PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
BAI XUE SETHAI


"Ayo kita turun, sudah sampai..!"


ucap Nan Thian sedikit mengeraskan suara nya.


Agar yang di dalam kereta mendengarnya.


Segera dari dalam kereta terdengar suara berisik.


Lalu satu persatu mulai muncul, Nan Thian membantu mereka satu persatu turun dari kereta.


Yang paling pertama muncul adalah Zi Zi dan yang terakhir turun adalah Kim Hong.


Nan Thian sambil tersenyum lembut, membantu menggendong Zi Zi turun dari kereta kuda.


Setelah itu dia baru membantu yang lainnya.


"Hong mei bagaimana keadaan luka mu,.. sudah baikan..?"


tanya Nan Thian sambil membantu Kim Hong turun dari kereta.


"Sudah kak Nan terimakasih.."


ucap Kim Hong mengikuti panggilan yang lainnya terhadap Nan Thian.


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Syukurlah, Hua San sudah semakin dekat, mungkin besok sore mungkin kita sudah bisa tiba di kota Huai Yin.."


"Bila tidak ada halangan lusa sore mungkin kita sudah bisa tiba di Hua San.."


ucap Nan Thian menjelaskan.


Kim Hong mengangguk pelan, sambil sesekali mencuri pandang menatap kearah wajah Nan Thian yang sedang berbicara dengannya.


Nan Thian yang lagi lagi mulai menangkap keanehan tatapan mata Kim Hong yang mulai mirip dengan tatapan mata Siau Semei nya dulu.


Sambil tersenyum pahit, Nan Thian berkata,


"Kalian semua masuklah dulu, bantu aku mencari tempat duduk dan memesan makanan.."


"Aku ada urusan sebentar, nanti menyusul."


Rombongan itu mengangguk, lalu mereka masuk duluan kedalam restoran merangkap penginapan itu.


Nan Thian sendiri, berjalan jalan melihat lihat suasana sekitar.


Begitu melihat pedagang permen Ping Tang Hu Lu di pinggir jalan, Nan Thian langsung tersenyum lebar.


Akhirnya dia berhasil menemukan apa yang sedang di carinya.


"Paman tolong Ping Tang Hu Lu nya 20 tusuk.."


ucap Nan Thian.


Penjual itu dengan senang hati membungkuskan pesanan Nan Thian.


Setelah melakukan pembayaran, Nan Thian sambil melangkah kembali kearah penginapan.


Dia sepanjang jalan dengan santai menghabiskan 10 tusuk Ping Tang Hu Lu, kesukaan Kim Kim.


Saat kembali kerombongannya, Nan Thian memberikan ke Zi Zi dan yang lainnya masing masing dua batang.


Kim Kim Hong kurang menyukainya, jadi jatah untuk dirinya, dia berikan ke Zi Zi dan Yun er yang menerimanya dengan senang hati.


Tidak lama Nan Thian tiba makanan pun mulai di hidangkan.


"Ayo kita makan,"


ucap Nan Thian seperti kebiasaannya selama ini.


Dia akan selalu mendahulukan mengambil makanan buat paman dan bibi kecilnya.


Setelah itu dia baru mulai makan dengan lahap, hingga semua orang selesai.


Dia akan menghabiskan sisa makanan hingga tanpa sisa.


Orang yang tidak tahu.


Tentu akan mengira Nan Thian makan nya sangat rakus.


Padahal aslinya yang makan adalah Kim Kim, Nan Thian hanyalah perantara nya saja.


Selagi Nan Thian sedang asyik menghabiskan sisa makanan.


Sedangkan yang lainnya sedang asyik ngobrol.


Tiba-tiba dari arah pintu restoran, berjalan masuk seorang wanita paruh baya, yang membawa pedang di tangan.


Dia berjalan masuk kedalam ruangan di ikuti oleh 6 orang muridnya yang semuanya adalah wanita.


Begitu masuk wanita paruh baya itu menyapukan tatapan matanya yang tajam, kearah semua pengunjung di dalam restoran.


Tatapan matanya akhirnya berhenti di meja Nan Thian.


Kim Hong yang melihat wanita paruh baya itu, langsung bergegas menghampirinya.


Lalu dia menjatuhkan diri berlutut dan berkata dengan penuh hormat.


"Murid datang memberi hormat pada guru.."


"Ehh Hong er kamu di sini, ayo bangun.."


Dia langsung membangunkan Kim Hong yang sedang berlutut di hadapannya.


Kim Hong sambil tersenyum gembira, berkata.


"Guru bagaimana keadaan kesehatan mu..?"


"Baik, sangat baik.."


ucap Kim Hong cepat.


"Kim Hong kamu sedang bersama siapa..?"


tanya guru Kim Hong, yang merupakan ketua Xue San Pai.


Di Dunia persilatan dia terkenal dengan julukan Bai Xue Su Sethai ( Pendeta Wanita Salju Putih..)


Julukan ini di berikan karena dia terkenal dengan ilmu pedangnya, yang bila di mainkan sangat mirip dengan gulungan salju putih.


Nan Thian dan rombongannya segera menghampiri Bai Xue Sethai, dan memberi hormat kepadanya.


"Sethai, terimalah salam hormat dari saya, nama ku Yue Nan Thian murid Qing Hai Pai.."


"Guru ku adalah Pai Wang.."


ucap Nan Thian memperkenalkan diri dan memberi hormat.


Bai Xue Sethai membalas penghormatan dari Nan Thian dan berkata,


"Ohh murid dari Pai Wang apa kabar dengan beliau saat ini..?"


"Bukankah seharusnya saat ini dia juga, harusnya sudah berada di kota ini..?"


ucap Bai Xue Sethai sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan tersebut.


"Maaf Sethai, aku tidak ikut dalam rombongan guru ku, aku melakukan perjalanan ini bersama mereka saja.."


Bai Xue Sethai mengangguk, lalu dia menoleh kearah Siau Yen dan Siu Lian.


Siau Yen dan Siu Lian memberi hormat dan berkata,


"Nama ku Siau Yen cucu dari Chu Liang dari perguruan akar dewa."


"Namaku Siu Lian aku putri bungsu dari Chu Liang.."


"Nan Thian menoleh kearah Sun er dan Zi Zi, lalu berkata,


"Mereka berdua ini adalah bibi dan paman kecil ku.."


"Yang ini Zi Zi, sedangkan ini Sun er.."


ucap Nan Thian menjelaskan.


Zi Zi dan Sun er ikut memberi hormat dengan sopan, tapi mereka tidak berkata apa-apa.


Membiarkan Nan Thian yang mewakili mereka untuk menjawab semuanya.


Bai Xue Sethai mengangguk ramah dan berkata,


"Ayo kita ngobrol sambil duduk didalam.."


Nan Thian langsung memberi kode kearah pelayan, agar dua meja di satukan,


Sehingga bisa muat banyak orang.


"Silahkan, Silahkan Sethai,"


ucap Nan Thian sopan.


"Hong er bagaimana kalian semua bisa berkumpul dan melakukan perjalanan bersama ?"


Tanya Bai Xue Sethai.


Sambil menoleh kearah muridnya, begitu mereka semua kini sudah duduk satu meja bersama sama.


Kim Hong buru buru menjelaskan kepada gurunya.


Bai Xue Sethai mengangguk-angguk, setelah mendengar penjelasan dari muridnya.


Dia kemudian memberi hormat kepada Nan Thian dan rombongannya, lalu berkata,


"Terimakasih banyak semuanya, untung Kim Hong bertemu dengan kalian.."


"Bila tidak tentu dia sudah celaka di tangan penjajah biadab itu ."


ucap Bai Xue Sethai sedikit geram dengan pihak kerajaan Mongolia.


"Tak perlu sungkan Sethai, kami hanya melakukan yang sepatutnya di lakukan oleh semua orang."


ucap Nan Thian sambil tersenyum sopan.


Selagi mereka sedang asyik mengobrol dan arah pintu melangkah masuk.


Seorang pri paruh baya, yang berjalan di depan di ikuti oleh beberapa orang muridnya di belakangnya.


Kehadiran rombongan tersebut di sana, membuat Nan Thian tertegun melihatnya.


Nan Thian sudah menduga cepat lambat dia pasti akan bertemu, tapi dia tidak akan menyangka secepat ini mereka akan bertemu di sini.