
Pada saat kedua ujung jari Ling Yan menyentuh telapak kaki Qianlin, rasa sakit serta suara teriakan kecil dari gadis itu kembali terdengar di sertai dengan asap putih yang keluar pada saat api kehidupan menyentuh telapak kakinya.
Dengan hati-hati Ling Yan terus melakukan pijatan hingga beberapa tetes keringat sedikit terjatuh dari wajahnya.
"Akh... Itu.... Sakit sekali...." Ucap Qianlin sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan.
Xui yang melihat ekspresi wajah Qianlin yang kesakitan nampak menghembuskan nafas beratnya sebelum menghampiri Ling Yan dengan sebuah sapu tangan yang ia keluarkan dari cincin natnya.
Dengan sapu tangan itu ia membantu Ling Yan menyeka keringat sambil berkata.
"Fokuslah dengan pijatanmu, jangan sampai membuat tubuhnya menderita."
Ling Yan yang mendengar itu hanya mengangguk sembari tersenyum sebelum kembali fokus dengan pijatan yang ia lakukan, dan setelah beberapa saat akhirnya ia menghentikan kegiatannya sambil mengatur nafasnya.
"Huh.... memarnya sudah sedikit memudar, untuk kali ini sudah cukup, aku akan melakukan pijatan seperti ini lagi setelah 3 hari dan sebelum memar biru ini menghilang sepenuhnya, kau tidak boleh melakukan latihan pernafasan untuk beberapa waktu." Jelas Ling Yan panjang lebar.
Ling Yan lalu mulai bangkit dari tempatnya dan berniat untuk membiarkan Qianlin beristirahat, namun sebelum ia bangkit lebih jauh, perkataan Qianlin tiba-tiba menghentikannya.
"Ekhmmm... Itu.... bisakah kau membantuku memijat bagian memar yang lain." Ungkap Qianlin dengan tatapan mata kesamping serta pipi yang merona.
Ling Yan sedikit terkejut dengan perkataan Qianlin yang mengatakan kalau ia memiliki memar lain di tubuhnya.
"Benar juga, tidak mungkin kau hanya memiliki satu memar jika ini sudah berlangsung selama 3 bulan lebih, jadi dimana memar gelap lain yang kau maksud."
Mendapati pertanyaan Ling Yan tersebut membuat Qianlin menjadi menundukkan kepala dengan wajah memerah, dan tepat waktu itu juga Ling Yan mengerti dengan apa yang dimaksud oleh gadis tersebut.
"Eh.... Jika tempatnya tidak memungkinkan maka aku tidak bisa....." Belum sempat Ling Yan menyelesaikan perkataannya, Xui sudah terlebih dahulu bereaksi dan mengajak Shuyang keluar dari ruangan tersebut.
Ling Yan sedikit tersenyum canggung melihat ekspresi wajah Xui yang menggelap saat melewati dirinya, ia bahkaubisa merasakan kalau tatapan mata Xui dipenuhi rasa kesal walaupun ia tidak dapat melihatnya.
Saat ini hanya tinggal Ling Yan Bing An dan Qianlin yang berada di dalam ruangan itu.
"Kakek!! Tidak bisakah kau keluar dari sini terlebih dahulu." Ucap Qianlin dengan wajah memerah.
Saat ini ia begitu malu di hadapan kakeknya hingga berniat menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.
"Haih.... Baiklah, aku tidak akan memaafkanmu jika kau melakukan hal buruk pada cucuku." Ucap Bing An dengan tatapan membunuh.
Walaupun dengan perasaan berat hati serta tidak tenang, akhirnya Bing An keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Ling Yan dan Qianlin berdua.
Tepat pada saat keduanya hanya tinggal berdua di dalam ruangan tersebut, rasa canggung diantara keduanya kini timbul tanpa ada percakapan yang terjadi selama beberapa waktu.
"Emmm Ling Yan...., aku lihat hubungan antara kau dan Xui cukup dekat, apakah kau menyukainya?" Tanya Bing An dengan nada sedikit penasaran.
"Hmmm Xui adalah orang yang sangat penting dalam hidupku, bagiku tidak ada yang lebih mengerti diriku selain dia dan juga orang tuaku." Jawab Ling Yan tanpa ada rasa ragu.
Qianlin sedikit tersenyum bahkan tertawa kecil mendengar jawaban Ling Yan, dan ini adalah kali pertamanya kalinya Qianlin berekspresi seperti itu kepada orang lain selain kakek dan juga ayahnya.
Qianlin lalu bergerak pelan meraih pengait kain yang terdapat di bawah leher sebelum akhirnya perlahan membuka pengait kain tersebut.
"Walaupun ini sangat berat bagiku, tapi ini harus kulakukan agar perkembanganku nanti tidak tertinggal dari orang lain, dan juga semua masa depan sekte pulau es utara." Batin Qianlin yang kali ini sudah bergerak melepaskan pakaiannya.
Ling Yan sedikit terkejut dengan Qianlin yang tiba-tiba saja melepaskan bajunya itu tanpa mengatakan apapun hingga membuat Ling Yan melotot dan terpaksa memalingkan wajahnya.
"Itu.... Jika memang ini tidak memungkinkan maka aku tidak akan melakukannya, aku ini sebenarnya adalah pria yang jujur akan sebuah...." Belum sempat Ling Yan menyelesaikan perkataannya dia sudah mendapatkan tatapan mata melotot dari Qianlin.
Ia bahkan mendapatkan sebuah pukulan keras di kepalanya hingga membuatnya memiliki sebuah benjolan disana.
"Ah.... Demi kesembuhanmu aku pasti akan melakukan yang terbaik." Ucap Ling Yan merubah nada bicaranya.
Tepat disaat Qianlin sudah selesai melepaskan pakaiannya, Ling Yan hanya bisa menelan ludahnya kasar saat mendapati pemandangan indah dihadapannya.
Ia bisa melihat dada Qianlin yang dibalut oleh kain berwarna putih, tetapi tidak bisa melihat sepenuhnya dan di dalam pikirannya ia sedikit menyayangkan hal tersebut.
Selain itu ia juga mendapati memar biru gelap yang bahkan lebih parah serta lebih besar dari memar sebelumnya tepat di bagian rusuk kanan milik Qianlin.
"Ini bahkan lebih parah dari yang aku pikirkan." Batin Ling Yan sebelum kembali mengalirkan tenaga dalam pada kedua ujung jarinya.
Ia kemudian mengulurkan tangannya dan mulai melakukan pijatan yang sama seperti yang ia lakukan sebelumnya pada telapak kaki Qianlin, dan tentu saja rasa sakit yang sama juga ia rasakan di tempat tersebut di iringi dengan suara teriakan kecil yang terdengar sedikit menggoda iman Ling Yan.
Dan untuk pertama kalinya, Qianlin membiarkan seorang pemudanya sebayanya menyentuh bagian yang bahkan tidak pernah disentuh oleh siapapun.
"Ketidak pedulian keluarga membuat gadis sepertinya menderita sakit parah seperti ini, bahkan saat ini aku juga bisa melihat rasa kesepian yang begitu mendalam Dimata Qianlin." Batin Ling Yan yang keringatnya mulai mengucur deras.
Pada saat memijat Qianlin ia bisa melihat dari sudah mata gadis tersebut kalau ia sedang menatapnya dengan tatapan mata yang tidak dapat diartikan, namun Ling Yan mengabaikannya sambil terus berkonsentrasi menyelesaikan pijatannya.
Setelah setengah jam berlalu akhirnya Ling Yan selesai dengan pijatannya dan terduduk dengan wajah lelah akibat konsentrasi tinggi dalam waktu yang cukup lama.
"Hehehe sudah selesai, kau harus ingat pesan yang aku berikan tadi, setelah tiga hari aku akan melakukan pijatan selanjutnya untuk memastikan memarnya menghilang sepenuhnya." Jelas Ling Yan.
Tepat setelah itu juga Qianlin juga sudah selesai dengan kegiatan memakai pakaiannya sebelum keduanya keluar dari ruangan tersebut secara bersamaan.
Di luar ruangan, keduanya mendapati Shuyang, Xui dan juga Bing An serta seorang lainnya yakni Bing Xuyan yang tengah memasang ekspresi wajah menyesal.
"Sepertinya ia mendengar semua percakapan kami sebelumnya." Batin Ling Yan.
Lalu setelah beberapa saat akhirnya Ling Yan diberikan kitab pemeliharaan akar roh dari Bing An sebelum akhirnya ia berikan kepada Xui untuk di pelajari.
"Selama 10 hari ke depan, aku akan tinggal di sini untuk membantu Qianlin memulihkan kondisi tubuhnya, selain itu aku juga ingin Xui memiliki waktu berlatih serta tempat yang lebih baik untuk tubuhnya, dan juga....."
Ling Yan mengeluarkan lampu pengikat roh dari dalam cincin natnya sambil berkata.
"Mungkin aku akan membawa roh api dingin bersamaku nanti, tapi jangan khawatir karena aku memiliki cara agar para penduduk kota dan sektemu tidak menderita kedinginan nantinya."