PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
TEMPAT TINGGAL RAHASIA FEI HSIA.


Di tempat lain terlihat sebuah kapal layar, sedang bergerak dengan hati-hati menghampiri sebuah pulau, yang di kelilingi oleh gugusan karang tajam.


Di atas kapal tersebut terlihat seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik.


Mereka berdua berada di anjungan kapal, menatap kearah pulau yang di kelilingi oleh batu karang tajam.


Pemuda tampan itu menoleh kearah gadis cantik itu dan berkata,


"Istriku kita dulu tinggal di sana ?"


Gadis cantik yang bukan lain adalah Fei Hsia, menoleh kearah pemuda tampan itu.


Dia menganggukkan kepalanya dengan yakin dan berkata,


"Benar suamiku kita dulu tinggal di sana, sebelum akhirnya kamu pergi ke daratan tengah menjalankan tugas dan tanggung jawab mu.."


"Hingga akhirnya seperti ini.."


ucap Fei Hsia dengan nada sedih.


Pemuda itu mengulurkan tangannya, merangkul bahu Fei Hsia dengan lembut.


Lalu dia menariknya kedalam pelukannya sambil tersenyum lembut menatap Fei Hsia.


Pemuda itu berkata pelan,


"Tidak apa-apa, yang penting saat ini aku telah kembali ke sisi mu.."


"Kita bisa memulai semuanya kembali mulai dari awal."


"Biar kita buka lembaran baru, kehidupan kita.."


"Ayo kita pulang.."


ucap Fei Yang sambil melayang meninggalkan kapal.


Dia membawa Fei Hsia terbang melayang ringan menuju tengah pulau.


Fei Hsia menatap wajah Fei Yang dari samping bawah, sambil tersenyum penuh kebahagiaan.


Fei Yang meski kehilangan ingatan akan masa lalunya, tapi semua ilmu yang sudah melekat mendarah daging dalam tubuhnya.


Dia tetap bisa menggunakannya, sesuai keinginan nya, tanpa masalah.


Makanya tanpa kesulitan, dia bisa membawa Fei Hsia terbang meninggalkan kapal dengan sangat percaya diri.


Sementara itu di atas kapal sana, nenek Yang dan Kakek Wu memberi kode kepada pengemudi dan awak kapal.


Agar membawa kapal mereka menjauhi pulau, yang sangat berbahaya bagi kapal besar seperti yang mereka tumpangi saat ini.


Pulau ini adalah pulau ikan, sebuah pulau kosong yang di kelilingi karang tajam.


Pulau ini meski sulit di datangi, tapi pulau yang di kelilingi oleh batu karang tajam ini.


Sangat kaya dengan ikan jelek berbadan bintik bintik hitam, yang dagingnya sangat lembut dan enak.


Selain itu masih ada udang udang bercapit besar yang ukurannya sebesar lengan manusia dewasa.


Sejak kecil Fei Hsia sering bermain ke pulau ini bersama beberapa teman seusianya.


Mereka adalah anak para pelayan yang ikut tinggal di pulau pelangi.


Jarak pulau ini dan pulau pelangi tidak terlalu berjauhan, bila laut sedang tenang menggunakan perahu kecil, tidak sampai satu jam perjalanan juga sampai.


Di tengah pulau ada sebuah rumah yang di bangun diatas sebuah pohon besar.


Itu adalah rumah unik yang sengaja di buatkan oleh Kakek Wu dan beberapa pelayannya, sebagai tempat peristirahatan dan tempat bermain bagi cucunya.


Pulau ini di beri nama pulau ikan bintik, dengan seiring usia Fei Hsia semakin dewasa.


Pulau ini berubah menjadi pulau pribadi nya, dia terkadang bisa menghabiskan waktu tinggal berminggu minggu di sana.


Menghabiskan waktu nya bersantai berlatih hingga membaca berbagai jenis buku sejarah dan seni musik.


Musik yang paling Fei Hsia gemari adalah Ku Khim, sejenis kecapi kuno dengan 24 senar melintang diatas kecapi tersebut.


Kini pun dia mengajak Fei Yang tinggal di pulau rahasia miliknya ini.


Dia tidak mau membawa Fei Yang kembali ke pulau pelangi.


Karena dia takut kakeknya yang tidak menyetujui tindakannya ini, keceplosan membuka rahasia masa lalu Fei Yang.


Dia ingin menjauhkan Fei Yang dari kakek neneknya, agar tidak timbul masalah yang merepotkan di kemudian hari.


Sebaliknya kakek Wu merasa jauh lebih lega, bila tidak melihat dan bertemu dengan Fei Yang.


Setiap bertemu dan melihat Fei Yang kakek Wu akan selalu merasa bersalah, malu dan sangat menyesal.


Dia tidak punya muka untuk menghadapi Fei Yang.


Nenek Yang meski berat berpisah dari cucunya, tapi dia juga sadar paling baik memang seperti ini.


Daripada nanti harus ribut dengan suaminya karena masalah Fei Hsia dan Fei Yang yang bikin pusing kepala.


Fei Yang berhasil mendarat ringan di tepi pantai, dengan lembut dia menurunkan Fei Hsia dari pondongan nya.


Fei Yang kagum dengan kecantikan dan keasrian pulau yang terlihat sepi tidak ada siapa-siapa di sana.


Fei Yang berjongkok iseng dia mengambil segenggam pasir putih lembut di telapak tangannya.


Lalu dia biarkan pasir halus itu jatuh kembali kebawah.


"Istriku pasir di sini sangat lembut dan halus, adem lagi."


"Sangat kontras dengan udara di sini yang agak panas dan lengket."


Fei Hsia tersenyum lebar dan berkata,


"Aku akan membawa kakak Yang ketempat tinggal kita, di sana aku jamin pasti udaranya sejuk dan gak lengket."


Fei Yang menatap Fei Hsia dengan penuh semangat.


Sambil tertawa riang Fei Hsia menggandeng tangan Fei Yang menariknya berlari ringan menuju ketengah pulau yang tertutup pohon pohon besar nan rindang.


Beberapa saat melintasi hutan pepohonan rindang, mereka berdua tiba di bawah sebuah pohon raksasa.


Fei Hsia menunjuk keatas dan berkata,


"Rumah kita ada diatas sana."


Fei Yang mendongakkan kepalanya keatas, dia menatap dengan penuh kagum dan takjub.


Di mana di atas ketinggian sana, terlihat sebuah rumah pondok besar berdiri di atas sana.


Disanggah oleh dahan dahan pohon besar sebagai landasan pondasi rumah tersebut.


"Ayo kita keatas sana kak.."


ucap Fei Hsia sambil tersenyum bangga melihat reaksi Fei Yang.


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Boleh ayo kita lihat lihat kedalam.."


Selesai berkata, Fei Yang lagi lagi menggendong Fei Hsia dengan lembut.


Lalu mereka berdua melayang ringan seperti dua ekor burung besar hingga di depan pondok yang tidak memiliki daun pintu.


Fei Yang melangkah masuk kedalam pondok, menatap kagum dengan peralatan yang tersedia di dalam pondok.


Di dalam pondok ada tempat tidur, meja kursi sederhana, karpet buat duduk dan bersantai.


Hingga dapur kecil dan peralatan makan semua terlihat lengkap.


Benar benar tempat layak huni yang menyenangkan batin Fei Yang dalam hati.


Setelah menurunkan Fei Hsia dari pondongan nya, Fei Yang langsung mengambil posisi berbaring santai di atas karpet permadani berbulu lembut.


"Wah nyaman sekali sayang, aku jadi ngantuk,.."


ucap Fei Yang sambil tersenyum lebar.


Fei Hsia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fei Yang yang seperti anak kecil.


"Di sebelah sana ada dua jendela kecil, buka saja, udaranya akan lebih sejuk dan nyaman.."


ucap Fei Hsia sambil menunjuk ke arah samping, tempat Fei Yang sedang berbaring.


Fei Yang mengikuti arah yang di tunjuk Fei Hsia, dia menemukan memang ada dua buah jendela kecil yang berjajar di sana.


Fei Yang membukanya, benar saja begitu jendela terbuka, angin sejuk langsung berhembus masuk.


Pemandangan di luar sana juga sangat menakjubkan.