LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 304. Tujuan Petualangan Selanjutnya


Selama berada di pulau es utara, Shuyang memang mengisi waktu luangnya untuk sekedar membaca satu persatu buku milik Yan Shiki, walaupun ada lebih dari 1000 buku kuno yang telah dikoleksi oleh tetua sekte seribu pedang itu.


Namun pada saat memilih-milih buku yang ingin ia baca, secara tidak sengaja buku tentang menara kuno sedikit menarik perhatiannya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mulai membaca buku tersebut.


Hingga setelah mengetahui isinya, ia segera memberitahu informasi tentang menara kuno itu kepada Ling Yan.


"Apakah ada informasi tentang dimana letak lokasi tempat itu?" Tanya Ling Yan kepada Shuyang karena hanya dia yang sudah selesai membaca semua buku itu.


Shuyang sedikit terdiam sebelum menggelengkan kepalanya dan mengatakan kalau tidak ada informasi apapun tentang lokasi keberadaan menara kuno karena ada beberapa halaman dari buku tersebut yang sudah menghilang.


"Tetapi walaupun tidak ada informasi tentang lokasi keberadaan tempat ini, aku malah menemukan sesuatu yang lebih baik dari itu." Shuyang lalu membuka halaman pertengahan pada buku tersebut dan mengeluarkan sebuah kertas yang sedikit usang.


"Lihat...." Ling Yan melihat isi dari kertas tersebut adalah peta yang memiliki sebuah tanda silang nampak begitu antusias dan langsung melebarkannya untuk meneliti peta tersebut.


"Sepertinya aku sudah menemukan tempat dimana tujuan petualangan kita selanjutnya." Ling Yan tersenyum penuh makna ke arah Shuyang dan dibalas anggukan kepalanya dari sahabatnya itu.


Kini Shuyang juga sudah mengerti kalau tujuan petualangan mereka selanjutnya adalah menara kuno yang letaknya sudah mereka temukan karena tertera pada peta yang mereka dapatkan.


Alasan Ling Yan untuk pergi ke menara kuno tentu saja adalah harta karun tersembunyi yang ada di dalamnya, apalagi menara kuno adalah tempat yang hanya akan terbuka selama 100 tahun sekali selama 7 hari penuh.


"Dalam jangka waktu 100 tahun sekali, pasti keberadaan tempat ini tidak akan diketahui oleh banyak kalangan pendekar, dan sepertinya yang mengetahui tempat itu kebanyakan hanyalah pendekar-pendekar yang sudah sepuh dan berumur.


Itu berarti tidak menutup kemungkinan akan ada banyak pendekar di atas pendekar raja yang akan mengunjungi tempat ini." Batin Ling Yan.


Perkiraan Ling Yan tentunya sangat tepat, karena untuk saat ini memang tidak banyak yang mengetahui informasi tentang menara kuno bahkan sekte naga suci kekaisaran Tang sekalipun.


Akan tetapi ada sedikit kesalahan pada perkiraan Ling Yan tersebut, karena saat ini jumlah pendekar yang mengetahui tentang menara kuno sudah lebih dari perkiraannya, dan kebanyakan dari mereka merupakan pendekar yang berasal dari sekte aliran hitam.


*****


Setelah 7 hari berada di pulau es utara, kini 10 menara pilar api sudah selesai dibangun sepenuhnya dan kini Ling Yan dan teman-temannya akan memulai perjalanan kembali setelah Ling Yan menyelesaikan pengobatannya terhadap Qianlin terlebih dahulu.


Di dalam ruangan yang sebelumnya di gunakan untuk melakukan pijatan, terlihat Qianlin dan juga Ling Yan yang tengah duduk berhadapan dengan Ling Yan yang sedang memijat memar biru di bagian rusuk gadis tersebut.


Ling Yan terlihat memijat bagian tersebut sambil menghadap kesamping dan membatin.


"Merah muda... memang benar-benar warna dari gadis muda." Batin Ling Yan sedikit melirik ke arah penghalang yang melindungi bagian dada Qianlin yang saat ini memang memakai warna merah muda.


Setelah melakukan pijatan untuk ketiga kalinya, kini memar biru gelap yang ada di tubuh Qianlin sudah menghilang sepenuhnya, dan bahkan Qianlin sudah kembali bisa berlatih di tengah malam walaupun dibatasi.


Selain itu kecepatan dalam pengumpulan tenaga dalam yang ia miliki juga sudah meningkat sangat pesat dan menyamai Xui yang juga berlatih menggunakan teknik yang sama.


Tetapi hal itu tidak membuat Ling Yan yang dapat melihatnya sendiri terkejut, karena saat ini ia bisa melihat kalau di dalam lautan rohnya, Xui bahkan sudah membangkitkan akar roh bunga teratai esnya yang ketujuh.


"Sudah selesai, sekarang kau sudah tidak perlu khawatir rasa sakit yang membakar itu akan menyerang jika kau terbangun di pagi hari, karena memar hitam dan pembekuan energi alamnya sudah menghilang sepenuhnya." Jelas Ling Yan di depan Qianlin.


Setelah mengenakan pakaiannya, Qianlin lalu bertanya tentang Ling Yan yang akan segera meninggalkan pulau es utara.


"Emm kalau boleh tau, kemana selanjutnya kau akan pergi berpetualang?" Tanya gadis itu.


Selama Ling Yan mengobatinya, hubungan antara Ling Yan dan Qianlin memang menjadi sedikit lebih hangat karena Qianlin selalu mengobrol ringan dengan pemuda itu pada saat Ling Yan mengobatinya.


"Hmm itu... Aku hanya akan mengikuti kemana arah angin berhembus dan menuntun langkah kami." Jawab Ling Yan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tentu saja ia tidak akan memberitahu kalau tujuan petualangan mereka selanjutnya adalah menara kuno yang tempat tersebut bahkan tidak diketahui oleh sekte sekelas pulau es utara sekalipun.


Di dalam hati Qianlin sebenarnya terbesit sedikit fikiran untuk ikut bersama Ling Yan melihat dunia luar, tetapi ia tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada pemuda itu, apalagi ia tau kalau ayah maupun kakeknya pasti tidak akan mengizinkan dirinya untuk meninggalkan sekte.


Ling Yan bisa melihat ada ekspresi kesedihan dan juga kesepian di wajah Qianlin saat ini, dan untuk membuat suasana hatinya menjadi lebih nyaman, Ling Yan memutuskan untuk mengobrol dengan gadis itu lebih lama.


Entah berapa lama keduanya mengobrol dan tertawa bersama, Ling Yan maupun Qianlin tidak ada yang menyadari kalau ada seorang pria sepuh dan pria paruh baya yang sedang berdiri sambil tersenyum mendengar percakapan kedua muda-mudi itu.


"Ini adalah kesekian kalinya Qianlin tertawa setelah kematian ibunya, dan itu semua karena Ling Yan yang berada disampingnya." Ucap Bing An sambil menyunggingkan senyuman penuh makna ke arah Bing Xuyan.


Bing Xuyan yang melihat senyuman ayahnya itu sedikit banyak mengetahui maksud dari senyumannya itu.


"Ayah tidak berniat untuk menjodohkan putri ku dengan pemuda itu bukan?" Tanya Bing Xuyan dengan ekspresi wajah mengkerut.


"Heh! Memangnya apa lagi yang lebih baik daripada itu, aku lihat Ling Yan adalah pemuda berbakat, jadi tidak ada salahnya jika dia menjadi cucu menantuku." Jawab Bing An sambil tersenyum yang membuat Bing Xuyan sedikit khawatir.


Sebenarnya Bing Xuyan juga memiliki sedikit ketertarikan dengan pemuda yang sedang bersama dengan putrinya itu, tetapi ia masih belum berpikir sejauh yang dipikirkan oleh ayahnya.


"Aku tau kau juga menyukai anak itu, tetapi untuk menjadikan dia cucu menantuku, itu semua bergantung padamu dan Qianlin karena aku bisa melihat kalau Ling Yan memiliki perasaan yang lebih kepada Xui." Lanjut Bing An.


Bing An kemudian berjalan menjauh dari tempat itu meninggalkan Bing Xuyan yang tertunduk setelah mendengar perkataan ayahnya, tapi sebelum Bing An melangkah lebih jauh.


"Jika kau bergerak lebih lambat, maka bisa saja anak itu memiliki lebih dari 3 istri sebelum menikah dengan putrimu, kau juga tau kalau seorang pendekar muda berbakat tidak mungkin hanya memiliki satu istri saja dimasa depan bukan?"


Tepat setelah perkataannya selesai, Bing An kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Bing Xuyan yang terdiam.


"3 istri apanya, aku tidak mungkin membiarkan itu terjadi pada putriku." Batin Bing Xuyan sebelum mengikuti langkah kaki ayahnya itu.