Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 317. Pembalasan Dewa Air.


Chapter 317. Pembalasan Dewa Air.


Di tempat Tian Zhi terbaring di atas tungku emas, ada seorang wanita, dia adalah Zhu Rong. Dia mengambil sisa darah Kasta Kaisar yang masih tertinggal, lalu menyimpannya.


Disaat akan keluar, dia mendengar teriakan Tian Yinping, lalu disusul teriakan Xiang Ri Kui dan Guo Shun yang memanggil ibunya. Zhu Rong meneteskan air mata kesedihan, tapi segera dia mengusap air matanya.


Disaat keluar, dia melihat semua orang sangat bersedih, termasuk Lu Bai dan sahabatnya....


...****************...


Tiga tahun berlalu semenjak kematian Tian Zhi. Akan tetapi, suasana duka masih menyelimuti Alam Keabadian dengan meninggalnya Tian Zhi dan Zhi Yinping.


Selama itu, He Hua tetap berada di tempat yang sama, dia terus mengeluarkan air mata kepedihan, sehingga air matanya membentuk sebuah kolam. Air mata yang tertampung di kolam seperti magma yang mengeluarkan serat-serat petir.


Oleh Xiang Ri Kui dan Guo Shun, mereka membuat dinding tebal mengelilingi ibunya, lalu mereka memberikan nama tempat ibunya, Kolam Api Asyura.


Zhi Shaosheng mencatat semua kejadian dan memberikan gelar kepada Tian Zhi sebagai Kaisar Api Asyura, sebab hanya Tian Zhi saja yang memiliki garis darah Kasta Kaisar.


"Ibu, pertemuan besar sebentar lagi akan tiba, apakah Ibu tidak ingin ikut serta dalam pertemuan seluruh keluarga besar kita?" bujuk Xiang Ri Kui yang tidak ingin ibunya terus terhanyut dalam kesedihan.


Sayangnya, semenjak kematian Tian Zhi, tidak sekalipun He Hua membuka mulut, bahkan menatap wajah anak-anaknya saja tidak. Guo Shun geleng-geleng kepala melihat ibunya seperti ini, dia menyisir rambut ibunya dan selalu merawat dengan sabar.


"Ibu ... Humph!" Xiang Ri Kui telah kehabisan kata-kata untuk membujuk ibunya, dia selalu menghela napas panjang.


"Tinggalkan Ibu dan berlatihlah, kamu akan menjadi unggulan bagi Kasta Kaisar menggantikan posisi ayah!" pinta Guo Shun.


Xiang Ri Kui mengangguk, lalu dia meninggalkan Kolam Api Asyura. Setelah kepergian Xiang Ri Kui, datang Tian Yinping.


"Kamu dari makam ibu?" tanya Guo Shun kepada Tian Yinping.


"Iya, besok hari meninggalnya ayah dan ibu. Ayo, kita persiapkan secara penghormatan untuk beliau!" jawab Tian Yinping dan mengajak kakaknya.


Zhi Yinping dimakamkan di dekat Lembah Kekosongan, sengaja didekatkan dengan Tian Zhi. Lokasi tersebut kini menjadi tempat Ras Asyura berkultivasi dengan menyerap energi Api Suci Petir Asyura yang sangat bermanfaat besar bagi kultivator yang memiliki elemen api.


Lembah Kekosongan sangat dijaga ketat oleh Ras Asyura. Bahkan Zhi Shaosheng membangun kota baru yang diberi nama Kota Kasta Kaisar.


Untuk menghubungkan antara Kota Kasta Kaisar dengan kediaman Tian Zhi, Zhi Shaosheng membuatkan portal dimensi.


Pertemuan besar akan diadakan di Kota Kasta Kaisar, lokasi yang sama dimakamkannya Zhi Yinping. Pertemuan besar dibuka dengan acara ritual penghormatan bagi mendiang Tian Zhi dan Zhi Yinping.


Guo Shun mengangguk, lalu dia berpamitan kepada He Hua, "Ibu, pertemuan besar nanti merupakan keinginan ayah yang ingin ikut serta, aku harap Ibu menjadi walinya. Aku pergi dulu."


Guo Shun mencium pipi He Hua, lalu diikuti oleh Tian Yinping. Kemudian mereka keluar dari Kolam Api Asyura. Setelah mereka pergi, He Hua melihat anaknya.


"Aku yakin ayahmu pasti kembali, dia tidak mati, melainkan berpindah tubuh," gumamnya yang masih berharap Tian Zhi hidup kembali.


He Hua kembali menunduk dan air matanya menetes terus ke dalam Kolam Api Asyura...


Zhi Shaosheng yang berada di atas kediaman Tian Zhi, dia melihat He Hua dan mendengar ucapannya, dia berkata, "naluri mu sama denganku, dia pasti kembali!"


Setelah itu dia mencatat perkataan He Hua yang akan menjadi ramalan untuk masa depan. Zhi Shaosheng selalu mengamati perkembangan Xiang Ri Kui, Guo Shun, Tian Yinping dan He Hua.


Tiba-tiba, Zhi Shaosheng terbatuk-batuk, lalu keluar darah yang menghitam. Dia sebenarnya terluka dalam ketika bertarung dengan Kaisar Kun, tapi dia tidak menceritakan kepada siapapun, kecuali sahabatnya si Raja Suzaku.


"Tampaknya pertemuan kali ini adalah yang terakhir bisa melihat keturunan ku!" ucap Zhi Shaosheng yang telah menghitung batas waktu ajalnya, lalu dia membaringkan tubuhnya di ranjang bambu.


Xiang Ri Kui yang akan menuju ke Kota Kasta Kaisar, dia melihat kakak dan adiknya yang menyusul. Mereka bertiga masuk ke dalam portal dimensi dan muncul di Kota Kasta Kaisar.


"Tuan Muda, Nona Muda!" sapa penjaga portal dimensi mengetahui kedatangan putra dan putri Kaisar Api Asyura.


"Apa ada berita terbaru?" tanya Xiang Ri Kui.


"Ada, Tuan Muda. Di Barat kota ada beberapa orang yang mencari masalah, mereka ingin berkultivasi sebelum yang lain keluar!" jawab penjaga portal dimensi.


"Aku akan mengurusnya. Terima kasih!" ucap Xiang Ri Kui dan berjalan menuju lokasi yang dikatakan oleh penjaga portal dimensi.


Kota Kasta Kaisar sangatlah megah, memiliki wilayah yang luas. Untuk mengenang kehebatan Tian Zhi, Zhi Shaosheng membangun patung emas yang akan menjadi ikon kota. Patung Tian Zhi berdiri di tengah kota, berhadapan dengan Balai Kota.


Disekitar patung tersebut dikelilingi bunga dan ada tiga air mancur sebagai simbol trisula. Tanaman bunga dibentuk lingkaran, ada lima lingkaran yang juga sebagai simbol.


Pemimpin Kota Kasta Kaisar dipegang oleh Zhi Longwei untuk sementara, dan akan diganti oleh Xiang Ri Kui setelah memiliki kekuatan minimal di tingkat Dewa Absolute.


Saat ini, kekuatan Xiang Ri Kui masih berada di tingkat Sang Mahadewa level 50, demikian juga dengan Guo Shun yang berada di level 34. Tian Yinping melampaui Guo Shun, dimana hanya berbeda 2 level, level 36.


"Jangan bunuh mereka!" pesan Guo Shun.


"Tenang saja! Nanti aku akan memberikan mata pada tombak ku ...!" jawab Xiang Ri Kui yang tidak mengindahkan pesan kakaknya.


Ya, semua orang tahu, jika saat bertarung, senjata yang diayunkan maupun di hunuskan tidak memilih-milih targetnya. Sekali digunakan harus mengenai sasaran.


Xiang Ri Kui tertawa kecil sambil berjalan ke arah lain...


Sesampainya di lokasi pintu masuk ke wilayah Lembah Kekosongan, memang ada keributan yang dibuat oleh sekelompok orang, dimana mereka ingin mengusir barisan di depannya yang berasal dari Ras Suzaku.


Xiang Ri Kui melihat keributan. Kelompok yang membuat keributan itu berasal dari Sekte Tapak Api, sekte yang baru berdiri setelah Klan Xu musnah akibat gelombang kejut panas ekstrim.


Setelah satu tahun berlalu, banyak orang yang datang ke Alam Keabadian, mereka menguasai wilayah yang kosong, banyak juga yang menguasai wilayah-wilayah bekas tempat Keluarga Besar Xiang, Bai, Mu dan Nanggong, salah satunya adalah Sekte Tapak Api.


Kemunculan Sekte Tapak Api tidak banyak yang mengetahui darimana mereka berasal, hanya para petinggi dari Klan Zhi, Kerajaan Suzaku dan Istana Surgawi yang mengenal identitas mereka, sebab berdirinya Sekte Tapak Api mendapatkan restu dari mereka.


"Kalian pendatang baru mencari masalah!" ucap Xiang Ri Kui kepada anggota Sekte Tapak Api.


Kedatangan Xiang Ri Kui disambut sorakan dari generasi muda Ras Asyura dan Ras Suzaku. Anggota Sekte Tapak Api menyeringai melihat Xiang Ri Kui, tampak tidak takut dengannya.


"Kita hajar dia!" perintah pemimpin anggota Sekte Tapak Api kepada rekannya yang berjumlah sepuluh orang.


Swosh... Swosh...


Anggota Sekte Tapak Api melesat menyerang Xiang Ri Kui. Sedangkan Xiang Ri Kui sendiri tidak tinggal diam, walaupun kalah dalam hal jumlah, dia kuat dalam hal basis kultivasi.


Bang... Bang... Bang...


Xiang Ri Kui dengan ganas menendang dan memukuli anggota Sekte Tapak Api. Tidak butuh waktu lama, Xiang Ri Kui membuat anggota Sekte Tapak Api lari terbirit-birit dan menjadi bahan tertawaan orang.


Ya, begitulah sehari-harinya Xiang Ri Kui yang selalu bertarung. Jika tidak ada yang membuat onar, dia yang akan mencari masalah dengan mendatangi Sekte Tapak Api.


Zhi Longwei tersenyum melihat cucunya yang mengikuti jejak Tian Zhi...


...****************...


Di Alam Mahadewa.


Setelah Tian Zhi telah tiada, Kerajaan Air mulai membuat ulah, dimana mereka melanggar kesepakatan yang dibuat oleh Tian Zhi dan Dewa Air. Dewa Air memang tidak ikut campur, tapi juga tidak melarang generasi muda yang ingin menguasai daratan.


Kerajaan Guang jelas tidak tinggal diam, mereka memobilisasi pasukan untuk menjaga perbatasan pesisir pantai yang menjadi jalur masuknya bangsa air.


Saat ini, Dewa Air mengendong seorang bayi perempuan usia dua tahun, anak kandungnya dengan Zhou Liu Changhai. Namun, yang tidak diketahui oleh Dewa Air, itu bukan anak kandungnya, melainkan anak hasil hubungan gelap antara Tian Zhi dan Zhou Liu Changhai. Hasil hubungan mereka, diberi nama Zhou Tianzhi, sengaja Zhou Liu Changhai tidak mau menggunakan marga suaminya.


Sedangkan Zhou Liu Changhai sendiri selalu menutup dirinya semenjak kematian Tian Zhi. Dewa Air berpikir jika istrinya kecanduan lagi seperti sebelumnya. Dia juga tidak berani menegur maupun melarang istrinya yang kembali menanam Bunga Poppy.


"Mana anakku!" pinta Zhou Liu Changhai dengan ketus, dia tiba-tiba muncul disamping Dewa Air.


Dewa Air mengembangkan senyuman hangat, lalu memberikan putrinya. Zhou Liu Changhai segera pergi dan kembali ke dalam kamarnya. Dewa Air menghela napas panjang dan melihat ajudan datang dengan tergesa-gesa.


Ajudannya segera berlutut ala prajurit.


"Maaf, Yang Mulia. Putra mahkota ketiga terbunuh!" lapor ajudan.


"Sialan!? Siapa yang pelakunya?" umpat Dewa Air dan bertanya dengan nada tinggi.


"Dibunuh oleh adik Permaisuri Guang Liem, Guang Deming!" jawabnya.


"Kurang ajar, mereka berniat berperang dengan kita. Kerahkan pasukan untuk menangkap dia!" Dewa Air sangat marah dan tanpa pikir panjang memberikan perintah.


"Laksanakan, Yang Mulia."


Setelah kepergian ajudannya, Dewa Air melihat para petinggi yang berbisik-bisik semenjak kehadiran Zhou Liu Changhai.


"Waktunya kita ambil alih daratan! Beri kabar kepada Dewa Surya untuk memulai pergerakan ini!" perintah Dewa Air kepada pejabat kerajaan.


"Laksanakan, Yang Mulia."


Ya, Dewa Air menunggu momen pihak Kerajaan Guang membuat masalah, hal seperti ini yang dinantikan oleh Dewa Air dan Dewa Surya.


Dewa Surya tidak kemana-mana, dia bersembunyi bersama putra mahkota kerajaan Song, si Song Shen.


"Pengorbanan ku tidak sia-sia selama ini... Waktu pembalasan!" gumam Dewa Air setelah tidak ada satupun pejabat kerajaan.


Dewa Air dan Dewa Surya telah merencanakan hal ini jauh hari, dia bahkan mengorbankan istrinya untuk meyakinkan Tian Zhi, jika dia telah tunduk kepada kekuasaan Kerajaan Guang.


Dewa Air tahu istrinya telah tidur dengan Tian Zhi, informasi ini didapatkan dari pengawal pribadi istrinya. Hanya saja dia tidak tahu Zhou Tianzhi bukan putri kandungnya...


Semenjak itu, Kerajaan Air dan Kerajaan Guang berperang, hingga akhirnya Kerajaan Guang dikalahkan oleh Dewa Air yang bekerjasama dengan Keluarga Besar Qing, Master Tao juga ikut terlibat dalam kehancuran Kerajaan Guang.


Dewa Surya dan Dewa Air tidak berhenti disitu, mereka menyerang Benua Dewa tanpa takut dengan kekuatan Raja Fung dan pasukan Burung Gajah, sebab mereka membuat propaganda tentang khasiat tubuh dan darah Burung Gajah, sehingga banyak orang yang berburu Burung Gajah.