
"Senior, jika memang dimasa yang akan datang akan terjadi sesuatu yang membuat dunia menjadi kacau, maka aku akan berusaha untuk menghentikan hal tersebut, tapi.... aku tidak bisa sepenuhnya berjanji." Jawab Ling Yan yang sepertinya membuat Wei Tian Long puas dengan jawabannya tersebut.
"Kalau begitu aku harap usahamu itu tidak akan sia-sia." Wei Tian Long berkata sambil mengambil sebuah potongan kayu yang sudah keduanya siapkan dan melemparkannya kedalam api unggun di depannya.
"Hmm sebaiknya dari mana aku memulai cerita ku, baiklah sepertinya aku akan memulainya dari awal pertemuanku dengan guru Shen terlebih dahulu." Kata Wei Tian Long sambil mengelus-elus dagunya.
"Sebelum aku bertemu dengan guru Shen Long, saat itu aku adalah seorang anak laki-laki yatim piatu berusia 7 tahun yang hidup di sebuah desa kecil di kekaisaran Tang, tapi walaupun aku adalah seorang anak yatim, semua warga di desa itu selalu memperhatikanku dan kami semua hidup dengan aman." Kata Wei Tian Long yang memulai ceritanya yang kini membuat Ling Yan yang terlihat begitu serius mendengarkan cerita itu.
"Tapi semua kehidupan damai desaku itu kian berubah saat para bandit mulai datang dan merampok desa kami, bahkan semua rumah dan orang-orang desa dibakar hingga habis tak bersisa, hanya para gadis cantik serta anak-anak seperti ku saja yang ditangkap dan rencananya akan dijual dan dijadikan sebagai budak."
"Dengan sedikit keberuntungan yang aku miliki, aku malah berhasil lolos dari para bandit tersebut dan berlari sejauh yang aku bisa hingga aku berakhir tak sadarkan diri di suatu tempat karena kelelahan."
"Tepat saat aku terbangun saat itu, hal pertama yang aku lihat adalah wajah guru Shen Long dan juga seorang anak bernama Shen Yu yang usianya hampir sama denganku, dan dari pertemuan itulah guru Shen mengajakku mengikutinya dan menjadikanku sebagai muridnya."
"Guru Shen Long sendiri adalah seorang pendekar yang sangat hebat pada masanya dan dijuluki sebagai si pendekar pedang api karena teknik serta pedang darah api yang kau miliki itu." Ucap Wei Tian Long sambil menunjuk pedang milik Ling Yan.
"Bahkan saat ia menjadikan Shen Yu dan aku sebagai muridnya saat itu, guru Shen sudah memiliki kekuatan yang melampaui seorang pendekar suci dengan 5 api spiritual yang ia miliki, dan kelima api spiritual itu adalah api semesta (11), api langit (20), api kehidupan (26) api samudera (28), dan yang terakhir api sakral surgawi (32)." Lanjutnya.
"Namun meskipun guru Shen adalah seorang yang hebat pada waktu itu, tapi tetap saja itu tidak menjamin bahwa guru Shen tidak pernah dikalahkan karena di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi. Aku bahkan masih ingat saat orang itu mengalahkan guru Shen dengan telak hanya dengan menggunakan satu buah kobaran api dengan 7 warna yang berbeda-beda."
Ling Yan yang mendengar cerita Wei Tian Long sontak saja membelalakkan matanya dan menyimpulkan bahwa kobaran api dengan 7 warna yang berbeda-beda itu sebagai api ilahi (1), karena semua cerita itu memang sama seperti apa yang diceritakan oleh api kehidupan padanya.
"Dan setelah kekalahannya waktu itu, berselang 20 tahun menjadi muridnya, guru Shen kemudian mewariskan kami berdua kobaran api spiritual yang ia miliki, yaitu kobaran api semesta kepada Shen Yu dan kobaran api samudera untukku."
"Lalu di dalam takdir yang aku miliki itu, guru Shen mengatakan bahwa aku akan menjadi seorang pendekar pengembara dan melampaui batas kekuatan pendekar suci sama sepertinya, dan dalam pengembaraan ku itu aku akan mendapatkan 5 inti kekuatan api spiritual yang lain bahkan kelima inti kekuatan api spiritual itu tingkatannya lebih tinggi dari yang guru Shen miliki."
"Selain itu ia juga mengatakan bahwa setelah aku mendapatkan kelimanya, tak lama setelah itu aku akan terus mengembara dan mengangkat 6 orang murid berbakat serta mewariskan ke enam inti kekuatan api itu kepada masing-masing murid yang aku miliki."
"Akan tetapi karena kekuatan luar biasa yang muridmu miliki itu membuat 5 diantaranya menjadi sombong dan tidak mengenal daratan, bahkan kelimanya akan menjadi penyebab sebuah era dimana sebuah kekacauan akan terjadi pada masa depan dan membuat dunia persilatan bergejolak, tapi dari keenam murid yang kau angkat itu akan ada seorang murid yang akan mengubah kekacauan itu menjadi sebuah kedamaian di masa depan."
"Dalam ceritanya itu aku merasa sedikit tidak percaya dengan semuanya, karena aku berpikir jika memang suatu saat aku memiliki murid yang seperti itu, maka pastinya aku akan dapat mengatasinya dan tidak membiarkan semua kekacauan itu terjadi."
"Tetapi setelah aku mengatakan hal itu, guru Shen hanya tersenyum sebelum berkata kalau di dunia ini ada beberapa hal yang dapat kita ubah namun ada juga beberapa hal yang tidak dapat kita ubah karena hal tersebut tidak sesederhana dengan apa yang kita bayangkan."
"Dan setelah memberikan kedua inti api spiritual itu pada kami berdua, guru Shen lalu menyegel inti kekuatan api kehidupan dan api sakral surgawi serta api langit lalu membawanya ke suatu tempat yang tidak pernah kami ketahui, dan setelah kepergiannya itu, guru Shen Long kini sudah tidak pernah kembali lagi sampai akhirnya aku dan Shen Yu memilih jalan masing-masing."
"Lalu di hari perpisahan antara aku dan Shen Yu waktu itu, entah mengapa yang dikatakan oleh guru Shen mulai menjadi kenyataan, entah mengapa waktu itu aku menjadi sangat ingin menjadi seorang pendekar pengembara, dan saat itulah aku juga mendapatkan 5 inti kekuatan api spiritual yang benar-benar lebih kuat dari yang dimiliki oleh guruku sendiri." Jelas Wei Tian Long.
Ling Yan yang mendengar cerita itu kini pertama kalinya melempar sebuah pertanyaan yang begitu serius.
"Jadi... senior benar-benar mendapatkan kelima api itu, lalu.... apakah senior juga mengangkat 5 orang murid yang dikatakan oleh senior Shen?" Tanya Ling Yan.
"Hahaha kau benar sekali anak muda, tapi sebenarnya sebelum aku mengangkat murid pertamaku, aku tidak mempunyai keinginan tersebut karena takut ramalan yang membuat kekacauan di dunia persilatan akan benar-benar terjadi, tapi setelah aku bertemu dengan anak itu...." Wei Tian Long menggantung kata-katanya dan terlihat buliran air mata yang mulai mengalir di pipinya.
Dia mulai teringat saat ia bertemu dengan seorang anak yang juga sama sepertinya waktu masih kecil dan memiliki keadaan hidup yang bahkan lebih buruk darinya.