LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 170. Ling Mei Yang Tidak Terluka Oleh Xiao Hu


"Aku dengar kak Ling Yan baru saja di angkat menjadi murid dari guru Shen, apakah ini latihan pertama yang diberikan pada kak Ling Yan?" Tanya Ling Mei.


"Iya, ini adalah latihan pertama dalam meracik obat tingkat 1." Jawab Ling Yan.


Sebenarnya Ling Mei sedari tadi memperhatikan Ling Yan dan mencoba mengukur seberapa jauh perkembangan yang dimiliki oleh teman masa kecilnya itu, akan tetapi ia tidak bisa melihat apa-apa dan beranggapan kalau kekuatan Ling Yan saat ini berada di atasnya.


Ling Yan yang kembali memasukkan bahan obat kedalam tungku dan memulai kembali latihannya, kali ini Ling Yan berusaha begitu keras mengontrol tenaga dalam dan api yang ia gunakan.


Pada percobaan kali ini terlihat Ling Yan sudah mulai memahami cara kerja api di dalam tungku dan terus mempertahankan kekuatan api yang ia gunakan.


Dan setelah beberapa saat kemudian, Ling Yan lalu menambah kekuatan tenaga dalamnya dan berteriak seperti yang dilakukan oleh Shen Yu.


"Pil terbentuk!!!"


"Blup..." Sebuah ledakan kecil terdengar membuat Ling Yan mengerutkan dahinya.


"Apakah aku berhasil?" Gumam Ling Yan yang melihat kedalam tungku obatnya.


Ia bisa melihat sebuah pil berwarna merah di dalam tungku tersebut dan membuatnya tersenyum sumringah


"Wah aku berhasil!!! Hahaha pil pengumpul energi siap di gunakan." Ling Yan begitu senang sampai mengangkat tinggi-tinggi pil tersebut.


Namun setelah beberapa saat, pil yang ada di tangan Ling Yan tiba-tiba melebur menjadi abu hingga membuat ekspresi senang Ling Yan kembali menjadi suram.


"Ternyata gagal." Ucapnya sambil menunduk lesu.


Ling Mei yang melihat itu kini tidak bisa menahan tawanya lagi.


"Hahahaha."


"Hah.... kau ini aku sedang dalam kesulitan tapi kau malah menertawakan ku." Ling Yan lalu menghentikan latihannya sejenak dan membaringkan tubuhnya di atas rumput sambil menatap langit biru yang dihiasi oleh awan.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan disini." Tanya Ling Yan pada Ling Mei yang juga ikut membaringkan tubuhnya.


"Hah... tidak ada, aku hanya sedang berlatih di dekat sini, tapi karena mendengar sebuah ledakan, jadi aku kesini untuk memeriksanya." Jawab Ling Mei jujur.


Ling Yan lalu menutup matanya sejenak sambil memikirkan solusi yang tepat untuk latihannya, sementara Ling Mei, ia terlihat menatap wajah Ling Yan yang tenang sebelum kembali berkata.


"Ngomong-ngomong kak Ling Yan." Ucap Ling Mei.


"Hmm." Ling Yan berdehem sambil memalingkan pandangannya.


"Aku ingin berterimakasih padamu karena sudah menyelamatkan ku pada kejadian 2 tahun lalu." Kata Ling Mei yang masih memandang ke langit.


"Walaupun aku tidak tau pasti kejadiannya, tapi kata ayahku, jika bukan karena kau, mungkin nasib klan kita sudah berakhir waktu itu." Sambung Ling Mei.


Ling Yan menatap Ling Mei yang perlahan mengeluarkan air matanya.


"Aku juga ingin meminta maaf karena sudah memperlakukanmu sangat buruk, aku menyesal sudah melakukan semua itu dan juga...." Belum sempat Ling Mei menyelesaikan perkataannya, Ling Yan langsung memotong pembicaraan.


"Hehehe tidak perlu seperti itu, bukankah waktu itu aku sudah memaafkanmu, sudahlah, yang lalu biarlah berlalu." Potong Ling Yan.


"Oh iya, aku ada sesuatu untukmu." Ling Yan lalu mengeluarkan sebuah pedang dari dalam cincin natnya.


Sebenarnya Ling Yan berniat untuk memberikan sebuah teknik bertarung pada Ling Mei agar teknik bertarungnya meningkat, namun karena tidak memiliki satupun teknik bertarung tipe angin, ia akhirnya memberikan sebuah pedang yang ia dapatkan dari cincin nat salah satu lawannya.


Ling Yan tersenyum sejenak sebelum berkata.


"Pedang ini kualitasnya mungkin berada di atas pedangmu, aku tidak tau nama pedang ini karena aku mendapatkannya saat melakukan perjalanan kemari." Jawab Ling Yan.


Ling Mei yang mendengar itu lalu meraih pedang tersebut serta memeriksanya, dan benar saja pedang tersebut memang memiliki kualitas yang lebih baik dari pedang miliknya.


"Baiklah, aku menerimanya sebagai hadiah dari sahabat masa kecilku." Ling Mei tersenyum manis sebelum menyimpan pedang tersebut di pinggangnya.


Ling Yan lalu kembali membaringkan tubuhnya lalu berpikir keras dan mengingat kembali pada saat gurunya Shen Yu meracik obat di hadapannya tadi.


Sementara Ling Mei yang sudah selesai merapikan pedangnya kini mengalihkan pandangan ke arah Xiao Hu yang sedang tertidur tidak jauh dari tungku obat milik Ling Yan..


"Hmm kak Ling Yan, apakah kucing kecil ini milikmu?" Tanya Ling Mei yang mencoba mengelus tubuh Xiao Hu.


Ling Yan yang mendengar itu langsung bangun dari tempatnya dan berniat menghentikan Ling Mei, namun apalah daya, Ling Mei kini sudah mengelus punggung Xiao Hu yang sedang tertidur dan tak lama kemudian kucing kecil itu terbangun.


"Eh....." Ling Yan terlihat mengerutkan keningnya saat melihat tangan Ling Mei yang tidak terluka sama sekali seperti Xui sebelumnya, bahkan Xiao Hu yang kini terbangun langsung melompat ke pangkuan Ling Mei dan kembali tertidur di sana.


"Wah.... dia lucu sekali!" Ling Mei menatap suka ke arah Xiao Hu yang begitu lucu di matanya sebelum pandangannya teralihkan pada Ling Yan yang tiba-tiba bangun dari tempatnya berbaring.


"Ada apa kak Ling Yan, apakah ada sesuatu yang salah." Ling Mei menatap Ling Yan yang menatap bingung ke arahnya.


"Ah tidak, tidak ada apa-apa." Ling Yan kembali ke membaringkan tubuhnya sambil bergumam.


"Aneh, mengapa Xiao Hu terlihat biasa saja pada Ling Mei." Batin Ling Yan kebingungan.


Terlihat Ling Mei sangat menyukai Xiao Hu dan terus mengelus elus punggung dan surai api yang ia miliki.


"Hmm dia ini adalah siluman kucing api ya?" Tanya Ling Mei.


Ling Yan yang mendengar itu langsung saja menjawab. " Ya itu benar, walaupun ia siluman, tapi iabadalah temanku." Jawab Ling Yan.


"Hehehe sebenarnya dia itu adalah binatang gaib harimau putih ekor api, tapi yaudahlah, tidak baik jika terlalu banyak orang yang mengetahui identitas Xiao Hu." Batin Ling Yan yang kini sudah kembali memikirkan solusi latihannya.


"Hmm pengendalian api pembakar yang aku miliki sepertinya sudah benar, karena aku sudah berhasil membentuk sebuah pil dan membuat tungkunya tidak meledak, tapi... kenapa pilnya malah hancur, apakah penggunaan apiku terlalu besar hingga membuat khasiat bahan-bahan yang aku gunakan menjadi hilang." Batin Ling Yan.


"Sebenarnya penggunaan api dan tenaga dalammu sudah benar, tapi perputaran api didalam tungku obat terlalu tidak stabil hingga membuat pilnya menjadi tidak bermutu hingga hancur." Ujar api abadi.


"Sebaiknya pada saat meracik obat, cobalah untuk menstabilkan perputaran api di dalam tungku agar tidak membakar esensi dari bahan obat yang kau gunakan." Api abadi memberikan saran.


"Hmm baiklah, aku akan mencobanya." Ling Yan lalu Bagun dari tempatnya dan kembali memasukkan bahan obat kedalam tungku.


"Kak Ling Yan." Panggil Ling Mei yang membuat Ling Yan membalikkan pandangannya.


"Hmm maaf, sepertinya aku harus pergi, aku harus menemui guru sekarang." Ucap Ling Mei.


"Hmm baiklah, letakkan saja Xiao Hu disitu."Jawab Ling Yan yang lalu meleburkan inti kekuatan api tingkat 1.


Ling Mei lalu meletakkan Xiao Hu sebelum pamit dan berlalu dari tempat tersebut, sementara Ling Yan, ia kembali melanjutkan latihannya dalam meracik obat.


"Berjuanglah kak Ling Yan, kau pasti bisa." Batin Ling Mei.