LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 72. Bau Amis


Malam hari di kediaman tetua pertama Klan Ling, terlihat Ling Yan yang masih terjaga di dalam kamarnya. Keadaan kediaman Ling Yan kini terlihat sepi karena semua orang saat ini memang sudah tertidur.


Dengan lilin yang ia gunakan sebagai pencahayaan, nampak Ling Yan sedang menulis sesuatu pada selembar kertas di hadapannya.


Dan setelah beberapa saat, akhirnya Ling Yan telah selesai menulis di atas selembar kertas tersebut. Ling Yan lalu menyimpan selembar kertas itu di atas tempat tidurnya lalu meraih Pedang darah api dan mengikatnya di punggungnya.


"Ok, saatnya kita berangkat." Gumam Ling Yan pelan sambil melangkahkan kakinya mengendap-endap keluar dari dalam kamarnya dan menuju pintu luar.


Malam ini sebenarnya Ling Yan berencana pergi menuju desa rumput giok untuk bertemu dengan tabib yang ia temui 2 tahun yang lalu.


Walaupun sebenarnya Ling Yan sangat tertarik untuk masuk dan bergabung dengan sakte seribu pedang, akan tetapi ia merasa bahwa tabib yang ia temui 2 tahun yang lalu bukanlah orang sembarangan, jadi ia memutuskan untuk pergi menemui tabib itu.


Berselang beberapa lama, akhirnya Ling Yan kini berhasil keluar dari dalam rumah, ia menatap kediamannya sejenak sambil bergumam "Huhh aku sudah seperti seorang pencuri saja tadi." Gumamnya.


Ling Yan lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum tipis. "Ayah, ibu, maafkan aku jika apa yang aku lakukan sangat keterlaluan." Ucap Ling Yan yang mulai melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang kediaman Klan Ling.


Ling Yan terus melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang kediaman Klan Ling, dan sesampainya di sana, Ling Yan berhenti sejenak dan menatap pintu gerbang itu yang saat ini dijaga oleh dua orang pendekar emas yang sedang tertidur pulas.


"Hmm jika di ingat-ingat lagi, kejadian ini seperti saat aku pertama kali meninggalkan kediaman Klan Ling waktu itu." Ling Yan membatin sambil menatap lekat gerbang kediaman Klan Ling.


"Ah sudahlah, bukan saatnya untuk memikirkan masa lalu." Ling Yan kini menyadarkan dirinya dari lamunannya dan berbalik melesat menjauh menggunakan ilmu meringankan tubuh bernama teknik langkah awan yang ia dapatkan di perpustakaan Klan Ling beberapa hari yang lalu.


Ling Yan terus melesat dengan kecepatan tinggi yang ia miliki dan terus melangkahkan kakinya menuju tempat yang ia tuju, yaitu desa rumput giok.


Tak perlu waktu yang cukup lama bagi Ling Yan untuk sampai di desa Huazi yang masih merupakan bagian dari wilayah Klan Ling.


Sesampainya di sana, Ling Yan melihat desa Huazi masih ramai oleh orang yang berlalu lalang atau pun sedang berdagang. Ling Yan lalu melangkah kakinya salah satu rumah makan disana untuk membeli beberapa makanan sebagai bekal perjalanannya.


Sesampainya di rumah makan itu, seorang pelayan wanita kini datang dan menghampiri Ling Yan. "Permisi tuan muda, apakah ada yang bisa saya bantu." Tanya pelayan wanita itu.


"Berikan aku 20 buah roti kering." Jawab Ling Yan pada pelayan wanita di rumah makan itu.


"Baik tuan muda, mohon tunggu sebentar." Sambut pelayan itu sebelum berbalik badan dan masuk mengambil roti kering pesanan Ling Yan.


Tak perlu waktu lama bagi pelayan itu untuk kembali kepada Ling Yan dengan membawa 20 buah roti kering di tangannya.


"Ini dia roti kering yang anda pesan tuan muda, semuanya berjumlah 20 koin perunggu." Ucap pelayan wanita itu sambil memberikan roti kering pesanan Ling Yan.


Mendengar itu, Ling Yan lalu mengeluarkan 5 buah koin perak dari dalam cincin natnya dan memberikannya kepada pelayan wanita itu.


"Ini, simpan saja sisanya untukmu." Ucap Ling Yan sambil memberikan 5 koin perak itu lalu menyimpan roti keringnya di dalam cincin natnya.


"Terimakasih atas kemurahan hatimu tuan muda." Ucap pelayan itu sambil menunduk.


Melihat itu, Ling Yan lalu menganggukkan kepalanya pelan sebelum kembali melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah makan itu.


Setelah itu Ling Yan kembali melesat dengan ilmu meringankan tubuhnya dan melanjutkan perjalanannya menuju desa rumput giok.


Setelah 1 jam perjalanan, Ling Yan yang merasa kelelahan kini memutuskan untuk berhenti dan melanjutkan perjalanannya besok pagi.


*****


Pagi hari di kediaman klan Ling, Ling Yue yang saat ini baru selesai menyiapkan menu sarapan


nampak tengah berjalan ke arah kamar Ling Yan yang masih tertutup.


"Hahh anak ini masih saja belum keluar dari dalam kamarnya, pasti dia masih sibuk berlatih di dalam." Ling Yue menghela nafas pelan sebelum kembali menjauh dari depan kamar Ling Yan.


Sementara itu, Ling Yan yang saat ini sedang duduk di bawah pohon rindang, nampak sedang memakan roti kering yang ia beli semalam.


"Hmm rasa dari roti kering memang sangat berbeda jauh dari masakan ibu." Gumam Ling Yan sambil terus mengunyah roti keringnya.


Tak berselang beberapa lama setelah mengisi perutnya, Ling Yan lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju desa rumput giok dengan berjalan kaki.


Ling Yan terus melangkahkan kakinya tanpa berbalik sedikitpun ke belakang, namun setelah beberapa lama ia berjalan, tiba-tiba indra penciuman Ling Yan mencium sebuah bau amis di udara.


"Ini bau darah, walaupun bau ini terkesan disembunyikan, tapi aku dapat dengan mudah merasakannya." Batin Ling Yan yang kini merubah wajahnya menjadi serius.


Ling Yan lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan merasakan ada orang lain yang sedang bersembunyi tidak jauh dari tempatnya.


"Aura pembunuh ini begitu pekat, tapi orang-orang ini berusaha menyembunyikan nya." Batin Ling Yan.


"Hmp." Ling Yan yang menyadari ada dua orang pendekar yang sedang bersembunyi di balik semak-semak sontak menarik salah satu pisau yang ada di pinggangnya lalu melemparkannya ke arah semak-semak itu.


"Keluar kalian, aku tau bau amis ini karena perbuatan yang kalian lakukan." Teriak Ling Yan.


Setelah teriakan Ling Yan itu, tak lama kemudian 2 orang pendekar dengan senjata di tangannya yang berlumuran darah keluar dari dalam semak-semak.


Terlihat salah satu dari mereka menggenggam sebuah kapak dan satunya lagi memegang arit yang di kedua senjata itu tertempel noda darah yang masih segar.


"Hehehe seharusnya kau berpura-pura tidak menyadari kehadiran kami tadi." Ucap salah satu dari kedua pendekar itu sambil tertawa terkikik.


"Itu benar, seandainya saja kau tidak menyuruh kami keluar, maka mungkin kami akan membiarkanmu lewat tanpa membunuhmu." Sambung salah satu dari mereka lagi.


Ling Yan yang melihat keduanya keluar dari dalam semak-semak kini menatap lekat kedua Pendekar di hadapannya dan menemukan keduanya memiliki kekuatan pendekar berlian bintang 2.


"Siapa kalian?" Tanya Ling Yan yang kini menarik pedang darah api dari sarungnya dan bersiap untuk menyerang.


"Hahaha! siapa kami?, kau tentu mengetahui tentang 2 perampok bengis di desa rumput giok." Jawab salah satu pendekar itu dengan tawa menggelegarnya.


Mendengar jawaban pendekar itu, Ling Yan sontak terkejut dan teringat tentang 2 perampok yang selalu membuat kekacauan dan menghadang para pedagang yang biasanya lewat di sekitar desa rumput giok.


"Hehehe ada apa anak muda, apakah kau takut dengan kami? apakah kau menyesal sekarang?" Ucap salah satu dari keduanya sambil mengulas senyum liciknya.


"Tapi tak ada gunanya kau menyesal sekarang, karena malaikat mautmu akan segera datang sebentar lagi." Teriak salah satu pendekar itu sambil melesat maju menyerang Ling Yan dengan senjata aritnya.