
"Hahaha, kau yang hanya memiliki kekuatan seorang pendekar berlian bintang 1 ternyata lumayan hebat juga bisa membuat patuh 10 orang pendekar emas bodoh ini." Pria yang berdiri paling depan tersebut tertawa sambil bertepuk tangan atas keberhasilan rekannya.
"Dan bukan hanya itu, hari ini kau bahkan membuat kita mendapatkan barang jarahan yang cukup banyak serta beberapa gadis cantik, pasti ketua sakte akan sangat senang jika mengetahui hal ini." Pria sepuh itu terlihat sedikit menjilati bibirnya sambil tersenyum genit kearah gadis yang menjadi sandra serta beberapa gadis lain yang sepertinya adalah pelayan dari gadis tersebut.
"Malam ini pasti akan menjadi malam yang begitu menyenangkan, Hahahaha." Tawa pria sepuh tersebut pecah di ikuti tawa dari para anggota saktenya dan berhasil membuat raut wajah dari semua wanita tersebut menjadi begitu buruk.
Ling Yan yang berada di balik semak-semak hanya menggelengkan kepalanya pelan karena tidak habis pikir dengan semua pendekar aliran hitam ini, ia lalu menarik pedangnya perlahan sambil bersiap untuk menyerang pendekar berlian yang menodongkan pedangnya pada gadis tersebut.
"Ling Yan, kau harus berhasil dalam satu serangan yang kau lakukan, karena jika tidak, itu akan membuat situasinya menjadi lebih buruk lagi." Api abadi mengingatkan.
"Aku tahu itu." Ling Yan berusaha keras bergerak secara perlahan tanpa menimbulkan suara sedikitpun, dan saat Ling Yan sudah siap dengan serangan kejutannya.
Syut.... syut.... syut..... syut.....
Dengan gerakan yang begitu cepat dan bertenaga, Ling Yan melemparkan 4 pisau terbang yang sudah ia lumuri racun menuju ke arah sasarannya.
Pendekar berlian yang menjadikan seorang gadis cantik sebagai sandranya pun menjadi sasaran utama bagi pisau yang dilemparkan oleh Ling Yan.
"Ugh....."
Dan dengan begitu mudahnya salah satu dari pisau milik Ling Yan tersebut menembus leher pendekar itu dan tewas di tempat. Bersamaan dengan itu pula, kalajengking hitam yang berada di leher masing-masing prajurit serta pelayanan rombongan kereta kuda juga ikut menghilang karena kalajengking tersebut bukanlah kalajengking asli, melainkan bentuk tenaga dalam dari pendekar yang baru saja kehilangan nyawanya itu.
"Berhasil, dari awal aku sudah menduga kalau kalajengking hitam itu adalah bentuk tenaga dalam dari pendekar ini, walaupun ia hanya seorang pendekar berlian, tapi kemampuan pengendalian tenaga dalam yang ia miliki malah lebih baik dariku."
Ling Yan sedikit berdecak kagum pada kemampuan pengendalian tenaga dalam yang dimiliki oleh anggota sakte kelabang hitam yang baru saja ia ambil nyawanya itu, namun dibalik kekagumannya itu juga tersimpan rasa kecewa yang lumayan besar.
"Sayangnya seorang pendekar yang berbakat ini harus lahir di dalam sakte aliran hitam yang keji." Batin Ling Yan.
Sedangkan ketiga pisau lainnya dilemparkan ke arah pimpinan kelompok sakte kalajengking hitam, namun karena pendekar tersebut sempat mendeteksi adanya bahaya yang mendekat ke arahnya, ia sempat bergerak reflek menghindari serangan tersebut dengan melompat ke sisi kiri walaupun sedikit terlambat.
Al hasil serangan yang dilakukan oleh Ling Yan padanya hanya bisa mengenai lengannya dan membuat pakaiannya sobek. Terlihat ada sedikit goresan luka yang sangat kecil di lengan kanannya walaupun tidak parah, tetapi itu sudah cukup untuk membuat Ling Yan tersenyum penuh makna.
Sementara itu ketiga pisau yang tadinya berhasil di hindari oleh pemimpin kelompok sakte aliran hitam itu kini mengarah pada ketiga pendekar berlian di belakangnya.
"Sial, dari mana datangnya pisau-pisau itu." Salah satu dari pendekar berlian tersebut mengumpat keras sambil susah payah menghindari pisau terbang yang mengarah padanya.
Karena lesatan pisau yang begitu cepat serta terlambat bereaksi, ketiganya kini hanya bisa menerima kenyataan dan tewas karena pisau terbang yang menancap di kepala dan menembus otak ketiganya.
"Ugh...Ugh...Ugh..." Ketiga anggota sakte kelabang hitam itu tidak sempat berteriak karena rasa sakit sebelum ketiganya tumbang ketanah dan mayatnya mulai berubah menjadi dingin.
"Sialan, apa yang sebenarnya terjadi." Beberapa anggota sakte kelabang hitam terlihat berdecak keras dan masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
Semua orang yang melihat kejadian yang begitu cepat tersebut sontak saja melebarkan matanya karena terkejut. Dan orang yang paling terlihat terkejut adalah gadis cantik yang tadinya menjadi sandra dari pendekar yang baru saja tewas di tangan Ling Yan.
"Hehehe sepertinya ini adalah kali pertama gadis itu melihat mayat di hadapannya secara langsung." Ling Yan terkekeh sambil bergerak melompat ke arah gadis tersebut yang terlihat memucat dan sepertinya sebentar lagi akan jatuh pingsan.
Dengan sigap Ling Yan langsung menangkap tubuh gadis tersebut dan tanpa sengaja tatapan mata keduanya bertemu selama beberapa saat, namun gadis itu tidak dapat melihat wajah Ling Yan karena tertutup oleh topeng besi yang ia kenakan sampai akhirnya ia menutup matanya tak sadarkan diri.
Pemimpin kelompok kalajengking hitam sontak saja memusatkan perhatiannya pada pendekar bertopeng yang baru saja keluar dari balik semak belukar tidak jauh dari lokasinya.
"Siapa dia? Aku bahkan tidak dapat menyadari kehadirannya sedikitpun." Batinnya.
"Siapa kau? beraninya kau menyerang kelompok sakte kalajengking hitam." Tanya pemimpin kelompok kalajengking hitam tersebut sambil menelisik serta mengukur kekuatan yang dimiliki oleh Ling Yan.
Pemimpin kelompok itu menatap Ling Yan dari atas sampai bawah dan menemukan kalau Ling Yan juga memiliki kekuatan seorang pendekar jiwa namun 2 tingkat lebih rendah dari kekuatan yang ia miliki.
"Dia juga seorang pendekar jiwa sepertiku, tapi sepertinya ia baru saja naik ke tingkat ini dan memurnikan kekuatan jiwanya." Ia tersenyum sinis sambil mengeluarkan aura pembunuhnya ke arah Ling Yan.
Namun tanpa ia sadari, luka goresan pisau belati yang tadinya hanyalah sebuah luka kecil kini terlihat sedikit membiru dan melebar sedikit demi sedikit.
Terlihat Ling Yan yang tidak bergeming sedikitpun dan terus bersikap tenang sampai akhirnya ia menyerahkan gadis cantik dalam pelukannya itu pada pelayannya.
Tiga orang pelayan itu segera memapah tubuh gadis tersebut dan membawanya ke tempat yang aman, sedangkan para prajurit yang menyadari sudah tidak ada lagi bahaya yang dapat membunuh mereka dalam sekejap kini bersiap dan menarik pedangnya masing-masing.
Ling Yan yang melihat itu sontak ikut menarik pedang darah api dan bersiap untuk menyerang.
"Aku tidak yakin kalian bisa mengatasi ketiga pendekar berlian itu, lebih baik kalian melawan mereka yang tingkatannya berada di bawah ketiganya, biar ke empat orang itu aku yang mengurusnya."
Walaupun terdengar seperti seorang yang menyombongkan diri, namun semua keyakinan yang dikatakan oleh Ling Yan bukan tanpa alasan, karena ia bisa saja membunuh keempat orang itu dengan mudah hanya dengan menggunakan pisau belati yang sudah ia lumuri racun itu.