PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
TANTANGAN DUEL DATANG DARI SHI MA CING LUNG


Seperti saat ini di depan mata kepalanya sendiri sepasang saudara kakak beradik kandung.


Yang satu menggunakan tombak, yang satu lagi menggunakan Toya.


Kedua kakak beradik itu memperebutkan urutan 187 dengan 185.


Si kakak yang menggunakan senjata Toya berada di urutan 185, sang adik yang berada di urutan 187 menggunakan tombak.


Demi sebuah urutan kosong mereka bertarung mati matian mempertaruhkan nyawa.


Fei Yang benar benar tak habis pikir, apa yang ada di pikiran kedua manusia itu.


Pertempuran yang berjalan mati matian akhirnya mulai terlihat hasil.


Nomor urutan Pai Su Seng bukan isapan jempol.


Terbukti sang kakak yang menggunakan Toya, berhasil mengurung adiknya yang kelihatannya mulai terdesak main mundur.


Sepertinya berada dalam kesulitan, mungkin sebentar lagi akan berakhir pertarungan tersebut.


Pada satu kesempatan ujung Toya sang kakak meluncur kearah wajah sang adik.


Adiknya otomatis mengangkat tombaknya untuk menangkis serangan Toya kewajahnya.


Toya yang tertangkis, ujung yang lainnya menusuk kearah kaki sang adik.


"Takkk,..!"


"Aduhhh,..!"


jerit sang adik kesakitan, sambil mengangkat kaki sebelah nya, yang terkena ketukan Toya.


Memanfaat kan situasi itu sang kakak dengan bertumpu pada Toya yang di tancapkan di atas tanah.


Dia memberikan sebuah tendangan keras kearah dada sang adik.


Hingga adiknya terjengkang kebelakang.


Sang kakak mengejarnya dengan sebuah pukulan pamungkas,


Sambil melompat sang kakak mengayunkan Toya nya yang terayun kuat dari atas kebawah menuju kepala sang adik.


Sang adik yang sudah tak berdaya, dia hanya bisa memejamkan matanya sambil menusukkan tombaknya secara sembarang kedepan.


Di detik terakhir sang kakak membelokkan arah toya nya, menghantam kearah sebelah kepala sang Adik .


"Bang,..!!!"


debu pasir berhamburan.


Di saat Toya menghantam tanah di sisi kepala adiknya, bila Toya itu tidak di belokkan niscaya kepala adiknya akan pecah berantakan.


Tiba-tiba adiknya menusukkan mata tombaknya menyambut kakaknya.


"Bangggg,..!"


Sang kakak terpental menjauhi sang adik terkena kibasan tangan Fei Yang.


Fei Yang yang tidak tega, melihat kakak beradik itu salah satu diantara mereka akan mati secara tragis.


Dia pun ikut campur maju mencegahnya, dia yang sudah bisa mendeteksi jurus yang akan digunakan kedua orang itu.


Dengan mudah dia memisahkan mereka berdua, sehingga tragedi itu tidak perlu terjadi.


Sang kakak yang terhempas oleh angin pukulan Fei Yang terpental mundur kebelakang.


Saat mendarat keatas tanah, dia mundur terhuyung-huyung menjauhi area pertempuran.


Kedua kakak beradik itu memandang kearah Fei Yang dengan penuh rasa terimakasih.


"Anak muda kamu siapa ? terimakasih banyak, kamu sudah mencegah terjadinya hal buruk pada kami.."


ucap Sang adik sambil menjura kearah Fei Yang.


"Tak perlu sungkan, aku hanya kebetulan lewat saja.."


"Nama ku Li Fei Yang,.. aku sudah mendengar apa yang menjadi akar masalah pertarungan kalian.."


"Aku sarankan kepada kalian, gunakan ilmu yang kalian pelajari dengan susah payah, untuk menolong orang lemah yang teraniaya dan tertindas.."


"Tiada gunanya kalian memperebutkan urutan kosong itu.."


"Hari ini taruhlah kamu menang terus naik urutan, tapi kamu kehilangan kakak mu.."


"Besok ada orang lain menantang mu, kamu kalah, urutan hilang kakak pun tiada, jadi apa gunanya..?"


Kedua orang itu mengangguk setuju, mereka menyadari kekeliruan mereka.


Mereka berdua membuang senjata mereka maju saling berangkulan dan meminta maaf.


Melihat hal ini Fei Yang pun sambil tersenyum bergerak meninggalkan tepi sungai tersebut.


"Anak muda tunggu,..!"


"Apakah kamu yang berjuluk Ping Huo Ta Xia, yang berada di peringkat ke 8 dari kitab Pai Su Seng..!?"


tanya sang kakak,.saat melihat Fei Yang hendak meninggalkan tempat tersebut.


Fei Yang sambil tersenyum berkata,


"Apa ada gunanya peringkat itu,? orang orang memang banyak memanggil ku seperti itu.."


"Itu hanya sebuah panggilan yang tiada artinya.."


ucap Fei Yang tenang sambil meneruskan langkahnya meninggalkan tempat tersebut.


Kedua kakek beradik itu saling pandang dengan terkejut, baru urutan 8 saja kemampuannya seperti itu, apalagi yang di atasnya.


Mereka semakin sadar, mereka sungguh tiada artinya ikut ikutan memperebutkan urutan itu..


Nama Ping Huo Ta Xia akhir akhir ini memang semakin terkenal, sejak dia membantu penduduk dari He Nan pindah ke Xiang Yang.


Para pengungsi itu begitu kagum dengan nya, sehingga nama itu sudah mirip seperti sebuah nama dewa pemujaan mereka.


Jadi tidak heran bila nama Ping Huo Ta Xia kini sangat terkenal, bahkan tidak kalah tenar di bandingkan dengan kedua kitab susunan Pai Su Seng.


Saat Fei Yang sedang berjalan meninggalkan kota Xiang Yang, langkahnya terhenti oleh seorang pria berpakaian hijau pupus dengan gambar naga menghiasi dada dan punggungnya.


"Anak muda kita bertemu kembali, apa kabar mu ?"


tanya pria berbaju hijau itu berbasa basi.


Fei Yang tentu mengenalinya, dia adalah ketua Cing Lung Pang, Shi Ma Cing Lung.


"Kabar ku baik, ada urusan yang bisa aku bantu ketua Shi Ma.?"


"Ha,..ha,..ha,..! tidak berani,.. tidak berani..."


"Aku hanya ingin meminta sedikit petunjuk, untuk mengukur kemampuan ku saja..'


ucap Shi Ma Cing Lung sambil tertawa.


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Bila ketua Shi Ma tertarik bertarung dengan ku, karena urutan itu, ketua Shi Ma boleh ambil saja ."


"Aku tidak membutuhkannya, anggap saja aku kalah hari ini.."


Shi Ma Cing Lung menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Meski aku berada di urutan ke 12 dibawah Kong Tek Hwesio dan Cang Cui San."


"Tapi itu bukan masalah, itu hanya suatu acuan agar aku tahu harus kemana mencari lawan tanding ."


"Marilah Ping Huo Ta Xia, mari kita bermain main sebentar."


ucap Shi Ma Cing Lung.


Mulutnya berkata main main tapi sikapnya menanggapi pertarungan ini, jelas tidak terlihat sedang main main.


Seluruh tubuhnya di selimuti cahaya hijau, Dua ekor bayangan naga hijau berseliweran di sekitar tubuhnya.


Sambil terus menerus mengeluarkan suara raungan yang menggetarkan tempat tersebut.


Untungnya kejadian ini terjadi di daerah luar kota Xiang Yang, sehingga tidak sampai menimbulkan kehebohan seluruh kota tersebut.


Fei Yang memang sengaja tidak mau memasuki kota tersebut, terlalu banyak kenangan di kota tersebut yang akan merobek luka lama di hatinya.


Fei Yang tidak mau membuka kembali luka lama yang sudah dia kubur.


Dia mulai terbiasa dengan kehidupan kesendiriannya, yang tanpa beban hidup bebas, kemanapun kaki nya ingin melangkah.


Fei Yang masih bersikap tenang menghadapi tantangan dari Shi Ma Cing Lung yang mulai menunjukkan kemampuannya.


Dengan sebuah teriakan keras,..


"Hiahhh,..!!"


Tubuh Shi Ma Cing Lung mulai bergerak melepaskan pukulan jarak jauh, yang membentuk sambaran api warna hijau mengejar kearah Fei Yang