
"Wei Wen kamu jangan menipu perasaan mu sendiri, aku terlalu mengenal sifat mu.."
"Setiap gerak gerik mu, tindak tanduk mu, jelas menunjukkan kamu harus sedang menipu diri sendiri."
"Berusaha terlihat baik baik saja, padahal tidak.."
Batin Fei Yang dalam hati.
Fei Yang tentu punya kesulitan sendiri untuk mengucapkan nya.
Meski dia tahu, tapi dia bisa apa ?
Dia juga tidak mungkin bisa pergi menghibur dan mengobati luka di batin Wei Wen.
Fei Yang sadar diri, kini dia sudah tidak bebas seperti dulu lagi.
Perasaan Xue Lian lah yang paling utama.
Fei Yang memejamkan matanya, dua air bening jatuh dari sudut matanya.
Itulah satu satunya yang bisa dia ungkapkan mengenai perasaannya terhadap Wei Wen.
"Baiklah Wen Wen, bila jalan itu bisa membuat mu merasa jauh lebih baik, aku mendukung keputusan mu.."
"Wen Wen mungkin ini nasehat terakhir dari ku, semoga kamu berkenan untuk mendengarkannya.."
Wei Wen mengangguk kecil dan berkata,
"Katakan saja kak, Wen Wen pasti akan selalu mengingat dan berusaha menjalankan nya.."
"Wen Wen lupakan lah kenangan masa lalu, yang tidak menyenangkan dan tidak mendatangkan kebahagiaan.."
"Coba lah dan berusahalah untuk menatap masa depan yang penuh dengan hal hal indah, yang menanti mu untuk meraihnya.."
"Kamu harus percaya kebahagiaan itu masih ada, mungkin bukan saat ini, tapi dia selalu menanti mu untuk meraihnya.."
"Jangan pernah memenjarakan dirimu larut dalam kenangan masa lalu.."
"Kakak hanya bisa doa kan semoga kamu bahagia selalu, apapun jalannya.."
Wei Wen mengangguk pelan, di menghapus sisa airmata di wajahnya dengan ujung lengan baju.
Lalu sambil tersenyum manis, dia memutar badannya menghadap kearah Fei Yang dan berkata,
"Kakak Yang terimakasih ya,.."
"Kakak boleh kah aku memeluk kakak untuk terakhir kalinya.."
ucap Wei Wen sambil menatap kearah Fei Yang penuh harap.
Fei Yang tersenyum lembut, menganggukkan kepalanya, lalu membentangkan sepasang lengan nya kesamping.
Wei Wen langsung maju menubruk kedalam pelukan Fei Yang.
Dia memeluk Fei Yang dengan sangat erat.
Seolah-olah ingin menyatukan dirinya kedalam tubuh Fei Yang.
Wei Wen membelai punggung Fei Yang dengan lembut sambil tersenyum bahagia.
Tapi airmata sebutir demi sebutir tetap bergulir sebagian menempel di baju Fei Yang, sebagian lagi bergulir menggantung di pipinya yang halus.
Beberapa waktu berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya sambil tersenyum bahagia..
Wei Wen perlahan-lahan melepaskan pelukannya, mundur menjauh dari Fei Yang.
Setelah itu dia membalikkan badannya, berlari meninggalkan Fei Yang.
Sambil berlari Wei Wen menggunakan lengan bajunya, untuk menutupi mulutnya sendiri, agar tidak terdengar keluar suara tangisannya.
Wei Wen langsung berlari menuju kapal besar dari Xiang Yang, yang tidak di ketahui kapan datangnya.
Kini kapal tersebut sudah siap untuk berangkat, hanya menanti Wei Wen untuk naik saja.
Wei Wen tanpa menoleh langsung berlari masuk kedalam bilik ruangan kapal besar itu.
Fei Yang hanya bisa berdiri mematung, menatap bayangan punggung Wei Wen yang menjauh dan menghilang kedalam kapal.
Melihat kapal itu mulai berangkat, membawa pergi Wei Wen, seolah olah membawa pergi sebagian hatinya, yang ikut terbawa pergi bersama gadis itu.
Fei Yang sambil menghela nafas panjang, membalikkan badannya kemudian terbang menuju angkasa.
Fei Yang tidak tahu saat dia terbang itulah, Wei Wen muncul diatas dek kapal yang paling tinggi.
Dengan airmata bercucuran membasahi wajahnya, dia terus melambaikan tangannya kearah Fei Yang, sambil bergumam sendiri,
"Jaga diri mu baik baik kakak Yang, aku akan selalu mengingat pesan mu.."
Fei Yang sendiri sudah mendarat ringan di atas punggung Kim Tiaw, sambil tersenyum canggung Fei Yang berkata,
"Maaf ya sayang,.. aku.."
"Tidak apa-apa,..aku ngerti.."
ucap Xue Lian sambil tersenyum lembut.
Melihat hal itu, Fei Yang sambil tersenyum penuh haru.
Dia langsung menarik Xue Lian kedalam pelukannya, memeluk dan menciumi kepala Xue Lian dengan lembut.
"Terimakasih sayang, kamu lah cahaya sejati dalam hidup ku.."
"Hi,..hi,..hi..gombal,.. gombal gak bisa bikin kenyang.."
"Aku sudah lapar menunggu mu dari tadi.."
ucap Xue Lian sambil tertawa.
Fei Yang pun tersenyum lebar dan berkata,
"Baik baik ayo kita cari makan di kota terdekat.."
"Tiaw Siung ambil ke timur, kita mampir ke kota Shou untuk cari makan dulu.."
ucap Fei Yang sambil menepuk leher rajawalinya.
Rajawali emas mengangguk kecil lalu melakukan manuver kearah timur.
Saat memasuki kota Shou yang cukup besar dan ramai, hari sudah lewat tengah hari.
Beberapa restoran besar yang di temui selalu terlihat penuh sesak manusia sedang asyik makan siang.
Melihat hal tersebut, Fei Yang pun memilih salah satu restoran terbesar yang memiliki 3 lantai, dan terlihat cukup mewah.
Fei Yang sambil bergandengan tangan dengan Xue Lian, dia melangkah memasuki Restoran tersebut.
"Maaf tuan,..restoran sudah penuh untuk umum.."
"Apa tuan ada memesan tempat sebelumnya ?"
tanya Seorang pelayan menghadang langkah Fei Yang.
Fei Yang sambil tersenyum mengeluarkan sebungkus uang perak.
Fei Yang menunjukkan satu Tael perak, yang baru dia keluarkan dari balik kantongnya, dan berkata..
"Aku dan istri ku sedang lapar, bila kamu bisa carikan tempat duduk yang nyaman buat kami.."
"Benda ini boleh untuk mu.."
ucap Fei Yang sambil mengiming imingi, satu Tael perak tersebut didepan wajah pelayan itu.
Sepasang mata pelayan itu sampai terbelalak, melotot hampir meloncat keluar dari lubang mata nya.
Sambil menelan ludahnya sendiri, pelayan itu berkata,
"Tuan serius..?"
Fei Yang sambil tersenyum berkata,
"Bila kamu tidak yakin boleh minta teman mu kemari mencoba nya.."
Pelayan itu dengan gerakan cepat mengukur tangannya, hendak meraih uang di tangan Fei Yang.
Tapi baru saja tangannya bergerak, yang itu sudah jatuh kebawah, berpindah ke punggung kaki Fei Yang.
Dengan menggerakkan sedikit kakinya, uang itu melompat dari bawah keatas, kembali masuk kedalam telapak tangan Fei Yang.
Melihat atraksi ketangkasan Fei Yang, pelayan yang sudah berpengalaman itu, langsung paham.
Fei Yang pasti bukan orang sembarangan, pasti orang dunia persilatan yang memiliki kemampuan tinggi.
Dengan buru-buru, sambil membungkukkan badannya, pelayan itu berkata dengan penuh hormat.
"Silahkan tuan,.. silahkan ikut dengan ku,..mari tuan.."
Dengan gaya ramah pelayan itu mengajak Fei Yang dan Xue Lian, melewati lantai satu restoran yang di penuhi pengunjung.
Kedatangan Fei Yang yang berambut putih, di temani oleh Xue Lian yang terlihat memiliki kecantikan luar biasa.
Tentu saja membuat para tamu pria di sana pada menatap kagum kearah Xue Lian.