
Kota teratai kediaman Ling San.
Ling Yue yang sedang membereskan rumah nampak sedang mengangkat beberapa barang yang berada di dalam sebuah rak yang sudah usang.
"Hah..... berat juga... Barang-barang ini sudah terlihat begitu usang tapi suamiku masih menyimpannya." Ling Yue menepuk-nepuk beberapa benda yang sudah dipenuhi debu sebelum pandangannya tertuju pada sebuah kotak kecil diantara benda-benda tersebut.
Ling Yue yang merasa begitu familiar dengan benda tersebut nampak mengerutkan dahinya sebelum meraih kotak kecil itu.
"Ini....." Ling Yue lalu membuka kotak kecil tersebut dan mendapati sebuah liontin giok berwarna hijau di dalamnya."
Ling Yue mengambil giok tersebut sebelum menggenggam dan memeluknya erat di iringi buliran bening yang keluar dari sudut matanya.
"Ling Xiang, sebenarnya setelah kejadian waktu itu, apa yang telah mereka lakukan padamu, aku yakin saat ini kau pasti masih hidup diluar sana, tetapi mengala kau tidak pernah sekalipun pulang untuk mengunjungi kami, bahkan setelah kau memiliki keponakan sekalipun." Ucap Ling Yue di sela tangisannya.
Liontin giok hijau yang sedang di genggam oleh Ling Yue saat ini tidak lain adalah liontin kehidupan yang dimiliki oleh setiap kandidat pemimpin Klan Ling dan Ling Han juga memiliki benda yang sama seperti itu.
Di dalam liontin giok tersebut terdapat energi kehidupan pemiliknya dan jika sinar di dalam giok tersebut menghilang, itu bisa menjadi pertanda kalau pemilik liontin tersebut sudah mati.
Saat Ling Yue masih berjongkok di dalam kamarnya, Ling San yang baru saja selesai melatih kedua anak angkatnya dan tidak sengaja lewat di depan kamar itu menemukan istrinya sedang berjongkok sambil terisak.
"Ling Yue.... Apa yang sedang kau...." Ling San terdiam mendapati istrinya sedang menangis sambil memeluk sebuah liontin hijau yang juga ia kenali.
Ia lalu ikut berjongkok sambil memeluk dan menenangkan Ling Yue yang tengah terisak itu.
"Maafkan aku karena tidak bisa berbuat banyak pada saat itu." Ucap Ling San sambil memeluk istrinya.
Sementara Ling Yue, ia hanya bersandar di dada bidang suaminya sambil mengingat kembali wajah seorang pria yang wajahnya begitu mirip dengannya di masa lalu yaitu saudara kembarnya yang bernama Ling Xiang.
"Anggota Klan kuno itu...." Ling San mengepalkan tangannya erat.
Walaupun seluruh anggota klan Ling tahu kalau akhir dari penangkapan Ling Xiang waktu itu akan berujung pada kematian, tetapi sampai saat ini liontin giok milik Ling Xiang masih terus bersinar dan tidak berubah sedikitpun.
Di masa lalu sebelum Ling Han menjabat menjadi pemimpin Klan Ling, Ling Yue memang memiliki seorang kakak laki-laki yang bernama Ling Xiang yang merupakan saudara kembarnya.
Pada saat itu saudara kembarnya tersebut adalah seorang paling jenius di dalam Klannya dan bahkan kekuatannya sudah menyamai Ling Han walaupun umurnya masih terbilang jauh lebih muda dari ketua Klannya itu.
Pada awalnya Ling Xiang merupakan calon kandidat ketua Klan yang akan menggantikan posisi ketua terdahulu karena dialah orang yang paling jenius serta terkuat di antara anggota Klannya yang lain.
Sampai akhirnya Ling Xiang tidak jadi dilantik sebagai ketua Klan yang baru, karena pada waktu itu salah satu dari anggota Klan kuno datang dan menangkap Ling Xiang.
Tidak ada yang mengetahui apa alasan anggota Klan kono itu menangkap Ling Xiang, namun ada sebuah rumor yang mengatakan kalau Ling Xiang memiliki sesuatu di dalam lautan rohnya yang dapat merubah nasib dari Klan Ling yang terpuruk.
Nyatanya rumor yang beredar tersebut bukanlah sekedar rumor belaka melainkan sebuah kebenaran, karena Klan Ling dulunya memang termasuk dalam salah satu Klan kuno terkuat di antara seluruh kekaisaran dibawah pimpinan Ling Tian.
Dan alasan anggota Klan kuno tersebut menangkap Ling Xiang adalah karena beredarnya kabar kalau Ling Xiang berhasil membangkitkan akar roh surgawi seperti leluhurnya Ling Tian.
Itulah mengapa salah satu dari anggota Klan kuno menginginkan kematian Ling Xiang, karena mereka takut kalau kejayaan dari Klan Ling kembali seperti semula dan itu bisa saja mengancam posisi dari klan mereka.
Apalagi Klan Ling dulunya adalah klan yang paling kuat dan tidak ada yang berani berurusan dengan mereka pada saat Klan ini di pimpin oleh sang pendekar roh pengubah takdir Ling Tian.
Dan sepertinya dalam kurun waktu yang cukup dekat, Klan Ling akan kembali melonjak naik menjadi salah satu klan kuno yang disegani di bawah pimpinan Ling Yan.
*****
Ibukota kekaisaran Wei.
Hembusan angin sepoi-sepoi membuat rambut panjang seorang pendekar yang berjalan di tengah-tengah kota sedikit terhempas kesamping.
Dibalik topengnya pendekar itu menatap langit biru dan mendapati seekor burung elang sedang memutari langit biru di atasnya.
"Pemilik api spiritual itu sudah datang."
Tepat setelah ucapannya itu, sebuah kereta kuda yang di kendalikan oleh seorang berwajah datar terlihat mendekat sebelum melewati pendekar bertopeng tersebut.
Pendekar bertopeng itu nampak tersenyum penuh makna sebelum berbalik dan melanjutkan langkahnya, sementara seorang pemuda yang sedang berada di dalam kereta kuda nampak mengerutkan dahinya karena beberapa detik yang lalu ia merasakan sebuah aura kekuatan yang begitu familiar.
Pemuda tersebut berbalik kearah belakang namun sayangnya ia tidak menemukan apa-apa disana.
"Apa mungkin aku salah, barusan aku seperti merasakan aura yang begitu mirip dengan ibu, tetapi mengapa aku merasa kekuatan yang ia miliki berada di atas pendekar suci? Selain itu aku juga merasakan aura akar roh surgawi seperti milikku."
Shuyang yang mendapati Ling Yan tiba-tiba melihat ke arah belakang nampak menatapnya sejenak sebelum mengikuti arah pandang sahabatnya itu.
"Ada apa teman? Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?" Tanya Shuyang.
Ling Yan seketika tersadar dari lamunannya sebelum menjawab pertanyaan Shuyang.
"Ah tidak ada, aku hanya sedang penasaran memikirkan benda yang dimaksud oleh Qianlin sebelumnya." Jawab Ling Yan berbohong.
Mendengar itu membuat Shuyang mengangguk pelan hingga beberapa saat kemudian kereta kuda mereka berhenti di tengah-tengah keramaian kota dan mereka sudah begitu dekat dengan asosiasi lelang harta.
Saat menuruni kereta kuda, Ling Yan bisa mendapati ada banyak pendekar yang sedang berlalu lalang di sekitar ibu kota, selain itu iabjuga bisa melihat beberapa prajurit kekaisaran yang sedang berpatroli di sekitar kota.
"Sepertinya mereka datang untuk mengikuti lelang besok, pasti akan ada banyak barang menarik yang akan di lelang nantinya." Batin Ling Yan.
Xui yang baru kali ini melihat ibu kota kekaisaran wei secara langsung nampak menarik tangan Ling Yan untuk berkeliling.
"Kak Ling Yan ayo temani aku untuk melihat-lihat."
Ling Yan bahkan tidak sempat untuk berkata apapun saat Xui sudah menariknya cukup jauh dan meninggalkan Shuyang, Qianlin serta Jin Yuan di dekat kereta kuda mereka.
"Hehehe mau berjalan-jalan sebentar." Ucap Shuyang dengan nada canggung sambil terkekeh.
Qianlin tidak menjawab apa-apa melainkan melangkahkan kakinya di ikuti oleh Jin Yuan dibelakangnya sebelum Shuyang berlari kecil menyusul keduanya.
"Tunggu.... Kenapa kalian begitu tega meninggalkanku." Teriak Shuyang dari belakang.
Ketiganya kini mencoba mencari kemana Xui membawa Ling Yan meninggalkan mereka bertiga, tetapi mereka tidak menemukan kemana keduanya pergi sampai akhirnya mereka kembali bertemu pada saat malam hari si penginapan terbesar ibukota kekaisaran.