
Di luar di kejauhan sana, bisa melihat hamparan pemandangan laut yang tenang berwarna biru.
Dengan hamparan pantai pasir putih yang berkilauan tertimpa cahaya matahari.
Sedangkan dalam jarak menengah terlihat hamparan pepohonan hijau rindang.
Dalam jarak dekat di bawah sana ada sebuah kolam, yang terletak di bawah sebuah tebing, yang mengalirkan air jernih jatuh kedalam kolam tersebut.
Fei Hsia sambil tersenyum bangga berkata,
"Kakak bila ingin mandi, bisa langsung melompat ke bawah, kolam cukup dalam.."
"Tanpa menggunakan ilmu ringan tubuh sekalipun bukan masalah.."
"Dulu waktu aku kecil juga suka melompat dari sini kebawah.."
ucap Fei Hsia sambil tersenyum.
"Jadi tempat ini tempat tinggal mu dari kecil ?"
"Lalu bagaimana kita bisa bertemu ditempat terpencil ini, hingga aku bisa jadi suami mu..?"
tanya Fei Yang tiba tiba.
Fei Hsia sedikit kaget, tapi ekspresi wajahnya tidak terlihat, sambil tersenyum lembut dia berkata,
"Aku akan ceritakan nanti, sekarang kakak bersantailah dulu.."
"Aku mau menyiapkan makan siang buat kakak dulu, bila sudah selesai saat makan siang nanti."
"Aku akan cerita ke kakak.."
ucap Fei Hsia dengan cepat berdalih.
Mendadak dia takut salah ngarang, dengan alasan memasak, dia akan punya waktu untuk berpikir dan menyiapkan settingan cerita yang lebih rapi.
Sehingga tidak ada celah untuk di curigai oleh Fei Yang atas kebohongannya.
Dia tahu persis, Fei Yang sangat menyukai masakannya, jadi dengan alasan masak Fei Yang pasti tidak akan banyak bertanya lebih jauh.
Benar saja Fei Yang langsung kembali berbaring santai menghadap kearah jendela dan berkata,
"Baiklah sayang, aku tidur dulu, kalau ada yang perlu di bantu bangunkan saja.."
Beberapa saat kemudian Fei Yang sudah tertidur pulas.
Fei Hsia segera meninggalkan pondok pergi menangkap ikan dan udang di perangkap, yang di buatnya dekat gugusan karang.
Tanpa kesulitan Fei Hsia berhasil mengangkat 3 ekor ikan bintik dan 3 ekor udang berukuran sebesar lengan orang dewasa.
Fei Hsia langsung memotong dan membersihkan nya di sana, baru dia membawanya kembali ke pondok untuk di masak.
Saat tiba di depan pondok, begitu mendengar suara Fei Yang sedang berbicara sendiri.
Ikan dan udang di tangannya hampir saja terlepas dari pegangan tangannya.
Fei Hsia berdiri termenung di tempat dengan airmata jatuh bercucuran, saat mendengar ucapan Fei Yang dalam mimpi.
"Lian Mei kamu sudah datang, syukurlah kamu sudah datang kemari.."
"Tahukah kamu aku sangat sangat merindukan mu,"
"Kemarilah Lian mei biarkan aku meluk mu, untuk melepaskan perasaan kerinduan ku selama ini.."
"Lian mei kamu jangan pergi,..! Jangan pergi,..! jangan pernah tinggalkan aku seorang diri di sini..!"
"Jangan Lian Mei,..ku mohon,.aku sangat mencintai mu.."
"Lian Mei,...! Lian Mei..! jangan,..! jangan pergi...!"
Sesaat kemudian suasana kembali hening, hanya terdengar suara dengkur halus Fei Yang.
Fei Hsia yang kedua tangannya sedang menenteng udang dan ikan.
Dia tidak bisa menghapus airmata di wajahnya dengan tangan nya, untuk itu dia terpaksa menggunakan kedua lengan bajunya, menghapus airmata yang membasahi wajahnya.
Fei Hsia harus berulang kali membersihkan wajahnya, yang basah oleh airmata yang sulit terkontrol.
Perlu beberapa waktu untuk menenangkan perasaan nya yang bercampur aduk.
99% gadis yang di panggil Lian Mei itu, pastilah gadis berpakaian putih yang sangat cantik itu.
Di mana gadis cantik itu, pernah muncul bersama Fei Yang di lembah, sikap mereka berdua sangat mesra.
Kemudian dia tahu dari kakeknya, gadis itu adalah istri Fei Yang.
Dia bisa merasakan Fei Yang pasti sangat mencintai istrinya itu.
Hingga sudah lupa ingatan sekalipun, Fei Yang tetap tidak bisa melupakan gadis tersebut.
Saat dalam keadaan sadar Fei Yang memang tidak ingat apa-apa, tapi saat tidur, alam bawah sadarnya berbicara sendiri.
Tanpa di sadari perasaan terdalam nya berbicara,
Fei Yang pun jadi kembali teringat dengan istrinya yang sangat dia cintai itu.
Dari sini Fei Hsia jadi semakin
disadarkan dari kenyataan, seberapa besar posisi gadis itu di hati Fei Yang.
Rasa iri kecewa cemburu menyelimuti perasaannya, berujung dengan rasa pedih dan sakit tiada Tara di hatinya.
Ini adalah suatu kenyataan yang sangat menyakitkan juga sulit bagi dia untuk menerima kenyataan itu.
Tapi bagaimana pun Fei Hsia yang keras kepala belum mau menyerah, meski dia harus di musuhi orang sedunia sekalipun.
Dia sudah memantapkan hati nya, tidak akan pernah mundur selangkah pun.
Dia lebih baik mati daripada harus kehilangan Fei Yang, apalagi setelah dia menikmati kemesraan dan kebahagiaan beberapa hari ini bersama Fei Yang.
Dia semakin tidak rela melepaskan Fei Yang dari sisinya, meski dia tahu itu adalah dosa dan kesalahan yang sangat tidak pantas.
Fei Hsia setelah merasa suasana hatinya sudah jauh lebih tenang, Fei Hsia baru perlahan lahan melangkah masuk kedalam rumah.
Di dalam rumah Fei Hsia bahkan tidak berani menatap kearah Fei Yang.
Dia buru-buru melangkah menuju dapur mempersiapkan semua perlengkapan untuk memasak.
Fei Hsia melarutkan dirinya dalam kesibukan memasak, untuk melupakan semuanya.
"Istriku,.. masakan mu wangi sekali, aku yang sedang tidur pun jadi terbangun.."
ucap Fei Yang yang tiba-tiba muncul di belakang Fei Hsia.
Fei Yang dengan lembut melingkarkan sepasang tangannya di perut Fei Hsia, dan meletakkan dagunya di pundak Fei Hsia dengan manja dan mesra.
Fei Hsia yang merasa sedikit geli oleh janggut halus Fei Yang, dia sedikit menggelinjang kegelian dan berkata,
"Sayang kamu sabar ya sebentar lagi juga selesai.."
"Tubuhku bau dan amis, jangan terlalu mendekat.."
Fei Yang sambil tertawa malah menciumi leher Fei Hsia yang putih dan jenjang.
Fei Hsia otomatis menggelinjang kegelian, tapi dia tidak menolaknya.
Dia memejamkan matanya dan bergumam.
"Sayang jangan ganggu aku dulu, nanti masakan nya berantakan.."
Mulut berkata begitu tapi tubuhnya sama sekali tidak melakukan gerakan penolakan.
"Sayang siapa bilang kamu bau amis, ? menurut ku kamu justru sangat wangi.."
bisik Fei Yang pelan di telinga Fei Hsia.
Fei Hsia yang tidak kuat menahan godaan Fei Yang.
Akhirnya dia membalikkan badannya, lalu melingkarkan sepasang tangannya yang putih halus di belakang leher Fei Yang.
Dengan mata sedikit terpejam, nafas sedikit terengah, kepala sedikit menengadah kearah Fei Yang, bibir sedikit terbuka.
Dengan posisi kaki sedikit berjinjit keatas, dia siap melepaskan ciuman pertamanya seumur hidupnya.
Fei Yang yang menyadari, apa yang di kehendaki oleh Fei Hsia yang dia anggap sebagai istrinya.
Tanpa berpikir panjang dan menundanya, dia langsung mendaratkan ciuman lembut dan penuh perasaan ke bibir Fei Hsia yang menggoda.