LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 124. Akan Ada Rintangan Baru.


Bersamaan dengan itu, para prajurit yang mengawal kereta kuda keluarga Jia juga sudah berhasil memukul mundur lawannya karena unggul dari segi kekuatan serta teknik bertarung.


Tidak ada prajurit yang mati dalam pertempuran singkat yang sebelumnya terjadi, hanya ada 2 prajurit yang terluka sedikit parah dan 5 orang prajurit yang mendapatkan luka kecil.


Ling Yan menatap sejenak beberapa anggota sakte kalajengking hitam yang berhasil selamat dan tengah berlari menjauh dari tempat tersebut sambil tertatih.


"Sepertinya perjalananku kali ini akan ada rintangan yang baru." Ling Yan menggaruk kepalanya pelan.


Sebelum ia membalikkan badannya untuk pergi, Ling Yan terlihat berjalan ke arah 4 orang mayat yang baru saja ia bunuh dan mengambil cincin natnya, dan setelah itu barulah ia melangkahkan kakinya untuk kembali melanjutkan perjalanan.


Namun belum sempat ia melangkah lebih jauh, suara lembut seorang gadis yang memanggilnya kini terdengar di telinga dan sontak membuat ia menghentikan langkahnya.


"Pendekar!!!" Teriak gadis itu.


Ling Yan hanya membalikkan wajahnya dan melihat sosok gadis yang memanggilnya itu, sebenarnya ia sedikit terkejut saat mengetahui kalau gadis yang memanggilnya itu adalah gadis yang baru saja ia selamatkan tadi.


"Aku kira ia akan bangun setelah 3 jam lagi, tapi ternyata dugaanku salah." Ling Yan tersenyum canggung di balik topeng besinya.


"Emm pendekar, aku sangat berterima kasih karena kau telah menyelamatkanku, tapi apakah kau akan pergi begitu saja sebelum kami membalas kebaikanmu." Kata gadis itu.


Ling Yan hanya diam sejenak sebelum menjawab. "Maaf nona, aku tidak bisa berlama-lama karena memiliki urusan yang sangat penting, sampai berjumpa di lain waktu."


Gadis itu nampak sedikit heran setelah mendengar jawaban Ling Yan, pasalnya ia tadinya berpikir bahwa Ling Yan adalah seorang pendekar yang usianya sudah cukup tua, namun setelah mendengar suara yang Ling Yan miliki ia langsung saja berubah pendapat.


"Suara itu... aku pikir dia...." Batin gadis keluarga Jia itu.


Ling Yan kembali melangkahkan kakinya ke depan tapi dalam langkanya itu ia kembali mendengar suara teriakan gadis tersebut.


"Pe.. pendekar!!! Bisakah aku mengetahui namamu?" Gadis itu kembali berteriak.


Ling Yan lalu kembali menjawab tanpa menghentikan langkahnya. "Namaku adalah Ling Yan." Setelah menjawab pertanyaan tersebut Ling Yan terus berjalan hingga punggungnya tidak terlihat lagi oleh gadis tersebut.


"Ling Yan....." Gadis itu hanya menatap kepergian Ling Yan sambil terdiam hingga kini punggungnya sudah mulai tidak terlihat lagi oleh pandangan gadis tersebut.


"Nona Jia Li, mari kembali ke kereta kuda,kita harus bergegas menuju kota Bufeng sebelum para penjahat itu kembali lagi." Salah satu prajurit berkata pada gadis tersebut yang dia panggil Jia Li itu.


Jia Li hanya mengangguk dan berjalan kembali ke arah kereta kudanya dan duduk disana. tak lama kemudian akhirnya rombongan keluarga Jia kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Bufeng yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh.


"Ling Yan, aku harap kita bisa bertemu lagi." Jia Li nampak tersenyum manis sambil kembali mengingat bagaimana Ling Yan menyelamatkan dirinya sebelumnya, walaupun ia tidak dapat melihat wajah Ling Yan secara langsung karena topeng yang ia kenakan, tapi di lihat dari warna kulit serta penampilannya, Jia Li dapat menyimpulkan kalau wajah Ling Yan yang ada dibalik topeng itu lumayan tampan.


*****


Sementara itu di kediaman Sakte kalajengking hitam.


Pria paruh baya itu tidak lain adalah pemimpin dari sakte kelabang hitam bernama Bai Lee yang saat ini sudah memiliki kekuatan seorang pendekar suci bintang 1, sekaligus ia juga merupakan orang yang sama yang mengintai Ling Yan saat bertarung dengan 2 orang tetuanya beberapa hari yang lalu.


Sebenarnya pada saat kedua tetuanya ia perintahkan untuk menyergap rombongan Asosiasi Lelang Harta beberapa hari yang lalu, ia juga ikut turun tangan dan ingin membantu penyerangan tersebut.


Namun pada saat ia baru saja ingin maju dan ikut membantu kedua tetuanya, entah mengapa pada saat ia melihat Ling Yan menggunakan api spiritual, ia malah terpana karena baru sekali itu ia melihat api spiritual yang sesungguhnya.


Dan pada akhirnya ia pun baru tersadar saat semuanya sudah berakhir dengan kematian kedua tetuanya yang dibakar habis oleh Ling Yan.


Sebenarnya jika saat itu ia maju untuk melawan Ling Yan yang sudah kelelahan, ia pasti akan sangat mudah untuk menaklukkan Ling Yan dengan kekuatannya walaupun saat itu Ling Yan memiliki 3 api spiritual yang berbeda.


Tapi saat ia berniat untuk maju menyerang, entah mengapa ia merasakan ada sebuah aura petarung yang sangat kuat dan seakan menekannya hingga berhasil membuatnya ragu.


Aura petarung serta aura pembunuh yang hitam pekat terlihat mengelilingi tubuhnya secara stabil, namun setelah beberapa saat kemudian semua itu terhenti saat beberapa anggota saktenya datang dengan nafas tersengal-sengal seperti sedang lari dari kejaran seseorang.


Mereka bertiga merupakan beberapa anggota sakte kelabang hitam yang berhasil kabur dan selamat dari penyerangan beberapa waktu yang lalu. Bai Lee membuka matanya dan kini melihat 3 orang anggota saktenya yang terengah-engah sambil mengatur nafas mereka.


"Ada apa dengan kalian bertiga? Bukankah kalian juga ikut dalam tugas yang aku berikan pada pemimpin kelompok kalian?" Tanya Bai Lee tenang dan alis yang sedikit mengkerut.


Mendengar pemimpin mereka bertanya, ketiganya sontak membungkuk dan memberikan hormat.


"Maaf patriak, sebenarnya tadi kami sudah menyelesaikan misi kami dengan baik, bahkan kami sudah membuat semua rombongan itu tidak dapat berkutik dengan hanya satu jurus, tapi..." Salah satu dari mereka yang menjawab nampak menghentikan kata-katanya sejenak sambil menelan ludah diikuti oleh kedua temannya.


"Lalu?" Bai Lee kembali bertanya.


"Namun setelah itu, serangan kami malah digagalkan oleh seorang pendekar bertopeng dan memiliki kekuatan yang sangat kuat, bahkan.... ia berhasil membunuh 4 orang pendekar berlian termasuk tetua Bao yang kekuatannya seorang pendekar jiwa dengan api spiritual dan teknik bertarung tingkat tinggi yang ia gunakan." Jawab anggota saktenya itu.


Bai Lee yang mendengar itu malah tersenyum namun terlihat sedikit menyeramkan karena disertai oleh aura pembunuh.


"Hehehe, Akhirnya ia keluar juga dari kota itu, ini waktunya bagiku untuk merebut api spiritual miliknya." Ucap Bai Lee.


Dalam beberapa hari terakhir sebenarnya Bai Lee sering datang dan mendekati kota Bufeng dari jauh untuk melihat keadaan Ling Yan, namun semua usahanya itu selalu gagal karena seorang pendekar bertopi jerami yang terus menghalanginya.


"Apakah yang kau lihat itu benar-benar api spiritual?" Tanya Bai Lee pada anggota saktenya.


"Ya tuan, dari yang aku lihat itu tidak mungkin salah, bahkan aku bisa mengenali api itu dengan sebutan api kehidupan." Jawabannya dengan nada bicara yang sedikit sesak karena pengaruh aura pembunuh milik Bai Lee.


"Kemana perginya pendekar bertopeng itu." Tanya Bai Lee lagi namun ia sudah menarik aura pembunuhnya.


"Tadi aku hanya sempat melihatnya berjalan ke arah utara." Jawabnya dengan nafas lega.