
Dalam kehidupan ini terbagi menjadi dua golongan
Ada yang putih ada pula yang hitam
Semuanya bersatu dalam keseimbangan duniawi.
"Mungkin aku perlu memikirkan maksud dari kalimat itu terlebih dahulu." Ling Yan terus mencoba berpikir hingga ia tidak sadar kalau jiwa dan rohnya sudah berada di dalam lautan rohnya.
Tanpa melakukan teknik pernafasan jalan langit, akar roh surgawi milik Ling Yan tetap menyerap energi alam dan mengubahnya menjadi tenaga dalam.
Tanpa sadar Ling Yan yang mengulang-ulang kalimat pertama dalam ilmu pedang tanpa wujud kini bertemu dengan 7 roh api spiritual yang berada di dalam lautan rohnya.
Tepat pada saat Ling Yan membuka matanya, dia begitu terkejut saat mendapati dirinya sedang di tatap oleh tujuh roh api spiritual.
"Ehh sedang apa kalian disini." Ling Yan bertanya dengan kebingungan karena mengira kalau ia masih berada di luar.
Para roh api spiritual saling memandang beberapa detik sebelum kembali bertanya kepada Ling Yan.
"Harusnya kami yang bertanya, mengapa tiba-tiba kau masuk untuk menemui kami." Api abadi mewakili pertanyaan para roh api yang lain.
Ling Yan yang mendengar itu langsung menyadari kalau tempat di sekelilingnya saat ini begitu berbeda.
"Ehhh mengapa tiba-tiba aku berada di dalam lautan rohku." Ucap Ling Yan sambil mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Kau benar-benar tidak tahu mengapa bisa berada di dalam sini?" Tanya api semesta yang baru saja bergabung beberapa hari yang lalu.
Ling Yan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil menatap para api spiritual yang sedang melingkari dirinya.
"Hmmm ternyata begitu, tapi sepertinya kau masuk kesini karena kau terus mengulangi perkataan yang sama berulang-ulang, sebenarnya kalimat apa yang kau lafalkan itu." Tanya api semesta.
"Kalimat yang kau lafalkan itu bahkan membuat hajat pedang dari dalam diriku bereaksi." Api pembakar jiwa menambahkan.
Hajat pedang yang dimaksud oleh Xiao Yi disini adalah hajat pedang yang di tinggalkan oleh Zhao Wei kepadanya, sebelum pemilik pertamanya itu menyegel roh Xiao Yi di dalam menara seribu pedang.
Zhao Wei memang sempat memberikan hajat pedang kepada Xiao Yi hingga membuatnya dapat mengeluarkan jurus sendiri saat bertarung melawan Ling Yan waktu itu.
"Hajat pedang?" Ling Yan yang penasaran kini mulai melafalkan kembali kalimat tersebut sebelum akhirnya cahaya ke emasan keluar dari dalam tubuh api pembakar jiwa.
"Ini.... Inikah hajat pedang yang kau maksud." Cahaya ke emasan itu perlahan mendekat ke arah Ling Yan dan memutari tubuhnya secara terus menerus.
Ling Yan kembali melafalkan kalimat lain yang ada di dalam kitab ilmu pedang tanpa wujud yaitu.
"Ketika air bercampur debu, maka kejernihan akan menghilang dan terlupakan."
Tepat setelah Ling Yan menyelesaikan kalimatnya itu, hajat pedang tersebut bergerak semakin cepat memutari tubuhnya hingga Ling Yan kembali melafalkan kalimat terakhir pada halaman pertama kitab itu.
"Didalam gelapnya malam terdapat sebuah duka yang mendalam."
Whussss!!!!
Cahaya ke emasan itu tiba-tiba masuk kedalam kepalanya dan membuat Ling Yan seketika keluar dari dalam lautan rohnya.
"Hah...hah...hah..." Ling Yan terengah-engah sambil menatap lurus ke arah Guo Kai yang msedari tadi menatap wajahnya.
"Ini....jurus pedang yang sangat hebat." Ling Yan begitu terpana sesaat setelah mengerti maksud dari kalimat pertama halaman kitab itu.
Guo Kai yang melihat Ling Yan baru saja mendapatkan pencerahan nampak tersenyum tipis sebelum berkata.
"Sepertinya kali ini kau tidak akan bertanya lagi tentang kitab itu padaku." Ucap Guo Kai sambil terbang dan masuk kedalam pedang kabut ilusi.
Ingin rasanya Ling Yan menarik pedang kabut ilusi dan mencoba melatih jurus pedang yang baru saja ia dapatkan, tapi semua itu tidak dapat ia lakukan karena saat ini mereka sedang berada di atas kapal.
Ling Yan melihat ke arah ketiga temannya sejenak sebelum memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kapal besar itu karena melihat Xui dan juga Qianlin tidak memiliki tanda-tanda untuk membuka meridian-meridian kecilnya.
"Hmm.... Ternyata ada cukup banyak pendekar juga yang menumpang di atas kapal." Ling Yan membatin saat mendapati ada beberapa pendekar yang sedang duduk melingkar dan membahas beberapa hal.
Ia bisa melihat beberapa pendekar itu berasal dari asosiasi lelang harta dari pakaian yang mereka kenakan.
"Mereka pendekar dari asosiasi lelang harta, apa yang sedang mereka lakukan disini, apa mungkin mereka baru selesai menyelesaikan misi?" Batin Ling Yan.
Ling Yan bisa mendengar secara samar-samar kalau ketiganya sedang membahas tentang sebuah pelelangan yang akan di lakukan oleh asosiasi lelang harta di ibukota kekaisaran Wei 2 hari lagi.
"Karena badai salju yang baru mereda, perjalanan kita untuk menuju ibukota menjadi terhambat, aku yakin tetua huyan pasti akan memarahi kita karena terlambat membawa barang pesanannya." Ucap salah seorang pendekar itu.
"Haih.... Sudahlah, yang penting kita tidak boleh sampai terlambat sebelum pelelangan asosiasi dimulai, barang yang kita bawa inikan adalah barang yang akan sekte pulau es utara lelang nanti, jadi kita tidak boleh terlambat atau pulau es utara akan memutuskan hubungan baiknya dengan asosiasi kita." Sahut salah seorang rekannya yang memiliki senjata berupa pedang yang cukup besar.
Sebenarnya ke enam pendekar sekte asosiasi lelang harta ini ditugaskan oleh pemimpin mereka untuk mengambil sebuah barang berharga yang mereka dapatkan dari sekte pulau es Utara.
Tentunya mereka mendapatkan benda itu bukan karena mencuri melainkan Bing Yue sendirilah yang menginginkan benda itu untuk dijual.
Sementara Ling Yan yang mendengar percakapan mereka tersebut nampak pura-pura tidak memperhatikan sambil membatin.
"Barang pesanan, aku dengar beberapa hari yang lalu memang ada beberapa orang yang datang ke sekte pulau es utara untuk bertemu dengan Bing Yue(salah seorang tetua sekte pulau es utara) dan sepertinya merekalah pendekar yang dimaksud." Batin Ling Yan.
Sebenarnya ia cukup penasaran dengan benda apa yang sebenarnya di bawa oleh kelima orang itu, tetapi karena tujuan mereka nanti juga akan melewati ibu kota, maka Ling Yan berencana untuk mengikuti pelelangan tersebut.
"Sudah lama sekali semenjak pelelangan itu, aku ingin lihat, akan ada barang bagus seperti apa yang muncul di pelelangan itu." Batin Ling Yan tidak sabar.
*****
Ibukota kekaisaran Wei
Gedung asosiasi lelang harta terlihat begitu sibuk dengan persiapan lelang yang akan dilakukan 2 hari mendatang, bahkan saat ini pemimpin asosiasi lelang harta Gu Xingyi baru saja sampai di ibukota.
Gu Xingyi nampak berjalan anggun dan di apit oleh 2 orang pendekar jiwa dan seorang pendekar suci yang senantiasa menjadi pengawal setia gadis cantik itu.
"Salam pemimpin! Kami sudah menyiapkan ruangan untuk anda beristirahat!" Ucap seorang pengurus gedung asosiasi bernama Huyan Qiu dengan sopan.
Gu Xingyi mengangguk pelan sebelum berkata.
"Aku mengerti, tetapi bukan hal itu yang ingin aku dengar, apakah 10 barang utamanya sudah siap, aku tidak ingin membuat acara lelang kali ini berlangsung secara tidak nyaman."
"Ke sembilan barang utama lelang sudah siap nona, hanya ada satu barang lagi yang belum sampai dari pulau es utara karena terjadi badai salju 2 hari yang lalu." Jawab Huyan Qiu.