PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
DI HUKUM BERSAMA


Afei sambil tersenyum berkata,


"Kalau melawan paman Li, kamu emang benar, aku cuma bisa bertahan.."


"Tapi kalau melawan bocah cilik seperti...."


"Ku rasa tidak bertahan juga tetap akan menang.."


ucap Afei sambil tertawa.


"Apa maksud mu,..? siapa yang kamu bilang bocah cilik,..?"


ucap Sian Sian sudah siap dengan sendok kuah ingin memukul.


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Tentu saja bukan kamu, kamu sudah terlalu besar dan tua.."


"Kau...!!"


teriak Sian Sian ingin melempar Fei Yang dengan sendok kuah ditangannya.


Tapi sendok nya sudah di rebut oleh Li Cing, yang langsung menegur mereka.


"Kalian berdua ini bila bertemu selalu ada saja yang di pertengkaran, apa kalian tidak malu."


"Habis dia sih yang memulainya lebih dulu,.."


Bantah Sian Sian dengan bibir cemberut dan wajah merah.


Sedangkan Fei Yang hanya menundukkan kepalanya sambil tersenyum senyum kecil.


Dia merasa sudah cukup puas, bila berhasil membuat gadis itu jengkel.


Li Cing menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tak usah membantah, ayo makan,.. kalian berdua sama saja.."


Fei Yang tanpa membantah langsung menyumpit ****** ayam lalu meletakkannya kedalam mangkuk bubur Sian Sian, dan berkata,


"Jangan marah lagi, semoga bagian ini bisa mengurangi bibir mu yang mancung itu.."


Li Cing yang melirik apa yang Fei Yang ambilkan buat cucunya, yang manja dan galak itu.


Dia langsung tersedak, dan buru-buru meninggalkan meja makan, sambil menutupi mulutnya yang hampir menyemburkan makanan dari dalam mulutnya.


Selepas Li Cing pergi kondisi tempat itu langsung menjadi kacau balau, karena Sian Sian dalam kesalnya sudah melempar ****** ayam itu ke wajah Fei Yang.


Tapi Fei Yang dalam gerak cepat, berhasil menghindarinya sambil tertawa tawa meledek Sian Sian.


Sian Sian tentu menjadi semakin kesal, tanpa pikir panjang, dia meraih mangkuk bubur miliknya untuk menimpuk Fei Yang.


Tapi Fei Yang kembali berhasil menghindarinya dan berkata,


"Gak kena,.. gak kena,.. ha,..ha,..ha..lihat ****** ayamnya semakin kedepan.."


Sian Sian sudah tidak bisa menahan kesalnya lagi, satu mangkuk besar bubur langsung dia lemparkan ke arah Fei Yang, sehingga tumpah berantakan kemana mana.


Bahkan sebagian terciprat balik kewajahnya sendiri, karena Fei Yang menggunakan taplak meja untuk menangkis siraman bubur dan mengembalikan nya ke Sian Sian.


Selagi Sian Sian yang pakaian dan kepalanya sedikit berlepotan bubur, ingin menerkam dan mencekik leher Fei Yang.


Tiba-tiba Li Cing kembali masuk kedalam ruangan, melihat keadaan makanan yang berserakan berantakan di mana mana.


Meledak lah emosi Li Cing,


"Hentikan,...!!". Hentikan kata ku,..!!"


"Kalian berdua benar benar kelewatan, cepat hentikan,..!!"


"Lihat akibat perbuatan kalian berdua..!!"


"Aku tidak mau tahu, kalian berdua harus bertanggung jawab membersihkan tempat ini..!!"


"Bila tidak selesai, kalian tidak di ijinkan untuk makan..!!"


teriak Li Cing marah.


Baik Fei Yang maupun Sian Sian sama sama tertunduk, tidak ada yang berani membantah.


Mereka hanya saling senggol dan saling menyalahkan dengan ekspresi wajah mereka.


Melihat hal ini, Li Cing kembali membentak dengan wajah kesal..


"Masih berani ribut lagi,..!!"


"Ingin ku tambahi hukuman nya baru kalian berdua puas..!!"


Kedua orang itu pun terdiam dengan kepala tertunduk.


Hingga Li Cing pergi.


Mereka berdua pun mulai membereskan kekacauan yang mereka timbulkan.


Karena tidak fokus jarinya secara tidak sengaja tergores pecahan mangkuk sehingga dia langsung menjerit kecil,


"Aduh,...!!"


Fei Yang buru buru menoleh kearah Sian Sian, melihat tangan Sian Sian terluka, tanpa berpikir panjang, Fei Yang langsung menghampiri Sian Sian.


Meraih tangan nya yang terluka, dan langsung memasukkan kedalam mulutnya.


Sian Sian sesaat terkejut tidak sempat menolak.


Tapi saat sadar wajahnya langsung merah padam menahan malu.


Dia buru-buru menarik tangannya kembali, dan mendorong Fei Yang menjauhinya dan berkata,


"Awas minggir..!!"


Fei Yang sedikit terkejut, tapi dia pun tersadar, perbuatannya yang terburu-buru sedikit kurang pantas.


Karena mereka sekarang sudah dewasa bukan anak kecil lagi, anak gadis dan pria terikat batasan norma kesopanan..


"Maaf, aku tadi kurang sopan,.. sini biar ku rawat luka mu."


ucap Fei Yang lalu merobek sedikit lengan bajunya untuk membantu membungkus luka di jari Sian Sian dengan hati hati.


Sekali ini Sian Sian tidak menolaknya,.. dia membiarkan Fei Yang merawat luka di tangannya tanpa berkata apapun.


Jarak mereka berdua begitu dekat, Sian Sian bisa melihat dengan jelas wajah Fei Yang.


Diam diam Sian Sian membatin dalam hati, Afei meski nakal tapi dia termasuk cukup tampan cerdas dan perhatian..


Sayang nya Afei terlalu penakut dan terlalu tidak bisa di andalkan, andaikan Afei ada setengah saja keberanian dan kemampuan Ping Huo Ta Sia.


Bukan mustahil aku akan jatuh hati padanya.


"Sudah beres, sudah kamu duduk saja di sani, biar urusan beres beres semua serahkan pada ku saja,.."


Sian Sian saat mendengar ucapan Fei Yang, dia pun tersadar dari lamunannya dan mengutuki pikirannya sendiri yang kemana mana.


Sambil tersenyum malu Sian Sian berkata,


"Terimakasih Afei,.. tapi bila kamu bekerja sendirian dan ketahuan oleh kakek, aku akan mendapat marah.."


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Tangan mu terluka, tidak leluasa bekerja, kalau kakek bertanya, aku akan jelaskan pada nya.."


"Kalau kakek menghukum mu, aku yang akan menanggungnya, jadi kamu tenang saja.."


Sian Sian menatap Fei Yang dengan penuh rasa terimakasih, dan berkata,


"Afei maafkan sikap ku sebelumnya pada mu, aku berjanji kedepannya akan bersikap lebih baik pada mu.."


Afei tersenyum dan berkata,


"Tidak perlu nona,.. aku lebih suka dan terbiasa dengan sikap mu yang apa adanya.."


"Aku lebih suka kamu menjadi dirimu sendiri dan apa adanya.."


Sian Sian tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya.


Afei sudah kembali bekerja, tanpa memperdulikan reaksi dari Sian Sian.


Sian Sian duduk duduk terkena angin semilir dari jendela dia menjadi ngantuk akhirnya dia tertidur di sana.


Afei menyadari hal itu, dia sengaja membiarkannya tidak ingin menganggunya, hanya terus melanjutkan pekerjaannya membersihkan ruangan itu hingga beres.


Setelah selesai Afei baru menghampiri Sian Sian dan berkata,


"Nona,.. Nona,..! bangun,.. bangunlah,.. !"


Sian Sian pun terbangun, dengan di liputi perasaan kaget dan malu.


Suan Sian pun berkata,


"Maaf aku ketiduran..."


"Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Tidak apa-apa, hanya saja di sini sudah beres.."


"Hukuman kita sudah selesai, bila nona mengantuk kembali saja ke kamar untuk beristirahat.."


"Kini sudah bebas.."


Sian Sian menatap kearah Afei dan berkata,


"Terimakasih ya, Afei.."


Afei tersenyum dan berkata,


"Lupakan saja nona, lagi pula dari awal ini semua juga bermula dari kejahilan ku.."