LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 110. Feng Yuan Lagi


"Ada apa? kau sedang mencari siapa?" Tanya Zhu Qing.


"Ah tidak, tidak ada apa-apa, lebih baik sekarang kita kembali, aku takut guru akan menjadi khawatir nantinya." Jawab Ling Xuilan sambil mengajak Zhu Qing.


Sementara itu, Ling Yan yang tadi langsung pergi saat Zhu Qing menghampiri Xui kini sudah terlihat memasuki penginapan.


"Selamat datang kembali tuan pendekar." Sapa pelayan itu yang memang sudah mengenali Ling Yan.


Ling Yan hanya mengangguk pelan menanggapi pelayan tersebut sambil berjalan menuju kamarnya, dan di dalam kamar tersebut Ling Yan langsung saja mengeluarkan ke seratus pisaunya serta sebuah botol khusus yang berisi racun siluman ular sisik hijau raksasa yang ia dapatkan beberapa minggu lalu di dalam hutan kegelapan.


"Hmm ini saatnya melumuri pisau-pisau ini dengan racun, tapi sebelum itu...." Ling Yan bergerak membuka jubahnya dan memindahkan Xiao Hu yang sedang tertidur di dalamnya.


"Baiklah mari kita mulai."


Tanpa pikir panjang Ling Yan langsung saja menyiapkan sebuah wadah lalu dengan cekatan ia melumuri semua pisaunya dengan racun ular tersebut.


Ling Yan terlihat begitu sangat berhati-hati saat melakukan apa yang sekarang ini dia lakukan bahkan terlihat juga beberapa bulir keringat kini tengah membasahi wajahnya, karena jika terjadi sedikit kesalahan saja, itu akan sangat berakibat fatal bagi dirinya.


Bagaimana tidak, racun siluman ular sisik hijau raksasa tingkat 5 saja dapat membunuh seorang pendekar raja dalam waktu singkat jika tidak segera di tolong, apalagi saat ini Ling Yan sedang melumuri pisaunya dengan racun ular hijau raksasa tingkat 9.


Dan setelah beberapa jam kemudian, akhirnya Ling Yan selesai juga melumuri semua mata pisaunya dengan racun ular tersebut.


"Hah.... akhirnya selesai juga, selanjutnya tinggal menyimpan pisau-pisau beracun ini di dalam cincin nat, dan saat nanti aku ingin menggunakannya, aku tinggal mengeluarkannya saja." Ucap Ling Yan sebelum memasukkan ke seratus pisau yang sudah di lumuri racun tersebut kedalam cincin natnya lagi.


"Huh... ternyata cukup melelahkan juga, padahal tadi aku hanya melumuri semua pisauku dengan racun, tak kusangka akan memakan waktu yang cukup lama." Ling Yan nampak menghembuskan nafas lelahnya dan berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Namun belum sempat Ling Yan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Ling Yan tiba-tiba teringat sesuatu yang baru saja ia alami saat berada di pelelangan hari ini.


"Aku sudah tau kalau kau yang akan mendapatkan peta itu, setelah ini aku harap kau bisa menemui ku di tempat dimana terakhir kali kita bertemu."


Ling Yan kembali teringat dengan suara si pendekar bertopi jerami yang tadi tiba-tiba terdengar di telinganya.


"Sepertinya aku harus menemuinya sekarang." Ling Yan membatin dan kembali memakai jubah hitam dan topengnya.


"Xiao Hu, ayo kita pergi." Ling Yan mencoba untuk membangunkan Xiao Hu yang masih tertidur lelap, akan tetapi terlihat Xiao Hu yang masih tidak ingin beranjak dari tempat tertidur.


"Hah.... dasar kucing pemalas." Ling Yan bergumam sambil mengeluarkan sebuah inti kekuatan siluman tingkat 1 dari dalam cincin natnya.


"Ayo kucing kecil, bangunlah." Ucap Ling Yan sambil memancing Xiao Hu dengan sebuah inti kekuatan di dekat hidungnya.


Dan sontak saja dengan cara itu kedua mata Xiao Hu langsung terbuka bersamaan dengan mulut kecilnya yang langsung melahap inti kekuatan siluman yang ada di tangan Ling Yan dalam sekejap.


"Miao...."


Ling Yan lalu memasukkan Xiao Hu kedalam jubahnya dan berjalan keluar dari dalam penginapan menuju tempat dimana Ling Yan terakhir kali bertemu dengan pendekar bertopi jerami itu.


Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, Ling Yan kini melesat cepat ke arah pinggiran hutan kegelapan tempat dimana ia bertemu dengan pendekar tersebut sekaligus tempat dimana ia membantai 30 lebih pendekar berlian yang berniat merebut Xiao Hu darinya.


Dalam perjalanannya menuju tempat yang ia tuju, perjalanan Ling Yan masih terlihat biasa-biasa saja, akan tetapi baru setengah perjalanan menuju tempat tersebut, tiba-tiba saja Ling Yan merasakan hawa pembunuh yang begitu pekat seakan-akan hawa pembunuh itu memang sengaja di arahkan padanya.


"Ugh hawa pembunuh." Ling Yan sontak saja mengarahkan pandangan ke arah hawa pembunuh tersebut berasal, dan benar saja saat pandangan Ling Yan mengarah ke tempat itu, terdengar suara teriakan sebuah jurus bersamaan dengan selulet aura pedang elemen petir yang langsung mengarah padanya.


"Teknik pedang petir menyambar bumi!!!!" Suara teriakan tersebut sontak saja dikenali oleh Ling Yan yang tidak lain adalah Feng Yuan yakni pendekar raja yang mengejarnya kemarin.


"Sial!!" Ling Yan yang melihat sebuah selulet pedang yang kini mengarah padanya sontak berdecak keras dan sebisa mungkin bergerak dengan cepat untuk menghindari serangan tersebut.


Beruntung dengan kualitas tulang raja naga yang ia miliki, Ling Yan kini memiliki kekuatan serta kecepatan pergerakan yang meningkat begitu drastis.


Namun karena Ling Yan masih sedikit terlambat bergerak dan menyadari serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh Feng Yuan, serangan Feng Yuan tersebut masih sempat mengenai sedikit bagian lengan kiri Ling Yan meskipun tidak parah.


Tak lama kemudian, Ling Yan akhirnya mendarat di dekat sebuah pohon sambil memegangi lengan kirinya yang sedikit terluka disusul oleh Feng Yuan yang juga ikut mendarat tidak jauh dari posisi Ling Yan berdiri.


"Hahaha!!! kita bertemu lagi anak muda, sekarang serahkan binatang peliharaanmu itu dan semua benda yang kau dapatkan dari acara lelang tadi." Ucap Feng Yuan setelah tertawa keras.


Ling Yan yang mendengar perkataan Feng Yuan hanya diam saat menanggapinya sambil mengalirkan tenaga dalamnya untuk menghentikan darah yang mengalir dari luka yang ia terima.


Dan setelah beberapa saat.


"Kau jangan bermimpi untuk mendapatkan Xiao Hu, apalagi kerangka binatang gaib milikku." Ling Yan kini bergerak menarik pedang darah api dari sarungnya.


"Oh, ternyata pedang milikmu itu lumayan bagus, aku tidak memperhatikannya sebelumnya." Ucap Feng Yuan yang kini juga bersiap untuk bertarung.


Terlihat keduanya secara bersamaan mengalir tenaga dalam pada masing-masing pedang yang ada ditangan mereka sambil mencoba mencari kelemahan satu sama lain.


"Hmm tingkat kekuatan anak ini masih sama, tapi... mengapa aku merasa kekuatannya meningkat lumayan besar." Batin Feng Yuan.


"Aku harus mencari celah agar bisa melukainya dengan pisauku, karena jika aku bertarung 1 lawan satu secara langsung akan sangat sulit bagiku untuk mengalahkannya." Batin Ling Yan.


Berselang beberapa menit kemudian saat sebuah daun kering jatuh ketanah, sontak saja keduanya langsung bergerak dan saling menyerang satu sama lain dengan pedangnya.