
Setelah itu Fei Yang melangkah meninggalkan tempat itu sambil menghapus airmata dan mengeraskan hatinya.
Li Dan mengangguk, dia segera menghampiri Li Yuan Hao, Li Dan memberi hormat dan berkata,
"Maaf paman Hao.."
Li Yuan Hao tersenyum bahagia dan mengangguk kecil, lalu memejamkan matanya.
Pedang Li Dan berkelebat cepat,
"Cresss,..!!"
kepala Li Yuan Hao pun terpisah dari tubuhnya.
Sambil melangkah pergi, Fei Yang mengirim pesan suara kearah Li Dan.
"Kakak Dan, bagaimana pun dia masih paman kita, berikan dia penguburan layak di sebelah makam nenek.."
Li Dan menganggukkan kepalanya sambil menatap bayangan punggung Fei Yang yang terus berjalan meninggalkan lokasi pertempuran.
Tanpa menghiraukan kesibukan yang sedang berlangsung, seolah tidak ambil pusing.
Fei Yang dengan wajah dingin melayang langsung menuju puncak menara tertinggi.
Dia berdiri seorang diri di sana, menyapu pandangan nya kebawah, melihat mayat bertumpuk tumpuk di mana mana, ada juga yang mengerang merintih menangis mengharapkan bantuan.
Fei Yang menghela nafas panjang berkata,
"Demi ambisi satu dua orang, harus menyengsarakan begitu banyak orang.."
"Mengapa dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah.."
"Mengapa ? Shang Thian (Tuhan ) tolong katakan pada ku kenapa ?"
"Kenapa manusia selalu tidak bisa hidup berdampingan dengan damai.."
"Jelas jelas saling mencinta tapi harus terpisah,.. mengapa ?"
ucap Fei Yang dengan wajah sedih, air mata pun menetes bergulir di wajahnya, yang terlihat jauh lebih dingin.
Satu persatu kenangan indah, tentang kemesraan nya, kebahagiaan nya, bersama Wei Wen, muncul kembali didepan mata nya.
Tanpa bisa dia cegah airmata jatuh bergulir dengan sendirinya.
Fei Yang memejamkan matanya menengadahkan kepalanya menghadap langit.
Membiarkan angin sore berhembus menerpa wajahnya, membantu menyapu kering sisa airmata nya.
"Wen Wen benarkah diantara kita tidak ada yang bisa di bicarakan lagi dengan baik baik..?"
gumam Fei Yang pelan.
Sambil menghela nafas panjang, Fei Yang melanjutkan bergumam kecil.
"Mengapa kamu tidak mau mendengar penjelasan ku,?"
"Mengapa kamu begitu tidak mempercayai ku ?"
"Mengapa kamu tidak memberiku sedikit kesempatan, juga memberi diri mu sedikit kesempatan,..?"
"Apakah hubungan kita, cinta kita, kenangan kita semuanya begitu tidak berarti di mata mu .?"
ucap Fei Yang bertanya pada diri nya sendiri, semakin lama semakin emosi.
Setelah emosinya mereda, Fei Yang baru berkata pelan dengan nada kecewa,
"Aku pernah mengira kamu adalah satu satunya milikku, yang akan mendampingi ku hingga tua.."
"Ternyata aku salah, karena mulai saat ini aku tidak akan pernah bisa lagi menjangkau mu.."
"Baiklah bila kamu tidak menghargai nya lagi, aku juga tidak akan memaksanya lagi."
"Bila itu yang kamu inginkan, aku akan doa kan kamu berbahagia.."
"Biarlah semua kenangan manis di antara kita, akan berlalu terbawa angin senja ini.."
ucap Fei Yang sambil tersenyum sedih.
Beberapa waktu berlalu dalam diam, akhirnya Fei Yang membuka kembali matanya.
Sepasang matanya menyorotkan sinar dingin, sedingin hatinya, Dia berkata pelan seolah mengingatkan dirinya sendiri.
"Aku harus belajar melepaskan mu, merelakan mu,.."
"Ya,.. Fei Yang kamu harus bisa.."
ucap Fei Yang penuh tekad
"Sian Sian kamu sudah tiba,?"
"Maaf kakak telah menunjukkan didepan mu, sikap memalukan yang pantas di tertawakan oleh orang sedunia.."
ucap Fei Yang pelan tanpa menoleh.
Sedangkan naluri kewaspadaan nya, tidak menangkap.adanya ancaman bahaya.
Jadi dia baru menyadari kehadiran Sian Sian yang bersembunyi di balik tangga menara, secara diam diam memperhatikan dan mendengarkan semua keluh kesahnya.
Sian Sian tanpa menjawab, dia langsung berlari maju menubruk punggung Fei Yang, melingkarkan sepasang tangannya di pinggang Fei Yang.
Sian Sian menggeleng pelan dan berkata,
"Tidak kak, Sian Sian sama sekali tidak merasa seperti itu, perasaan kakak saat ini Sian Sian sangat mengerti ."
"Yang paling penting saat ini, kakak telah pulang di sinilah rumah kita.."
"Lupakan saja semua kenangan sedih dan tidak menyenangkan itu, Sian Sian pasti akan menemani kakak menghadapi nya.."
Fei Yang tersenyum tipis dan berkata,
"Terimakasih Sian Sian, kamu memang adik kakak, yang paling baik dan paling pengertian.."
Sian Sian langsung mutar Fei Yang menghadap kearah dirinya dan berkata,
"Tidak kak, Sian Sian tidak mau jadi adik kakak.."
"Sian Sian mau kembali menjadi tunangan kakak, Sian Sian hanya ingin mendampingi kakak seorang sampai kita tua nanti.."
ucap Sian Sian sambil menatap Fei Yang dengan serius.
Fei Yang melihat keteguhan hati dan keputusan yang sudah bulat tidak mungkin bisa di ganggu gugat tersirat di mata Sian Sian
Dia hanya bisa menghela nafas panjang dan berkata,
"Sian Sian untuk saat ini, kakak sudah tidak mau memikirkan hubungan pria dan wanita.."
"Kakak belum siap untuk itu, kamu harus mengerti.."
Sian Sian mengangguk cepat dan berkata,
"Sian Sian mengerti kak, Sian Sian siap menunggu hingga kakak siap.."
Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,
"Sian Sian kamu jangan bodoh, bagaimana bila kakak tak pernah siap seumur hidup..?"
"Bagaimana bila kelak kakak memutuskan tinggal di Xu San menjadi pertapa, seperti guru Yi Han..?"
Sian Sian sambil tersenyum manis, berkata,
"Kalau begitu aku akan ikut pindah kesana menjadi pertapa wanita mendampingi kakak.."
Fei Yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dia berkata,
"Kamu ini tidak pernah berubah ya, dari kecil hingga besar."
"Kalau sudah ada mau nya sulit di larang.."
"Baiklah kakak nyerah, terserah kamu saja.."
"Tapi ingat bila tiba waktunya kamu jangan menyesal dan menyalahkan kakak karena nya.."
ucap Fei Yang tak berdaya.
Sian Sian baru mau berkata, tapi keburu di potong oleh suara Li Dan.
"Adik Yang,.. pemakaman paman dan nenek sudah selesai, semua sudah siap tinggal menunggu kehadiran kakak saja.."
"Ohh ya, bagaimana dengan tahan perang, termasuk pangeran Agoda..?"
"Li Dan kamu ini ya, bloon ato apa,? sekarang hari sudah gelap,.."
"Mau sembahyang dan doa juga besok pagi, malam malam ke kuburan mau lihat hantu..?"
"Bukannya pulang lihat kakak ipar, malah muncul di sini..tidak tahu bagaimana kakak ipar bisa tahan dengan kayu macam kamu..?"
tegur Sian Sian yang merasa terganggu dengan bibir cemberut.
Li Dan sudah paham dan hapal dengan sikap Sian Sian yang moodnya lebih parah dari cuaca.
Mereka termasuk pasangan main dari kecil, tentu dia sangat paham dengan sifat Sian Sian.
Dia tidak ambil hati, hanya tersenyum canggung, diam menunggu keputusan Fei Yang.
"Sian Sian,.. "
tegur Fei Yang dengan tatapan matanya.
Sian Sian menjebikan bibirnya, menanggapi teguran Fei Yang.
Tapi dia langsung meninggalkan menara menunggu di bawah.
Fei Yang menatap Li Dan dengan tidak enak hati dan berkata,
"Maafkan sikapnya yang suka seenak hati, tapi ucapan nya juga ada benarnya.."