PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
HIDUP TIADA UBAHNYA MATI


"Kamu tidak mau masuk,.aku pun tidak bisa masuk, mudah mudahan Jendral Meng di sana mau mengerti posisi ku.."


"Dendamnya terpaksa di biarkan penasaran.."


Fei Yang sambil berucap menengadah kearah langit, diam diam dia mengerahkan ilmu halilintar langit kesembilan.


"Jendral Meng harap maafkan Fei Yang..!!"


"Duaarrr,.."


Tiba-tiba petir menyambar jatuh tepat di depan kaki Wei Wen.


"Aihhh,..!!"


teriak Wei Wen ketakutan, dia langsung melompat kedalam pelukan Fei Yang.


"Ayo kita cepat cepat masuk kedalam kak,.."


ucap Wei Wen dengan suara gemetar ketakutan.


Fei Yang sebenarnya tidak tega mempermainkan Wei Wen, tapi selain cara ini.


Dia tidak menemukan cara lain yang lebih tepat, untuk mengatasi sikap kekanak-kanakan Wei Wen.


"Baiklah yuk kita masuk, sebelum Jendral Meng semakin marah,.."


ucap Fei Yang sengaja menakut nakuti Wei Wen.


Lalu dia merangkul Wei Wen melangkah masuk kedalam istana.


Fei Yang menggunakan atas nama arwah penasaran Meng Yu, untuk menakuti gadis keras kepala dan sulit di atur itu.


Benar saja Wei Wen menjadi lebih penurut dan tidak banyak rewel lagi.


Putri Bian sendiri melihat kemesraan Fei Yang dan Wei Wen, dia hanya bisa menghela nafas sedih dan kecewa.


Setelah apa yang dilakukan oleh ayahnya dan kakak ayahnya raja Kyantha ke Fei Yang.


Dia sadar diantara dia dan Fei Yang tidak mungkin punya harapan lagi.


Kini selain melakukan hal terbaik buat kerajaan nya dan Fei Yang, agar permusuhan tidak menjadi semakin dalam.


Sudah tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan untuk membalas Budi Fei Yang.


Dia tidak akan pernah berani bermimpi, Fei Yang akan menyukainya.


Putri Bian terus melangkah masuk kedalam istana, menjadi penunjuk jalan bagi Fei Yang.


Dia langsung membawa Fei Yang menuju kamar tidur ayah nya, di mana sepanjang koridor menuju kamar ayahnya.


Terlihat begitu banyak wanita bersimpuh di kiri kanan jalan sambil menangis sedih.


Fei Yang tidak tahu dan tidak mengerti apa yang sedang mereka lakukan, mengapa mereka lakukan itu.


Putri Bian tidak memberi penjelasan, Fei Yang juga tidak mau banyak bertanya.


Tujuan dia kemari hanya mencari Vijaya lain hal dia tidak mau ambil pusing.


Saat masuk kedalam ruangan kamar yang sebenarnya sangat luas.


Tapi karena banyak nya orang yang duduk bersimpuh di dalam ruangan, ruangan menjadi terlihat sempit.


Di bagian paling depan terlihat sekelompok biksu berjubah kuning sedang berlutut di sisi kanan kiri kasur.


Mereka terus memanjatkan doa tanpa putus.


Di atas pembaringan terlihat sesosok mayat membujur kaku di sana.


Sekali lihat Fei Yang pun tahu itu adalah Raja Vijaya.


Dari gayanya sepertinya orang itu telah mampus.


Melihat hal itu Fei Yang pun bertanya,


"Adik Bian apa yang telah terjadi..?"


"Ayahku memilih mengakhiri hidupnya sendiri dengan gantung diri.."


ucap Putri Bian bercucuran air mata.


"Maaf boleh saya memeriksanya..?"


tanya Fei Yang sambil menatap tajam ke putri Bian.


Meski Fei Yang percaya pada Putri Bian, tapi dia tidak percaya dengan Vijaya yang licin dan banyak akal muslihatnya itu.


Seorang yang tamak, rakus harta, ambisius, adalah orang yang paling takut mati.


Mereka bisa memelas memohon menangis meminta ampun, tapi yang namanya mati, mereka paling takut.


Karena setelah mati mereka akan kehilangan semuanya, dan mereka tidak rela bila harus kehilangan semua itu.


Hal ini paling banyak terjadi pada orang-orang di istana, kaum bangsawan, politikus dan hartawan yang memiliki harta berlimpah.


Fei Yang tahu persis hal itu, makanya dia tidak mau percaya begitu saja.


Putri Bian sadar, tidak ada yang bisa mencegah, bila itu yang di inginkan oleh Fei Yang.


Sehingga dia hanya bisa mengangguk pasrah dengan airmata bercucuran.


Tapi saat melihat Fei Yang melangkah menghampiri ayahnya.


Putri Bian tidak bisa menahan diri untuk berkata,


"Kakak Yang ayah ku telah meninggal, aku mohon padamu, tolong biarkan dia pergi dengan jasad utuh.."


Fei Yang tanpa menoleh mengangguk kearah Putri Bian.


Sambil terus menatap tajam kearah raja Vijaya, Fei Yang berkata,


"Kamu tenang saja, aku hanya memeriksanya saja.."


Setelah berdiri di samping tempat tidur, di mana Raja Vijaya terbaring kaku dengan wajah membiru dan sepasang mata terpejam rapat.


Fei Yang mengulurkan jari telunjuk dan tengahnya di depan lubang hidung raja Vijaya.


Beberapa saat kemudian, dia berpindah ke detak nadi di samping leher.


Saat di rasanya bagian itu pun tidak bereaksi.


Meraba ringan bagian dada Raja Vijaya, begitu Fei Yang mengerahkan tenaganya, langsung terdengar bunyi.


Kreekkk,..!Kreekkk,..!Kreekkk,..!Kreekkk,..!Kreekkk,..!Kreekkk,..!


Kreekkk,..!Kreekkk,..!Kreekkk,..!


"Arghhhh,..!!"


tiba-tiba terdengar suara jeritan keluar dari mulut raja Vijaya, matanya kembali terbuka lebar.


Dahi dan lehernya penuh keringat, dia menatap kearah Fei Yang dengan penuh kebencian.


Mulutnya terus menerus merin tih menahan rasa nyeri yang luar biasa di seluruh tubuhnya.


Bila syaraf kesadarannya, tidak di kunci oleh Fei Yang, niscaya dia sudah pingsan sedari tadi.


Putri Bian sedikit terkejut akan kejadian di depan matanya, dia menatap kearah ayahnya dengan tatapan mata tidak percaya.


Sedangkan orang orang di dalam ruangan berserabutan berlari meninggalkan ruangan tersebut dengan penuh ketakutan.


Mereka mengira Raja Vijaya setelah mati bangkit kembali.


Hanya para biksu itu yang tidak meninggalkan ruangan tersebut, meski mereka juga merasa ngeri.


Mereka semakin mengeraskan suara mereka membaca doa, berusaha menenangkan arwah Raja Vijaya.


"Cukup kalian semua mundurlah dari sini, dia belum mati.."


ucap Fei Yang mengusir para biksu itu.


Ucapan Fei Yang membuat mereka ragu, tapi tatapan sepasang mata Fei Yang yang tajam dan mencorong seperti mata naga sakti.


Membuat mereka menjadi ketakutan, tanpa banyak membantah, mereka segera bangun berdiri dan berlari meninggalkan ruangan tersebut, menyusul orang orang yang hadir di sana sebelumnya.


"Kakak Yang apa yang sebenarnya terjadi ?"


tanya Putri Bian bingung.


Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,


"Ayah mu belum mati,.dia hanya pura-pura mati..tapi kini dia tidak ubahnya seperti orang mati.."


"Kamu boleh tanya padanya, pikiran dan suara nya belum ku matikan, dia pasti bisa jelaskan padamu."


ucap Fei Yang sambil melangkah menghampiri Wei Wen.


Fei Yang merangkul bahu Wei Wen dengan lembut dan berkata,


"Wen Wen ayo kita pergi sekarang.."


Wei Wen tersenyum dan mengangguk dengan ekspresi wajah gembira.


"Li Fei Yang,...!! kamu bangsat biadab,..!"


"Mengapa kamu tidak bunuh saja aku sekalian,.!!"


teriak Raja Vijaya penuh kemarahan.


Seluruh tubuhnya tidak bisa di gerakkan, karena Fei Yang sudah meremukkan seluruh tulang di tubuhnya.


Sehingga kelak untuk bangkit duduk pun dia tidak akan mampu.