
Pukulan yang mengandung hawa Yang dari Nan Thian berhasil membuka segel es beku, yang mengunci energi pedang nya.
Begitu segel es beku hancur, kedua energi pedang langsung melesat mengejar kearah Dewa air.
Dewa air yang terdesak sekali lagi mencoba menggunakan pukulan esnya.
Untuk menghalau serangan beruntun Nan Thian yang di tujukan kearahnya.
Hawa beku kuat kembali suap membekukan serangan Nan Thian.
Tapi sebelum energi pedang Nan Thian berhasil kembali di bekukan.
Seberkas cahaya panca warna yang membentuk pelangi tiba, untuk membuka jalan.
Begitu cahaya pelangi itu lewat, semua hawa beku meleleh.
Termasuk energi pedang Nan Thian sebelumnya, yang hampir tersegel, juga ikut terlepas dari segel beku tersebut.
Cahaya pelangi itu seolah-olah membuka jalan, membelah lapisan es beku yang menghadang jalan menuju Dewa air.
"Brakkkk...!"
Dinding dinding es yang menjadi perisai pelindung Dewa air pecah hancur berkeping-keping.
Sebelum Dewa air sempat bergerak menghindar, karena tubuhnya terkunci hawa yang datang dari cahaya pelangi.
"Arggggghhh...!!!"
Dewa air berteriak kesakitan, tubuhnya telah di lewati oleh cahaya pelangi.
Di susul dengan 4 energi pedang yang datang beruntun melintasi tubuhnya.
Tubuh Dewa air terlihat diam mematung di sana, dari luka di lima bagian tubuhnya, terlihat lima garis cahaya kecil memancar keluar.
"Arrggghhh..!!!"
Sekali lagi dewa air berteriak kesakitan, karena cahaya yang melesat keluar dari lukanya semakin lama semakin melebar.
Hingga akhirnya tubuh dewa air terpisah menjadi 5 bagian, tersebar ke 5 penjuru.
Jatuh tergeletak di atas lantai arena diam tidak bergerak.
Sebuah batu yang bersinar putih kebiruan, muncul dari potongan tubuh bagian dada kiri Dewa air.
Batu bersinar putih kebiruan yang memancarkan hawa yang sangat dingin.
Begitu muncul langsung membekukan udara di dalam arena pertarungan.
Batu itu terlihat perlahan-lahan melayang bebas di udara.
Melihat hal itu Nan Thian langsung mengeluarkan labu tua nya.
Begitu mulut labu di buka oleh Nan Thian dan di arahkan ke arah batu putih kebiruan, yang sedang melayang layang di udara.
Batu itu langsung terhisap masuk kedalam mulut labu tua itu.
Begitu batu itu masuk kedalam, Nan Thian langsung menutup mulut labu tua itu.
Labu tua itu tiba tiba ukurannya mengembang menjadi besar, dan terus semakin membesar.
Mirip balon yang terus mengembang, labu tua yang berwarna coklat tua, warnanya berubah.
Satu sisi merah satu sisi lagi biru, beberapa saat Labu tua yang berada di telapak tangan Nan Thian bergetar hebat sulit di kendalikan.
Hingga gambar Pat Kwa di kedua sisi labu tua itu memancarkan cahaya nya.
Gambar Pat Kwa nya berputar putar, semakin lama semakin cepat.
Perlahan lahan labu tua berhenti bergerak, kembali mengempis ke bentuk asalnya.
Gambar Pat Kwa bagian tengah nya, terbagi menjadi dua sisi, sisi Im, yang biasanya berwarna putih, kini berubah menjadi warna biru terang.
Sedangkan sisi Yang, yang biasanya berwarna hitam, kini berubah menjadi warna merah terang.
Melihat keadaan sudah normal kembali, Nan Thian memasukkan labu tua kedalam cincinnya.
Di saat Nan Thian sedang berkutat menjinakkan batu inti es surgawi.
Di tempat lain, tubuh Dewa air yang terpisah, meleleh menjadi air.
Lalu masing-masing bergerak saling merapat kemudian menyatu kembali.
Hingga terbentuk kembali sosok dewa air seperti sedia kala.
Dewa air meski sudah kembali kebentuk semula, tapi wajahnya terlihat pucat dan lesu.
Pernafasannya juga terlihat lemah tidak teratur.
Dengan suara lemah dia berkata,
"Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.."
"Hanya satu hal yang harus kamu ketahui, batu inti es surgawi adalah jantung yang di berikan Dewata untuk ku.."
"Tanpa itu aku tidak akan bertahan lama, aku tiada itu masalah kecil.."
"Tapi air di dunia tidak ada yang mengendalikan nya, dia akan mengamuk menenggelamkan seluruh daratan.."
"Demi keberlangsungan hidup, seluruh mahluk hidup di dunia.."
"Aku harap resiko ini harus kamu pertimbangkan lagi.."
"Sebelum menyesal nantinya.."
Nan Thian yang mendengar hal tersebut menjadi ragu ragu.
Dia menatap kearah Dewa air yang terlihat lemah.
Lalu menatap kearah cincin penyimpanan nya.
Di saat dia sedang ragu ragu, tiba tiba dia mendapatkan bisikan dari Kim Kim.
"Kakak bukan kah semua dewa agung mu ada di sini, mengapa kamu tidak meminta tolong ke mereka.?"
Mendengar bisikan Kim Kim Nan Thian pun tersadar, dia segera bergerak maju kehadapan Kaisar Langit dan berkata,
"Yang Mulia Yu Ti, mohon Yu Ti bisa membantu hamba dalam hal ini.."
Kaisar langit tersenyum lembut dan berkata,
"Baiklah anak muda, aku akan membantumu.."
"Tapi bila suatu hari 3 alam kita sedang dalam bencana, aku harap kamu bisa ikut berpartisipasi menghadapi nya.."
Nan Thian dengan yakin menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Bila tenaga ku di perlukan nantinya, aku pasti akan ikut berpartisipasi.."
"Japan pun di perlukan hamba siap untuk itu.."
ucap Nan Thian penuh tekad.
Kaisar langit tersenyum lembut, lalu mengulurkan telapak tangan terbukanya kedepan.
Di dalam telapak tangannya muncul sekuntum teratai yang mengeluarkan cahaya biru terang berkilauan.
Teratai cahaya biru tersebut melayang kearah dewa air, masuk kedalam dada kiri Dewa air.
Beberapa saat kemudian, dewa air pun mampu bangkit berdiri kembali.
Keadaan nya sudah pulih normal kembali seperti sedia kala.
Dia buru-buru maju ikut berlutut di samping Nan Thian menghadap kearah kaisar langit dan berkata,
"Terimakasih Yang Mulia, terimakasih atas kemurahan hatinya.."
"Hamba tidak tahu, bagaimana cara hamba membalas Budi baik ini.."
Kaisar langit tersenyum dan berkata,
"Jalankan tugas mu dengan baik, jangan banyak berulah.."
"Banyak banyak berbuat baik, menolong dan mengasihi semua mahluk hidup, dengan kemampuan mu.."
"itu sudah merupakan balasan terbaik mu pada ku.."
"Terimakasih atas petunjuknya Yang Mulia, hamba akan selalu mengingatnya ."
ucap Gong Gong sambil menempelkan dahinya di atas lantai.
"Kembalilah ke tugas mu, pertemuan kali ini sampai di sini saja.."
"Kami juga sudah waktunya harus kembali ke tempat kami masing-masing.."
Selesai berkata, kaisar langit menoleh kearah ratu langit, mereka saling tersenyum dan menganggukkan kepala.
Kaisar langit memberi hormat kearah tiga dewa agung, Buddha Amitabha, Dewi Kwan Im.
Lalu dia menghilang dari tempat tersebut, berturut-turut 6 putri kaisar langit dan Dewa Dewi lainnya ikut menghilang dari sana.
Ketiga Dewa Agung, Buddha Amitabha, Dewi Kwan Im tanpa berkata kata, mereka hanya tersenyum lembut kearah Nan Thian.
Lalu juga ikut menghilang dari sana.
Paling terakhir adalah seorang Budhisatva, dan kera berbulu emas mereka juga ikut menghilang dari sana.