PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MEMBEBASKAN TAWANAN


Fei Yang yang tidak berhasil menemukan kakek itu, sambil berdecak kesal, dia perlahan lahan mendarat ringan diatas kapal yang satunya lagi.


Fei Yang masuk kedalam ruangan di dalam kapal, untuk melakukan pemeriksaan.


Tapi Fei Yang sedikit heran di semua ruangan, yang di masukinya, sama sekali tidak berhasil ditemukan para gadis yang mereka tawan.


"Atau jangan-jangan para gadis itu ada di kapal satunya lagi, yang meledak hancur berkeping-keping itu,."


batin Fei Yang sedikit meragu.


Tapi Fei Yang segera menepis pikiran tersebut, karena bila mereka ada di dalam kapal yang satunya.


Secara logika minimal pasti ada potongan tubuh, atau minimal ada potongan pakaian yang mengambang di atas sungai.


Bila hal itu tidak ada, berarti kemungkinan besar, mereka di kurung di ruang rahasia kapal ini.


batin Fei Yang dalam hati.


Fei Yang mencoba memasang pendengarannya,. akhirnya Fei Yang menemukan suara Isak tangis, yang sangat halus berasal dari bawah kolong ranjang.


Setelah ranjang besar itu di geser oleh Fei Yang, akhirnya Fei Yang menemukan sebuah pintu rahasia yang tertutup rapat di bawah sana.


Dengan sekali hantam, maka pecahlah.pintu kayu tebal penutup ruang rahasia, yang ada di hadapan Fei Yang.


Begitu pintu penutup itu pecah, terlihatlah undakan tangga kayu yang menurun ke bawah menuju lambung kapal bagian paling dasar, yang gelap dan berbau sumpek.


Fei Yang menggunakan sebutir mutiara malam warisan Wu Ti Sin Tong, untuk di jadikan sebagai penerangan, lalu dia melakukan pemeriksaan kebawah sana.


Saat menuruni undakan tangga, Fei Yang mulai mendengar suara Isak tangis yang jauh lebih jelas.


Suara itu berasal dari puluhan bilik kecil di bawah sana yang pintunya terkunci rapat dengan gembok.


Fei Yang menghancurkan gembok di depan pintu bilik-bilik itu satu persatu, sambil membuka pintu itu lebar lebar.


Para gadis di dalam tahanan itu pada menjerit ketakutan, wajah mereka pucat pasi, menatap kearah Fei Yang dengan air mata bercucuran.


"Kalian semua jangan takut, aku kemari untuk menolong kalian semua keluar dari tempat ini.."


"Ayo kita keluar dari tempat ini.."


ucap Fei Yang.


Kemudian dia memimpin jalan di depan diikuti oleh para gadis tawanan perompak itu naik keatas.


Setelah mereka semua berkumpul di atas geladak kapal, Fei Yang mengedarkan pandangannya, menatap kearah para gadis itu dan berkata,


"Aku akan melempar kalian satu persatu ke pinggir sana, kalian jangan khawatir.."


"Percayalah kalian akan baik baik saja.."


ucap Fei Yang mencoba meyakinkan mereka.


Alasan Fei Yang terpaksa mengambil keputusan ini adalah,


Kapal besar tidak mungkin bisa merapat sampai ketepi, dia juga tidak mungkin bolak balik menggendong mereka satu persatu ke pinggir, ini sangat tidak praktis dan tidak efisien.


Dia harus secepatnya membereskan masalah di sini, karena dia juga khawatir dengan keadaan Yue Feng.


Para gadis itu terlihat ragu, mereka berpikir bila di lempar dari jarak sejauh itu.


Bagus bila sampai ketepian, itupun dengan resiko jatuh babak belur.


Bila tidak sampai mereka akan terjatuh kedalam sungai berair dalam, yang penuh dengan mayat mengambang.


Fei Yang menghela nafas dan berkata,


"Baiklah,.. aku mohon kiranya ada yang sudi maju, menjadi contoh bagi teman-teman nya yang lain, bahwa ini sangat aman.."


Akhirnya dari kerumunan muncul tiga orang dengan wajah takut takut maju kedepan.


Tanpa banyak bicara Fei Yang langsung melempar mereka bertiga melayang kearah daratan.


"Aahhhh,..!!"


teriak mereka bertiga kaget.


Karena tubuh mereka mendarat ringan di tepi pantai, tanpa terjadi benturan sedikitpun.


Melihat ketiga orang itu berhasil mendarat dalam keadaan baik baik saja.


Akhirnya yang lain satu persatu mulai berani, memasrahkan diri untuk di lempar Fei Yang ketepi sungai.


Suara teriakan ketakutan selalu terdengar setiap ada tubuh yang melayang ketepi sungai.


Akhirnya hanya tinggal satu gadis gemuk yang menatap Fei Yang dengan ketakutan dan berkata,


"Aku tidak mau di lempar, tubuh ku gemuk dan berat bila jatuh pasti sangat menyakitkan.."


"Aku tidak mau di lempar seperti mereka.."


Fei Yang menatap gadis gendut itu, sambil berusaha sabar bertanya,


"Lalu kamu maunya seperti.apa ,? agar bisa berkumpul bersama mereka di pinggir.?"


Sambil tersenyum malu-malu penuh arti, si gendut berkata,


"Tuan pendekar, kini juga hanya tinggal aku seorang.."


"Tuan pendekar berbaik hatilah, menggendong saya terbang ke pinggiran sana."


Mendengar permintaan si gendut, rasa dongkol Fei Yang pun timbul, sifat isengnya muncul.


Sambil tersenyum ramah Fei Yang berkata,


"Baiklah mari saya gendong kamu terbang ke pinggir sana.."


Si gendut tersenyum girang dan buru buru maju mendekat kearah Fei Yang.


Fei Yang membungkuk dan menggendongnya tanpa kesulitan.


Tapi Fei Yang tidak membawanya terbang menuju tepian.


Melainkan langsung melemparnya secara sembarang ketepian sana.


"Aaaihhh,..!"


teriak si gendut kaget.


"Blukkkkk,..!"


Si gendut yang di kerjai oleh Fei Yang justru mendarat keras, dengan wajah tiba lebih duluan menghantam pinggiran pantai, yang ada kubangan lumpurnya.


Si gendut yang sial tubuhnya mendarat keras jatuh kedalam kubangan lumpur, bekas berendam kerbau.


lumpur sampai terbang ciprat kemana mana.saat si gendut mendarat disana.


Si gendut sempat gelagapan dan muntah muntah, karena selain tubuhnya kotor penuh lumpur,.dia juga sempat menelan kotoran sapi, yang berlepotan di wajah dan rambutnya.


Fei Yang sendiri menyusul mendarat ringan di tepi pantai, tanpa memperdulikan si gendut yang sedang muntah.


Fei Yang berkata,


"Ayo semuanya ikut dengan ku, kembali ke desa nelayan terdekat dari sini."


Setelah itu Fei Yang melangkah ringan meninggalkan tempat itu, diikuti oleh rombongan gadis gadis yang berusaha menahan tawa.


Saat mereka melihat nasib si gendut, yang memang terkenal reseh dan agak menyebalkan jatuh kedalam kubangan lumpur.


Suasana yang tadi nya tegang ketakutan, kini berubah menjadi suasana yang ceria penuh gelak tawa, sebagai efek dari atraksi yang di tunjukkan oleh si gendut.


Si gendut dengan tubuh kotor wajah kotor dengan kesal terus memaki maki dan menyumpahi Fei Yang dari belakang.


Tapi Fei Yang pura-pura tidak mendengar nya, dan terus melangkah meninggalkan tempat tersebut.


Fei Yang sambil melangkah menuju desa nelayan,.dia mengedarkan pandangan dan pendengarannya mencari cari kemungkinan keberadaan Hong Yi dan Yue Feng.


Tapi hingga kembali kedesa, Fei Yang tidak berhasil menemukan mereka berdua.


Setelah tiba di desa, Fei Yang langsung meninggalkan rombongan gadis itu, bergerak cepat menuju penginapannya, sambil berharap bisa menemukan Yue Feng dan Hong Yi disana.