
Yue Feng menangis sedih dengan airmata bercucuran, menetes membasahi ranjang batu di hadapannya.
Yue Feng terus menangis sedih sambil menatap mutiara Sarira di hadapannya.
Suara teriakan dan tangisan Yue Feng menggetarkan seluruh ruangan tersebut.
Ini wajar karena kini di tubuh Yue Feng telah bersemayam tenaga sakti biksu Hui Ke yang tidak kurang dari 700 tahun.
Biksu Hui Ke telah pergi dengan tenang menyusul gurunya.
Di dalam gua kini hanya tersisa Yue Feng seorang diri, yang sedang berlutut sambil menangis sesunggukkan.
Yue Feng akhirnya menghentikan tangisannya dan berkata,
"Murid akan menaati pesan guru, murid tidak akan bersedih lagi."
"Terimalah penghormatan murid."
ucap Yue Feng kemudian dia membenturkan dahinya keatas ranjang batu selama tiga kali.
Sebagai penghormatan kepada gurunya.
Dengan tangan gemetar, dia mengambil mutiara Sarira itu dan menyimpannya kedalam saku bajunya.
Setelah itu Yue Feng dengan mudah memindahkan ranjang batu yang sangat berat. itu.
Yue Feng menempelkan sepasang telapak tangannya di dinding batu di belakang ranjang.
Dia kemudian mendorongnya dengan pelan, hingga pintu batu itu bergeser kesamping tanpa kesulitan.
Yue Feng mulai menyadari, kekuatan yang di wariskan oleh gurunya itu bukan kekuatan yang dapat di buat main main.
Setelah batu bergeser, Yue Feng pun keluar dari dalam ruangan melewati celah yang terbentuk.
Yue Feng mengikuti lorong yang gelap di hadapan nya hingga kembali tiba di mulut gua.
Dan menyaksikan Hong Yi sedang dalam bahaya.
Dalam keadaan panik, reflek Yue Feng menggunakan tapak naga langit jurus pertama Naga langit meradang.
Kemudian di susul dengan jurus kedua Kembalinya Naga langit meradang..
Dengan dua jurus itu, Yue Feng dalam duel perdananya, langsung membuat Im Kan Wu Ee tinggal nama.
"Begitulah kira-kira ceritanya sayang, ohh ya di mana adik Yang sekarang ?"
tanya Yue Feng sambil menatap kekasihnya.
"Kakak Yang sudah melanjutkan perjalanan nya seorang diri, dari 3 hari yang lalu.."
ucap Hong Yi sedikit menyesal.
Yue Feng sedikit terharu, dia sadar pasti Hong Yi sengaja memilih berpisah dari Fei Yang.
Hanya demi menunggu dirinya, tanpa kejelasan.
Untung dia selamat, bila tidak bukan kah Hong Yi, akan menunggunya seumur hidup di tempat ini.
"Makasih ya sayang, maaf membuat mu jadi terpisah dari Fei Yang."
"Aku janji, aku akan membantu mu menemukan Fei Yang, setelah itu kita akan melakukan pertukangan bersama-sama lagi.."
ucap Yue Feng mencoba memberi hiburan.
Tapi Hong Yi menggeleng dan berkata,
"Kita mau bertualang sampai kapan dengan nya,? Paman guru itu tidak punya tujuan dan waktu yang jelas.."
"Aku tidak mau seperti itu,.."
ucap Hong Yi pelan dengan kepala sedikit menunduk malu.
Melihat reaksi kekasihnya, Yue Feng sedikit bingung.
Dengan wajah ragu dia bertanya,
"Lalu kira kira kedepannya, kamu ingin bagaimana ? mencari tempat menetap atau kita berpetualang bersama sama..?"
"Cari Fei Yang,.."
jawab Hong Yi cuek.
Kini Yue Feng sudah tidak bisa menahan rasa bingung nya.
Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia menatap kearah kekasihnya seperti orang bodoh menunggu penjelasan.
Hong Yi tersenyum sambil menahan tawa dia berkata,
"Setelah itu aku tidak mau melanjutkan pertulangan dengan paman guru.."
"Pokoknya selanjutnya terserah kak Feng, tapi aku tidak mau ikut dengan Paman guru.."
ucap Hong Yi kembali menunduk dengan wajah merah, sambil mencuri curi pandang kearah Yue Feng.
Kini Yue Feng paham, dia sambil tersenyum lebar berkata,
"Kalau begitu, bagaimana bila kita teruskan perjalanan menuju ke puncak gunung Xuan Wu, dekat Xu San..?"
"Buat apa ?"
tanya Hong Yi pura pura tidak mengerti.
Yue Feng sambil tersenyum sabar berkata,
"Aku dan kamu sama sama tidak punya siapa siapa lagi untuk menjadi wali kita.."
"Aku ingin kita kesana, sembahyang sekaligus meminta doa restu dari guru mu."
"Buat apa ?"
tanya Hong Yi dengan kepala tertunduk.
Yue Feng tersenyum bahagia dan berkata,
"Aku ingin meminang mu menjadi istri ku, pendamping hidup ku hingga tua nanti.."
"Bagaimana kamu mau kan ?"
Hong Yi menyusupkan kepalanya kedalam pelukan Yue Feng dan berkata pelan,
"Terserah kak Feng, Hong Yi ikut saja.."
Yue Feng tertawa gembira, dia langsung menggendong Hong Yi dan melompat tinggi ke udara.
"Heiiii,..kakak...!!"
teriak Hong Yi kaget.
Yue Feng tidak memperdulikan reaksi Hong Yi, dia terus melompat keatas, dengan menendang punggung telapak kaki nya sendiri., sambil tertawa gembira.
Tubuh mereka terus terbang keatas, bahkan mereka sudah melewati bagian kepala dari patung Buddha raksasa, di Ling San.
Mereka melayang hingga menembus awan.
Hong Yi awalnya kaget, tapi setelah tenang, dia mulai bisa menikmati pemandangan indah dari atas udara.
Karena Yue Feng tidak memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, hanya memiliki tenaga sakti dahsyat.
Perlahan-lahan dia dan Hong Yi dalam pondongan nya, sedikit demi sedikit mulai kembali turun keatas tanah.
Setelah turun keatas tanah, sesaat kemudian terlihat dua muda mudi itu, sudah menumpang perahu untuk kembali ke Jiang Nan.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan gembira.
Di tempat lain, Fei Yang yang melanjutkan pertulangannya seorang diri, dia sudah melanjutkan perjalanan nya seorang diri menuju kota Hang Zhou.
Fei Yang memutuskan melakukan perjalanan dengan berjalan seperti orang biasa.
Dia sengaja tidak menggunakan Kim Tiaw, dia melakukan perjalanan nya dengan berjalan kaki, agar tidak mencolok dan menarik perhatian.
Memasuki kota Hang Zhou yang ramai, Fei Yang pun bertanya pada penjaga pintu gerbang kota.
"Maaf kak menganggu, saya mau numpang tanya, di sini di kota ini, di mana aku bisa menemukan restoran termewah termahal dan paling terkenal di kota ini.."
"Ohh bisa tentu saja bisa, di sebelah selatan kota di pinggir danau Xi ( Xi Hu) ada restoran Naga dan Phoenix, itu adalah restoran terbesar di kota ini.."
"Selain itu di sana juga ada di sediakan penginapan terbaik kota ini ."
ucap penjaga pintu gerbang itu menjelaskan dengan ramah.
Fei Yang memberi hormat kepada nya dan berkata,
"Terimakasih kakak informasi nya, ini saya ada sedikit rejeki buat minum teh.."
Fei Yang memberikan beberapa keping tembaga kedalam tangan penjaga itu.
Penjaga itu mengangguk riang dan berkata,
"Terimakasih tuan muda, selamat menikmati keindahan kota Hang Zhou."
"Bila ada kesulitan di kota ini, hubungi saja aku, aku akan membantu mu.."
Fei Yang mengangguk sambil tersenyum ramah, lalu melanjutkan perjalanan menuju kearah selatan sesuai petunjuk penjaga gerbang tadi..