
Begitu melihat siapa orang yang berdiri di hadapannya, Fei Yang buru buru menjura dan berkata,
"Maaf Junior tidak tahu senior lah yang datang kemari, terimalah hormat junior.."
"Sudahlah tak perlu banyak basa basi, serahkan Hoa San Lao Lao pada ku, maka urusan kita selesai.."
ucap Yang Jian dengan suara dingin.
Mendengar permintaan Yang Jian, Fei Yang sangat kaget dan hatinya menjadi cemas.
Di dalam hati Fei Yang berpikir, bila tidak berhasil menenangkan manusia topeng besi ini.
Hari pasti akan ada pertempuran mengerikan, yang masing masing tidak akan ada faedahnya.
Fei Yang dengan cerdik melihat ke sekitar dan melihat kearah belakang Yang Jian.
Dia berharap bisa menemukan Sen Sien Cie Cie atau Sie Yi Yi istrinya Yang Jian.
Bila ada gadis itu di sana, semuanya mungkin bisa lebih mudah, hanya kakak cantik yang lemah lembut itulah yang bisa menenangkan si topeng besi ini.
"Senior kemana Sen Sien Cie Cie, kenapa tidak terlihat,? apakah kakak Dewi baik baik saja ?"
Mendengar Fei Yang menyebut istrinya, dan menanyakan keadaannya.
Yang Jian sikapnya sedikit melunak, sambil menghela nafas panjang dia berkata,
"Dia tidak bisa ikut kemari, karena sedang berdukacita.."
"Apa yang sebenarnya terjadi ?"
tanya Fei Yang hati hati.
Fei Yang perasaannya terasa tidak tenang, dia khawatir masalah ini ada hubungannya dengan Kakak Dewi.
Bila itu terjadi, maka peluang berunding nya hampir tidak mungkin ada.
Fei Yang pernah bertemu sekali, dia tahu benar bagaimana sikap Si topeng besi ini bila menyangkut urusan istrinya.
Mendengar pertanyaan Fei Yang sikap Yang Jian kembali berubah dingin,
"Mengapa kalian tidak bisa memberi dia sedikit hidup lebih tenang ?"
"Kalian membunuh Yang Le, aku masih bisa maklum, urusan dunia persilatan rumit."
"Balas membalas tidak akan ada habisnya.."
"Tapi kenapa kalian harus membantai seluruh keluarga Xie di Yang Zhou,?"
"Padahal dia hanya seorang hartawan lemah, tidak mengerti ilmu silat."
"Dia juga tidak pernah terlibat dengan urusan dunia kalian.."
"Mengapa kalian harus,.. Haiss,..!"
ucap Si topeng besi sedikit emosi.
Si topeng besi melihat kearah Fei Yang dengan matanya yang kosong dan berkata,
"Aku tahu ini bukan urusan mu, sebaiknya kamu serahkan saja nenek itu kepadaku.."
Meski di hatinya sedikit heran apa hubungan kakak Dewi dengan hartawan bermarga Xie itu, sehingga bisa melibatkan si topeng besi.
Tapi Fei Yang tidak mau banyak bertanya yang hanya akan membuat Si topeng besi semakin emosi.
"Senior terus terang saja, senior dan kakak Dewi pernah berbudi pada ku.."
"Hal itu Fei Yang tak pernah lupa, tapi dalam hal ini aku yakin semua adalah salah paham.."
"Baik aku maupun Hoa San Lao Lao, kami tidak ada alasan apapun untuk melakukan pembunuhan."
"Apalagi terhadap seorang hartawan yang tidak mengerti ilmu silat..kami tidak mungkin akan melakukan nya."
"Ku harap senior bisa mempercayai apa yang kukatakan barusan, dan menyelidikinya lagi lebih lanjut.."
"Sebelum kemari aku tentu sudah menyelidikinya sendiri, tapi semua bukti petunjuk dan saksi, semua mengarah pada Hoa San Lao Lao.."
ucap Yang Jian tegas.
"Anak muda ku harap kamu bisa bersikap bijak, bila tidak maka tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.."
Fei Yang setelah mendengar semuanya, dia tahu semua perundingan menemui jalan buntu, kecuali dia bisa membuktikan siapa pelaku utamanya.
Bila tidak pertarungan maut ini, tidak mungkin bisa terhindarkan.
"Senior Hoa San Lao Lao terhadap aku ada Budi, begitu pula senior.
Bila bisa memilih tentu aku akan memilih tidak memihak siapapun.
Tapi kini dengan kondisi Hoa San Lao Lao yang sedang terluka, di tambah semua ini adalah sebuah fitnah keji terencana."
"Maka Fei Yang tidak punya pilihan lain, maaf senior bila Fei Yang harus bersinggungan kepentingan dengan senior.."
ucap Fei Yang sambil memberi hormat.
Seluruh tubuh Fei Yang mulai terisi kekuatan alam semesta tanpa batas.
Tenaga api dan es juga menyelimuti seluruh tubuhnya,
Saat Fei Yang mendorongkan kedua tapaknya kearah langit, dua ekor naga merah dan biru melesat dari kedua tangannya, lalu terbang menuju langit.
Kedua naga itu saling berbelit di udara, sebelum akhiri melesat ke atas langit.
Seiring hilangnya kedua naga merah biru yang menyatu.
Turunlah sebuah energi ungu dari atas langit menyinari seluruh tubuh Fei Yang.
Sementara itu Yang Jian yang bisa merasakan perbedaan kekuatan Fei Yang saat ini dan dulu saat mereka pertama bertemu di Thian San.
Yang Jian tersenyum penuh kagum, bibir tersenyum kagum, tapi kedua tangannya sudah bergerak memunculkan 49 batang pedang pelangi.
49 pedang pelangi terus bergerak mengitari tubuhnya.
di bagian atas kepala dan di bawah kaki Yang Jian, muncul bayangan Pat Kwa hitam putih, bergerak berputar-putar di atas kepala dan di bawah kakinya.
Di kening Yang Jian juga muncul bulatan yang mengeluarkan cahaya pelangi.
Dengan gerakan mendorong kedepan, ke 49 pedang pelangi meluncur deras, menerjang kearah Fei Yang.
Sinar pelangi memancar dari dahi Yang Jian, meyinari.ke 49 pedang pelangi, yang sedang meluncur kearah Fei Yang.
Di saat hampir bersamaan Fei Yang yang sudah membaca arah pergerakan jurus Yang Jian.
Dia membentuk pusaran angin, yang mengeluarkan cahaya berwarna ungu.
Untuk menggulung ke 49 energi pedang pelangi, yang sedang meluncur kearah dirinya.
Yang Jian berusaha mengontrol dan menambah kekuatan serangan pedang pelanginya.
Agar tidak sampai tergulung oleh kekuatan angin puyuh yang Fei Yang ciptakan.
Pedang pelangi berputar cepat seperti mata bor berusaha menembus pusaran cahaya ungu ciptaan Fei Yang.
Sebuah cahaya putih melesat dari arah langit menyambar kearah Yang Jian.
"Duarrr,..."
Tubuh Yang Jian terlihat bergetar hebat, saat tersambar oleh cahaya petir dari atas langit.
Seluruh tubuh Yang Jian di selimuti cahaya listrik kecil yang menyambar nyambar.
Bayangan Pat Kwa diatas kepala Yang Jian meledak hancur tak berbekas, di sambar oleh petir langit tingkat sembilan panggilan Fei Yang.
Fei Yang sendiri terlihat sebelah tangan kanan menciptakan pusaran cahaya ungu, sebelah tangan kiri menunjuk keatas langit.
Petir langit ke 9 bukan hanya sekali sambarannya tapi terus menerus berulang kali.
Setiap kali petir menyambar tubuh Yang Jian bergetar hebat.
Meski belum berhasil menyentuh atau melukai Yang Jian, tapi sambaran petir yang tertahan oleh energi pelindung cahaya pelangi.
Tetap saja sangat mengganggu konsentrasi Yang Jian, dalam mengendalikan serangannya ke arah Fei Yang.
Fei Yang yang melihat hal itu, dia mengarahkan pedang ungu raksasa yang sedang bergerak turun dari langit menghantam langsung kearah Yang Jian.