PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
AKHIR HAYAT PAHLAWAN CHIN


"Drrrr,..!Drrrr,..!Drrrr,..!"


Tebing berderak hebat hingga batu batu tebing berguguran jatuh ke bawah.


"Krakkk,..!Krakkk,..!Krakkk,..!Krakkk,..!"


Dinding tebing mengeluarkan bunyi keras, batu batu tebing yang meluruk berjatuhan semakin banyak.


Perlahan-lahan dinding batu yang besar dan sangat tebal terangkat naik keatas.


Begitu melihat ada celah di depan sana, tanpa berpikir panjang Fei Yang langsung melempar Wei Wen bergulingan masuk kedalam.


Setelah itu dirinya juga ikut bergulingan masuk kedalam, begitu tiba di bagian dalam, Fei Yang langsung melompat berdiri.


Dia dengan cepat memasukkan token emas kesebuah lubang kunci yang terlihat di bagia pinggir pintu batu tebal yang sedang terangkat.


"Sebelum memutar token emas mengunci pintu batu yang tebal itu.


"Fei Yang berteriak,.senior Meng ayo masuk..!!"


"Terimakasih anak muda cepat tutup pintunya."


"Perintah kaisar adalah menjaga tempat ini, bukan memasukinya.."


"Wanita ku telah pergi, aku juga tidak ingin meneruskan hidup, yang tidak ada artinya ini.."


ucap Meng Yu kembali mengirim.pesan suara ke Fei Yang.


Fei Yang yang melihat salah satu kakek aneh sedang bergerak cepat menghampiri pintu tebing.


Fei Yang terpaksa memutar kuncinya, sehingga pintu batu pun menutup kembali.


"Boommm,...!!"


Saat pintu batu menutup, seluruh gua dan area di.luar gua, semua berguncang hebat.


Ini menunjukkan berat pintu tebal itu sungguh bukan main main, bila sampai tergencet pasti.hsncur lebur.


Sementara pintu menutup keras, Meng Yu yang melihat salah satu kakek tua sedang bergerak mendekati pintu tebing.


Meng Yu segera terbang menghadang di depannya, sambil melepaskan tebasan Golok cahaya emas menghalau pergerakan kakek itu.


Tapi sebelum tebasan Meng Yu menemui sasaran, sebuah perisai hijau raksasa kembali muncul menahan serangan Meng Yu.


"Duaarrr,..!!"


Benturan keras kembali terjadi, Meng Yu yang pada dasarnya sudah terluka belum.pulih kekuatannya.


Dia terpental mundur sambil memumtahkan darah, Meng Yu menggunakan tangannya menahan rasa nyeri, yang berdenyut hebat di jantungnya.


Sedangkan di pihak yang menahan serangan Cahaya Golok emas Meng Yu, kakek itu hanya tergetar mundur beberapa langkah.


Dia masih kakek yang sama dengan kakek yang menahan tebasan cahaya golok emas Meng Yu yang pertama tadi.


Dia tadi begitu melihat Meng Yu bergerak menyerang saudaranya, dia pun langsung ikut bergerak memberikan perlindungan.


Saudara yang terlindungi dari serangan Meng Yu dengan gerakan cepat melesatkan sebuah cahaya hijau yang berbentuk tombak cagak tiga.


Menerjang deras kearah Meng Yu yang terlihat sedang kurang baik posisinya.


Meng Yu membuang diri kebelakang bersalto menghindari serangan tersebut.


Tapi Tombak hijau cagak tiga, membelah diri menjadi 8 tombak mengepung Meng Yu dari 8 arah.


Sedangkan kakek yang jaga bertahan, kini mengirim sebuah diagram , hijau raksasa, untuk menekan Meng Yu dari atas membatasi arah geraknya.


Meng Yu yang terdesak hebat, akhirnya hanya bisa memilih memasang kuda-kuda dan bersedekap dengan kedua telapak tangan di tempelkan di depan dada.


Muncul sebuah Genta Mas yang di lingkari tulisan tulisan huruf kuno melingkari Genta emas tersebut.


Genta emas itu menahan semua serangan kedua kakek itu, yang dilepaskan kearahnya.


"Duarrr,..!Duarrr,..!Duarrr,..!Duarrr,..!


Duarrr,..!Duarrr,..!Duarrr,..!Duarrr,..!"


Kedelapan tombak cahaya hijau yang membentur Genta emas, semuanya hancur pecah berantakan.


Kedua kakek berpakaian aneh itu, terpental mundur beberapa langkah ke belakang.


Sementara Meng Yu sendiri,. setelah berhasil mematahkan serangan kedua lawannya, dia kembali menyemburkan darah dari mulutnya.


Wajahnya terlihat sedikit pucat, tapi tatapan matanya masih penuh semangat pantang menyerah semangat seorang Jendral besar yang lebih baik mati.


Daripada menyerah dan melarikan diri dari arena pertempuran.


Kedua kakek itu saling pandang saat melihat kondisi yang sedang di alami oleh Meng Yu.


Mereka berdua tersenyum licik, Lalu si kakek yang jago bertahan dengan diagram kuno, menempelkan telapak tangannya di pundak saudaranya yang jago menyerang dengan energi cahaya hijau tombak cagak tiga.


Setelah menggabungkan tenaga kakek penyerang yang berada di depan menunjukkan tangannya yang mengeluarkan cahaya kehijauan menembus langit sambil berteriak,


"Tombak Iblis pemusnah dunia..!!!"


Sebuah tombak bercagak tiga muncul dari langit menerjang ke bawah.


Menghujam deras kearah Genta emas yang menjadi perisai pelindung Meng Yu.


"Kalian tua Bangka tidak tahu mampus, jangan berharap bisa memetik keuntungan dari luka ku..!"


teriak Meng Yu sambil mengerahkan seluruh kekuatan puncaknya.


Sehingga Genta emas membesar dan naik keudara menyambut datangnya tombak iblis.


"Duarrr,..!!"


terjadi ledakan yang jauh lebih dahsyat diudara.


Seiring dengan benturan tersebut baik Genta emas maupun tombak iblis sama sama sirna tak berbekas di udara.


Kedua kakek itu terpental mundur, memuntahkan darah segar dari mulut mereka.


Meng Yu sendiri jatuh berlutut dengan satu tangan menahan dada yang sangat nyeri, satu tangan menahan tanah agar tubuhnya tidak roboh.


Dari hidung mulut mata telinga semuanya mengalirkan darah.


Meng Yu memaksakan diri kembali meledakkan energi cahaya emasnya melesat kesegala arah.


Memaksa kedua kakek itu membuang diri kebelakang menjauhinya.


Begitu pula pasukan pelindung yang berada di depan Raja Kyantha, dan Raja Vijaya.


Semua nya jatuh bertumbangan tertembus sinar emas yang di hentakkan oleh Meng Yu.


Tiba-tiba tubuh Meng Yu menghilang dari posisi, saat muncul lagi terlihat dia berada di hadapan raja Kyantha sambil tersenyum dingin.


Sepasang tangannya yang mengeluarkan cahaya emas, ditebaskan kearah leher raja Kyantha secara menyilang.


Sehingga menggelundunglah, kepala raja Kyantha jatuh keatas tanah.


"Ayah,...!!"


Teriak Santi Dewi marah sambil menghujamkan tombak di tangan nya kearah dada Meng Yu.


Meng Yu yang sudah kehabisan tenaga, seperti lampu yang kehabisan minyak.


Dia tidak punya tenaga untuk menghindar, ataupun menahan tusukan sederhana dari Santi Dewi.


Dengan tepat tombak Santi Dewi.membus dada kiri Meng Yu hingga menembus kearah punggungnya.


Meng Yu langsung menyembur kan darah dari mulutnya membasahi tangan Santi Dewi yang memegang ujung tombak.


Panah dari para pasukan kerajaan Pagan juga di lepaskan menghujani tubuh Meng Yu, dari arah depan dan belakang.


Hingga seluruh tubuh Meng Yu penuh dengan anak panah yang menancap di sana.


Meng Yu tersenyum menatap kearah langit, dia mengulurkan tangan kanannya keatas seolah ingin menggapai sesuatu dan berkata,


"Yu Shu jangan takut, aku segera datang menemani mu,..!"


Setelah itu tangan dan kepala nya, hampir serempak terkulai kebawah.


Meng Yu mati dalam posisi berdiri, sama seperti kedua ajudannya, sampai matipun, mereka tidak bersedia tunduk di hadapan musuh.