LEGENDA PENDEKAR API ABADI

LEGENDA PENDEKAR API ABADI
Episode 183. Pak Tua


Keesokan harinya, Jia Li beserta semua pengawal dan rombongannya telah bersiap dan sebentar lagi akan melakukan perjalanan menuju kota heihan kekaisaran Wei.


Selain Ling Yan, Shuyang, Han Li, dan Yan Shiki, Jia Wang juga menugaskan 20 orang pengawal yang ia miliki untuk memastikan perjalanan putrinya tidak ada masalah.


Dan diantara ke 20 pengawal miliknya itu ada beberapa yang sudah berada di tingkat perak bintang 5 sama seperti Shuyang dan selebihnya berada di tingkat perak bintang 1 dan juga tingkat perunggu.


Nampak sudah terlihat ada sebuah kereta kuda beserta banyak kereta pengangkut barang dan lainnya yang berjumlah sepuluh kereta berisi barang dagangan keluarga Jia.


Ling Yan yang melihat itu hanya bisa melongo dan membulatkan matanya karena barang-barang yang di bawa oleh Jia Li ini semuanya bernilai puluhan juta keping emas.


"Ck pantas saja mereka memerlukan pengawalan yang ketat, barang-barang dagangan ini semuanya tidak ada yang murah." Gumam Ling Yan.


Walaupun dari berbagai macam senjata serta pil obat dan barang dagangan lain yang dibawa oleh Jia Li tidak ada yang merupakan barang langka ataupun yang juga sekelas dengan sebuah pusaka.


Akan tetapi karena rata-rata barang dagangan tersebut termasuk kedalam kualitas yang tinggi serta jumlahnya yang sangat banyak, membuatnya tetap menjadi sasaran empuk dari para perampok yang menginginkan barang-barang tersebut.


Seperti senjata berupa pedang tombak ataupun kapak yang mereka bawa contohnya, memang senjata-senjata tersebut tidak terlalu diminati oleh para pendekar tingkat tinggi.


Namun hal itu akan berbeda jika para perampok ataupun pendekar yang hanya berada di tingkat emas ke bawah, karena bagi mereka senjata-senjata ini merupakan harta karun besar yang sangat susah mereka dapatkan dengan koin emas yang mereka miliki.


"Tuan Jia Wang, semua perlengkapan sudah siap, kami siap berangkat kapanpun kau mau." Lapor salah satu pekerja keluarga Jia itu.


Jia Wang lalu mengangguk sambil melirik ke arah Yan Shiki yang ada di sebelahnya.


"Tetua Yan...." Baru saja ia ingin melanjutkan perkataannya, pandangan mata Jia Wang tiba-tiba teralihkan oleh kehadiran seorang pria tua yang berjalan lambat ke arahnya.


Yan Shiki juga melihat pria tua itu mengangkat alisnya sedikit sebelum berkata.


"Pak tua, apakah yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Yan Shiki yang disambut senyuman oleh pak tua itu.


Pandangannya terlihat mengarah ke arah Ling Yan sejenak sebelum menjawab.


"Kepala keluarga Jia yang terhormat, bisakah kau memberikan kemurahan hatimu untuk membiarkanku menumpang sampai ke kota teratai saja, sudah lama sekali pak tua ini ingin pergi kesana, namun karena tidak punya uang dan tenagaku yang hanya sebatas ini saja, membuatku tidak sanggup." Ujar pak tua itu.


Sementara itu Ling Yan yang melihat pak tua itu kini langsung mengenalinya dengan Yu Leng yang sedang menyamar sebagai pria tua yang lemah.


"Penyamaran yang cukup bagus, bahkan jika bukan karena api spiritual, aku tidak akan bisa merasakan hawa kehadirannya." Batin Ling Yan.


Jia Wang yang mendengar itu terlihat sedikit iba dan sepertinya merasa tidak masalah jika kakek tua itu ikut pada salah satu kereta pengangkut barang, akan tetapi belum sempat ia mengatakan apa yang ia ingin katakan, tiba-tiba Yan Shiki menahannya sambil menatap penuh selidik ke arah kakek tua itu.


"Tunggu dulu ketua Jia, dari mana kau tahu kalau keluarga Jia akan melakukan perjalanan menuju kekaisaran Wei, setahuku keluarga Jia tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun kecuali keluarga dan murid sekte seribu pedang yang akan mengawalnya." Tanya Yan Shiki penuh selidik.


"Hmmm tuan pendekar, aku mengetahuinya karena setiap tahun keluarga Jia akan membawa banyak barang menuju kekaisaran Wei untuk mengisi stok barang dagangan yang kosong di berbagai kota tempat mereka membuka cabangnya, sudah lama sekali aku menunggu ini dan baru hari ini aku punya kesempatan." Jawab pak tua itu.


Walaupun sedari tadi ia memperhatikan pak tua itu ia tidak menemukan apapun yang membuatnya curiga, akan tetapi di dalam dunia persilatan, seorang yang memiliki umur yang lebih sepuh bisa saja adalah pendekar yang akan membuat kita jatuh kedalam sebuah mimpi buruk.


Yan Shiki lalu menggunakan tenaga dalam yang ia miliki untuk melihat kedalam diri pak tua itu, namun tetap saja ia tidak dapat melihat apapun yang bisa membuat pak tua itu sebagai seorang pendekar.


"Sudahlah ketua Yan, orang tua ini sepertinya berkata benar, lagi pula aku tidak akan keberatan kalau ia menumpang pada salah satu kereta barang milikku, apalagi.... ia hanya akan menumpang sampai besok pagi saja bukan?" Ucap Jia Wang meyakinkan.


Jarak kota bufeng dan kekaisaran Wei memang bisa dibilang cukup dekat bila ditempuh dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh dari seorang pendekar.


Tetapi karena perjalanan tersebut akan di tempuh menggunakan kereta kuda, dengan jarak itu perjalanan menuju kota teratai mungkin akan memakan waktu hingga satu hari satu malam.


Apalagi rute yang akan di gunakan oleh kereta kuda ini nantinya adalah rute memutar untuk menghindari area hutan kegelapan yang memang terletak tidak jauh dari area perbatasan kedua kekaisaran itu


"Tapi...." Yan Shiki masih sedikit ragu, namun Ling Yan membantu Jia Wang meyakinkannya.


"Tetua Yan, berikan padaku tugas untuk mengawasinya." Ucap Ling Yan meyakinkan.


"Haihhh baiklah, anda boleh ikut." Jawab Yan Shiki yang merasa kalau Ling Yan bisa di andalkan karena ia memang sudah tau dan sudah pernah melihat kemampuan bertarung yang ia miliki.


"Terimakasih tuan pendekar, aku berjanji tidak akan membuat kalian repot dalam perjalanan." Jawab Yu Leng yang kini berjalan ke arah kereta kuda pengangkut barang yang ada pada barisan belakang bersama Ling Yan.


Jia Li yang baru saja keluar dari dalam ruangannya kini berjalan menuju kereta kudapan yang memang disiapkan untuk dirinya itu.


Saat memasuki kereta kudanya, ia nampak sedikit melirik ke arah kanan dan kirinya seperti mencari seseorang.


"Ada apa putri Jia Li, apakah ada yang salah." Yan Shiki bertanya pada Jia Li yang terlihat kebingungan.


"Ah tidak ada tetua Yan, bisakah kau menyuruh Ling Yan untuk mendampingi kereta kudaku?" Tanya Jia Li.


Yan Shiki yang mendengar itu terlihat kebingungan, sementara Jia Wang, ia nampak mengerutkan dahinya.


"Dari mana putriku tau kalau salah satu dari murid tetua Yan ada yang bernama Ling Yan, apakah dia sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya." Batin Jia Wang.


"Maaf putri Jia Li, aku menugaskan Ling Yan untuk menjaga barisan kereta kuda yang ada dibelakang bersama dengan Shuyang, untuk pengawalan bagi tuan putri, aku sendiri yang akan melakukannya bersama Han Li." Jawab Yan Shiki yang membuat Jia Li sedikit cemberut.


Ingin rasanya ia meminta Ling Yan untuk menjaga kereta kudanya, akan tetapi ia mengurungkan niatnya karena kehadiran ayahnya disana.


"Baiklah tidak masalah, ayo kita berangkat." Jia Li berkata tanpa ekspresi sebelum menutup pintu kereta kudanya.


"Tetua Jia, ini adalah bayaran serta benda yang di inginkan oleh ketua Zhao." Jia Wang memberikan cincin nat itu pada Yan Shiki, lalu setelah itu akhirnya rombongan kereta kuda milik keluarga Jia memulai perjalanannya.