LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 99. Membuat Pisau Dari Tempurung Kura-kura Besi


Sebenarnya jika Ling Yan tidak ingin mengikuti acara lelang itu, Ling Yan bisa saja pergi dari kota Bufeng sejak kemarin, namun mengingat Gu Xingyi sendiri yang mengundangnya, pasti dalam acara lelang tersebut ada sebuah barang lelang yang mungkin begitu berharga, dan Ling Yan tidak mungkin melewatkan acara lelang tersebut.


"Sepertinya sudah waktunya menggunakan ini." Ling Yan menatap sebuah botol yang berisikan cairan hijau di dalamnya yang tidak lain adalah racun ular hijau raksasa yang ia dapatkan di dalam hutan kegelapan sebelumnya.


Ling Yan lalu kembali memasukkan botol tersebut kedalam cincin natnya dan kini berjalan keluar dari dalam penginapan hingga ia menghentikan langkahnya didepan sebuah toko pandai besi di kota Bufeng.


Tanpa pikir panjang Ling Yan lalu masuk ke dalam dan menemui seorang penjaga toko yang tengah duduk di kursi santainya.


Penjaga toko yang melihat kedatangan Ling Yan dengan jubah hitamnya sontak mengalihkan pandangannya serta langsung menyambutnya dengan ramah.


"Haha selamat datang di tokoku tuan, apakah ada yang bisa aku bantu." Sapa pemilik toko itu sambil tersenyum ramah.


Ling Yan hanya menatap wajah pria paruh baya tersebut tanpa ekspresi sambil mengeluarkan sebuah tempurung besi milik siluman kura-kura raksasa sebelumnya.


"Aku ingin kau membuatkan aku banyak pisau seperti ini dari bahan yang aku miliki." Ucap Ling Yan sambil memperlihatkan pisau miliknya.


Pemilik toko yang melihat tempurung besi yang dimiliki oleh Ling Yan sontak membelalakkan matanya karena terkejut.


"Ahh ini..." Wajah pemilik toko tersebut nampak seperti tidak percaya pada apa yang baru saja ia lihat.


Bagaimana tidak, ia bahkan belum pernah sekalipun melihat sebuah tempurung kura-kura besi raksasa tingkat 5, sedangkan yang ada di depannya saat ini adalah tempurung kura-kura besi raksasa tingkat 9.


"Siapa sebenarnya orang misterius ini, dan dari mana ia mendapatkan tempurung kura-kura besi raksasa ini." pertanyaan tersebut kini terngiang-ngiang di dalam kepala pria paruh baya itu.


"Tuan dari mana kau mendapatkan tempurung besi raksasa ini." Pria paruh baya itu bertanya karena begitu penasaran.


"Hmm maaf apakah ini begitu penting bagimu?" Ling Yan bertanya sambil mengerutkan keningnya.


Pria paruh baya itu nampak sedikit menelan ludah sebelum kembali meminta maaf.


"Maaf tuan, aku tidak bermaksud untuk..."


"Sudahlah, aku ingin kau membuatkan aku pisau seperti ini sebanyak 100 buah, sedangkan sisanya, kau boleh mengambilnya, selain itu aku juga ingin kau merahasiakan ini." Ucap Ling Yan yang tidak ingin berlama-lama.


Mendengar perkataan Ling Yan, pria paruh baya tersebut nampak mengerti dan menganggukkan kepalanya, dalam hati ia juga sangat senang karena berpikir kalau bahan yang Ling Yan miliki pasti akan tersisa banyak.


"Baiklah tuan, aku mengerti, aku akan menyelesaikan pesanan yang kau inginkan sebelum besok sore." Jawab pria paruh baya itu.


Ling Yan nampak mengangguk sekilas sebelum mengeluarkan sekantung koin emas dari dalam cincin natnya, tapi belum sempat Ling Yan memberikan koin emas pada pria paruh baya itu.


"Tuan, kau tidak perlu membayar untuk pesanan yang kau inginkan, aku akan nampak begitu memalukan jika meminta bayaran setelah kau memberikan sisa bahan berkualitas tinggi yang kau miliki." Ucap pria paruh baya itu dengan senyuman tulusnya.


Ling Yan nampak menatap pria paruh baya itu sejenak sebelum kembali memasukkan koin emas miliknya, "Baiklah aku mengerti, aku akan kembali besok sore untuk mengambil barang yang aku minta." Ucap Ling Yan yang disambut anggukan kepala dari pria paruh baya itu.


"Hei bocah, apakah kau tidak merasakan kalau saat ini kau tengah di ikuti oleh seseorang?" Api abadi mengingatkan.


Mendengar itu Ling Yan sedikit terkejut dan hampir saja menghentikan langkahnya, dengan susah payah ia berusaha untuk tetap tenang dan sedikit melirik sekitarnya.


"Huo, sejak kapan orang itu membuntutiku?" Tanyanya pada api abadi.


"Baru saja, aku juga merasakan kalau kekuatan orang ini setara dengan seorang pendekar raja bintang 7, dan sepertinya ia mengikutimu karena merasakan kehadiran harimau kecil yang ada padamu." Jawab Api abadi.


Mendengar itu Ling Yan sontak mengingat kembali perkataan pendekar yang ada di dalam penginapan tadi.


"Sial, jangan-jangan dia adalah Feng Yuan yang dimaksud oleh pendekar tadi."


Ling Yan kini memutar otaknya dan berpikir keras untuk menghindar dari pertarungan, karena walaupun saat ini Ling Yan sudah mencapai kekuatan seorang pendekar jiwa, namun seorang pendekar raja bintang 7 masihlah terlalu kuat baginya.


Hal itu dapat dilihat saat Ling Yan tidak dapat merasakan kehadiran pendekar itu yang saat ini mengikutinya.


Berselang beberapa saat kemudian, dengan cepat Ling Yan langsung saja melesat dengan ilmu meringankan tubuhnya dan berlari dengan sangat cepat bagaikan kilat meninggalkan tempat itu.


Sementara itu Feng Yuan yang tidak siap dengan gerakan cepat Ling Yan yang begitu tiba-tiba sontak mengumpat keras dan kini juga ikut melesat mengikuti Ling Yan yang saat ini sedang berlari ke arah hutan kegelapan.


"Jangan harap kau bisa lolos dariku, sampai kemanapun aku pasti akan mengejarmu dan mendapatkan binatang gaib itu." Ucapnya sambil terus mengejar Ling Yan yang kini sudah mulai terlihat di depan.


Ling Yan sedikit melihat kebelakang dan benar saja dibelakangnya kini terlihat Feng Yuan yang sedang melesat begitu cepat dan tinggal sedikit lagi berhasil menyusulnya.


"Ck dia sangat cepat, pendekar raja memang sangat hebat." Ling Yan kini mempercepat langkah demi langkah yang ia lakukan, akan tetapi secepat apapun ia berlari tetap saja Feng Yuan kini sudah berhasil menyusulnya.


"Tinju angin dan Guntur!!" Teriak Feng Yuan sambil megarahkan tinjunya ke arah Ling Yan.


Melihat itu Ling Yan sontak bereaksi dengan cepat dan melompat sedikit ke belakang yang membuat serangan Feng Yuan kini mengenai sebuah pohon yang langsung tumbang karena serangan yang begitu dahsyat.


Ling Yan sedikit menelan ludahnya saat melihat kejadian tersebut di hadapannya, pasalnya ia tahu kalau serangan yang dilakukan Feng Yuan tadi hanya menggunakan sedikit tenaga dalam, tapi efek kerusakan yang disebabkan begitu dahsyat dan bisa saja langsung membunuhnya.


"Ternyata walaupun kau hanya seorang pendekar jiwa, kau mampu menghindari serangan tiba-tiba yang aku lakukan, kau lumayan juga bocah, tapi... kau saat ini sedang tidak beruntung karena bertemu denganku." Feng Yuan berkata sambil mengeluarkan sebuah pedang dari dalam cincin natnya.


"Sepertinya sudah tidak ada pilihan lain selain melawanmu." Ling Yan kini membuka jubah hitamnya tanpa membuka topeng yang ia gunakan lalu bergerak menarik pedang darah api dari sarungnya.


Sementara itu di tempat Feng Yuan berdiri, ia kini bisa melihat Xiao Hu yang sedang duduk manis di bawah dagu Ling Yan.


"Oh, ternyata inilah binatang gaib harimau ekor api itu." Ucap Feng Yuan sambil menyeringai.