PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
TANGIS PILU KIMALA


Kepala desa Lhoka, adalah seorang kakek yang berusia 70 tahunan, tapi badannya masih terlihat cukup sehat dan bugar.


Hal ini mungkin karena pekerjaannya yang bertani, dan hidup dengan tenang di desa terpencil tidak banyak masalah dan pikiran.


Sehingga tubuhnya jauh lebih sehat dan kuat,.di bandingkan orang seusia dia di daerah perkotaan.


Kakek itu yang berjalan paling depan, saat tiba di hadapan Fei Yang dia menjura kearah Fei Yang dan berkata,


"Maaf menganggu waktu mu tuan muda Yang.."


"Nama ku Jampa, orang orang di desa ini biasanya memanggil ku kakek Jam, aku adalah kepala desa Lhoka ini ."


Fei Yang buru buru balas menjura kearah kakek Jampa dan berkata,


"Kakek Jam datang mencari ku sampai kemari, tentu ada urusan yang sangat penting ingin di sampaikan pada ku.."


"Katakan saja, kira kira apa yang bisa Fei Yang lakukan untuk kakek jam..?"


Kakek Jampa menghela nafas panjang, lalu dia mengajak Fei Yang untuk duduk bersama nya, ditangga dapur.


Kakek Jampa memanggil pemuda yang kenal dekat dengan Kim Kim atau (Kimala) pemuda itu bernama Jee atau (Dorjee).


Jampa memintanya untuk menggantikan Fei Yang menjaga api rebusan obat ayah Kim Kim.


Lalu dia pun mulai bercerita sekilas mengenai kondisi di Tibet dan Lhasa.


Fei Yang hanya mendengarkan seluruh cerita kakek Jampa, sampai habis tanpa membantah atau pun menyela sama sekali.


Di akhir ceritanya, kakek Jampa baru berkata,


"Masalah di depan mulut desa, kami sudah membantu membereskan semua nya."


"Nak Fei Yang, saat kejadian tadi selain Kimala kamu dan ke 5 lhama jubah merah, apakah ada orang lain di lokasi yang melihat kejadian tersebut..?"


tanya kakek Jampa dengan serius.


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak ada, selain aku dan Kim Kim tidak ada lagi yang tersisa.."


Kakek Jampa pun tersenyum lega, dan berkata.


"Ini menjadi lebih mudah, semua masalah di depan mulut desa anggap saja tidak pernah terjadi.."


"Demi keamanan desa kami, agar kejadian tewasnya kelima orang itu, tidak berbuntut panjang, kami akan membantu merahasiakan nya.."


"Nak Fei Yang sebenarnya kami sangat berterimakasih nak Fei Yang, sudah menolong Kimala dan ayahnya.."


"Tapi demi keamanan desa kami, aku ada sedikit permohonan yang kurang pantas ke nak Fei Yang.."


Fei Yang tersenyum dan mengangguk mengerti, lalu berkata,


"Aku mengerti, aku akan segera tinggalkan desa ini.."


Fei Yang lalu menoleh kearah Dorjee dan melambaikan tangannya kearah Dorjee agar mendekat.


Dorjee buru buru mendekati Fei Yang, dia menatap Fei Yang dengan penuh rasa terimakasih kagum dan hormat.


"Dorjee aku ada sedikit permintaan bantuan, Kamu mau kan membantu ku..?"


ucap Fei Yang serius.


Dorjee dengan cepat menganggukkan kepalanya, dia menatap Fei Yang menunggu Fei Yang memberikan pesan untuk nya.


"Dorjee di sini ada catatan obat dan cara mengolahnya, juga ada cara menyajikan nya, kamu bantu Kim Kim memasak dan menyajikan nya untuk ayah Kim Kim."


"Bila di minum dengan rutin dalam 3 hari, penyakit ayah Kim Kim pasti akan sembuh.."


"Kamu bisa kan..?"


tanya Fei Yang memastikan.


"Aku akan berusaha yang terbaik.."


Fei Yang tersenyum, sambil menepuk pundak Dorjee, Fei Yang berkata,


"Aku percaya kamu pasti bisa.."


"Dorjee di sini ada sedikit uang untuk membantu kehidupan Kim Kim dan ayahnya.."


"Kamu tolong bantu aku serahkan ini pada Kim Kim.."


Dorjee kembali menganggukkan kepalanya, sambil menerima sebuah bungkusan yang dia hanya tahu cukup berat.


Dan yang pasti, di dalam nya adalah uang, cuma Dorjee adalah pemuda jujur, yang diam diam sudah lama menyukai Kimala.


Tidak sedikitpun terlintas di otaknya ingin mencari tahu, berapa banyak uang yang diberikan oleh Fei Yang. untuk Kim Kim, apalagi ada niat ingin menguasainya.


Setelah menyerahkan semuanya, Fei Yang pun berpamit pada kakek Jampa dan semua yang hadir di sana.


Lalu dengan santai dia berjalan meninggalkan tempat tersebut.


Setelah melepas kepergian Fei Yang, kakek Jampa pun langsung pergi menemui ayah Kim Kim, diikuti oleh Dorjee yang membawa semangkuk obat panas untuk ayah Kim Kim.


Kim Kim sendiri, begitu mendengar Fei Yang sudah pergi meninggalkan desa


Tanpa menghiraukan teriakan Jampa dan Dorjee yang ingin mencegahnya mengejar Fei Yang.


Kim Kim langsung berlari sambil menangis mengejar kearah mulut desa.


Dorjee yang mengkhawatirkan keadaan Kim Kim, langsung berlari menyusulnya dari belakang.


Saat tiba di mulut desa, Kim Kim tidak lagi melihat bayangan Fei Yang.


Di sana hanya ada salju yang diterangi sinar rembulan, perlahan lahan dari atas langit jatuh kebawah, seperti kapas putih yang sedang melayang layang diudara.


Salju salju itu sebagian jatuh ke rambut dan wajah Kim Kim, yang sedang basah, oleh airmatanya yang mengalir deras.


"Tuan,.. mengapa,..? mengapa,.. ? kamu tega, tidak membiarkan Kim Kim untuk melihat mu, untuk yang terakhir kalinya.. mengapa ? hu..hu..hu..hu..!"


ucap Kim Kim sambil menangis.


"Setidaknya biarkan Kim Kim untuk mengenang wajah mu, untuk yang terakhir kalinya.."


"Tuan,.. tahukah kamu, ? setelah kamu pergi, yang tersisa kini, hanya keheningan kesepian dan kedinginan malam yang menemani ku..hu..hu..hu..!"


Kim Kim jatuh berlutut di atas hamparan salju sambil menangis pilu.


Dia sadar dengan jelas, setelah perpisahan ini, dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan pria yang telah menarik perhatiannya itu.


Satu persatu kenangan indah nya bersama Fei Yang, mulai awal pertemuan mereka hingga akhir, mulai terkenang kembali.


Sehingga Kim Kim semakin sulit menahan air matanya yang semakin mengalir deras.


Sementara Dorjee yang dari tadi sudah menyusul Kim Kim, dia hanya bisa berdiri ditempat agak jauh, tidak berani mendekat.


Dia hanya bisa menatap Kim Kim dengan penuh rasa simpati kasihan, sekaligus tidak berdaya untuk membantunya mengurangi kesedihan Kim Kim.


Dorjee tadinya ingin menunggu hingga tangis Kim Kim mereda baru mendekati untuk menghiburnya.


Tapi melihat salju yang turun semakin deras, Dorjee akhirnya nekad maju menghampiri Kim Kim.


Tanpa banyak bicara Dorjee berjongkok di samping Kim Kim, lalu dia menggunakan mantel bulunya yang tebal, untuk menutupi tubuh Kim Kim dari hujan salju yang semakin lebat.


Kim Kim yang merasakan perhatian dari sahabat masa kecilnya, akhirnya dia menubruk kedalam pelukan Dorjee dan menangis tersedu-sedu dalam dekapan Dorjee.


Fei Yang yang sebenarnya belum pergi dari sana, Dia hanya buru buru bersembunyi di balik pohon, saat mendengar ada langkah kaki halus yang sedang berlari mengejar kearahnya.


Diam diam dari balik pohon, Fei Yang bisa menyaksikan dan mendengarkan dengan jelas semua keluh kesah kesedihan Kim Kim.