
Tak lama kemudian gadis itu telah kembali dengan sebutan guci arak yang 3 kali lebih besar dari tubuhnya.
Tapi gadis itu dengan enteng, mengangkatnya menggunakan sebelah tangan diatas kepala.
Setelah tiba di depan Siaw Hong gadis itu sambil tersenyum melempar guci arak besar itu kearah Siaw Hong
Siaw Hong dengan santai menerima lemparan guci besar itu.
Memutarnya sekali di udara, lalu dengan sebelah tangan Siaw Hong menahan mulut guci itu.
Dengan memiringkan sedikit mulut guci tersebut, arak pun mengalir masuk kedalam mulut Siaw Hong.