
Fei Yang setelah berhasil bangkit duduk, tanpa memperdulikan lukanya.
Dia langsung berusaha bangun sebisa dengan tumpuan kedua tangannya.
Begitu berhasil berlutut, tanpa memperdulikan dadanya yang terasa nyeri luar biasa.
Seolah olah jantungnya sedang di belah hampir meledak, Fei Yang yang melihat potongan tubuh Wu Hui Lao Jen.
Mulai terlihat bergerak sendiri berusaha saling mendekat, tanpa berani berlaku lambat.
Fei Yang mengerahkan Qian Kum Im Yang Sen Kung, untuk menghisap potongan Golok Naga Hijau.
Sehingga potongan Golok Naga Hijau semuanya pada mengambang di udara.
Dengan sekali kibasan tangan ke arah potongan tubuh Wu Hui Lao Jen yang sedang bergerak.
Potongan golok Naga Hijau tepat menancap di setiap bagian tubuh yang terpotong.
Lalu dengan sisa tenaganya Fei Yang mengendalikan Pedang Mestika Panca Warna bergerak menebas leher Wu Hui Lao Jen.
Hingga kepala nya terpental keudara, Fei Yang melepaskan sebuah pukulan tanpa wujud kearah kepala tersebut.
"Pyaarrr,...!!"
Kepala itu langsung hancur menjadi serpihan kecil yang tersebar kesegala penjuru, tertiup angin hilang tak berbekas.
Serangan terakhir ini membuat luka di bagian dalam dada Fei Yang semakin parah.
Fei Yang terlihat terbatuk batuk cukup hebat, sebelum akhirnya dia menyemburkan darah segar cukup banyak dari mulut nya.
Tiba-tiba dia merasa kepalanya sangat sakit dan pusing lalu semuanya menjadi gelap.
Tubuh Fei Yang jatuh tergeletak tak sadarkan diri di atas tanah.
Hal ini terjadi akibat benturan terakhir saat melawan Wu Hui Lao Jen.
Di mana sebelum Fei Yang berhasil memotong tubuh Wu Hui Lao Jen menjadi 6 bagian, dia sendiri selain sudah terkena hantaman tebasan di dada sampai ke perut.
Dia juga menerima tendangan maut dari kakek Wu Hui Lao Jen, di bagian otak belakang kepalanya.
Keberhasilan dua serangannya inilah yang membuat Wu Hui Lao Jen menjadi terlalu bersemangat menghabisi Fei Yang.
Sehingga dia menjadi lengah dan kehilangan kewaspadaannya.
Sebelum Wu Hui Lao Jen sempat menyadari kecerobohannya, tubuhnya telah terpotong menjadi 6 bagian, oleh tebasan pedang Mestika Panca Warna, yang terisi energi 6 cahaya kebajikan.
Tebasan yang cepat dan sadis ini, menjadi penyebab awal kekalahan Wu Hui Lao Jen.
Di sisi lain, Fei Yang sendiri yang terkena tebasan dan tendangan dahsyat dari Wu Hui Lao Jen.
Dia baru mulai terasa reaksinya, seiring dengan pudarnya semangat juang dan semangat bertarung hingga titik penghabisan.
Dia seperti sebatang lilin yang memancarkan sinar cahaya terakhirnya sebelum akhirnya meredup dan padam.
Melihat pertarungan telah berakhir, Wu Hui Lao Jen telah di tahlukkan sepenuhnya oleh Fei Yang, yang kini tergeletak tidak bergerak.
Wu Song menyimpan suling pusaka nya, dia melayang turun ringan di hadapan Fei Yang.
Wu Song memeriksa kondisi Fei Yang, sesaat kemudian dia memasukkan beberapa butik pil putih kedalam mulut Fei Yang.
Wu Song menatap Fei Yang cukup lama sebelum bergumam sendiri,
"Pemuda yang luar biasa, kamu mengingatkan ku pada Lu Fan.."
"Tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang..?"
Wu Song kemudian meletakkan Fei Yang di bahunya, lalu melesat meninggalkan tempat tersebut.
Wu Song terbang di antara awan sambil memikul Fei Yang melewati hutan bambu kuning.
Karena tertutup oleh hutan bambu kuning yang rindang, Wu Song tidak sempat memperhatikan keberadaan Xue Lian istri Fei Yang dan kedua ibu dan ayah mertuanya.
Xue Lian dan Ibunya yang sedang serius merawat luka luka yang di alami oleh ayahnya saat berhadapan dengan Sen Kung Bao.
Mereka tidak menyadari, Wu Song telah terbang melintas di balik awan, membawa Fei Yang yang sedang terluka meninggalkan tempat tersebut.
Dia secara tidak sengaja malah melihat Wu Yue, salah satu keturunan nya dengan Se Se, sedang berada di bawah sana.
Dia pun melayang ringan turun ke bawah,
"Wu Yue kamu tidak tinggal di pulau pelangi bersama istri mu, mengapa malah berkeliaran sampai kemari..?"
Tegur Wu Song heran.
Kakek Wu terkesiap, begitu pula dengan istrinya.
Mereka tidak akan pernah menyangka.
Justru di tempat ini mereka, akan bisa berjumpa kembali dengan leluhur mereka, yang sudah lama menghilang di pegunungan Himalaya.
Hanya Fei Hsia yang menatap bingung kearah pemuda berwajah cemerlang, yang memiliki pembawaan halus dalam setiap gerak gerik, sikap dan cara bicaranya.
Fei Hsia sedikit curiga, saat mengenali pakaian orang yang sedang di pondong oleh Wu Song sama persis dengan pakaian yang dikenakan oleh Fei Yang.
Meski sudah compang camping pakaian atasan nya, tapi Fei Hsia masih bisa mengenalinya.
Reaksi berbeda di tunjukkan oleh Kakek Wu dari istrinya, mereka buru buru berlutut di hadapan Wu Song dan berkata,
"Terimalah salam hormat kami berdua leluhur.."
"Maafkan kami yang tidak bisa memberikan penyambutan selayaknya kepada leluhur.."
Nenek Yang buru buru menarik tangan cucunya untuk ikut berlutut dan berkata,
"Ayo Fei Hsia, jangan tidak sopan cepat beri salam pada leluhur kita."
Fei Hsia dengan wajah bingung ikut berlutut dan berkata,
"Salam hormat leluhur.."
Wu Song tersenyum lembut dan berkata,
"Tidak perlu banyak peradatan, kalian bertiga bangunlah.."
"Wu Yue jelaskan lah, kenapa kalian bisa ada di sini..?"
Kakek Wu tersenyum masam dan berkata,
"Ini salah kami leluhur, kami terlalu memanjakan cucu kami Fei Hsia.."
"Dia sejak bayi sudah kehilangan ayah ibunya, oleh karena nya, kami jadi kelewat memanjakan nya.."
Wu Song tersenyum lembut menatap Fei Hsia, dia mengulurkan tangannya membelai kepala Fei Hsia.
Wajah Fei Hsia mengingatkan Wu Song akan wajah Sie Yi Yi dan Se Se, sehingga tanpa di sadari.
Timbul rasa hangat dan dekat dengan keturunan terakhirnya itu.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, cerita kan saja apa yang sebenarnya terjadi..?"
tanya Wu Song mengulang.
Kakek Wu sambil bangkit berdiri di hadapan Wu Song, dia bercerita dengan kepala tertunduk.
"Putra ku dan menantu ku saat merantau memungut seorang anak laki-laki kembali ke pulau.."
"Mereka memelihara dan mendidik anak laki laki itu hingga dewasa.."
"Anak laki laki itu bernama Xi Men Lang.."
"Awalnya mereka berdua sangat menyayangi Xi Men Lang, hingga akhirnya mereka punya bayi sendiri yaitu Fei Hsia."
"Perhatian mereka, perlahan-lahan mulai beralih ke diri putri mereka sendiri Fei Hsia."
"Terutama menantu ku, dia sudah tidak begitu ambil perduli lagi dengan Xi Men Lang."
"Xi Men Lang yang di buta kan oleh rasa iri, diam diam dia mencuri pedang pusaka pelangi dan kitab tenaga sakti cahaya pelangi."
"Lalu melarikan diri meninggalkan pulau pelangi ."