PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENYIAPKAN SARAPAN


Fei Yang langsung melesat kedalam gedung, melakukan pengejaran terhadap Dote Jigme dan Kipu, yang menyamar menjadi pimpinan pasukan bulan sabit.


Ping Huo Ta Sia,...!! Berhati hati lah..!!"


teriak Sian Sian dengan suara keras.


Fei Yang sebelum masuk kedalam gedung sempat menoleh kebelakang, melemparkan senyum lembut dan menganggukkan kepalanya, baru dia menghilang kedalam gedung.


Tapi setelah menunggu beberapa waktu, yang datang ke lokasi, bukanlah Ping Huo Ta Sia, yang keluar dari dalam gedung yang berantakan dan gelap.


Melainkan Afei yang berlarian datang membawa pasukan keamanan kota.


Afei buru buru menghampiri Sian Sian dan berkata,


"Kalian semua tidak apa-apa ? Sian Sian Paman Li Jendral kalian tidak apa-apa bukan..?"


"Maaf aku tadi pergi mencari bala bantuan.."


ucap Afei memberi alasan.


"Menunggu mu dan bala bantuan ini datang, takutnya kami semua sudah jadi mayat di sini.!"


Bentak Sian Sian kesal.


Afei pun terdiam dan menundukkan kepalanya, tidak berani berkata kata lagi.


Sedangkan pasukan keamanan kota yang datang, sebagian berjaga di depan, sebagian lagi menerobos masuk kedalam gedung, untuk melakukan pemeriksaan..


Afei pelan pelan bergeser menjauhi gadis galak itu, dia menghampiri paman Li dan berkata,


"Apa yang terjadi di sini tadi paman.. ?"


Li Cing tanpa menoleh berkata,


"Musuh yang datang menyerang kita, bukan pasukan biasa.."


"Apalagi tiga orang pimpinan mereka, bila tidak ada Ping Huo Ta Sia muncul menolong kita.."


"Takutnya kami semua sudah tewas di sini tanpa sisa.."


ucap Li Cing pelan.


Afei menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa, setelah mendengar penjelasan Li Cing.


Di tempat lain ketiga orang lhama jubah merah, yang mengenakan seragam pasukan bulan sabit, dan topeng setan penutup wajah.


Mereka bertiga berlari terhuyung-huyung meninggalkan kediaman Li Cing, lewat halaman belakang.


Mereka bertiga sambil berlari melepaskan jubah hitam dan topeng setan mereka.


Ketiga orang itu memilih melarikan diri melewati lorong lorong sempit yang berkelok-kelok.


Kemudian lewat sebuah pintu kecil di halaman belakang rumah penduduk.


Mereka masuk kedalam halaman belakang tersebut, lalu memilih bersembunyi di balik tumpukan jerami di kandang keledai.


Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun ketiga orang itu duduk bermeditasi di sana, untuk memulihkan luka dalam di tubuh mereka.


Fei Yang yang melakukan pengejaran beberapa kali berputaran di udara, melewati tempat tersebut tanpa menemukan hasil.


Akhir nya dia menyimpan topeng nya, berlari cepat kearah pos petugas penjaga keamanan kota.


Untuk melaporkan situasi yang terjadi di gedung kediaman Paman Li.


Setelah itu Fei Yang berpura-pura kembali ke kediaman Paman Li, dengan membawa pasukan keamanan kota menuju lokasi pertempuran.


Sedangkan di balik tumpukan jerami di kandang keledai, setelah memastikan Fei Yang sudah tidak ada di sekitar sana.


Ketiga manusia gundul itu pun bisa bernafas lega, Kipu yang pertama kali bersuara,


"Apa ku bilang, bocah itu pasti selalu berada di sekitar Li Cing."


"Kalian sih gak percaya, lihat hampir saja kita kehilangan nyawa.."


"Harusnya kita tunggu kedatangan, kakak Sangha Dheva dan Vipasana."


"Tentu kita tidak akan kalah mengenaskan begini.."


Saat ini yang paling penting adalah cepat cepat pulihkan keadaan kita, lalu tinggal kan tempat ini.."


ucap Dote, yang langsung di ikuti anggukan kepala Jigme tanda setuju.


Kipu hanya bisa mendengus kesal, gara gara kedua orang kakak seperguruannya, yang berlaku ceroboh dia hampir ikut kehilangan nyawa.


Kini kedua orang itu bukannya mengakui kesalahan, ehh malah berbalik menuduhnya dirinya, yang suka membahas hal tak berguna dan sudah berlalu.


Bila ilmunya jauh lebih tinggi, ingin rasanya dia menghadiahi kedua gundul di hadapannya, dengan jitakan di kepala mereka masing masing. Biar tumbuh telor di atas sana.


Setelah bermeditasi beberapa waktu, akhirnya Ketiga orang itu saat malam tiba, mereka diam diam meninggalkan tempat persembunyian mereka, untuk kembali ke penginapan, menunggu kedatangan Sangha Dheva dan Vipasana lhama.


Setelah mereka datang, baru bisa di putuskan langkah selanjutnya yang akan di ambil.


Di kediaman Li Cing sendiri, keesokan harinya, mulai terjadi kesibukan mengurus pemakaman, jasad jasad pelayan yang meninggal akibat di bantai, pasukan bulan sabit.


Selain itu Li Cing juga meminta ahli bangunan, untuk memperbaiki tempat tinggalnya yang rusak.


Li Dan sempat tinggal beberapa hari di sana, setelah di rasanya, di sana sudah tidak ada masalah, Li Dan pun pamit kembali ke ibu kota, bersama sisa pasukannya.


Saat pergi dari sana, Li Dan sedikit kecewa dengan sikap Sian Sian, yang bersikap datar dan dingin kepadanya.


Sekarang Sian Sian berubah, sangat jauh berbeda dengan sikapnya dahulu, yang penuh perhatian dan manja dengan nya.


Li Dan berpikir Sian Sian bersikap begitu karena ucapannya kemaren, Sian Sian masih marah dan ngambek dengan nya.


Padahal yang terjadi adalah Sian Sian sudah mengalihkan seluruh perhatiannya tertuju pada Ping Huo Ta Sia, yang sangat menarik perhatiannya.


Sedangkan untuk menemaninya berdebat dan bertengkar, Sian Sian kini punya Afei.


Makanya sikap Sian Sian ke Li Dan kini terlihat lebih hambar, ketimbang dahulu.


Li Dan akhirnya membawa sisa pasukannya yang tinggal 8 orang itu, untuk kembali ke ibu kota dengan perasaan hampa.


Sedangkan Fei Yang pagi itu Setelah bekerja membereskan kediaman Li Cing, yang sudah selesai di kerjakan oleh para tukang.


Fei Yang pergi kedapur menyiapkan sarapan buat Paman Li dan Sian Sian.


Setelah selesai Fei Yang baru mengantarnya keruang makan, dan menata nya dengan rapi di atas meja.


Selagi Fei Yang sedang sibuk menata masakan diatas meja, tiba tiba Li Cing dan Sian Sian berjalan masuk kedalam ruangan.


Sian Sian buru buru menghampiri meja makan menciumi wangi masakan di atas meja.


Dia menatap kearah Fei Yang dengan tatapan tak percaya,


"Afei benarkah masakan ini kamu yang memasaknya,? wangi sekali seperti masakan dapur istana saja ?"


ucap Sian Sian penuh antusias.


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Cobalah dulu nona, aku juga tidak tahu apakah masakan ku ini sesuai dengan selera mu dan paman..?"


Li Cing sambil tersenyum berkata,


"Rumah sebesar ini kini hanya ada kita bertiga, maaf Afei kamu jadi repot sendirian.."


"Ambillah kursi, kita duduk dan sarapan bersama, tidak perlu banyak peradatan.."


Fei Yang menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Baik paman Li, terimakasih.."


"Afei setelah sarapan kamu temani aku bermain catur ya,? permainan catur mu cukup bagus dan bikin penasaran.."


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Baik paman.."


"Emang dia bisa main catur, paling paling dia bisanya main mundur dan bertahan saja.."


ucap Sian Sian meremehkan Afei.