
Chapter 260. Keluarga Guo.
Tiga hari berlalu semenjak Tian Zhi membuat kekacauan di wilayah Kekaisaran Qing. Saat ini Tian Zhi berada di Balai Kota Jalur Sutra untuk menunggu kedatangan Qing Guozhi.
Oleh Tian Zhi, Kota Jalur Sutra dijadikan pusat pemerintahan kedua, sebab di kota ini merupakan perbatasan antara wilayah Kerajaan Air dan Kekaisaran Qing, satu-satunya tempat yang paling strategis dan rawan konflik antara tiga wilayah.
Namun, selama beberapa hari Tian Zhi menunggu musuhnya, Qing Guozhi belum juga datang untuk membalas dendam, bahkan tidak satupun tentara Kerajaan Air yang menampakkan dirinya.
Di Balai Kota Jalur Sutra, Tian Zhi bersama seratus istrinya. Mereka sedang disibukkan dengan membuat banyak pil. Setelah berhasil menjarah harta kekayaan Keluarga Besar Qing, Tian Zhi sengaja tidak kembali ke istana Kerajaan Guang, sebab khawatir jika Qing Guozhi segera mengejarnya.
Sebagian Pasukan Phoenix telah berangkat ke Kota Jalur Sutra untuk mendukung suaminya dalam melawan Qing Guozhi.
Selama tiga hari ini, Tian Zhi juga banyak memikirkan semua kejadian dan keinginannya yang belum terealisasi, dia masih belum sempat membawa Pasukan Phoenix untuk berlatih di Dunia Jiwa, sebab masih membutuhkan mereka dalam menstabilkan Kerajaan Guang.
Tian Zhi selalu berkomunikasi dengan Jiang Chen Mei, dimana mayat hidup makin merajalela di Alam Keabadian. Tian Zhi juga memikirkan hubungan Ratu Qinglin dengan lukisan Dewa Binatang, namun hingga saat ini dia belum menemukan jawaban.
Tian Zhi menghela nafas panjang saat pikirannya berkecamuk dengan hal-hal yang belum terselesaikan, lalu dia melihat Qing Huan dan bertanya, "apakah ada berita terbaru dari ayah terkait Qing Guozhi?"
Qing Huan menghampiri suaminya dan duduk dipangkuan, lalu menjawab, "hari ini aku belum bertanya. Kata ayah, dia akan memberi kabar apapun jika terkait dengan Qing Guozhi."
"Ayo, kita bantu membuat pil." Ajak Tian Zhi yang tidak mau terus memikirkan Qing Guozhi.
Qing Huan segera berdiri dan disusul Tian Zhi, mereka berdua menuju ke lantai dua...
Keesokan harinya, Tian Zhi dan semua istrinya berniat untuk menjual berbagai macam pil yang sesuai dengan kebutuhan para kultivator. Pil yang dijual mulai dari tingkat Raja hingga tingkat Dewa Leluhur tahap puncak. Setiap butir pil dijual lebih murah 20% dari harga pada umumnya.
"Kita akan bagi penjualan pil menjadi dua tempat, disini kita akan jual pil tingkat Dewa Emas kebawah, sedangkan pil tingkat Dewa Emas keatas akan dijual di ibukota. Siapapun yang memiliki koneksi di Alam Mahadewa, segera kabari mereka," kata Tian Zhi saat semua orang berada di ruang tamu.
"Kita gunakan saja gedung bekas milik Paviliun Pil Langit yang ada disini!" saran Zhi Yinping yang dulu pernah menangani Paviliun Pil Langit cabang Kota Jalur Sutra sebelum di meger dengan Kota Qingshan.
"Ayo, kita periksa dulu." Tian Zhi segera keluar dari Balai Kota Jalur Sutra bersama istrinya.
Saat baru keluar dari balai kota, 6.000 Pasukan Phoenix baru tiba di halaman balai kota. Guang Liem dan ayahnya segera meminjam satu kapal angkasa untuk kembali ke Kerajaan Guang, tujuan mereka untuk mempersiapkan tempat untuk menjual pil.
Setelah kepergian Guang Liem dan ayahnya, Sun Yao, Hei Bao dan Ma Xiu ikut bergabung bersama Tian Zhi untuk memberikan laporan.
Sambil menuju ke Paviliun Pil Langit, Qing Huan dan Zhi Yinping berkomunikasi dengan koneksinya di wilayah Kekaisaran Qing, mereka menyebarkan berita tentang Pil Kultivasi tingkat Dewa Leluhur tahap puncak.
Sun Yao bercerita, semenjak dikuasai oleh Kerajaan Air, penduduk Kota Jalur Sutra banyak yang berpindah ke wilayah Kekaisaran Qing, namun ada sebagian penduduk yang masih bertahan.
Dulu sebelum Sun Yao dan pasukannya datang, banyak infrastruktur di kota yang rusak dan ketidakadilan ada dimana-mana. Semenjak dikuasai oleh Sun Yao, keadaan Kota Jalur Sutra perlahan mulai membaik.
Sun Yao, Hei Bao dan Ma Xiu banyak merenovasi rumah penduduk dan gedung penting yang rusak. Selain itu, Pasukan Phoenix juga banyak memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok.
"Yang Mulia, tadi malam hamba sempat melihat satu tentara Kerajaan Air sedang memata-matai pelabuhan, tapi itu tidak lama!" lapor Ma Xiu sambil berjalan menuju Paviliun Pil Langit.
Tian Zhi tidak segera menjawab, sebab dia sedang memikirkan untuk memperkuat wilayah perairan milik Kerajaan Guang.
"Setelah ini, aku akan periksa dulu perairan. Kalian mulai bersiap-siap untuk mengantisipasi kedatangan penduduk dari wilayah Selatan. Dengan adanya pil yang dijual murah, akan banyak kultivator yang berdatangan. Mungkin juga penduduk asli wilayah Utara akan kembali setelah keadaan stabil dan aman," kata Tian Zhi dan juga memberikan perintah.
Ketiga jenderal segera memisahkan diri dengan Tian Zhi untuk mempersiapkan pasukannya yang sedang berburu binatang untuk kebutuhan penduduk kota.
Beginilah keadaan pasca dikuasai oleh Kerajaan Air, dimana sumber penghasilan para petani dirusak, ladang dijarah, lumbung pangan juga jarah lalu dibakar. Oleh karena itu, pasukan binatang berburu untuk mencukupi kebutuhan para penduduk selama pertanian, perkebunan dan perikanan belum memberikan hasilnya.
Tian Zhi menghela nafas berat saat melihat banyak tempat usaha yang tutup dan tidak ada lagi barang yang dijual.
"Kalian bantu para pengusaha untuk memulihkan usahanya dan meramaikan kota ini, dengan keuntungan 30% untuk kita, 5% untuk kas kota dan 65% untuk," pinta Tian Zhi yang ingin merubah tampilan Kota Jalur Sutra seperti sediakala.
"Para pengusaha sudah meninggalkan tempat ini. Lalu siapa yang bisa jadi pengusaha?" sahut Qing Huan dan bertanya.
"Mudah masalah itu... Lihat para penduduk yang berpotensi untuk menjadi pengusaha. Kita beri mereka pelatihan kewirausahaan. Pasukan Phoenix akan ambil bagian dalam pengembangan Kota Jalur Sutra!" jawab He Hua yang sudah memiliki banyak rencana.
"Bagus! Kalau begitu, segera ajak mereka yang mau memiliki toko. Jika pemilik lama datang dan ingin mengambil alih miliknya, jangan diperbolehkan. Buat aturan baru yang lebih memihak kepada penduduk dan kota ini!" kata Tian Zhi dengan tegas.
Tian Zhi tidak suka dengan para pengusaha yang tidak mendukung penduduk disaat Kerajaan Air menguasai Kota Jalur Sutra. Dilihat dari banyaknya tempat usaha kosong dan ditinggalkan oleh pemiliknya, para pengusaha lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan menghiraukan penduduk.
"Aku sudah membuat aturan baru, hari ini rencananya akan disosialisasikan," ujar Miao Jiang.
Tian Zhi dan Pasukan Phoenix segera bekerja sesuai rencana. Hingga sore hari, semuanya telah rampung dan Tian Zhi tersenyum melihat Kota Jalur Sutra menjadi lebih baik.
Kini nama Paviliun Pil Langit diganti menjadi Gedung Alkemis, nama yang sederhana dan tidak terlalu berlebihan, tapi mencakup untuk semuanya dalam bidang pengobatan.
Tian Zhi bersama ketiga jenderalnya menuju ke pelabuhan Jalur Sutra. Kembali Tian Zhi menghela nafas berat saat melihat pelabuhan tidak ada aktifitasnya, hanya ada beberapa penduduk asli yang berprofesi sebagai nelayan kecil.
"Semuanya butuh proses agar sesuai keinginan," kata Tian Zhi sambil duduk di pinggir jembatan kayu, dia melihat matahari terbenam di ufuk barat.
Tian Zhi merasakan desiran angin laut dan mendengar suara ombak. Ketiga jenderalnya juga ikut duduk dan menikmati pemandangan matahari terbenam.
"Jarang-jarang kita bisa seperti ini, hahaha!" celoteh Sun Yao yang tidak suka dengan hal-hal yang berbau melankolis, karena itu dia sengaja tertawa.
Tian Zhi tersenyum, lalu mengeluarkan empat kendi arak, dia membaginya dan segera meminumnya tanpa perlu cangkir. Ketiga jenderalnya juga mengikuti.
"Yang Mulia!" sapa seseorang pria tua.
Tian Zhi menoleh kebelakang dan melihat seorang pria tua bersama gadis kecil membawa nampan berisi daging panggang.
"Apa itu untukku?" tanya Tian Zhi dan segera berdiri menghampiri mereka.
Tian Zhi menahan bahu pria tua itu dan putrinya yang akan berlutut, lalu berkata, "kita adalah keluarga, tidak perlu melakukan hal seperti ini."
"Terima kasih, Yang Mulia!" ucap pria tua, dia adalah penduduk asli Kota Jalur Sutra yang masih bertahan sewaktu keadaan kacau.
Tian Zhi melihat gadis kecil usia 12 tahun, rambut dikepang dua, kulit berwarna kuning khas seseorang yang tinggal di pesisir pantai. Pria tua itu bernama Guo Bojing, sedangkan putrinya bernama Guo Shun.
"Ayo, kita mengobrol disini," ajak Tian Zhi.
Sambil Tian Zhi memakan daging panggang, dia mendengar cerita Guo Bojing. Dulu, Kota Jalur Sutra sangat makmur sebelum perebutan kekuasaan antara Permaisuri Guang dan Putra Mahkota Song Shen. Guo Shun hanya diam dan sering-sering mencuri pandang ke arah Tian Zhi.
Guo Bojing adalah seseorang Patriark dari klan kecil, Klan Guo. Keluarga Guo berprofesi sebagai nelayan, kehidupan mereka dulu terbilang makmur dan sejahtera, namun semua berubah ketika Kekaisaran Song bergejolak.
Saat Guo Bojing bercerita, Tian Zhi berpikir untuk menjadikan Guo Bojing untuk memimpin Kota Jalur Sutra, dia berpikiran seperti itu dikarenakan pengalaman Guo Bojing menjadi seorang nelayan lepas pantai.
Setelah Guo Bojing bercerita, Tian Zhi bertanya kepada Guo Shun, "apa kamu mau berlatih beladiri dan menjadi salah satu generasi muda Pasukan Phoenix?"
Guo Shun melihat ayahnya sebelum menjawab. Guo Bojing mengangguk sebagai tanda jika diperbolehkan untuk berlatih. Lalu dia melihat Tian Zhi.
"Apakah sulit berlatih beladiri, Yang Mulia?" tanya Guo Shun dengan nada suara yang lucu.
Tian Zhi tersenyum dan mengusap rambut Guo Shun. "Berkultivasi itu menyenangkan, menyehatkan tubuh dan untuk menjaga diri. Di zaman ini, seseorang yang lemah akan selalu tertindas dan mengharuskan siapapun berlomba-lomba meningkatkan kekuatan, agar tidak disepelekan oleh siapapun...." jelasnya sambil lambaikan tangan kanan di laut.
Air laut seketika berguling-guling dan membentuk seekor naga. Tian Zhi sengaja membuat naga dari air agar Guo Shun berminat menjadi seorang kultivator.
Guo Shun kegirangan dan bertepuk tangan melihat naga air berenang di laut. Sun Yao tidak mau ketinggalan, dia mengendalikan energinya untuk membuat binatang Kunpeng.
Seketika muncul di laut binatang Kunpeng yang sangat besar dan melahap naga air. Guo Shun terpesona dengan binatang air Kunpeng yang dengan mudah mengalahkan naga air.
"Yang Mulia, ajarkan hamba!" pinta Guo Shun dengan semangat berkobar-kobar.
"Biarkan aku yang menjadi gurunya!" sahut seseorang wanita yang datang dari belakang.
Tian Zhi menoleh kebelakang dan melihat Luo Yang dan banyak istrinya yang berdatangan. Luo Yang sebagai mantan Ketua Balai Beladiri di Perguruan Phoenix Surga, sangat berpengalaman dalam mengajar, karena itu dia menawarkan diri untuk melatih Guo Shun.
"Bibi itu adalah guru yang terbaik, belajarlah dengannya," kata Tian Zhi kepada Guo Shun.
Guo Shun segera menghampiri Luo Yang, lalu membungkuk sebagai tanda penghormatan murid ke gurunya. "Terimalah saya menjadi murid, Bibi" ucapnya dengan hormat.
Luo Yang mengangkat bahu Guo Shun, lalu berkata, "mulai saat ini, kamu adalah murid ku. Sebagai seorang murid...," dia mengeluarkan Kitab Kuning, pakaian seragam junior Pasukan Phoenix yang berwarna merah dan juga lencana identitas keanggotaan.
"Kitab ini untuk belajar bagi pemula, ini adalah seragam yang harus kamu gunakan. Lencana ini adalah bukti kamu anggota junior dan masa depan bagi Pasukan Phoenix." lanjutnya dengan memberikannya kepada Guo Shun.
Tian Zhi tersenyum senang melihat kecerdasan Guo Shun. Setelah melihat perairan yang bisa diperkuat dengan Formasi Array, Tian Zhi berbicara kepada Guo Bojing agar mau menjadi pemimpin Kota Jalur Sutra dengan gelar Marquis - Marquis Guo Bojing.
Dengan senang hati Guo Bojing menerima sebagai pemimpin Kota Jalur Sutra. Kemudian Tian Zhi membuat dekrit kerajaan untuk mengesahkan status Guo Bojing.