LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 97. Pendekar Bertopi Jerami Yang Misterius


"Hei, apakah kalian sedang mencari ku?" Teriak Ling Yan yang ternyata sedang berdiri di atas dahan pohon tidak jauh dari tempatnya tadi.


Mendengar itu, ketujuh pendekar yang mengeroyok Ling Yan langsung mengalihkan perhatiannya pada sumber suara tersebut dan mendapati Ling Yan yang sedang berdiri dengan santai di atas dahan pohon yang tidak terlalu tinggi.


Dan saat mereka secara bersamaan melihat ke arah Ling Yan, tatapan mata Ling Yan yang sangat tajam serta aura petarung dan juga aura pembunuh yang ia miliki sontak membuat mereka semua mengucurkan keringat dingin.


"Ba bagaimana mungkin dia masih bisa menghindar dari serangan ku, bukankah tenaga dalamnya sudah habis?" Tanya pendekar yang tadinya menyerang Ling Yan dengan ekspresi wajah yang saat ini menjadi sedikit pucat.


Ling Yan nampak memperhatikan ketujuh pendekar yang ada dibawah dan mendapati semuanya merupakan pendekar dari aliran putih.


"Aku sebenarnya merasa bingung pada kalian, kalian adalah pendekar dari aliran putih, tapi sifat kalian sama rakusnya dengan pendekar aliran hitam yang serakah." Ucap Ling Yan yang dapat dengan jelas di dengar oleh ketujuh pendekar itu.


Ling Yan lalu melompat turun sambil menggenggam pedang darah api ditangannya lalu berjalan mendekat ke arah ketujuh pendekar itu.


Rasa gelisah bercampur takut kini menguasai pikiran ketujuh pendekar itu, ingin sekali rasanya mereka pergi dan meninggalkan tempat itu secepatnya, akan tetapi aura petarung yang Ling Yan miliki membuat kaki mereka tidak bisa digerakkan dan hanya terlihat bergetar di tempat mereka berpijak.


Tanpa pikir panjang Ling Yan lalu bergerak mengayunkan pedangnya menyerang ke arah ketujuh lawannya. Hanya butuh 3 kali gerakan sederhana bagi Ling Yan untuk menghabisi mereka semua dalam sekejap sebelum akhirnya Ling Yan menghela nafas berat sambil menghadapkan wajahnya ke atas setelah mengalahkan semua lawannya tadi.


"Hah.....sebenarnya aku sangat tidak ingin melakukan semua ini, tapi.... aku terpaksa melakukannya demi melindungi teman kecilku ini." Ling Yan kini kembali menatap Xiao Hu yang ternyata sedang tertidur di dalam pakaiannya.


"Hahaha dasar Xiao Hu, bisa bisanya ia tertidur saat aku sedang bertarung tadi." Ling tertawa pelan sebelum akhirnya tawa yang ia lakukan berakhir saat suara seorang pria mengagetkannya.


"Kau memiliki kekuatan dan kemampuan yang hebat anak muda." Perkataan tersebut berhasil membuat Ling Yan tersentak dan langsung membalikkan pandangannya ke tempat suara itu berasal.


Ling Yan kini mendapati seorang pendekar bertopi jerami sedang bersender santai dibawah pohon sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


Dalam sekali lihat, Ling Yan langsung dapat mengenali pendekar itu yang tidak lain adalah orang yang sama saat ia berada di rumah makan tadi.


"Siapa sebenarnya pendekar ini, aku bahkan tidak menyadari kapan ia datang." Ling Yan terlihat memandang lekat pendekar itu penuh selidik.


Selain perawakan pria tersebut yang begitu asing, sebuah pedang bersarung ungu di punggung pendekar itu juga berhasil mencuri perhatian Ling Yan.


"Pedang itu... setidaknya pedang itu memiliki kualitas yang hampir sama dengan pedang darah api, tapi sepertinya pedang itu setingkat lebih baik." Pikir Ling Yan.


Namun pikirannya itu langsung buyar ketika api abadi menyadarkannya. "Bocah bodoh kau harus berhati-hati, dari yang aku lihat, pria ini setidaknya adalah seorang pendekar suci." Ujar api abadi.


Mendengar perkataan Api abadi di dalam tubuhnya, Ling Yan sontak memasang wajah waspada sambil memegang gagang pedangnya.


"Siapa kau, apa yang kau inginkan." Tanya Ling Yan dengan nada bicara yang sedikit tinggi.


Terlihat pendekar itu sedikit mengangkat kepalanya dan menatap Ling Yan dengan wajah yang datar. "Aku hanya ingin memperingatkan mu untuk menjaga ketiga inti api spiritual yang kau miliki, dan juga.... mungkin kau akan datang padaku untuk mengambil apa yang akan menjadi hakmu."


Setelah mengatakan itu pendekar bertopi jerami tersebut langsung membalikkan badannya dan beranjak pergi dari sana. Namun belum cukup 10 langkah ia berjalan.


"Berhati-hatilah anak muda, karena sepertinya kau akan menjadi incaran banyak orang." Ucap pendekar itu sebelum akhirnya kembali berjalan menjauh. Terlihat ada sedikit senyuman tipis yang terukir di wajah pendekar tersebut.


Sementara itu, Ling Yan yang mendengar perkataan pria tersebut hanya bisa terpaku sambil menatap punggung pendekar itu yang perlahan menjauh, dia sedikit menarik nafas lega karena orang itu tidak memiliki maksud apapun padanya.


Setelah punggung pendekar tersebut tidak terlihat lagi, Ling Yan lalu terduduk lemas sambil menghembuskan nafas beratnya.


"Hah.... hampir saja untungnya orang itu bukanlah orang jahat." Ucap Ling Yan.


"Hmp kau beruntung bocah, jika saja dia memiliki maksud yang sama pada binatang ini, mungkin kau tidak akan bisa bertahan dari tiga serangan yang ia miliki, selain itu pedang di punggungnya, aku bisa merasakan pedang itu memiliki kekuatan serta roh pedang yang begitu kuat." Ucap api abadi.


Ling Yan hanya diam dan tidak membantah pernyataan api abadi karena yang ia katakan memang benar adanya.


Namun setelah pertemuannya dengan pria bertopi jerami itu, sebuah pertanyaan kini timbul di dalam kepalanya. "Mungkin kau akan datang padaku untuk mengambili apa yang akan menjadi hak mu." perkataan pria tersebut kini terngiang-ngiang di dalam kepala Ling Yan.


"Apa yang dimaksud oleh pendekar itu, aku sama sekali tidak mengerti." Ling Yan nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memikirkan perkataan pria itu.


"Hah sudahlah, lebih baik aku segera pergi dari tempat ini, tapi sebelum itu.." Ling Yan lalu mengeluarkan sebuah topeng dan juga sebuah jubah hitam dari dalam cincin natnya dan langsung memakainya.


"Dengan begini tidak akan ada yang mengenaliku." Setelah mengganti penampilan serta membereskan semua mayat disekitarnya, Ling Yan lalu berjalan pergi dari tempat tersebut dan kembali menuju kota Bufeng.


*****


Didalam sebuah ruangan penginapan yang gelap, terlihat Ling Yan sedang duduk bersila sambil menutup kedua matanya, sama seperti sebelumnya, Ling Yan saat ini sedang mencari titik-titik meridian kecil pada tubuhnya.


Selang beberapa saat, Ling Yan akhirnya membuka mata dan tersenyum masam karena tidak berhasil menemukan 1 titik meridian kecil selama latihannya tadi.


"Ternyata walaupun aku menggunakan teknik penghubung meridian ini, aku masih kesulitan untuk menemukan letak meridian kecilku, mungkin sebaiknya aku memurnikan kekuatan jiwaku terlebih dahulu agar bisa naik ke tingkat pendekar jiwa mengingat saat ini ada banyak sekali orang yang mengincarku."


Ling Yan lalu mengingat kembali saat ia mendapati poster wajahnya saat ia baru saja masuk ke dalam kota Bufeng siang tadi. "bahkan saat baru sampai di kota tadi poster wajahku sudah tertempel di mana-mana, entah bagaimana mereka bisa melukis dan mengenali wajahku secepat itu." Pikir Ling Yan.


Tanpa pikir panjang Ling Yan lalu mengeluarkan ke empat pil pemurni jiwa yang ia dapatkan dari Gu Xingyi sebelumnya, dan tanpa pikir panjang Ling Yan lalu menelan salah satu pil tersebut dan mulai menyerap khasiatnya.