LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 292. Pemabuk Tua Aneh


"Banyak?, setahuku di pulau es utara hanya ada 5 pendekar suci yaitu para petinggi sekte itu sendiri, apakah itu juga bisa di sebut sebagai banyak." Jawab Ling Yan dengan telepati.


Guo Kai sedikit melihat ke langit dan berkata.


"Hmm bisa dibilang begitu, tapi yang aku maksudkan bukan hanya mereka, namun ada lebih banyak lagi, bahkan aku juga bisa merasakan ada aura dari seorang pendekar bumi di pulau itu." Jawab Guo Kai.


Ling Yan membelalakkan matanya terkejut mendengar Guo Kai yang mengatakan seorang pendekar bumi.


"Pendekar bumi!! Jangan-jangan disana...." Ling Yan mulai menerka-nerka siapa saja di antara ketiga musuhnya yang memiliki kekuatan pendekar bumi.


Dan di antara ketiganya hanya terlintas nama Gu Liang yang baru saja naik ke tingkat tersebut serta kemungkinan terburuk yang tidak di inginkan oleh Ling Yan, yaitu Yun Zhao.


"Seberapa kuat kekuatan yang dimiliki pendekar bumi itu, apakah kau bisa mengukurnya." Tanya Ling Yan lagi dengan telepatinya.


"Sesama pendekar bumi jika saling berhadapan akan tetap bisa mengukur kekuatan lawan mereka walaupun lawannya berada di atas tingkatannya sendiri, dan aku, roh pedang kabut ilusi yang sudah berada di dalamnya selama bertahun-tahun tentu saja bisa melakukannya juga.


Tetapi saat ini kita sedang tidak berdekatan dengan pendekar ini, jadi aku tidak bisa melakukan hal tersebut, namun aku merasa orang ini mungkin berada di atas tingkatan yang aku miliki jika aku masih hidup." Jelas Guo Kai.


Mendengar jawaban itu, Ling Yan semakin yakin bahwa orang yang dimaksud oleh Guo Kai adalah Yun Zhao, tetapi pikirannya itu kembali ia hilangkan setelah Guo Kai kembali membaca pikiran Ling Yan.


"Jika kau beranggapan kalau itu adalah musuh terbesarmu, maka kau salah, karena aku tidak merasakan api spiritual dari orang ini." Sambung Guo Kai.


Ling Yan menjadi bingung setelah peryataan Guo Kai itu.


"Jika bukan Yun Zhao, lalu siapa pendekar bumi yang dimaksud, apa mungkin Yun Zhao memiliki bawahan yang berada di atas kekuatan pendekar bumi bintang 3, tapi bukankah itu sangat mustahil." Batin Ling Yan sambil menatap ke arah pulau es utara.


"Apa mungkin ada orang lain yang lebih kuat dan menginginkan api dingin..... tapi siapa dia...." Pikiran Ling Yan mulai menerka-nerka semua kemungkinan lain yang bisa terjadi.


*****


Kapal yang Ling Yan tumpangi akhirnya sampai di pulau es utara tepat pada saat matahari hampir terbenam, dan sensasi dingin dari pulau es utara pun kini mulai menyerang mereka.... ah tidak tapi hanya Shuyang.


"Di.... Dingin sekali." Ucap Shuyang dengan sedikit bergetar padahal ia sudah mengenakan pakaian yang cukup tebal.


Sementara Ling Yan terlihat biasa saja sama halnya dengan Xui yang malah terlihat cukup menyukai tempat tersebut karena akar roh bunga teratai es yang ia miliki.


Ling Yan mengeluarkan sebuah pil berwarna merah dari cincin natnya dan memberikannya kepada Shuyang.


"Pil ini akan membantumu bertahan di suhu dingin pulau ini." Ucap Ling Yan sambil memberikan pil tersebut kepada Shuyang.


Setelah menelan pilnya, barulah Shuyang merasa lebih baik dan mulai melanjutkan perjalanan bersama Xui dan Ling Yan dan Jin Yuan.


"Ternyata di tempat sedingin ini juga ada kota, aku kira pulau es utara hanyalah pulau yang di tempati oleh anggota sekte mereka saja." Ujar Shuyang sambil melihat keramaian sekelilng kota.


Ketiganya berjalan beriringan di tengah-tengah barisan rumah yang terbuat dari bongkahan es yang cukup tebal.


"Itukah benteng sekte pulau es utara?" Xui terlihat menatap kagum benteng itu, dan di dalam tubuhnya juga merasakan semakin dekat jarak mereka dengan benteng tersebut semakin banyak pula energi alam yang ia rasakan.


"Sepertinya akar roh bunga teratai es bisa menyerap semua energi dingin yang ada di pulau ini tanpa Xui harus melakukan latihan." Batin Ling Yan yang dapat melihat aura dingin itu.


Sampai akhirnya suara seorang pedagang yang membentak lelaki tua pemabuk mengalihkan perhatian mereka.


"Hei pak tua!! Ini sudah ketiga kalinya kau mengambil arak milikku!!! Kau harus membayar satu keping emas untuk semua itu!!"


Ling Yan sedikit mengerutkan dahinya pada saat pandangannya tertuju pada pemabuk tersebut, ia sedikit bisa merasakan kalau pemabuk itu juga sedang menatapnya dengan tatapan mata yang tidak biasa.


"Orang itu.... Apakah ia baru saja menatapku." Batin Ling Yan sebelum pemabuk tua itu bangkit dari tempatnya dan berjalan gontai sambil membawa arak yang ia ambil dari pedagang tadi tanpa membayarnya.


Ling Yan terdiam sejenak sambil menatap punggung pemabuk tua itu, dan karena merasa penasaran akhirnya Ling Yan menghampiri pedagang dimana pemabuk tersebut mengambil sebotol arak sebelumnya, apalagi pedagang tersebut malah tidak mengejar pemabuk itu untuk meminta bayaran.


"Paman... Bisakah aku mengetahui siapa pemabuk tadi?" Tanya Ling Yan sambil tersenyum sedikit canggung.


Pedagang itu sedikit melirik ke arah Ling Yan sebelum menunduk kembali dan berkata.


"Entahlah, setiap hari dia hanya mabuk-mabukan dan berkeliling di kota giok es, memangnya kenapa, kau ingin membayar arak yang ia ambil sebelumnya?" Ucap pedagang itu dengan tatapan sinisnya.


Pedagang tersebut bersikap seperti itu karena tidak mengetahui identitas Ling Yan sebagai pendekar karena ia dan yang lainnya memang membungkus pedang yang mereka punya.


Ling Yan sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum mengeluarkan sebuah koin emas untuk membayar arak yang di ambil oleh pemabuk itu, tetapi pedagang tersebut malah mencegahnya.


"Haihhh sudahlah, aku hanya bercanda, aku tidak mungkin mengambil keuntungan dari orang lain, pemabuk tua itu sudah lama sekali tinggal di kota giok es, tapi aku tidak tahu siapa namanya.


Setiap hari ia selalu mengambil dan meminum arak di tokoku tanpa membayarnya, tetapi dimalam hari ia akan kembali lagi untuk mengambil sebotol arak dan membayar semua arak yang telah ia habiskan di pagi hari." Jelas pedagang itu panjang lebar.


Mendengar jawaban pedagang tersebut membuat Ling Yan mengangguk mengerti sambil tetap memberikan koin emas di tangannya pada pedagang tersebut.


"Terimakasih atas informasinya." Jawab Ling Yan sebelum berjalan menjauh.


"Apakah kau tidak merasa aneh dengan pemabuk tua itu?" Ucap Shuyang yang sepertinya juga merasakan sesuatu.


"Entahlah, tapi sepertinya itu hanya perasaanku saja." Jawab Ling Yan sebelum melanjutkan perjalanan menuju benteng sekte pulau es utara.


Namun tanpa mereka sadari, pemabuk tua yang tadinya mereka bicarakan sedang memperhatikan mereka dari belakang sambil tersenyum penuh makna.


"Akar roh surgawi, 7 api spiritual, satu boneka roh dan juga seorang gadis dengan akar roh bunga teratai es dan pedang itu.... Pedang kabut ilusi." Ujar pemabuk tua tersebut dengan senyuman tipis sebelum kembali meneguk arak yang ada di genggamannya.


Sementara itu, Ling Yan dan yang lainnya kini sudah tiba di depan gerbang sekte pulau es utara yang dijaga oleh dua orang pendekar berlian.


"Siapa kalian!! Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya kedua pendekar itu dengan tatapan waspada karena aura gelap yang dimiliki oleh Jin Yuan.