
Yang Di yang pertama kali muncul bersama muridnya.
Dia langsung mengatur murid muridnya, ikut terjun membantu mengambil air untuk pemadaman api.
Beberapa saat kemudian susul menyusul Bai Xue Sethai, Song Wan dan murid murid mereka, terlihat hadir di lokasi.
Mereka semua bahu membahu membantu pemadaman api.
Tapi karena angin kencang berhembus, kebakaran terus menyebar.
Hanya Pai Wang dan rombongan muridnya, yang tidak terlihat hadir disana.
Pai Wang sendiri sedang memimpin beberapa muridnya melakukan pengejaran kearah puncak Lian Hua Feng.
Karena dia mendapat keterangan dari murid penjaga gerbang Hua San Pai.
Nan Thian bergerak naik keatas puncak Lian Hua Feng.
Di saat keadaan sedang kacau balau, Sun er, Siau Hei, Zi Zi, Siau Yen dan Siu Lian, mereka juga terlihat sibuk mencari cari kemana perginya Nan Thian.
Sun er yang mendengar dari Siau Yen, terakhir Nan Thian sedang bersama adik seperguruan nya Xue Xue.
Sun er memimpin rombongannya memulai pencarian di dekat tempat kediaman Xue Xue.
Tapi saat tiba di lokasi mereka tidak berhasil menemukan siapapun disana.
Di saat mereka ingin pergi ke tempat kediaman guru Nan Thian Pai Wang mencari tahu.
Mereka malah bertemu dengan seorang murid Qing Hai Pai, yang terlihat sedang berlari terburu buru, seperti ada urusan yang sangat penting sedang di emban nya.
"Kakak tahan sebentar kak..!"
teriak Yun er mencoba menahan murid Qing Hai Pai itu.
Melihat yang memanggilnya adalah temannya Nan Thian, murid muda itu menghentikan langkahnya dan berkata,
"Adik kecil ada apa ?"
"Kakak, apa kakak melihat kak Nan Thian pergi kemana..?"
tanya Yun Er cemas.
"Nan Thian Sexiong tadi setelah keributan di sini, dia melarikan diri kearah sana, di kejar oleh si penghianat Hung Ping Chi dan Qi Lian Lao Koai ."
"Ada kemungkinan Nan Thian Sexiong sedang menuju puncak Lian Hua Feng, guru Pai Wang juga sedang menyusul kesana.."
"Terimakasih kak informasi nya, kalau begitu kami coba susul kesana.."
ucap Yun er cepat sambil memberi hormat.
Setelah itu dia langsung memimpin rombongan nya, meninggalkan tempat itu.
Mereka mengambil jalan gerbang samping langsung menyusul menuju puncak Lian Hua Feng.
Tapi saat tiba di lereng jalan menuju puncak Lian Hua Feng.
Mereka justru menyaksikan Pai Wang dan murid muridnya, sedang bertempur dengan Hung Ping Chi dan Qi Lian Lao Koai.
Meski Pai Wang dan muridnya berjumlah lebih banyak, tapi mereka tidak mampu berbuat banyak saat berhadapan dengan Hung Ping Chi dan guru barunya Qi Lian Lao Koai.
Pai Wang terlihat sedang berhadapan dengan Qi Lian Lao Koai.
Sedangkan Hung Ping Chi sedang di kurung oleh murid murid Qing Hai Pai.
"Adik Hung bertobat dan menyerahlah."
"Ikut dengan kami untuk bertanggung jawab, menerima hukuman dari guru Pai..!"
Hung Ping Chi menjengek dingin dan berkata,
"Itu harus di lihat lagi, kemampuan kalian sampai di mana..?"
"Adik Hung kamu tidak memberi kami pilihan, ayo semuanya kita tangkap penghianat ini sekarang.."
ucap pimpinan rombongan murid itu.
Mereka semua dengan kompak mencabut pedang dari sarungnya.
"Singggg...!"
Tujuh pedang terlihat melesat menerjang kearah Hung Ping Chi.
Hung Ping Chi terlihat bersikap tenang tenang saja melihat datangnya tujuh pedang itu.
Semua jurus pedang Qing Hai Pai sudah dia kuasai, sehingga semua jurus rahasia dari ilmu pedang Qing Hai Pai dia sudah hapal di luar kepala.
Sebelum ke 7 pedang sempat melakukan perubahan serangan, Hung Ping Chi sudah menyelinap di antara bayangan 7 pedang itu.
Dengan cepat Hung Ping Chi mencengkram meremukkan pergelangan pimpinan pengeroyoknya itu.
Lalu dia merampas pedangnya, melakukan tebasan kilat, seberkas cahaya putih melintas melewati bagian leher ke 7 orang yang mengerubutinya.
"Arggghh..!"
Terlihat tujuh orang itu menjerit n
ngeri, melangkah mundur, menggunakan tangan mereka menutupi luka di leher mereka yang terbuka.
Di mana dari luka tersebut menyemburkan darah segar seperti keran bocor.
Ketujuh orang itu melangkah mundur tidak beraturan, sesaat kemudian mereka bertujuh terjengkang kebelakang.
Jatuh terlentang di atas tanah diam tidak bergerak, dengan sepasang mata mendelik penuh penasaran.
Melihat kekejaman yang di tunjukkan oleh Hung Ping Chi, puluhan murid Qing Hai Pai yang lainnya terlihat gentar.
Humg Ping Chi sambil tersenyum dingin berkata,
"Kalian bila tidak ingin mampus seperti Nan Thian dan mereka ini.."
"Cepat berlutut, panggil aku ketua..!"
bentak Hung Ping Chi dengan dingin.
Puluhan murid itu, menoleh kearah pertempuran Pai Wang dan Qi Lian Lao Koai dengan sikap ragu ragu.
Tapi saat melihat situasi pertandingan di sebelah sana.
Di mana Pai Wang terlihat juga tidak ada harapan.
Mereka segera menjatuhkan diri berlutut, melepaskan senjata mereka.
Memberi hormat kearah Hung Ping Chi dan berkata,
"Terimalah salam hormat dari kami ketua Hung, semoga ketua Hung panjang umur dan sehat selalu.."
"Bagus berdirilah semuanya.."
ucap Hung Ping Chi sambil tersenyum bangga.
Di tempat persembunyian sana, Sun er dan kawan kawan yang mendengar Nan Thian telah di celakai oleh Hung Ping Chi.
Tentu saja mereka tidak terima, mereka langsung keluar dari persembunyian mengepung Hung Ping Chi.
"Manusia rendah, hari ini kami akan menuntut balas untuk nya..!"
Bentak Siau Yen.
Lalu dia dan Siu Lian menerjang kearah Hung Ping Chi dengan pedang di tangan.
Serangan Siau Yen dan Siu Lian lebih berbahaya dari ke 7 murid Qing Hai Pai tadi.
Sebenarnya tingkat kemampuan Siau Yen Siu Lian dengan ke 7 murid Qing Hai Pai tadi tidaklah berselisih jauh.
Perbedaannya hanya terletak pada jurus serangan Siau Yen dan Siu Lian jelas tidak pernah di lihat oleh Hung Ping Chi.
Sedangkan ke 7 murid Qing Hai Pai serangannya sudah terbaca oleh Hung Ping Chi.
Sehingga kini saat bergebrak, Hung Ping Chi juga tidak bisa semudah tadi, dia melumpuhkan ke 7 saudara seperguruannya tadi.
Ilmu pedang perguruan akar dewa juga cukup memilki nama di dunia persilatan.
Setiap jurus dan perubahannya sangatlah berbahaya.
Dua pedang gadis cantik itu bergerak bagaikan ular meliuk liuk terus mengejar kemanapun Humg Ping Chi menghindar.
Setelah melayani kedua gadis itu beberapa saat, akhirnya Hung Ping Chi membentak,
"Cukup,..! rasakan ini..!"
"Kreekkk..!"
Sepasang cakar Hung Ping Chi mengeluarkan cahaya hijau, mencengkram dan mematahkan sepasang pedang yang terus mengejarnya.
Di saat kedua gadis cantik itu terbelalak melihat pedang mereka di patahkan dengan mudah.
Sepasang cakar Hung Ping Chi telah meluncur datang mengancam dada dan leher kedua gadis itu.