PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
XUE LIAN KEMBALI KE LEMBAH


"Sayangnya saat kami tahu, semuanya sudah terlambat."


"Kami berdua sudah di kalahkan oleh pemilik lembah Wu Hui Lao Jen.."


"Berhubung terikat perjanjian sebelum pertandingan.."


"Kami akhirnya harus menetap dan menjadi penjaga gerbang mulut lembah kebahagiaan.."


Ibu Xue Lian menatap dan membelai kepala putrinya dengan lembut, setelah dia menutup penjelasannya.


"Anak ku tidak terasa kamu sudah begini besar.."


ucap Ibu Xue Lian lembut sambil membelai kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


Xue Lian yang sudah sangat lama merindukan kasih sayang kedua orang tuanya.


Pertemuan ini, ditambah dengan sikap ibunya yang penuh kasih, membuat dia tidak bisa lagi menahan perasaan haru dan bahagianya.


Xue Lian berbaring dalam pangkuan ibunya, sambil memejamkan matanya, menikmati kasih sayang yang di limpahkan oleh ibunya.


Tidak terasa Xue Lian tertidur dalam pangkuan ibunya.


Menjelang sore Ayah Xue Lian mulai sadar dari pingsannya.


Dia merasa sekujur tubuhnya jauh lebih nyaman tidak perih dan panas lagi.


Ayah Xue Lian mencoba bangun untuk melihat kondisi lukanya, ternyata Luka luka di tubuhnya sudah di beri salep luka.


Luka luka tersebut kini mulai mengering, pantas saja sudah tidak terasa pedih, pikir ayah Xue Lian dalam hati.


Selain itu rasa sesak dan sulit bernafas nya kini juga sudah hilang.


Ayah Xue Lian mencoba mengumpulkan tenaga saktinya, untuk memeriksa luka dalam yang di deritanya.


Ternyata aliran tenaga sakti nya sudah lancar, luka dalamnya juga sudah pulih.


Ayah Xue Lian sambil tersenyum gembira kembali membuka matanya.


Dia dengan hati hati mencoba turun dari dipan bambu tempat dia berbaring sebelumnya.


Ayah Xue Lian perlahan lahan melangkah keluar dari dalam pondok.


Di depan pondok ayah Xue Lian melihat istrinya sedang duduk memangku seorang gadis cantik yang sedang tertidur lelap.


Tanpa perlu di jelaskan sekalipun dia juga sudah bisa menebaknya sendiri.


Gadis itu pasti Xue Lian putrinya yang bernasib malang, sejak kecil sudah kehilangan kasih sayang kedua orang tua nya hingga dewasa.


Sambil menatap kearah istri dan anaknya dengan penuh haru, dia berkata,


"Istri ku, apa kalian berdua baik baik saja ?"


Ibu Xue Lian yang sedang membelai kepala putrinya dengan lembut sambil termenung.


Dia sedikit kaget saat mendengar pertanyaan perhatian dari suaminya.


Ibu Xue Lian menoleh kearah suaminya dan berkata,


"Kami berdua baik baik baik saja, adalah kamu sendiri yang harus banyak istirahat.."


Kenapa kamu malah kemari,..? luka mu kan belum pulih betul.."


ucap ibu Xue Lian khawatir.


Ayah Xue Lian sambil tersenyum lembut, dia mengambil tempat duduk di sebelah istrinya, dan berkata,


"Luka ku sudah jauh lebih baik, sudah bukan masalah.."


"Terimakasih ya istriku, kamu sudah bantu obati luka luar dalam ku.."


Ibu Xue Lian menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Luka dalam mu, putri mu yang obati dengan tenaga saktinya.."


"Sedangkan luka luar mu, juga sepenuhnya mengandalkan salep dari Putri mu."


"Aku hanya membantu mengoleskan nya saja."


"Kalau mau berterimakasih lebih tepatnya kamu bilang ke putri kita yang malang ini.."


ucap ibu Xue Lian, sambil menatap kearah putrinya dengan penuh kasih sayang.


Ayah Xue Lian turut membelai kepala putrinya dan berkata,


"Ini semua salah ku, aku bukan suami dan ayah yang baik.."


"Aku yang membuat kalian semua ikut menderita bersama ku.."


Ibu Xue Lian sambil tersenyum lembut menggenggam tangan suaminya dan menciumnya.


"Aku mengerti keadaan mu, begitu pula putri kita.."


"Aku tadi sempat berbicara cukup banyak dengan nya, tentang masa lalu kita."


"Kelihatannya dia bisa mengerti dan bisa menerima semua kenyataan nya "


Xue Lian yang samar samar mendengar pembicaraan kedua orang tua nya, dia pun membuka matanya.


"Ayah mengapa kamu tidak beristirahat di dalam, ayah belum boleh banyak bergerak."


ucap Xue Lian sambil bangun duduk dan menatap kearah ayahnya dengan khawatir.


"Terimakasih nak, salep mu sangat mujarab, luka luka ayah, kini sudah bukan masalah lagi.."


"Itu bukan salep ku, itu salep dari kakak Yang,.."


jawab Xue Lian cepat.


"Ahh tidak baik,.. mengapa kakak Yang belum juga terlihat.."


"Ayah ibu aku harus kembali kedalam mencari nya.."


ucap Xue Lian panik dan cemas.


"Sekarang hari sudah mulai gelap, lebih baik besok pagi saja kita kedalam sana mencarinya.."


ucap Ibu Xue Lian mencoba mencegah putri nya nekad kembali kedalam lembah malam malam.


Xue Lian menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak ibu, Lian er harus kedalam sekarang juga, bila tidak Lian er malam ini tidak akan bisa tenang.."


"Anak ku, hari sudah gelap, nanti di dalam sana gelap gulita kamu juga tidak bisa menemukannya "


ucap ayah Xue Lian yang juga mencoba mencegah putrinya, kembali kedalam lembah malam malam.


Xue Lian menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan sebutir Ye Ming Cu, pemberian Fei Yang.


"Aku akan menggunakan ini sebagai penerangan, ayah ibu tidak perlu khawatir.."


ucap Xue Lian berkeras.


"Baiklah biar ayah ibu temani kamu kedalam sana.."


ucap ayah Xue Lian yang tidak ingin putri tunggalnya menempuh bahaya sendirian.


Xue Lian menatap ayah ibunya dan berkata,


"Ayah ibu jangan khawatir, Lian er bisa melindungi diri.."


"Ayah lebih baik tetap di sini memulihkan luka, biar ibu menemani ayah di sini.."


"Biar Lian er Seorang diri saja kedalam sana.."


ucap Xue Lian yang kurang setuju, ayahnya yang sedang terluka ikut dengan nya kedalam lembah.


"Tapi di sana sangat berbahaya nak, ibu dan ayah mu, pasti tidak akan bisa tenang, bila kamu kedalam sana malam malam seorang diri.."


ucap Ibu Xue Lian cemas.


"Ibu jangan khawatir, kemungkinan besar mereka berdua sudah menyelesaikan pertarungan."


"Lihat saja suara guncangan sudah tidak terdengar lagi, getaran di atas tanah juga sudah tidak terasa lagi."


"Sudahlah ayah ibu tenang saja di sini, aku pergi sebentar juga kembali lagi ."


ucap Xue Lian tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tua nya.


Dia sudah menghilang dari tempat tersebut.


Dengan ilmu ringan tubuhnya yang sempurna, sebentar saja Xue Lian sudah tiba di lokasi pertempuran.


Di bawah penerangan mutiara malam di tangannya, Xue Lian melihat suasana di sekitar arena pertempuran, terlihat sangat berantakan.


Lubang lubang menganga terlihat di mana mana.


Tapi baik Fei Yang maupun Wu Hui Lao Jen tidak terlihat sama sekali.


Dengan penuh penasaran, Xue Lian berjalan pelan mendekati area pertempuran.


Dengan mengangkat mutiara malam di tangannya tinggi tinggi, Xue Lian mencoba melakukan pemeriksaan dari jarak dekat.


Beberapa saat melakukan pemeriksaan, Xue Lian hanya menemukan 6 potongan tubuh, yang tertancap patahan Golok Naga Hijau.


Hal lainnya yang bisa memberikan petunjuk kemana Fei Yang sebenarnya, tidak berhasil d temukan oleh Xue Lian.