PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PERTANYAAN ZI ZI


Nan Thian menyajikan air putih untuk ayah ibu dan kakaknya.


Karena di tempatnya ini, selain itu dia tidak punya lainnya.


"Ayah Ibu kakak silahkan minum, maaf tempat ku hanya ada ini..?"


ucap Nan Thian tersenyum canggung.


Hong Yi Yue Feng tersenyum bahagia menatap putranya, yang meski masih pendiam dan tertutup, tapi kini sudah terlihat matang dan dewasa pembawaannya.


Bahkan mereka yakin putra mereka ini, ditubuhnya menyimpan kekuatan yang sangat dahsyat dan mengerikan.


Mungkin masih diatas Yue Feng sendiri, bahkan bukan tidak mungkin sudah melampaui Fei Yang kakek paman gurunya.


Hal ini terlihat jelas dari sorot matanya, juga aura yang merembes keluar tanpa Nan Thian sadari.


"Thian Er bagaimana bila kamu ikut dengan kami pulang ke Xu San..?"


tanya Hong Yi hati hati, sambil menatap putranya dengan lembut.


Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Ibu maaf, bukan Nan Thian tidak menurut, tapi saat ini belum bisa.."


"Setelah kaki Nenek bibi guru Xue sembuh, Nan Thian janji.."


"Nan Thian pasti akan kembali ke Xu San mengunjungi ayah ibu.."


ucap Nan Thian serius.


Hong Yi menghela nafas panjang, dia sedikit menengadah menahan air mata nya tidak runtuh.


Sesaat kemudian setelah perasaannya lebih tenang, sambil membersihkan matanya yang sedikit basah.


Lalu Hong Yi kembali menoleh kearah putranya dan melanjutkan berkata,


"Baiklah bila itu keputusan mu, ibu tidak akan memaksa mu.."


"Ingat apapun keadaan mu, kami tetap adalah keluarga mu, kami akan selalu menanti kepulangan mu.."


"Di dunia ini kamu tidak sendiri, nak.."


ucap Hong Yi sambil menyentuh punggung telapak tangan putranya dengan lembut.


Air matanya tahu tahu sudah menggantung di pipinya.


Rambut nya sudah mulai memutih tapi kecantikan nya masih belum hilang.


Tentu saja Hong Yi tidak bisa menandingi Fei Hsia dan Xue Lian yang tidak bisa termakan oleh usia.


Nan Thian menatap keluarganya dengan penuh haru dan menganggukkan kepalanya,


"Thian Er akan selalu ingat itu Bu.."


ucap Nan Thian pelan.


"Thian Er kamu sudah dewasa dan matang, ibu yakin kamu bisa menangani perasaan mu.."


"Thian Er, tadi ibu dan ayah sudah bicara dengan kakek paman guru mu Fei Yang, mengenai hubungan kalian.."


"Maafkan kami nak, ayah ibu belum bisa memenuhi keinginan kalian.."


ucap Hong Yi sambil menatap putranya dengan tatapan mata sedih dan kasihan.


"Apa yang terjadi Bu,.. katakan saja, Thian Er siap menerimanya.."


ucap Nan Thian semakin yakin dengan perasaan nya, sesuatu yang kurang baik mungkin akan kembali menguji asmaranya.


"Thian Er, kakek Paman guru mu, dia tidak bisa menerima permintaan kami, karena Zi Zi sudah punya tunangan.."


"Pertunangan itu sudah di lakukan sejak Zi Zi belum lahir, jadi dalam hal ini, Zi Zi sendiripun hingga saat ini belum tahu.."


ucap Hong Yi berusaha memberi penjelasan sehati hati mungkin.


Agar tidak terlalu menyakiti perasaan putranya.


Nan Thian tersenyum pahit, berusaha menahan guncangan perasaannya.


Ujung meja yang dipegangnya tanpa disadari sudah hancur menjadi tepung.


Kanan mejadi debu pasir gosong, kiri berubah menjadi debu pasir es yang terlihat berserakan di lantai terhembus angin.


Diam diam Yue Feng dan Yue Lin memandang kagum, kekuatan yang ditunjukkan oleh Nan Thian tanpa dia sadari.


"Ibu kalau boleh tahu, siapa tunangannya.."


tanya Nan Thian pelan.


"Li Sun,.. putra nya Li Dan dan Kan Pai Lan Yi.."


ucap Hong Yi sambil menatap kasihan ke putranya.


Sesaat kemudian dia berkata pelan,


"Mereka memang lebih cocok dari segi usia dan segala nya.."


"Keputusan Kakek paman guru sudah tepat.."


"Ibu masalah ini, sebaiknya Zi Zi jangan di beritahu dulu, biar aku bicara pelan pelan, dengan nya nanti .'


ucap Nan Thian berusaha tampil setenang mungkin, meski hati dan perasaannya sedang hancur lebur.


Hatinya yang sempat hancur, kini batu mulai pulih, dengan kehadiran Zi Zi, kini dengan kejam kembali di hancurkan lagi.


Rasa sakitnya sekali ini, bahkan 2 kali lipat lebih parah dari sebelumnya.


Bila Nan Thian bukan sudah pernah mengalahkan iblis hati nya, kemungkinan dia bisa Cau Huo Ru Mo ( Kebakaran Masuk Iblis ).


Atau dengan kata lain tersesat jalan dalam latihan.


Kemungkinan akan jadi iblis dan kehilangan kesadaran dan jati dirinya sendiri.


"Thian Er ibu tahu, kamu pasti sangat kecewa sedih dan terluka, bila ada sesuatu yang kamu rasakan lepaskan lah jangan di tahan nak.."


"Ibu ayah di sini, selalu siap untuk mendengar dan menghibur mu.."


ucap Hong Yi khawatir, karena dia paham sifat tertutup putranya ini.


Nan Thian tersenyum pahit dan berkata,


"Ibu tenang saja Thian Er tidak apa apa, Thian Er masih mampu menanganinya.."


"Baiklah Thian Er, ibu percaya pada mu.."


ucap Hong Yi sambil menghapus airmatanya yang kembali runtuh


"Satu hal lagi nak, ayah mau menambahkan untuk kamu ingat.."


"Ya Ayah katakan saja, Thian Er akan mengingatnya."


Yue Feng mengangguk kemudian berkata dengan serius,


"Thian Er Ayah harap kamu tidak menyalahkan Kakek paman dan nenek bibi guru mu, mereka juga punya kesulitan sendiri, atas keputusan ini.."


"Cobalah untuk paham dan mengerti..posisi mereka.."


ucap Yue Feng memberi nasehat mengingatkan putranya.


"Ya,..ayah Thian Er mengerti.."


"Hiks..hiks.. Pranggg...!"


terdengar suara piring jatuh pecah di samping pintu pondok.


Nan Thian buru buru melesat keluar dari dalam ruangan untuk memastikan siapa di sana.


Firasatnya tidak salah,.dia hanya bisa berdiri mematung menatap gadis cantik yang berdiri bersandaran dinding pondoknya.


Dengan airmata bercucuran tiada henti membasahi wajahnya yang cantik.


"Kakak tampan,.. benarkah kakak ingin pergi dari Zi Zi..?"


"Benarkah kakak tidak lagi menghendaki Zi Zi ..?"


"Benarkah kakak ingin menuruti keputusan ayah ibu ku yang tidak masuk akal itu..?"


tanya Zi Zi sambil menahan Isak menatap kearah Nan Thian.


Nan Thian hanya bisa berdiri mematung, menatap kearah nampan berisi mangkuk dan piring yang kini pecah berantakan berserakan di atas lantai.


Hingga isi masakan di dalam, tumpah berceceran di atas lantai.


Keadaan masakan yang hancur berantakan itu, sama dengan perasaan dan hatinya yang hancur berantakan.


Nan Thian sama sekali tidak berani menjawab dan menatap Zi Zi secara langsung.


Dia takut bila dia menatap kesedihan di wajah Zi Zi, hatinya akan semakin hancur.


Nan Thian hanya bisa menyalahkan keteledorannya, sehingga bisa tidak menyadari Zi Zi hadir dan ikut mendengar di sana.


Zi Zi mewarisi ilmu Wu Ying 72 Pian Pu dari Fei Hsia, sejenis ilmu langkah ajaib, yang bisa membuat dirinya muncul dan menghilang sesuka hati.


Ini adalah ilmu Ling Pao Thian Cun, ilmu kelas dewa yang di wariskan oleh Wu Song.


Tentu saja sangat sulit di deteksi, ditambah lagi Nan Thian dan yang lainnya, kondisi perasaan mereka sedang kacau dan tidak fokus.


Sehingga kewaspadaan mereka jauh menurun.


Makanya kehadiran Zi Zi di sana, tidak ada satupun yang menyadarinya.