
Semalam dia menyiapkan camilan sampai larut malam, saat selesai semua.
Melihat istrinya asyik tidur, tidak tega membangunkannya, Fei Yang putuskan menyimpan camilan itu diatas meja, dalam kamar mereka berdua.
Lalu menyusul tidur di samping istrinya.
Saat terbangun merasa sebelahnya sudah kosong, dengan kaget Fei Yang membuka matanya.
Melihat istrinya tidak kemana-mana, hanya duduk didepan meja dalam kamar, sambil Asyik menikmati camilan Fei Yang pun tersenyum lega dan menegurnya sambil tersenyum.
"Sayang sudah bangun..? pagi sekali..?"
tanya Fei Yang yang masih berbaring malas malasan di kasur.
Xue Lian sambil tersenyum lebar, memberikan tanda jempol kearah suaminya, karena mulutnya sedang penuh makanan.
Melihat gaya istrinya Fei Yang pun tersenyum lebar, sambil berbaring miring.
Dia memperhatikan istrinya yang sedang sibuk, dengan tatapan mata di penuhi rasa bahagia.
"Sayang asal kamu tahu, mungkin sudah ribuan kali aku bermimpi akan momen seperti ini.."
"Akhirnya bisa terwujud juga mimpi ku menjadi kenyataan, kamu tidak akan tahu betapa bahagianya aku saat ini.."
"Aku tidak takut lelah, tidak takut capek dan tidak pernah takut apapun juga, aku hanya takut tidak bisa melihat mu bahagia.."
Gumam Fei Yang dalam hati sambil terus memperhatikan wajah bahagia istrinya.
"Sayang kok cuma jadi penonton, ayolah kemari temanin aku sarapan.."
ucap Xue Lian setelah isi di mulutnya, sudah dia telan dengan bantuan air minum.
Fei Yang tersenyum lalu dia bangkit meninggalkan ranjang, mengambil kursi duduk tepat di samping istrinya dan berkata,
"Kamu makanlah, ini memang ku siapkan khusus untuk mu.."
"Aku belum lapar, semalam sudah makan sambil bikin penganan ini.."
Xue Lian menoleh kearah Fei Yang dan berkata,
"Makasih ya sayang, jadi semalam kamu sampai jam berapa baru tidur..?"
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Kurang paham juga, mungkin lewat tengah malam.."
"Ya sudah kamu pasti masih ngantuk pergilah tidur lagi, besok aja kita mulai lagi latihannya..'
ucap Xue Lian menatap suaminya dengan tatapan mata kasihan.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Tidak perlu, selesai kamu makan dan mandi.."
"Kita bisa langsung lanjut latihan lagi, kamu santai aja makannya."
"Aku mau mandi dulu, bila kamu sudah selesai nanti susul aku di batu di atas air terjun .."
ucap Fei Yang sambil memberikan ciuman lembut di kepala istrinya sebelum berlalu dari kamar mereka.
Beberapa waktu kemudian terlihat Fei Yang sudah bermeditasi di atas batu datar diatas tebing asal air terjun.
Seluruh tubuh Fei Yang memancarkan 6 warna, Biru kuning merah putih jingga dan warna campuran ke 5 warna itu.
Selain itu tubuhnya juga terlihat sedang melayang di udara tanpa menyentuh batu tempat duduknya.
Fei Yang sedang larut dalam analisa 6 jurus yang sedang di tunjukkan oleh Dewa Fusi.
Selain itu dia juga mencoba membayangkan cara melepaskan jurus ke 6 secara bayangan pikirannya.
Tanpa melakukan gerakan tubuh dan pengerahan energi yang bisa merusak alam semesta.
Setelah itu dia mencoba menganalisa ilmu dan cara untuk menciptakan ruang dimensi menurut pikirannya.
Fei Yang menunjukkan jari telunjuk dan tengah nya kedepan mencoba membuat ukiran cahaya.
Tapi setelah mencoba ratusan kali, tetap hanya muncul lingkaran kecil, begitu kedua jarinya di tarik kembali cahaya itu selalu menghilang.
Tanpa mengetahui tehnik rahasianya, Fei Yang kesulitan menemukan caranya, meski sudah mencobanya dengan berbagai kombinasi, hingga ratusan kali, tetap saja dia kesulitan menemukan rahasia tehnik tersebut.
"Sayang kamu sedang mencoba apa ?"
ucap Xue Lian pelan saat dia sudah duduk santai di atas batu melihat yang sedang di lakukan suaminya.
Awalnya dia memilih diam, tidak ingin menganggu konsentrasi Fei Yang.
Tapi setelah mengamati cukup lama, dan merasa bosan.
Akhirnya dia tidak tahan dan buka suara menanyakan kepada Fei Yang.
"Ini aku tadi mencoba membuat ruang dimensi lain, seperti yang pernah ku lihat saat melawan 9 biksu kuil halilintar."
"Juga seperti yang kini kita lihat di dalam gua rahasia orang tua mu.."
"Aku sudah mencobanya berulang kali tapi tetap tidak bisa.."
ucap Fei Yang dengan wajah kecewa dan penasaran..
"Kakak Yang mau buat ruang seperti itu buat apa ?"
tanya Xue Lian penasaran.
Fei Yang menatap Xue Lian dengan serius dan berkata,
"Sayang musuh kita di lembah kebahagiaan bukan orang biasa." a
"Aku khawatir kita mungkin akan menggunakan hampir seluruh kemampuan kita, untuk menghadapi nya.."
"Bila tidak bisa membuat alam dimensi, dan mengajaknya bertarung di sana.."
"Aku khawatir meski kita akhirnya menang, dunia ini akan musnah.."
"Aku tidak bisa melihat dunia ini musnah karena ego satu dua orang.."
Mendengar penjelasan Fei Yang Xue Lian pun tersenyum dan berkata,
"Kita selesaikan dulu jurus ke 6 dan 7 di dimensi yang di buat leluhur ku.."
"Setelah itu asalkan perut ku di puaskan, aku akan ajarkan tehnik rahasia keluarga kami.."
ucap Xue Lian sambil tertawa ringan.
"Ehh,.."
ucap Fei Yang kaget.
Dia menatap istrinya dengan serius dan berkata,
"Jadi kamu bisa ?"
"Tidak,.."
jawab Xue Lian enteng sambil menahan senyum menatap suaminya.
Fei Yang langsung maju memeluk dan menggelitikinya,
"Ayo katakan,.. atau aku siksa.."
"Aduh,..hi..hi..hi..ampun ..! ampun..!jangan..hi..hi..hi .jangan di sana..hi.. hi..hi..! aduh geli sayang...hi...hi..hi..aduh jangan disana..! ampun..hi..hi..hi..!"
"Baik,..baik..aku nyerah,..aku nyerah..! akan aku katakan semuanya..hi.hi..hi..geli..ahh.
sayang... gak kuat..aku mau pipis...!"
teriak Xue Lian meringkuk ringkuk dalam pelukan Fei Yang sambil tertawa kegelian..
Fei Yang akhirnya menghentikan gelitik jarinya, sambil berpura pura berwajah seram sambil berusaha menahan tawa.
Akhirnya mereka berdua pun sama sana tertawa.
"Begini sayang,..aku memang benar tidak bisa karena aku malas mempelajarinya.."
"Ini bukunya bila kamu tertarik pelajarilah sendiri, aku tidak bisa bantu.."
ucap Xue Lian serius sambil mengeluarkan sebuah buku kuno dari dalam gelangnya.
Fei Yang buru buru membawanya untuk melihat lihat, kemudian berkata,
"Tulisannya sama persis dengan di langit langit gua, aku tidak paham.."
Xue Lian sambil tersenyum berkata,
"Di bagian paling belakang, ada terjemahannya.."
"Ibu ku sudah terjemahkan itu, dulu dulu sekali, mungkin untuk ayah ku.."
"Aku kurang paham, karena bila untuk ku, itu tidak perlu.."
"Sebagai garis keturunan langsung, tanpa di ajarin, kami bisa memahaminya langsung begitu menginjak umur 10 tahun.."
ucap Xue Lian menjelaskan ke Fei Yang yang sedang merangkulnya dengan mesra.
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Baik selesai latihan, bila kamu ingin makan apa katakan saja.."
"Tanpa kitab ini sekalipun, kamu kan tahu, aku tak pernah bisa menolak apapun permintaan mu.."