Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 86.


Chapter 86. Keinginan Jiwa-jiwa.


Dengan awan panas yang diciptakan dari Api Suci Petir Asyura, korban mulai berjatuhan, tubuh hangus tersambar petir dan menjadi abu setelah terkena panas. Benua Permata Hutan bergetar hebat seperti gempa.


Tian Zhi tertawa melihat banyak kehidupan yang telah dia bunuh, dia makin meningkatkan kekuatan Api Suci Petir Asyura, sayapnya mengepak untuk terbang tinggi dan kedua mata menatap tajam ke bawah.


Benua Permata Hitam menjadi tempat neraka bagi kehidupan. Anak-anak, orang tua dan semua rakyat jelata menangis, mereka tidak menyangka menjadi korban yang akan dimusnahkan oleh Tian Zhi.


Kehidupan yang memiliki kekuatan seketika berjatuhan saat berusaha terbang tinggi, dan sebagian yang bersembunyi juga tidak bisa menghindari sambaran petir, bisa dikatakan tidak ada yang bisa selamat selama berada diatas permukaan tanah.


Disaat keputusasaan, muncul sosok bercahaya terang benderang menyilaukan mata, cahayanya mampu menerangi seluruh penjuru tempat Benua Permata Hitam.


Semua kehidupan yang sudah putus asa, melihat sosok bercahaya dan mengenalinya, seketika ketakutan akan kematian menjadi suka cita, saat melihat Dewi Cahaya telah datang untuk menyelamatkan benua ini.


Tian Zhi juga melihat Dewi Cahaya dengan tersenyum sinis, dia malah meningkatkan lagi kekuatan Api Suci Petir Asyura sambil mengarahkan kedua tangan kepada Dewi Cahaya yang telah dia anggap musuh.


"Tian, berhenti!!" perintah dari Dewi Cahaya.


Suaranya sangat lembut dan penuh kasih, suaranya mampu menenangkan hati setiap kehidupan. Namun, perintah Dewi Cahaya tidak dihiraukan oleh Tian Zhi.


"Tian, kendalikan tubuh dan emosimu, jangan mau dikendalikan kemarahan dan dendam dari korban ketidakadilan!" sekali lagi Dewi Cahaya memberikan perintah tanpa takut jika Tian Zhi akan menyerangnya.


Tian Zhi tertawa sangat keras dengan suara yang mengerikan, dia kembali melihat Dewi Cahaya. "Saat kami mati karena kebiadaban mereka, kemana kamu ... Disaat kami ingin membalas dendam, kamu melindungi mereka! Apakah ini sosok Dewi Cahaya yang seharusnya mampu mencegah kematian kami tapi malah melindungi kejahatan mereka?" tanya Tian Zhi dengan suara dari banyak korban ketidakadilan.


Dewi Cahaya geleng-geleng dan menghela nafas dengan kedua matanya menatap lembut kepada Tian Zhi.


"Tian, hukum sebab akibat itu berlaku, apa yang mereka tabur pasti akan menuai-nya... Tanyakan kepada jiwa-jiwa yang merasuki mu, sebelum mereka mati, apa yang telah mereka lakukan selama hidup mereka! Apakah mereka lebih baik dari pelaku yang membunuh mereka...?" jawab Dewi Cahaya dan bertanya balik kepada Tian Zhi.


Tian Zhi kembali tertawa dengan pembela Dewi Cahaya. Apa yang dikatakan Dewi Cahaya memang benar, dulu mereka juga melakukan hal yang sama. Hanya saja, permintaan dari jiwa-jiwa yang merasuki tubuh Tian Zhi adalah keadilan.


"Tidak ada yang perlu dikatakan lagi! Dewi Cahaya, karena kamu menghalangi kami, maka kamu juga musuh kami...!"


(Gemuruh)


Suara gemuruh di langit dan awan panas Api Suci Petir Asyura terfokus kepada Dewi Cahaya dan mengumpulkan kekuatannya untuk menyerang.


Tian Zhi langsung menghentakkan kedua tangannya untuk menyerang Dewi Cahaya dengan Api Suci Petir Asyura. Segera dari telapak tangan kiri Tian Zhi mengeluarkan banyak Petir Surgawi Sembilan Warna dan telapak tangan kanan mengeluarkan Api Suci Petir Asyura.


Swosh... Cedar... Boom💥...


Ribuan serangan petir akan menyambar Dewi Cahaya dengan ganas dan juga Api Suci Petir Asyura membakar targetnya dengan maksimal, disekitar Dewi Cahaya menjadi lautan api dan petir.


Namun, Dewi Cahaya malah tersenyum dengan tangan kanan dibelakang pinggang dan mengangkat tangan kirinya lalu mengetuk udara di depan, segera udara yang diketuk berfluktuasi seperti kolam yang kejatuhan batu, dan gelombang riak energi udara menyerap semua serangan.


Seketika dua elemen menghilang dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Hanya sekali ketukan udara mampu meredam keganasan Api Suci Petir Asyura dan Petir Surgawi Sembilan Warna, semua orang yang melihat di kejauhan sangat takjub dengan perbuatan Dewi Cahaya yang begitu hebat.


Tian Zhi tersenyum dan tidak terkejut sama sekali dengan kehebatan Dewi Cahaya, dia segera mengepakkan sayapnya dengan sangat cepat untuk menyerang musuhnya.


Kepalan tangan Tian Zhi mengeluarkan Api Suci Petir Asyura yang menyambar.


Dhum...


Suara dentuman saat kepalan tangan Tian Zhi hanya ditahan satu jari telunjuk oleh Dewi Cahaya. Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menyebar ke segala arah, dan sebelum mengenai banyak kehidupan, tangan kanan Dewi Cahaya digerakkan dan juga mengetuk udara untuk menghilang gelombang kejut dari benturan.


Bagi Dewi Cahaya, gerakannya sangat lambat, tapi berbeda saat Tian Zhi melihatnya, gerakan dan kecepatan tangan Dewi Cahaya tidak mampu diikuti oleh matanya, seakan-akan waktu berhenti.


Kemudian, Dewi Cahaya mengetuk kepalan tangan kanan Tian Zhi hingga membuatnya terpental sangat keras ke tanah dan...


Boom💥...


Tubuh Tian Zhi menghantam tanah, namun dia segera bangkit dan menatap tajam ke arah Dewi Cahaya. Lalu Tian Zhi mengepakkan sayapnya dan kembali menyerang Dewi Cahaya dari jarak jauh dengan dua elemen.


Cedar... Boom💥... Boom💥...


Tubuh Dewi Cahaya dihujani petir dan dibakar Api Asyura, namun setelah asap menghilang Dewi Cahaya baik-baik saja tanpa sehelai kain sobek bahkan sedikit rusak pun tidak.


"Kamu bukan lawan-ku! Tian, berusahalah mengendalikan tubuh dan emosimu!" pinta Dewi Cahaya dengan suara lembut dan menenangkan.


Tian Zhi pun berhenti, tapi bukannya mengikuti perintah Dewi Cahaya dia melirik di kejauhan di mana banyak kultivator yang melihat pertarungannya.


Tahu niat Tian Zhi yang akan membunuh para kultivator, Dewi Cahaya menghilang dari posisinya dan muncul lagi di depan Tian Zhi, tanpa ada berniat untuk memukul Tian Zhi, dia hanya ingin menghalanginya.


Spontan Tian Zhi kaget dengan tangan kanan akan memukul wajah Dewi Cahaya. Namun Dewi Cahaya dengan mudah menahan pukulan Tian Zhi dengan satu jarinya.


Justru Tian Zhi yang terpental hingga menghantam tanah sekali lagi. "Hahaha!!" Tian Zhi tertawa mengejek dirinya sendiri yang jelas kalah telak melawan Dewi Cahaya.


Setelah tertawa, Tian Zhi tiba-tiba berteriak kesakitan dengan memegangi kepalanya. Tian Zhi sedang bertarung dengan jiwa-jiwa yang mengendalikan tubuhnya, dia berguling-guling dan terus berteriak kesakitan.


Dewi Cahaya hanya melihat tanpa berusaha membantunya. Yuke, He Hua dan Miao Jiang segera menyusul dan berdiri di sisi Dewi Cahaya, mereka bertiga melihat Tian Zhi seperti orang gila.


"Guru ... !" ucap He Hua yang mengkuatirkan kondisi Tian Zhi.


"Dia harus berusaha sendiri, jika ingin kuat!" sahut Dewi Cahaya yang tahu pikiran He Hua.


He Hua tahu jika gurunya mampu menolong Tian Zhi dengan mudah, namun Dewi Cahaya tidak ingin ikut campur dalam perkembangan Tian Zhi. He Hua menghela nafas tak berdaya dan Miao Jiang segera memegang tangannya untuk menenangkan hati He Hua. Kedua wanita itu juga kuatir dengan kondisi Tian Zhi.


-


Tian Zhi terus menerus berusaha melawan banyak jiwa-jiwa mengendalikan tubuhnya.


"Pergi kalian, ini tubuhku!?" hardik Tian Zhi kepada jiwa-jiwa sambil merasakan pusing yang luar biasa dan disertai tubuh kesakitan.


"Tidak, sebelum kami membalas dendam!!" tolak jiwa-jiwa seperti paduan suara saat berbicara di dalam benak Tian Zhi.


"Sialan kalian!? Aku tidak ada urusan dengan kalian semua, pergi!?"


Sekali lagi Tian Zhi menghardik jiwa-jiwa, namun tetap saja ditolak, setelah sekian lama Tian Zhi dan jiwa-jiwa bertarung. Akhirnya jiwa-jiwa meminta bantuan terakhir untuk berbicara sendiri dengan Dewi Cahaya.


Tian Zhi mengijinkan untuk mengendalikan tubuhnya, setelah mendapatkan kesepakatan. Tubuhnya melayang dan melihat Dewi Cahaya tanpa ada permusuhan lagi seperti sebelumnya.


"Kami masih tidak terima atas ketidakadilan ini, tapi kami menginginkan satu permintaan dari mu, apakah Dewi Cahaya bisa mengabulkannya?" tanya jiwa-jiwa dengan mengendalikan tubuh Tian Zhi.


"Asal aku mampu dan tidak melewati batas toleransi ku!" jawab Dewi Cahaya dengan tegas.


"Kami ingin Dewi Cahaya menghilangkan matahari dan juga tidak ada satupun penghuni asli keluar dari benua ini sebagai hukuman mereka selama satu juta tahun, apakah Anda sanggup mengabulkannya?"


Spontan Yuke, He Hua dan Miao Jiang saling bertukar pandangan akan permintaan jiwa-jiwa, dan mereka melihat Dewi Cahaya yang tidak terkejut sama sekali.


Menghilangnya matahari mengakibatkan Benua Permata Hitam dalam kekacauan, menjadi gelap gulita, proses fotosintesis berhenti pada tumbuhan, sehingga tidak dapat lagi menghasilkan glukosa dan oksigen yang bermanfaat bagi kehidupan.


Tanpa matahari, penurunan suhu pasti terjadi di seluruh Benua Permata Hitam dan membuat kehidupan menjadi depresi untuk sementara waktu dalam proses adaptasi.


Tapi, bagi binatang air ini sangat bermanfaat dan mampu berkembang pesat dalam waktu lama, karena tidak membutuhkan matahari.


Sebagai gantinya matahari menghilang, bintang-bintang akan tetap bersinar dan menjadikan pengganti energi matahari.


"Baik aku kabulkan. Tapi, setelah ini, segala kebencian, amarah dan rasa negatif dari kalian telah terlunasi. Pergilah dalam damai!" jawab Dewi Cahaya dan melihat matahari, lalu melihat ke arah Yuke.


"Lakukan!" perintah Dewi Cahaya.


Yuke tanpa membantah langsung terbang menuju luar angkasa dan membalikkan badan menghadap Benua Permata Hitam. Kemudian, kedua tangan Yuke direntangkan ke depan dan membuat gerakan Formasi.


Setelah membuat Formasi, dari sepuluh jari Yuke mengeluarkan banyak energi spiritual dan menyelimuti Benua Permata Hitam. Secara berlahan Benua Permata Hitam mulai gelap gulita dan hanya bisa melihat binatang-binatang.


Segala jenis tumbuhan mulai layu, suhu udara mulai turun. Semua kehidupan menjadi gelisah dan secara berlahan terjadilah kepanikan. Ratu Siluman, Raja Iblis Merah, Raja Serigala Putih dan beberapa pimpinan segera terbang untuk menghadap Dewi Cahaya.


Namun, sebelum mereka bertanya, Dewi Cahaya berbicara. "Segala kejahatan apapun bentuknya akan mendapatkan balasan. Matahari akan kembali menyinari Benua Permata Hitam dalam satu juta tahun lagi, ini sebagai bentuk hukuman bagi kalian."


Sontak para pimpinan Benua Permata Hitam terkejut dan menghela nafas tak berdaya, sebab mereka menyadari atas perbuatan mereka yang telah memusnahkan Ras Manusia dan Ras Rubah, yang kini nasib Ras Rubah belum diketahui setelah Gunung Mahadewi mengalami bencana badai api dan petir.


Swosh...


Yuke muncul di hadapan para pemimpin, dan mengusir mereka untuk kembali. Tanpa bisa protes, dengan berat hati para pemimpin kembali ke tempat masing-masing.


Setelah keinginan jiwa-jiwa telah terkabul, mereka segera menyatu pada tubuh Tian Zhi untuk memberikan kompensasi berupa kekuatan. Tubuh Tian Zhi yang terjatuh, buru-buru He Hua dan Miao Jiang memapahnya sebelum membentur tanah.


"Bawa dia ke tempat kita!" perintah Dewi Cahaya kepada He Hua dan Miao Jiang, sambil melirik cincin dimensi Tian Zhi,


Dewi Cahaya dengan mengedipkan mata untuk menutup cermin di dalam cincin dimensi agar tidak melihat keluar lagi.


Dewi Cahaya segera kembali dan disusul Yuke, He Hua dan Miao Jiang sambil membawa Tian Zhi yang pingsan.


Gunung Mahadewi kembali seperti semula, di mana badai salju menutup permukaan gunung. Sedangkan Ras Rubah betina yang bersembunyi di dalam tanah Gunung Mahadewi segera keluar setelah merasakan suhu dingin dan melihat gunung yang gundul.


Benua Permata Hitam akan kembali pulih seperti sediakala setelah kedatangan seseorang pria dari masa depan.