LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 73. Sekali Serangan


"Tapi tak ada gunanya kau menyesal sekarang, karena malaikat mautmu akan segera datang sebentar lagi." Teriak salah satu pendekar itu sambil melesat maju menyerang Ling Yan dengan senjata aritnya.


Ling Yan yang melihat itu dengan cepat langsung bereaksi dan mengalirkan tenaga dalam pada pedang darah api di tangannya.


Berkat tenaga dalam serta kualitas tulang harimau besinya, Ling Yan mampu bergerak sangat cepat menghindari serangan tersebut dan langsung melancarkan serangan balik.


"Teknik pedang api membelah samudera!!!" Ling Yan menghindar dari serangan lawannya lalu dengan cepat bergerak menyerang dengan teknik pedangnya.


Dengan sekali serangan telak, Ling Yan berhasil mengalahkan perampok itu dan membelah tubuhnya menjadi dua bagian.


Perampok yang menggunakan arit untuk menyerang Ling Yan tidak sempat mengeluarkan kata-kata dan kini berakhir dengan tubuh yang terbelah dan mata yang melotot.


"Hmp tidak ada kata takut di dalam kamusku" Gumam Ling Yan setelah membunuh lawannya.


Beberapa saat kemudian, Ling Yan kembali mengalihkan pandangannya ke arah perampok dengan senjata kapak yang saat ini berdiri tidak jauh dari tempatnya.


Perampok itu nampak tengah menatap Ling Yan dengan tatapan mata ketakutan seakan ia tengah melihat seekor siluman tingkat tinggi didepannya.


Ling Yan yang melihat itu sontak mengeluarkan aura pembunuhnya bersamaan dengan aura petarungnya yang setingkat dengan kekuatan pendekar berlian bintang 9.


Perampok yang tadinya tersenyum licik melihat Ling Yan, kini merubah ekspresi wajahnya menjadi buruk saat mengetahui kalau Ling Yan ternyata memiliki kekuatan setingkat pendekar berlian bintang 9.


"Gawat, kekuatannya terlampau jauh dariku." Dengan tergesa-gesa pendekar itu mencoba kabur dari Ling Yan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


Ling Yan yang melihat lawannya yang mencoba kabur langsung bergerak cepat menancapkan pedang darah api ke tanah dan memperagakan sebuah teknik bertarung yang lain.


"Tinju kobaran api sakral surgawi!!!" Ling Yan mengalirkan tenaga dalam pada tinjunya dan mengeluarkan kobaran api sakral surgawi pada kepalan tangannya.


Ling Yan lalu bergerak melompat cukup tinggi dan melepaskan tinju kobaran apinya pada perampok itu. Sebuah tinju kobaran api berwarna hijau kini mengarah pada perampok itu dan berhasil mengenainya.


Perampok yang terkena serangan Ling Yan itu kini jatuh tersungkur di tanah dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya.


Ling Yan lalu mengambil pedang darah api yang tadinya ia tancapkan ke tanah dan mulai berjalan mendekati perampok itu.


"Pendekar muda, tolong ampuni aku, aku mohon, aku berjanji akan berubah menjadi orang yang baik setelah ini." Ucap perampok itu.


Ling Yan yang mendengar itu sontak berdecak kesal di dalam benaknya dan mengumpat keras pada semua pendekar aliran hitam.


"Sial apakah semua pendekar aliran hitam memiliki perguruan merangkai kata-kata yang sama, kata-kata yang keluar dari dalam mulut mereka saat dalam keadaan seperti ini semuanya sama saja, dan juga tidak ada ketulusan sama sekali di dalam hati mereka." Umpat Ling Yan di dalam pikirannya.


Walaupun Ling Yan saat ini mengumpat keras di dalam benaknya, Ling Yan tetap saja memasang wajah datar dan menatap dingin ke arah perampok itu.


"Hmp kau berkata seakan kau sudah sering sekali menggunakan kalimat itu untuk menyanjung pendekar-pendekar aliran putih yang naif." Ucap Ling Yan.


Ling Yan lalu mengangkat pedangnya dan mengayunkannya ke leher perampok itu, akan tetapi, " Pendekar muda aku mohon lepaskan aku, aku... aku akan membayar, berapa, berapa yang kau butuhkan." Perampok itu kembali memohon sambil memberikan cincin natnya kepada Ling Yan.


"Ambil, ambil saja semua yang aku miliki, tapi tolong lepaskan aku." Ucap perampok itu memohon dengan keringat dinginnya.


Ling Yan mengerutkan keningnya sejenak melihat tingkah perampok itu yang begitu berusaha memohon kepadanya, akan tetapi tetap saja, Ling Yan tidak bisa melihat ketulusan dari raut wajahnya.


Melihat Ling Yan yang membalikkan badannya dan berjalan menjauh, perampok itu kini bisa bernafas lega sejenak, akan tetapi setelah beberapa saat, Ling Yan kembali berjalan mendekat ke arahnya.


"Eh pendekar muda, ada apa? apakah ada sesuatu yang kau lupakan?" Tanya perampok itu dengan nada bicara sedikit gugup.


"Hmm ya, kau benar sekali, aku melupakan sesuatu yang sangat penting, aku lupa untuk membunuhmu." Ucap Ling Yan yang kini mulai mengangkat pedangnya.


Melihat Ling Yan mengangkat pedangnya, wajah perampok itu sontak menjadi buruk di sertai keringat dingin yang mengucur deras membasahi wajahnya.


"Pe pendekar muda, bukankah kau sudah mengampuni ku dan memberikan kesempatan kedua padaku, tapi mengapa kau...."


Perampok itu tidak sempat menyelesaikan kalimatnya saat Ling Yan akhirnya menebas leher perampok itu hingga kepalanya kini menggelinding di tanah.


"Oh aku lupa mengatakan padamu kalau aku adalah orang yang pelupa." Ucap Ling Yan setelah menebas kepala lawannya.


Ling Yan lalu mengambil cincin nat milik kedua perampok itu dan memeriksa apa saja yang ada di dalamnya. Dan alangkah terkejutnya ia saat mengetahui isi di dalamnya terdapat banyak koin emas dan juga barang-barang berharga yang sepertinya mereka dapatkan dari hasil rampokan.


Ling Yan juga menemukan beberapa teknik bertarung hitam tingkat rendah didalam cincin nat itu dan juga beberapa sumberdaya yang berguna bagi seorang pendekar.


Ling Yan menemukan beberapa butir pil penyembuh dan juga beberapa butir pil peningkat tenaga dalam di dalam cincin keduanya.


Namun setelah berselang beberapa saat, perhatian Ling Yan kini dialihkan oleh sebuah sumber daya yang begitu ia kenali, yaitu bunga teratai embun.


"Wah ternyata didalam cincin nat ini juga terdapat sebuah sumberdaya seperti ini, pasti mereka mendapatkannya dari hasil rampokan." Ling Yan berdecak kagum saat menemukan bunga teratai embun di dalam cincin nat milik kedua perampok itu.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menyimpannya dulu, ini akan menjadi sangat bermanfaat dimasa depan." Ling Yan lalu memasukkan semua koin emas dan sumber daya yang ia dapatkan kedalam cincin natnya.


Setelah itu ia lalu menyingkirkan mayat kedua perampok tersebut dan membakarnya dengan api abadi hingga mayat keduanya terbakar menjadi abu.


Di sini Ling Yan sempat berpikir bahwa yang ia lakukan barusan terkesan terlalu kejam, tapi ia juga tidak bisa membiarkan mayat mayat itu membusuk dan bisa saja menyebabkan wabah penyakit nantinya.


Sepintas memang Ling Yan sebenarnya bisa saja menguburkan kedua mayat perampok itu, akan tetapi Ling Yan berpikir bahwa mayat keduanya tidak pantas untuk di kuburkan, jadi ia lebih memilih untuk membakarnya hingga menjadi abu.


Setelah mengurus kedua mayat perampok itu, Ling Yan yang masih mencium bau amis di udara kini mencari dari mana asal bau amis itu disekitar tempatnya.


Dan alangkah terkejutnya ia saat ia menemukan beberapa mayat yang sepertinya mayat itu adalah mayat dari pedagang yang lewat dan bernasib sial karena bertemu dengan kedua perampok itu.


Ling Yan hampir saja memuntahkan isi perutnya saat pertama kali melihat pemandangan yang begitu mengerikan di depannya.


Bagaimana tidak, pemandangan tersebut begitu mengerikan karena wajah dari para pedagang tersebut saat ini sudah tidak dapat dikenali lagi, bahkan ada beberapa mayat yang lain yang sudah dikuliti layaknya seekor binatang ternak yang akan di olah menjadi makanan.


Setelah melihat pemandangan mengerikan itu, Ling Yan lalu bergumam sambil berdecak kesal.


"Aku tarik kembali perkataan ku yang mengatakan bahwa yang aku lakukan pada kedua perampok itu terlalu kejam." Gumam Ling Yan.


Ling Yan lalu berusaha menenangkan diri dan pikirannya sebelum menggali lubang yang cukup dalam dan memakamkan jenazah para pedagang itu.


Walaupun saat memakamkan jenazah itu Ling Yan berulang kali merasa mual, tapi pada akhirnya setelah beberapa lama akhirnya Ling Yan selesai juga memakamkan mayat para pedagang itu.