LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 109. Teknik Pedang Dewa Halilintar Dan Pedang Halilintar Nirwana.


Belum selesai Ling Yan dengan permintaan maafnya, si pemilik toko sudah memotong perkataan Ling Yan sambil terkekeh.


"Hehehe tidak masalah anak muda, aku mengerti apa yang kau maksud, oh iya aku harap kau mengganti topeng jelek yang kau gunakan itu dengan topeng besi yang aku buatkan untukmu." Pemilik toko tersebut berkata namun tidak membalikkan pandangannya.


Setelah mengambil pesanan miliknya Ling Yan lalu memasukkan pisau pisau tersebut kedalam cincin nat dan juga mengganti topengnya dengan topeng yang telah di buatkan oleh pemilik toko tersebut.


"Kalau begitu terimakasih telah membuat semua pesanan milikku senior, aku mohon undur diri." Ucap Ling Yan sopan dan hanya dibalas lambaian tangan dari pemilik toko tersebut tanpa berbalik sedikit pun.


Setelah mengatakan itu Ling Yan akhirnya berjalan keluar dari tempat tersebut, namun sepeninggal Ling Yan dari tempat itu, pemilik toko itu terlihat memalingkan wajahnya ke arah pintu sambil tersenyum.


"Hmm aku sudah menggunakan tenaga dalam ku untuk menjadikan pisau itu menjadi senjata sekelas pusaka bumi, aku harap anak muda itu dapat menggunakannya dengan baik." Ucap pemilik toko tersebut sambil tersenyum.


Namun berselang beberapa menit kemudian pemilik toko itu kini merubah ekspresinya dan sedikit mendesah pelan.


"Hah... seandainya saja meridian kecilku tidak rusak, pasti saat ini aku sudah menjadi seorang pendekar suci yang hebat, bahkan mungkin kekuatan yang aku miliki sudah bisa melampaui kekuatan si Yu Ming tua itu."


Pemilik toko tersebut bergumam pelan sambil menghadap ke atas sejenak dan ternyata dulunya ia adalah seorang pendekar suci yang sudah hampir berhasil menembus ranah selanjutnya dari kekuatannya.


Dan tanpa ia sadari sedikitpun, ternyata Ling Yan yang sudah lama keluar dari tempat itu sempat menggunakan teknik tubuh ilusi miliknya dan meninggalkan tubuh ilusinya di belakang pintu dan mendengar semua perkataan pria paruh baya tersebut. Dan setelah beberapa saat kemudian, tubuh ilusi milik Ling Yan akhirnya menghilang.


Sedangkan Ling Yan yang kini sudah mengetahui identitas sang pemilik toko pandai besi kini mulai bertanya-tanya dalam hati.


"Yu Ming? sepertinya nama itu sedikit familiar, dan sepertinya aku memang pernah mendengarnya, tapi dimana...."


Ling Yan mencoba mengingat-ingat kembali dimana ia pernah mendengar nama Yu Ming tersebut, namun setelah beberapa lama mencoba mengingatnya, Ling Yan tak kunjung menemukannya dan memutuskan untuk kembali ke penginapan sebelumnya.


"Ah sudahlah, lebih baik sekarang aku kembali ke penginapan, dan setelah itu aku harus menemui si pendekar topi jerami itu." Ucap Ling Yan sebelum kembali memperlihatkan langkahnya.


Setelah beberapa waktu berlalu saat Ling Yan menghilangnya tubuh ilusi dari toko pandai besi itu, sang pemilik toko kini terlihat berjalan ke arah sebuah pintu kecil di dalam tempat penyimpanan berbagai senjata buatannya.


Nampak ia sedikit menghela nafasnya sebelum membuka pintu tersebut dan masuk kedalam ruangan kecil itu. Di dalam ruangan kecil itu terdapat berbagai gulungan yang beragam yang tidak lain adalah gulungan teknik bertarung dan gulungan-gulungan lainnya.


Tetapi diantara gulungan-gulungan tersebut terdapat 1 buah gulungan tua berwarna biru yang terlihat sudah lumayan kusam serta sebuah pedang dengan gagangnya yang bercorak petir biru di dekat gulungan tersebut.


"Pak tua Ming, seandainya saja kau dan cucumu berada di sini, kau pasti sudah mewariskan teknik ini pada keduanya sekarang."


Si pemilik toko terlihat mengusap gulungan tersebut yang bertuliskan Teknik Pedang Dewa Halilintar serta pedang di sebelah gulungan tersebut yang tidak lain adalah sebuah pusaka langit bernama Pedang Halilintar Nirwana.


*****


Sementara itu di pelelangan asosiasi lelang harta, perebutan untuk mendapatkan senjata pusaka langit masih tetap berlangsung dan belum kunjung selesai, bahkan sampai saat ini harga dari pedang tersebut terus meningkat hingga 25 juta koin emas.


"Aku harus mendapatkan pedang ini, 28 juta koin emas!!!" Yuan Gu menaikkan harga sambil berteriak.


Namun hal itu tidak bisa di biarkan oleh Wu Hui yang sepertinya memang membawa uang lebih banyak daripada yang lain. "30 juta koin emas!!!" Teriak Wu Hui kembali.


"Sial ini sudah mencapai batasku, sebenarnya berapa banyak uang yang di miliki oleh si Wu Hui ini." Yuan Gu terlihat cukup kesal.


Sementara itu Feng Yuan yang masih duduk di bangkunya, "Pada akhirnya aku tidak mendapatkan apapun dari lelang ini, tapi meskipun begitu aku masih bisa mendapatkan barang yang di dapatkan oleh anak muda...."


Feng Yuan menghentikan kata-katanya saat pandangannya kini tidak lagi menemukan Ling Yan di tempat duduknya.


"Eh kemana perginya, bukankah tadi dia masih duduk di sana, sejak kapan ia meninggalkan tempat duduknya."


Feng Yuan terlihat masih berusaha mencari Ling Yan dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, namun tetap saja ia tidak dapat menemukan Ling Yan di sana.


Namun di sisi lain tempat duduk VIP perwakilan dari sakte seribu pedang, Gao Lang yang tidak berhasil mendapatkan pedang itu kini hanya bisa tersenyum kecut dan mengajak ke tiga muridnya untuk kembali ke penginapan sebelum pulang ke sakte.


"Hahh... sudahlah, sepertinya pedang itu memang tidak bisa kita miliki, lebih baik kita kembali ke penginapan sekarang." Ucap Gao Lang kepada muridnya.


Namun pada saat Gao Lang ingin beranjak dari tempat duduknya, Gao Lang baru saja menyadari kalau salah satu dari murid perempuannya sudah tidak ada di tempat.


"Eh tunggu, Han Li kemana perginnya adik seperguruanmu Ling Xuilan?" Gao Lang bertanya pada Han Li dengan ekspresi wajah kebingungan, sementara yang di tanyai juga berekspresi sama.


"Gawat ini masalah besar, ayo cepat kita harus mencari Ling Xuilan secepatnya." Gao Lang sedikit meninggikan suaranya.


*****


Sementara itu di jalan menuju penginapan, terlihat Ling Yan yang masih berjalan pelan tanpa menolehkan atau memalingkan wajahnya di balik topengnya sedikitpun.


Namun tiba-tiba saja Ling Yan menghentikan langkahnya dan langsung berkata. "Keluarlah, aku tahu kau mengikutiku sejak tadi." Ucap Ling Yan yang langsung terdengar oleh orang yang mengikutinya itu.


Tak lama kemudian keluarlah seorang gadis cantik dengan jubah seribu pedang serta sebuah pedang di pinggangnya, siapa lagi gadis cantik itu kalau bukan Ling Xuilan.


"Kak Ling Yan, apakah itu adalah kau?" Suara Xui kini bisa terdengar jelas di telinga Ling Yan dan sontak saja membuatnya membalikkan badannya.


"Ternyata.... aku memang tidak bisa menyembunyikan identitas ku darimu, Xui....."


Ling Yan kini bergerak untuk membuka topeng yang menutupi wajahnya namun belum sempat ia berhasil membuka topengnya itu, sebuah teriakan dari Zhu Qing yang berlari mendekat menghentikannya.


"Xui....., hah.. hah... kau kemana saja Xui, kami dari tadi sedang mencarimu?" Tanya Zhu Qing pada saudari perguruannya itu.


"Eh... maaf Zhu Qing, tadi aku hanya...." Ling Xuilan berkata sambil mengarahkan pandangan ke arah Ling Yan, tapi tanpa menyadarinya ternyata Ling Yan sudah tidak ada di tempatnya.


"Eh kemana perginya kak Ling Yan." Xui membatin.


Zhu Qing yang melihat Xui yang sepertinya sedang mencari keberadaan seseorang itu sontak saja langsung bertanya padanya.


"Ada apa? kau sedang mencari siapa?" Tanya Zhu Qing.


"Ah tidak, tidak ada apa-apa, lebih baik sekarang kita kembali, aku takut guru akan menjadi khawatir nantinya." Jawab Ling Xuilan sambil mengajak Zhu Qing.