
"Tidak perlu, begini sudah cukup.."
ucap Nan Thian yang tahu Wu Cong Kuan hanya sedang beralasan saja.
"Tapi Tuan .."
ucap Wu Cong Kuan masih mencoba untuk membantah.
Tapi ucapan nya berhenti di tengah jalan, saat melihat Nan Thian meremas hancur pinggiran pintu kayunya, seperti meremas tahu.
"Ba..baik..baik..tuan..mari saya antarkan.."
ucap Wu Cong Kuan terbata bata dengan wajah pucat.
Wu Cong Kuan segera bergegas mengantar Nan Thian menyusuri koridor panjang deretan kamar yang berjajar di sana.
Sedangkan Asam sedari tadi sudah melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Tugasnya sudah selesai, dia sudah lemparkan ke Wu Cong Kuan, bila tidak cepat kabur.
Saat Wu Cong Kuan bebas, nyawa kecilnya pasti tidak akan terselamatkan.
Wu Cong Kuan pasti akan memperhitungkan semua nya ke dia.
Wu Cong Kuan setelah mengantar Nan Thian melewati sebuah taman, akhirnya dia berdiri di halaman sebuah bangunan mewah dan besar.
"Tuan atasan saya tinggal di dalam sana, saya dengan pakaian begini menghadap nya.."
"Pasti akan jadi masalah, saya pasti akan kena marah.."
"Jadi silahkan tuan sendiri saja yang masuk kedalam sana.."
ucap Wu Cong Kuan dengan wajah memelas mohon di kasihani.
Tapi Nan Thian tidak menghiraukan nya, dia mencengkram tengkuk Wu Cong Kuan dan berkata,
"Ayo kita masuk kedalam, segala resiko aku yang tangung.."
"Bila sudah bertemu dengan nya, kamu baru boleh bebas pergi.."
Wu Cong Kuan hanya bisa mengangguk tak berdaya.
Dengan langkah terpaksa, dia mengikuti Nan Thian menghampiri bangunan mewah tersebut.
Baru saja mereka menaiki undakan tangga pertama, terdengar suara teguran dari atas sana.
"Wu Cong Kuan, tuan berpesan hari ini tidak menerima tamu..!"
"Kalian pergilah.!"
ucap 4 orang berpakaian seragam hijau yang bertugas sebagai penjaga pintu di kediaman megah tersebut.
Belum sempat Wu Cong Kuan menjawab, Nan Thian sudah mengibaskan tangannya kearah 4 orang itu.
Seketika keempat orang itu langsung berubah menjadi patung es diam tidak bergerak di sana.
Lalu dengan santai Nan Thian menyeret Wu Cong Kuan, yang saking ketakutan melihat apa yang di alami oleh keempat penjaga itu.
Dia jadi tidak punya tenaga untuk menggerakkan kedua kakinya.
Saat tiba di depan pintu, Nan Thian yang menenteng tengkuk Wu Cong Kuan dengan tangan kanan.
Dia menggunakan tangan kirinya untuk mendorong pintu ruangan luas itu hingga terbuka lebar.
Lalu melangkah masuk kedalam sana, di dalam kamar yang luas besar dan mewah.
Nan Thian tidak melihat ada Hung Ping Chi di sana.
Sebagai gantinya dia justru melihat ada seorang wanita muda, yang pernah di kenalnya dulu.
Terlihat duduk di dalam sana, menghadap kearah meja, di mana dia terlihat sedang asyik merangkai bunga.
"Kim Hong,.,.."
"Kenapa kamu bisa ada disini..?"
tanya Nan Thian sedikit heran.
Saat mendengar suara teguran Nan Thian, gadis itu langsung menoleh.
Saat beradu tatap dengan Nan Thian, gadis itu terlihat kaget tak percaya.
"Nan Thian ke ke,.. kamu masih hidup ? bagaimana mungkin..?"
ucap Kim Hong yang terlihat sulit percaya.
Nan Thian menekan titik meridian Feng Fu, Wu Cong Kuan.
Sehingga Wu Cong Kuan seketika lumpuh, tidak bisa bergerak juga tidak bisa berbicara.
Dia sendiri langsung menghampiri Kim Hong dan berkata,
"Ceritanya panjang adik Hong, nanti akan ku ceritakan.."
"Kita bisa mengobrol nanti.."
"Saat ini aku sedang mengejar Hung Ping Chi adik seperguruan ku yang murtad itu.."
"Apa kamu tahu dimana dia berada..?"
tanya Nan Thian cepat.
Kim Hong terlihat ragu sesaat, tapi akhirnya dia menunjuk kearah tembok yang ada lukisan pemandangan.
"Di balik lukisan itu ada alat rahasia, putar saja.."
"Pintu rahasia nanti akan terbuka, tadi dia bersama temannya kabur lewat sana.."
ucap Kim Hong dengan wajah terlihat agak sedikit murung.
Nan Thian mengangguk cepat, dia langsung menghampiri lukisan yang di tunjuk oleh Kim Hong.
Sekali lukisan tersingkap, terlihat di sana ada ruang persegi empat yang menjorok kedalam.
Di dalam sana ada sebuah tuas kecil, begitu tuas itu di tarik oleh Nan Thian.
"Kreekkk...! krekkk...! Kreekkk..!"
Terdengar dinding di sebelah kiri tuas itu, berbunyi dan berderak.
Sesaat kemudian dinding setebal 0,5 depa, dengan lebar 0,5 tombak, bergerak terangkat naik keatas.
Hingga muncul sebuah lubang yang bisa di gunakan untuk menembus keruangan lain.
Nan Thian pun bergerak masuk kedalam ruangan rahasia di balik tembok itu.
Nan Thian menoleh kearah Kim Hong dengan heran dan berkata,
"Adik Hong,.. kamu tidak ikut..?"
Kim Hong tersenyum sedih dan berkata,
"Tidak Nan Thian ke ke, kamu pergilah, aku menunggu mu di sini saja.."
Nan Thian mengangguk cepat, lalu menghilang kedalam ruangan rahasia.
Dia tidak sempat untuk berpikir banyak tentang keanehan sikap Kim Hong.
Nan Thian berpikir saat ini yang terpenting adalah menangkap Hung Ping Chi dan pangeran bejad itu.
Hal lain nya, setelah kembali nanti, dia bisa tanyakan dan bicarakan pelan pelan dengan Kim Hong.
Kim Hong tersenyum sedih menatap bayangan punggung Nan Thian yang menghilang dari sana.
"Nan Thian ke ke, bagaimana pun aku kini adalah orangnya'.."
"Aku telah khianati dia, memberitahu mu persembunyian nya.."
"Aku tidak mungkin bisa ikut melihat kamu menghukumnya.."
gumam Kim Hong pelan dengan wajah sedih.
Sesaat kemudian Kim Hong pun pergi kearah meja tulis, di sana dia duduk, lalu terlihat menulis dengan sangat serius.
Sementara Nan Thian sendiri setelah menyusuri sebuah terowongan bawah tanah yang panjang dan berkelok kelok.
Akhirnya dia tiba di bagian paling ujung dari terowongan panjang yang di telusuri nya.
Di penghujung terowongan, yang di terangi oleh penerangan obor, yang menempel di dinding terowongan.
Nan Thian menemukan sebuah tuas kecil di dalam sebuah lubang persegi empat di pojokan ruangan.
Nan Thian pun menarik tuas tersebut, hingga dinding yang menghadang di depan Nan Thian berderak hebat.
Perlahan-lahan dinding tersebut pun terangkat keatas, hingga cahaya dari luar bisa mulai masuk kedalam ruangan.
Begitu pintu terbuka, Nan Thian harus menyesuaikan dulu matanya, dengan cahaya menyilaukan di luar sana.
Sesaat kemudian setelah matanya terbiasa dengan sinar di luar sana.
Dia baru bisa melangkah keluar dari balik pintu rahasia tersebut.
Saat keluar dari dalam pintu rahasia, Nan Thian melihat tempat itu telah di kepung oleh pasukan Mongolia yang jumlahnya 2 kali lipat dari yang menghadang dirinya sebelum ini.
Sekali ini bukan hanya pasukan Mongolia saja yang terlihat bersiaga di sana, tapi Nan Thian juga melihat ada 4 buah meriam yang khusus di arahkan ke arah diri nya.