
Setelah 3 hari melakukan perjalanan menuju kota teratai dengan berjalan kaki, Ling Yan dan 2 bersaudara akhirnya sampai di desa Huazi tempat dimana sebelumnya Ling Yan memulai petualangannya untuk memasuki hutan kegelapan.
"Kak Ling Yan, ini di mana, apakah kita sudah sampai." Ucap Yu Fei bertanya.
Ling Yan menatap sejenak Yu Fei sebelum menjawab pertanyaannya, "Ini adalah desa Huazi, kita belum sampai tapi kita sudah dekat." Ucap Ling Yan.
"Ughh sepertinya kakak sedikit lapar, bagaimana kalau kita mampir ke rumah makan itu sebentar." Ucap Ling Yan lagi.
Kedua bocah bersaudara hanya mengangguk menanggapi perkataan Ling Yan, tetapi sebelum memasuki rumah makan itu, perhatian Ling Yan teralihkan oleh seseorang yang ia kenali.
"Bukankah itu Ling Mei, apa yang sedang ia lakukan disini." Ucap Ling Yan sambil memandang ke arah dimana Ling Mei berada.
Namun setelah beberapa saat memandang ke arah Ling Mei, perkataan Yu Fei menyadarkan Ling Yan dari lamunannya. "Kakak, ada apa, mengapa kakak berhenti." Ucap Yu Fei.
"Eh tidak ada apa-apa Fei'er, ayo kita masuk." Ucap Ling Yan.
"Ah sudahlah, untuk apa aku mengurusi urusan orang lain." Ling Yan membatin sambil mengangkat bahunya pelan.
Ling Yan lalu kembali berjalan masuk kedalam rumah makan itu bersama kedua adik angkatnya dan mendapati rumah makan itu cukup ramai oleh pengunjung.
Ling Yan dan kedua adik angkatnya lalu berjalan menuju salah satu meja yang kosong yang terletak tidak jauh dari jendela, dan tak lama kemudian seorang pelayan wanita datang menghampiri ketiganya.
"Mohon pesanannya tuan pendekar muda." Ucap pelayan itu ramah.
"Kalian berdua ingin makan apa." Ucap Ling Yan.
"Kakak aku tidak terlalu lapar, aku cuma ingin buah saja." Ucap Yu Fei.
"Hmm Yu Qian juga mau buah." Sambung Yu Qian.
"Hmm baiklah, tolong berikan kedua adikku buah-buahan segar, dan juga berikan makanan kalian yang paling enak disini." Ucap Ling Yan.
"Baik tuan pendekar muda, mohon tunggu sebentar, pesanan tuan pendekar akan kami antar sebentar lagi." Ucapnya.
Pelayan itu lalu berjalan masuk kedalam untuk menyiapkan pesanan Ling Yan, dan tanpa menunggu waktu lama pesanan Ling Yan beserta buah-buahan segar yang kedua adik angkatnya inginkan sudah datang.
Ling Yan lalu mengeluarkan 3 koin emas kepada pelayan itu yang berhasil membuat pelayan itu membulatkan matanya.
"Tuan ini, ini terlalu..." Belum sempat pelayan itu menyelesaikan kalimatnya, Ling Yan mengangkat tangannya menyuruh pelayan itu untuk diam.
"Ah terimakasih tuan." Ucap pelayan itu dengan wajah yang berseri lalu kembali ke tempatnya.
Ling Yan kini menyantap makanan pesanannya dengan lahap karena memang sedikit merasa lapar, sementara itu kedua adik angkatnya juga tengah memakan buah-buahan segar yang mereka inginkan.
Saat ketiganya menikmati makanannya masing-masing, Ling Yan tidak sengaja mendengar percakapan orang-orang di dalam rumah makan itu.
Berkat khasiat dari ginseng darah 500 tahu yang telah ia serap, indra pendengaran Ling Yan juga kini menjadi semakin tajam, walaupun orang-orang berbicara dengan nada yang rendah ia dapat dengan jelas mendengarkan percakapan mereka, apalagi saat ini orang-orang itu sedang tidak berbisik.
"Apakah kalian sudah dengar, ketiga Klan besar di kota teratai memajukan jadwal kompetisi antar Klan dari dua tahun lagi menjadi 1 bulan lagi." Ucap salah satu dari mereka.
Mendengar perkataan dari beberapa orang itu, Ling Yan sedikit tersentak kaget. "Kompetisi antar Klan di majukan, jangan-jangan upacara kedewasaan Klan Ling sudah selesai." Batin Ling Yan.
"Aku dengar-dengar Klan Ling akan menyelenggarakan upacara kedewasaan dalam 3 hari lagi, apakah diantara kalian ada yang tertarik ingin pergi melihatnya." Ucap salah satu dari mereka lagi.
"Tentu saja, aku ingin sekali pergi menonton upacara kedewasaan itu, apalagi aku dengar putri dari ketua Klan Ling sudah menembus tingkatan pendekar perak bintang 3." Ucap orang itu antusias.
"Hahaha kau ini sebenarnya ingin menyaksikan upacara kedewasaan Klan Ling atau hanya ingin melihat paras kecantikan Ling Mei, kau jangan lupa pada anak dari tetua kedua Klan Ling yang saat ini menjadi jenius no 1 di dalam Klan Ling dan sudah berada di tingkat pendekar perak bintang 5." Ucap orang itu.
"Hmm itu benar, selain menjadi jenius no 1 di Klannya, Ling Feng juga adalah anak jenius no 1 di kota Teratai." Ucap orang itu.
"Hmm menarik." Gumam Ling Yan pelan.
"Oh iya lalu bagaimana dengan nasib si sampah Klan Ling anak dari tetua pertama itu, apakah dia sudah di temukan." Ucap salah satu dari mereka lagi.
"Kau ini, apa gunanya membicarakan tentang seorang sampah, paling anak itu sudah mati di makan oleh siluman di dalam hutan kegelapan hahaha." Ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak diikuti tawa lepas dari ketiga rekannya.
Mendengar perkataan keempat orang itu Ling Yan hanya bisa mengumpat keras di dalam hati. "Sialan mereka menyumpahi ku mati dimakan siluman." Batinnya sambil mengumpat.
Dan setelah beberapa saat terdengar suara tertawa roh api kehidupan di dalam fikirannya.
"Hahaha." Tawa roh api kehidupan lepas.
"Jika kau masih tertawa, aku akan menggunakan inti api abadi untuk menelan kekuatanmu." Ucap Ling Yan kesal.
Mendengar itu api kehidupan melirik ke arah api abadi didalam alam bawah sadar Ling Yan dan mendapati tatapan matanya yang tajam.
"Maafkan aku." Ucap api kehidupan sambil bergidik ngeri.
Walaupun merasa sedikit kesal, tetapi Ling Yan berusaha menahan kekesalannya. "Baiklah 3 hari lagi aku akan menunjukkan pada mereka bahwa aku bukanlah sampah Klan Ling." Batin Ling Yan.
Setelah beberapa saat akhirnya Ling Yan sudah selesai dan telah menghabiskan makanannya.
"Fei'er, Qian'er, apakah kalian sudah selesai." Ucap Ling Yan.
"Ya kakak." Ucap keduanya serentak.
"Kalau begitu ayo kita pergi." Ling Yan dan kedua adik angkatnya lalu berjalan keluar dan kembali berjalan menuju kediaman Klan Ling.
Saat ketiganya melewati jalan, tanpa sengaja ketiganya berpapasan dengan Ling Mei beserta kedua temannya, akan tetapi karena Ling Mei tidak terlalu memperhatikan wajah orang yang ada didepannya, ia jadinya tidak dapat mengenali Ling Yan.
"Buk." Tanpa sengaja kedua bahunya bertabrakan.
"Hati-hati dalam berjalan nona." Ucap Ling Yan singkat lalu kembali melangkahkan kakinya ke depan.
Ling Mei sedikit merasa familiar dengan pemuda yang baru saja ia tabrak. "Siapa pemuda itu, sepertinya aku sedikit merasa tidak asing dengannya." Batin Ling Mei yang kini hanya bisa menatap punggung Ling Yan yang semakin menjauh.