
Chapter 106. Teriakan Terakhir.
Di dalam cincin dimensi, Tian Zhi masih belum selesai mengekstrak dantian Long Quan. Katak Naga segera berubah menjadi wujud aslinya dan bermalas-malasan di kolam, tapi ular tebing segera mengejarnya.
"Kwok! Bahaya, bahaya!"
Tian Zhi tertawa melihat Katak Naga di buru ular tebing, lalu dia melihat darah Long Quan dan sesegera mungkin mengumpulkannya. Darah Naga sangat besar manfaatnya selain mampu memperpanjang usia dan kekuatan, darah Naga juga mampu memperkuat tulang.
"Walaupun Naga kuat ... Disaat menjadi wujud manusia, kalian rentan terhadap racun dan serangan! " gumam Tian Zhi.
Apa yang dikatakan Tian Zhi memang benar, sekuat apapun Naga, dia akan melemah ketika berubah menjadi wujud manusia. Seandainya Long Quan berubah menjadi Naga, dia tidak mungkin mati dengan mudah dan juga mampu menangkal racun ular tebing, apalagi jenis Naga Bumi yang seharusnya tahan racun.
Selain Naga Bumi yang tahan racun, ada jenis yang lainnya, yaitu Naga Hitam. Naga Hitam mampu memproduksi racun dan juga memiliki fisik yang kuat.
Tian Zhi sebenarnya bingung, kenapa Long Quan tidak berusaha berubah disaat nyawanya terancam, namun bagi Tian Zhi adalah suatu keberuntungan.
Darah Long Quan telah menjadi esensi berbentuk bola dan mengeluarkan aura Naga Bumi, dia juga telah selesai mengekstraksi dantian yang berbentuk kristal energi.
Dengan wajah gembira, Tian Zhi duduk bersila, siap meningkat kekuatannya pemberian Long Quan.
Tanpa perlu menyerap seperti yang dilakukan oleh setiap kultivator, Tian Zhi menelan esensi dan kristal energi. Esensi dan kristal energi segera mencair memenuhi dantian-nya, energi besar setingkat Dewa Bintang dengan cepat membuat Tian Zhi menerobos.
Boom 💢...
Ledakan energi terobosan keluar dari tubuh Tian Zhi dan membuat Katak Naga dan ular berhenti kejar-kejaran. Tidak berhenti naik satu level, setelah kurang dari waktu satu dupa, Tian Zhi kembali menerobos.
Luapan energi terobosan terus menggema di dalam cincin dimensi, Tian Zhi melupakan waktu, dia sangat menikmati terobosan berturut-turut, tubuhnya semakin kuat dan tulangnya juga sama.
Setelah menghabiskan waktu delapan dupa, Tian Zhi membuka mata, seketika cahaya keluar dari matanya dan kembali normal dengan cepat. Tian Zhi tertawa mendapatkan manfaat setelah membunuh Long Quan.
Kini kekuatannya meningkat drastis, dari Dewa Alam level 2 naik menjadi Dewa Kuno level puncak, dia diambang terobosan lagi, hanya membutuhkan sedikit energi untuk menerobos ke tingkat Dewa Matahari.
Tapi sebelum itu, dia harus mendapatkan Kesengsaraan Petir, sebab akan masuk ke ranah Mahadewa. Di Ranah Mahadewa, setiap tingkat harus melalui 50 level, dan membutuhkan sumberdaya yang sangat besar di setiap level-nya.
Segera Tian Zhi berdiri dan melihat di luar cincin dimensi hari telah malam. Katak Naga buru-buru melompat dan hinggap di kepala Tian Zhi, dia segera berubah menjadi wujud seperti mahkota.
"Kwok! Melelahkan di ular betina jelek itu! " sungut Katak Naga setelah berhasil lolos dari ular tebing.
Tian Zhi tertawa lagi, dan memberikan dua Pil Langit Jiwa kepada Katak Naga sebagai hadiah, karena dia sedang bahagia. Segera Katak Naga melahap dua butir pil itu dalam sekali suap dan bersendawa setelahnya.
Ular tebing yang melihat Katak Naga mendapatkan hadiah menjadi iri, dia buru-buru melilit kaki Tian Zhi, merayap hingga sampai di lengan kanan, lalu menjulur lidah bercabang meminta hadiah.
"Kita akan bekerja lagi," kata Tian Zhi kepada ular tebing dan di anggukan tanda mengerti, lalu Tian Zhi mengeluarkan dua butir Pil Langit Jiwa.
Ular tebing juga sama, dia langsung menelan bulat-bulat dua butir pil, dan bersendawa setelahnya, si ular pun tertidur karena kekenyangan dengan tubuh tetap melilit lengan Tian Zhi.
"Huang Liao, giliran mu! Malam ini hari terakhir kamu bisa bernafas! " kata Tian Zhi dan segera kelima dari cincin dimensi.
Di malam hari, di tengah Kota Peristirahatan, terlihat menyala api unggun besar untuk mengkremasi Long Quan yang telah dibunuh oleh Tian Zhi, yang mengenaskan, tubuh Long Quan tidak diketemukan hanya menyisakan kepalanya saja.
Api unggun itu dikelilingi oleh para peserta, wajah-wajah para peserta berbagai ragam, ada yang berduka ada pula yang mencibir, mencibir perlakuan Huang Liao yang mengistimewakan kematian sahabatnya.
Wajah tak senang mereka juga ada sebab yang masuk akal, karena kematian di Hutan Peperangan sudah menjadi hal lumrah selalu terjadi dan tak ada yang sampai mengkremasi mayat teman maupun saudara.
He Hua dan Miao Jiang juga ikut berdukacita dikarenakan Long Quan adalah teman satu akademi dan juga satu guru, mereka berdua tidak sampai mengeluarkan tangisan seperti yang dilakukan oleh Huang Liao.
Saat ini, Huang Liao membawa kain putih yang digunakan untuk menutupi kepala Long Quan, dia berjalan mendekati api dengan berlinangan air mata, dan berhenti saat jarak dengan api unggun terpaut satu meter.
"Sahabatku, aku teringat saat pertama kali kita masuk di akademi bersama, saat itu kamu lebih rendah dalam kekuatan namun kamu selalu membela ku disaat ditindas oleh para senior...,"
Huang Liao mengenang masa mereka sewaktu di akademi, mengingat perjalanan awal mereka menjadi murid luar hingga menjadi murid inti di akademi.
Sebagai peserta yang bosan selalu menguap dan malas mendengar ucapan Huang Liao yang seakan-akan dirinya saja yang pernah kehilangan sesuatu yang berharga.
"... Aku bersumpah demi leluhur ku, aku membalas perbuatan bajingan itu, nyawa dibalas dengan nyawa! Selamat tinggal sahabat ku. Semoga kita bertemu lagi di Alam Jiwa! " ucapan terakhir untuk sahabatnya, lalu tanpa takut panas api, Huang Liao meletakkan kain berisi kepala Long Quan di atas kayu yang telah terbakar.
Kemudian, setelah beberapa saat kepala Long Quan terbakar, semua orang meninggalkan api unggun dan hanya menyisakan He Hua, Miao Jiang dan timnya termasuk Huang Liao yang masih di depan api unggun.
Tidak berselang lama, Peri Bersaudari akhirnya meninggalkan acara penghormatan terakhir dan disusul timnya yang selalu mengikuti. Tinggallah sendiri Huang Liao.
.....
Melihat situasi telah sepi, Tian Zhi mulai beraksi, dia melihat Huang Liao yang dengan enggan meninggalkan api unggun, segera Tian Zhi mengeluarkan tubuh tanpa kepala dan meletakkan di tempat pembakaran kepala Long Quan.
Huang Liao langsung membalikkan badan dan syok melihat tubuh sahabatnya telah terbakar, buru-buru dia mendekati, meraih dan memeluk tubuh Long Quan, dia berteriak sambil menangis dan memanggil nama sahabatnya, dia tidak perduli bagaimana bisa mayat Long Quan bisa berada di sana.
"Quan...!!! "
Dengan kesedihan tak tertahankan, kewaspadaan-nya pun menurun, dan oleh Tian Zhi tidak akan membuang kesempatan untuk membunuh Huang Liao. Tian Zhi menyelinap di belakang Huang Liao dan...
Sling...
Pedang menebas leher Huang Liao tanpa ada perlawanan, dengan cepat Tian Zhi memasukkan tubuh Huang Liao dan meninggalkan kepalanya yang ikut terbakar di samping tubuh Long Quan.
Tian Zhi pun segera masuk dan kembali melakukan hal yang sama, mengekstrak dantian Huang Liao untuk meningkatkan kekuatannya.
Teriakan terakhir Huang Liao juga di dengar oleh banyak orang, tapi mereka pikiran Huang Liao masih belum ikhlas menerima kenyataan, jadi mereka menghiraukan tanpa ada rasa curiga, sebab di Kota Peristirahatan dilarang adanya perkelahian apalagi pembunuhan.
Dan kali ini Paviliun Asyura Path tidak ada yang memantau Kota Peristirahatan, karena banyak peserta yang beristirahat di kota dan tidak ada yang melakukan aktivitas berburu.
Tapi, Feng Zixuan yang kebetulan melewati ruang pengawasan, jelas melihat Tian Zhi, dia terkejut dan buru-buru meninggalkan ruang pengawasan untuk menuju ke kamarnya...