PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
TAWARAN DARI LAN LAN DAN LIN LIN


"Buat apa tuan muda, lebih baik bersama kami, kami bisa menjamin kepuasan anda luar dalam.."


ucap salah satu dari empat wanita, yang sedang mencari tamu, untuk di ajak kedalam Paviliun Bunga Bersemi.


"Benar itu tuan muda, Yi Lan itu sangat sombong."


"Hanya bisa di lihat tidak bisa di sentuh, jadi buat apa ?"


timpal salah satu gadis lainnya.


"Sial sial tuan muda masuk baik baik, keluarnya di gotong lagi,.."


sela gadis lainnya sambil tertawa genit, dan menutupi mulutnya dengan sapu tangan.


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Tidak apa-apa, aku rela kalau harus di gotong juga,..asalkan kalian ada yang bersedia mengantar ku menemuinya, ini boleh jadi milik kalian.."


Di telapak tangan Fei Yang terlihat uang satu tael perak, yang bersinar berkilauan tertimpa cahaya matahari.


Melihat hal itu keempat orang itu langsung berebut dan bertengkar sendiri, ingin mengantar Fei Yang kedalam menemui Yi Lan.


"Berhenti kalian,...!!"


"Apa apaan, bikin malu saja di depan pelanggan..!!"


Bentak seorang Tante berwajah menor, sambil melangkah keluar dari dalam paviliun dengan gaya di buat buat.


Keempat gadis itu langsung terdiam, menundukkan kepala mereka kebawah, tidak berani bersuara.


Mereka terlihat sangat takut dengan Tante ini .


Sebenarnya Fei Yang rada jijik, cuma menurut Li Dan, justru tempat ini dan Yi Lan lah, yang merupakan kunci akses, untuk bisa berhadapan langsung dengan Baatar, yang selalu di jaga ketat oleh para pengawalnya.


Baatar sangat licin dan berhati hati, kediamannya pun terkenal banyak jebakan dan pintu rahasia.


Sangat sulit untuk menjangkaunya, tapi dia memiliki kebiasaan setiap akhir pekan, dia akan datang kemari untuk menonton Yi Lan menari dan bermain musik.


Makanya tempat ini adalah tempat paling pas buat bertindak.


Karena setiap sedang bersama Yi Lan, Baatar selalu melarang anak buahnya mendekat.


Dia tidak ingin privasinya terganggu.


"Tuan muda ingin bertemu Yi Lan, mari saya antar.."


ucap Tante menor itu dengan nada di buat buat.


Fei Yang memaksakan diri Tersenyum dan berkata,


"Benar,.. kakak bisa bantu saya ?"


"Bisa,.. bisa,..mari sini ikut saya,.."


ucap Tante menor itu gembira, karena Fei Yang masih begitu muda dan tampan memanggilnya dengan sebutan kakak.


Fei Yang mengangguk kecil lalu berjalan masuk kedalam paviliun mengikuti Tante menor itu.


Dari luar begitu terang, begitu masuk kedalam suasana agak sedikit remang remang dan di penuhi oleh lampu warna pink.


Fei Yang sambil jalan mengedarkan pandangannya, dia melihat di bagian bawah lantai dasar,. terlihat banyak tersedia meja kursi yang mengelilingi sebuah mimbar kecil, di mana terlihat dua orang gadis muda berpakaian tipis sedang menari erotis.


Sedangkan meja di sekelilingnya di penuhi oleh lelaki hidung belang, yang sedang bersorak sorak gembira, sambil makan minum di temani oleh gadis gadis muda genit, yang bergelayut manja di dekat mereka.


Bahkan ada yang tanpa sungkan sungkan duduk di pangkuan pria hidung belang itu, membiarkan tangan pria hidung belang yang nakal itu berkeliaran bebas di tubuh mereka.


Fei Yang buru buru menundukkan kepalanya untuk menghindari melihat hal hal yang tidak pantas di lihat itu.


Fei yang mempercepat langkahnya untuk mengikuti langkah Tante menor, yang mengajaknya menaiki tangga menuju lantai kedua.


Di tangga Fei Yang kembali harus melewati gadis gadis berpakaian tipis transparan, sedang berpelukan, ada yang sedang naik, ada juga yang sedang turun.


Saat tiba di lantai dua, wajah Fei Yang langsung merah, saat melewati deretan kamar, yang terdengar suara erangan dan rintihan aneh dari dalam kamar.


Mendengar suara suara aneh itu, tiba-tiba jantung Fei Yang berdebar hebat, dia kembali merasakan ada dorongan kekuatan aneh, yang memaksanya untuk melihat kearah deretan kamar yang di lewatinya.


Saat Fei Yang mencoba melirik mencuri pandang, dia malah melihat sebuah kamar yang pintu nya sengaja di biarkan setengah terbuka..


Di dalam kamar terlihat seorang pria dan wanita dalam keadaan polos, sedang melakukan atraksi di atas ranjang dan mengeluarkan suara suara aneh, yang sangat menganggu pikiran Fei Yang.


Melihat kejadian itu wajah Fei Yang semakin merah, dia buru buru menundukkan kepalanya, dan mempercepat langkah kakinya.


Hawa aneh di dalam tubuhnya semakin berontak hebat, hingga tanpa sadar celana di bagian bawah pusar Fei Yang menggelembung besar.


Para gadis yang kebetulan berpapasan dengan Fei Yang pada tertawa menutupi mulut mereka.


Tapi tatapan mata mereka menunjukkan mereka sangat takjub dan terpesona dengan tongkat Fei Yang, yang berdiri dan ingin mengamuk.


Untungnya Si Tante Menor, kembali mengajak Fei Yang menaiki anak tangga menuju lantai 3, yang jauh lebih sepi, di lantai 3 hanya terdapat 3 kamar besar, jauh lebih tenang dan lebih ber privasi ketimbang lantai dua, yang heboh dan ramai.


"Tuan muda harap tunggu sebentar di sini, saya harus pergi menanyakan kepada Yi Lan, apakah dia bersedia menerima tamu atau tidak.."


Fei Yang mengangguk kecil tidak membantah.


Setelah Tante menor itu pergi, Fei Yang pun berdiri santai bersandarkan pagar pembatas.


Fei Yang hanya ada dua pilihan melihat kearah dua kamar didepannya yang tertutup rapat dan sepi.


Atau melihat keluar pagar pembatas, di mana bisa melihat suasana di lantai dua dan dasar dengan bebas.


Fei Yang tentu tidak berani melihat kearah luar pagar, sehingga dia hanya bisa melihat kearah lantai dan sesekali melihat kearah dua kamar di hadapannya.


Tiba tiba dua pintu kamar itu terbuka dari dalam, terlihat dua orang gadis yang sangat cantik melangkah keluar dari dalam kamar.


Dari pakaian yang mereka kenakan, mereka lebih terlihat mirip dengan putri putri bangsawan di komplek istana.


Riasan mereka juga sangat tipis tidak menor, tapi mereka justru malah terlihat sangat cantik dan alami.


Kedua gadis itu sedikit tertegun melihat ada seorang pria tampan yang masih muda, berdiri tepat di depan kamar mereka.


Dengan suara lembut, salah satu dari kedua gadis itu berkata,


"Maaf tuan muda sedang mencari siapa di sini ?"


Fei Yang buru buru memberi hormat dengan menjura kearah kedua gadis itu dan berkata,


"Aku ingin bertemu dengan nona Yi Lan."


Tante yang mengantar ku kemari,


menyuruh ku menanti di sini, selagi dia pergi menemui Yi Lan."


"Maaf kalau kehadiran ku di sini, menganggu dan mengagetkan nona berdua.."


Kedua gadis itu saling pandang sejenak, kemudian mereka berdua sambil tertawa kecil dan menutupi mulut mereka dengan sapu tangan.


Mereka berdua kemudian menoleh kearah Fei Yang dan berkata,


"Bila tuan muda tidak berkeberatan, tuan boleh memilih untuk menunggu di salah satu kamar diantara kami berdua.."