
Li Wei yang saat ini sedang berada dalam keadaan terpojok melawan Chu Ning dan seorang pendekar berlian dari sakte Petir Hitam, kini sudah mulai mencapai batasnya serta kehabisan sebagian besar dari tenaga dalam yang ia miliki.
"Hah hah hah sial, tenaga dalamku sudah mencapai batasnya, sebenarnya kemana perginya para tetua Klan yang aku perintahkan untuk datang kemari." Li Wei mengumpat kesal dengan nafas yang terengah-engah.
Sebenarnya sesaat sebelum ia berangkat menuju kediaman Klan Ling untuk menghadiri kompetisi antar ketiga Klan, Li Wei mendapatkan pesan dari Ling Han tentang rencana Klan Chu yang ingin menguasai kota Teratai.
Mendapatkan pesan itu, Li Wei lantas memerintahkan tetua klannya untuk mengumpulkan anggota Klan Li untuk mengirimkan bala bantuan.
Akan tetapi sampai saat ini, bantuan itu belum juga sampai dan membuat keadaan kediaman klan Ling semakin terpojok dengan kedatangan segerombolan murid sakte Petir Hitam yang membantu penyerangan terhadap kediaman Klan Ling.
Sementara itu, keadaan Chu Ning dan juga pendekar berlian dari sakte Petir Hitam juga tidak sebaik yang terlihat, walaupun keduanya berhasil membuat Li Wei terpojok, akan tetapi, karena kemampuan bertarung Li Wei yang berada di atas keduanya, membuat Chu Ning dan juga pendekar sakte Petir Hitam itu kerepotan.
"Hehehe, kemampuan bertarungmu memang sangat hebat, bahkan aku yang saat ini sudah memiliki kekuatan pendekar jiwa bintang 7 sama sepertimu cukup kesulitan saat melawanmu." Chu Ning berjalan mendekat ke arah Li Wei yang saat ini sedang berlutut dibantu tangan kanan yang menopang tubuhnya.
"Untung saja aku memiliki sedikit bantuan dari sakte Petir Hitam, tapi sepertinya kekuatan dan tenaga dalam yang kau miliki sudah mencapai batas ketua Li." Chu Ning berkata sambil terkekeh.
Li Wei kini mengangkat kepalanya dan menatap Chu Ning yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Sekarang, terimalah takdirmu!!" Chu Ning lalu mengangkat pedangnya dan mengayunkannya untuk menebas leher Li Wei.
Namun belum sempat pedang Chu Ning berhasil menebas leher Li Wei, sebuah pedang lain kini langsung menahan pedang itu dari arah belakang Li Wei.
Chu Ning yang melihat itu kini memalingkan pandangannya kedepan dan mendapati seorang pria paruh baya yang memakai pakaian berwarna biru muda di hadapannya.
"Siapa kau?" Chu Ning bertanya dengan nada bicara sedikit berteriak.
Li Wei yang mendengar perkataan Chu Ning sontak kembali mendongakkan kepalanya dan mendapati seorang pria paruh baya yang ia kenali.
"Maafkan atas keterlambatan kami ketua Wei, kami mendapatkan sedikit hambatan saat menuju kemari." Ucap pria itu yang tidak lain adalah salah satu tetua dari klan Li bernama Li Fung.
Mendengar itu, Li Wei sontak tersenyum lega dan kembali menatap wajah Chu Ning yang kini berubah menjadi buruk. "Maafkan aku tetua Chu, tapi sepertinya kali ini kau belum beruntung." Ucap Li Wei menyeringai.
Li Fung lalu bergerak menyerang Chu Ning yang memang sedari tadi sudah kehabisan tenaga dalamnya, dan dengan sekali serangan, Li Fung berhasil membuat Chu Ning terhempas cukup jauh ke belakang.
"Sial, hei kau bantu aku." Chu Ning berteriak sambil membalikkan badannya pada Pendekar sakte Petir Hitam yang membantunya melawan Li Wei tadi.
Akan tetapi pada saat Chu Ning membalikkan badannya, pendekar berjubah hitam itu ternyata sudah tergeletak tidak bernyawa dengan mata yang melotot.
"Ap.... apa yang sebenarnya terjadi." Perhatian Chu Ning kini tertuju pada seorang pria paruh baya yang sedang berdiri di dekat mayat pendekar berjubah hitam itu.
"Tetua Fung, aku serahkan dia padamu." Ucap pria itu sebelum melesat pergi ke arah arena pertempuran bersama bala bantuan dari Klan Li.
Li Fung yang mendengar itu sontak menganggukkan kepalanya dan kembali menatap Chu Ning yang sedang berdiri di hadapannya.
*****
"Kak Ling Yan sadarlah, jangan tinggalkan aku!!!" Xui berteriak histeris dengan buliran air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Hah hahahaha!!! kau hampir membuatku mati bocah." Wushang tertawa lantang sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Wushang lalu berjalan ke arah Ling Yan dan juga Xui, "Kau berhasil membuatku menggunakan seluruh kemampuanku untuk menahan serangan api spiritualmu itu." Ucap Wushang masih terus berjalan gontai ke arah Ling Yan.
Xui terus mencoba membangunkan Ling Yan yang saat ini masih tak sadarkan diri, darah segar terus mengalir dari dalam mulut Ling Yan dan juga tenaga dalam yang ia miliki semakin berkurang.
"Tidak ada gunanya kau membangunkannya, karena dia sebentar lagi akan mati, dan juga api spiritual yang ia miliki akan menjadi milikku!!!"
"Kak Ling Yan, kumohon bangunlah, bukankah kau pernah berjanji akan melindungi ku, aku tidak mengizinkanmu mengingkari janjimu." Xui terus saja berteriak sekeras-kerasnya dengan air mata yang terus menetes.
Tanpa sengaja, air matanya kini menetes dan mengenai pedang darah api yang masih berada pada genggaman tangan Ling Yan, dan setelah beberapa saat, pedang darah api yang ada pada genggaman tangan Ling Yan seketika mengeluarkan kobaran api berwarna hijau terang.
Perlahan lahan kobaran api tersebut kian membesar dan menyelimuti pedang darah api.
Xui yang menyadari itu sontak menghentikan tangisnya saat melihat sebuah kobaran api berwarna hijau mulai menyelimuti pedang yang ada di tangan Ling Yan.
"Ugh apa... apa yang terjadi." Xui memasang wajah terkejut saat melihat kobaran api berwarna hijau itu kian membesar dan menjalar mengelilingi tubuh Ling Yan.
Sementara itu, Wushang yang melihat kobaran api itu tiba-tiba menghentikan langkahnya dan memasang wajah terkejut.
"Bukankah.... bukankah itu..... api spiritual, tapi mengapa api itu terlihat berbeda dari api yang dimiliki oleh bocah itu?." Wushang terus mengamati dari tempatnya berdiri tanpa berpindah sedikitpun.
Tak berselang beberapa lama akhirnya kobaran api berwarna hijau itu kini membesar dan mengelilingi tubuh Ling Yan dan juga Xui.
Wushang yang melihat itu kini merubah ekspresi wajahnya menjadi serius dan akhirnya tersadar dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Tidak mungkin, itu bukanlah api spiritual milik bocah itu, tetapi itu adalah api spiritual yang lainnya."
"Aku tidak bisa membiarkan bocah itu mendapatkan api spiritual lagi, api spiritual itu harus menjadi milikku!!" Wushang berteriak dan mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya.
"Teknik pedang api petir!!!" Wushang maju menyerang ke arah Ling Yan dan juga Xui, akan tetapi sebelum ia berhasil mendaratkan serangannya, kobaran api spiritual itu langsung melindungi keduanya hingga membuat Wushang terlempar jauh dan kembali ke tempatnya berdiri sebelumnya.
"Tidak, bagaimana mungkin kobaran api itu bisa melindungi mereka." Ucap Wushang dengan wajah yang kini berubah menjadi buruk.
Pedang energi yang menancap pada tubuh Ling Yan kini menghilang, luka luar serta luka dalam yang ia terima kini sudah mulai pulih dan setelah beberapa saat akhirnya Ling Yan mendapatkan kembali kesadarannya.
Pada saat Ling Yan membuka matanya, ia dapat melihat dengan jelas wajah Xui yang menatapnya dengan air mata yang menetes di pipinya.
Xui yang melihat Ling Yan kini sudah kembali mendapatkan kesadarannya sontak langsung memeluk Ling Yan dengan erat seperti tidak ingin melepaskannya.
"Bocah, aku akan menjadi kekuatanmu, aku berharap kau bisa menggunakan kekuatanku untuk melindungi semua orang yang kau sayangi." Sebuah suara kini terdengar jelas di telinga Ling Yan, akan tetapi Xui tidak dapat mendengar itu sama sekali.