Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 191. Menara Kaisar Api Asyura.


Chapter 191. Menara Kaisar Api Asyura.


Tian Zhi dan semua istrinya menunggu Burung Gajah dari atas wilayah Surga Kematian. Mereka melihat Burung Gajah membuat banyak binatang mistik ketakutan, tapi ada sebagian yang masih memberikan perlawanan, namun dengan mudah di taklukkan oleh anak buah Raja Fung.


Setelah waktu empat dupa, Raja Fung kembali dan mengatakan, jika pusat Surga Kematian merupakan tempat yang cocok untuk dijadikan markas. Tian Zhi memasukkan kapal angkasa dan naik di punggung Raja Fung bersama semua istrinya.


Raja Fung segera membawa Tian Zhi dan istrinya menuju pusat Surga Kematian. Semua wanita melihat kebawah dan banyak tanaman Roh dan tanaman obat yang tergolong langka.


"Sumber daya melimpah ruah di wilayah ini!" seruan He Hua yang ingin mengambil semua sumber daya langka, sebagai seorang ahli Alkemis dia mampu dan mengidentifikasi jenis setiap tanaman sekali melihatnya.


"Nanti kita akan ambil setelah melihat lokasi markas kita," ujar Tian Zhi.


Tidak berselang lama, mereka pun tiba di pusat wilayah Surga Kematian. Lokasinya sangat indah, dimana ada danau yang mengelilingi sebuah pulau. Air danau itu berwarna kebiruan, sangat menyenangkan untuk dipandang dan juga airnya jernih.


Tian Zhi segera memeriksakan kedalam danau, dia melihat seorang Ular yang besar. Lalu Tian Tian mengeluarkan Naga Bumi untuk menaklukkan Ular penghuni danau.


"Roar!" Long De si Naga Bumi meraung keras hingga suaranya mampu didengar mencapai radius dua kilometer.


Sekali lagi perbuatan Tian Zhi membuat istrinya kaget dan takjub melihat Naga Bumi. Berbeda dengan He Hua dan Miao Jiang yang tahu suaminya memiliki Naga Bumi, Macan Putih dan Katak Naga Keberuntungan.


"Wow! Keren!" seruan Zhu Rong yang ingin memiliki Naga Bumi.


"Kita akan gunakan Naga Bumi untuk menjelajahi luasnya wilayah Surga Kematian!" usul Yu Bao sambil melihat Tian Zhi dengan tatapan pemujaan.


"Suami, keluarkan Katak Naga Keberuntungan untuk membantu kita menemukan harta langka dan yang lainnya!" pinta He Hua yang teringat.


"Sekalian keluarkan juga Macan Putih!" imbuh Miao Jiang yang ingin menunggangi Macan Putih.


Semua wanita segera memiliki banyak rencana untuk mengeksploitasi sumber daya Surga Kematian. Dengan dukungan Burung Gajah, Naga Bumi, Macan Putih dan Katak Naga Keberuntungan, mereka akan mudah menemukan hal-hal yang bermanfaat dan berharga.


Tian Zhi mengangguk mengerti sambil melihat Naga Bumi terbang mengelilingi pusat Surga Kematian untuk beradaptasi dengan lingkungan, lalu dia mengeluarkan Macan Putih dan Katak Naga Keberuntungan.


"Grorr!" Bai Hu si Macan Putih meraung-raung setelah lama tidak keluar dari tubuh Tian Zhi, dia mengepakkan sayapnya dengan bahagia dan mengikuti Naga Bumi.


"Aiyo! Kamu melupakan ku selama ini! Kwok!" protes Katak Naga Keberuntungan kepada Tian Zhi, sambil melompat-lompat di punggung Raja Fung.


Tian Zhi tertawa dan melemparkan Pil Sky Soul God kepada Katak Naga Keberuntungan. Lalu Katak Naga Keberuntungan membuka mulutnya dan melahap Pil Sky Soul God.


"Apa hanya ini saja binatang penjaga mu?" tanya Mu Bingyun dengan nada curiga, dia yakin suaminya masih menyimpan banyak rahasia, dimana tidak hanya memiliki Burung Gajah, Naga Bumi, Macan Putih.


Tian Zhi tersenyum misterius dan membuat semua istrinya makin penasaran.


"Paman Sun Yao, Hei Bao, Ma Xiu, keluar!" perintah Tian Zhi dengan melambaikan tangannya dan muncul sebuah portal dimensi.


Sun Yao adalah si Kera Emas, Hei Bao adalah mertuanya dari Ras Macan kumbang dan Ma Xiu adalah si Badak Unicorn. Mereka bertiga adalah para jenderal Kekaisaran Shimo, termasuk Raja Fung sebagai panglima tertinggi.


Lalu keluar Sun Yao bersama anak buahnya, lalu di susul Hei Bao dan Ma Xiu yang juga membawa anak buahnya. Perbuatan Tian Zhi sekali lagi membuat istrinya berdecak kagum dan makin penasaran dengan identitas yang sebenarnya.


"Hahaha! Dewa Binatang, lama kita tidak bertemu... Sayangnya, wajahmu yang sekarang jelek!" tawa Sun Yao yang senang telah keluar dari Dunia Jiwa, dia tahu jika Dewa Binatang saat ini sedang menjalani siklus Samsara.


Tian Zhi tertawa dan tidak tersinggung jika dibilang jelek, dia memeluk Sun Yao, Ma Xiu dan Hei Bao secara bergantian. Raja Fung segera mendarat di pulau tengah danau dan merubah wujudnya menjadi manusia.


Mereka berlima mengobrol untuk melepaskan kerinduan yang lama tidak bertemu.


"Ternyata suami kita adalah Dewa Binatang, pantas saja ada perubahan sikap setelah mengikuti kompetisi Duel Sage!" gumam He Hua yang akhirnya bisa melepaskan ganjalan dihatinya dengan perubahan Tian Zhi.


Sebelum kompetisi Duel Sage usai, sifat Tian Zhi tidak banyak menimbulkan misteri, namun setelah menjadi juara pertama, semua sikapnya berubah, cara berpikirnya juga berubah dan semakin membuat He Hua merasakan keanehan.


"Hebat, ini hebat, suami kita adalah Dewa Binatang!" seruan Li Jiancheng dengan melompat di punggung Tian Zhi.


"Bagaimana wajahnya aslinya?" tanya Yu Bao dengan rasa penasaran.


Semua wanita juga ingin tahu wajah Tian Zhi saat menjadi Dewa Binatang. Mereka ikut mendengar obrolan suaminya dengan para jenderal. Akhirnya mereka menyadari setelah mendengar obrolan suaminya.


"Huff! Ternyata dia seorang kaisar, tidak mengherankan jika tidak terlalu ambisius untuk menjadi seorang kaisar," kata Miao Jiang dan di anggukkan saudarinya yang akhirnya mengetahui sedikit identitas suaminya.


Beberapa selir segera menyiapkan banyak hidangan dan arak terbaik, arak yang didapatkan dari Kekaisaran Shang. Lalu menyajikan makanan dan minuman untuk mendampingi suaminya mengobrol.


Sedangkan Katak Naga Keberuntungan berenang dengan riang di danau sambil memburu beberapa capung.


"... Jadi, kalian yang akan menguasai Benua Dewa. Buat penghuninya tunduk dengan sukarela, buat mereka berada di ujung tanduk, lalu kalian hadir sebagai penyelamat. Aku yakin dengan kekuatan kalian saat ini, semua dengan mudah dilakukan," kata Tian Zhi setelah membicarakan tujuannya berada di Benua Dewa


"Momentum yang tepat dengan peperangan dua kekaisaran. Dengan Wilayah Surga Kematian yang merupakan titik pusat dari Benua Dewa, kita akan lebih mudah memantau perkembangan Benua Dewa dan sekaligus menguasainya!" sahut Hei Bao yang paham arah pemikiran Tian Zhi.


Semua orang melihat danau yang bergejolak, lalu Naga Bumi keluar dengan melilitkan tubuhnya pada Ular yang dengan mudah ditaklukkan, lalu melemparkannya di dekat Tian Zhi dan semua orang.


"Bagus! Sekarang kita ambil dulu sumber daya disini agar tidak menarik perhatian penduduk Benua Dewa. Buat pembatas antara wilayah pusat dan tengah Surga Kematian. Giring binatang mistik untuk menduduki wilayah luar agar menjadi pembatasnya!" perintah Tian Zhi kepada para jenderalnya.


"Katak Naga, ikuti istriku He Hua yang akan menjadi pemimpin...," Tian Zhi segera membuat pengaturan kepada semua orang.


Katak Naga melompat dan berubah menjadi mahkota di kepala He Hua. Kemudian, He Hua segera naik ke punggung Naga Bumi, dan di ikuti semua wanita yang sebagian memilih Burung Gajah sebagai tunggangan, ada sebagian menunggangi Macan kumbang dan Badak Unicorn.


Sedangkan Tian Zhi, Yu Bao dan dua ratus Kera membuat tempat tinggal di tempat mereka sekarang berada. Raja Fung bertugas untuk menjinakkan bintang mistik jenis burung, yang rencananya akan dijadikan pasukan.


Tian Zhi berdiri di tengah pulau yang berada di danau, lalu dia menggerakkan kedua tangannya. Pulau berguncang hebat dengan tanah yang mulai muncul retakan dan perlahan bergerak naik. Kemudian Tian Zhi mengeluarkan Api Asyura untuk membakar tanah yang naik itu, dia ingin membuat logam sebagai pondasi bangunan.


Tian Zhi berencana membuat Menara Pengawas Benua Dewa yang menjulang tinggi. Yu Bao yang menunggangi Ular segera menjauhi danau karena panas Api Asyura sangat menyengat kulit.


"Memurnikan tanah menjadi logam, lalu logam itu dijadikan pondasi dan dinding...!" tebak Yu Bao yang tahu tujuan suaminya.


Tanah yang terbakar Api Asyura segera membara, lalu Tian Tian membentuk tanah menjadi melengkung dan perlahan membentuk lingkaran. Perlahan tanah mulai menjadi logam baja dan bergerak naik.


Tian Zhi terus-menerus tanpa henti bekerja keras membuat dinding menara. Setiap ketinggian dua ratus meter, oleh Tian Zhi dibuatkan banyak pintu masuk bagi Burung Gajah yang berbentuk lingkaran, hingga ketinggian menara mencapai awan-awan.


Air danau yang kebiruan pun menjadi seperti magma karena pengaruh Api Asyura dan juga untuk mendinginkan dinding menara...


Selama seharian, mereka sangat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Hingga hari menjelang sore semua orang kembali berkumpul dengan membawa banyak sumber daya alam yang langka.


Disaat tiba, He Hua dan semua orang melihat menara yang menjulang tinggi, bisa dikatakan pulau yang berada di tengah danau menjadi pondasi menara.


Ling Ling, Ling Xuan dan Li Jiancheng masuk melalui pintu dasar menara dan melihat didalamnya seperti lorong. Semua orang pun ikut masuk untuk melihatnya, mereka berdecak kagum dengan interior di lantai dasar.


Setiap lorong banyak terdapat lubang-lubang yang mirip sarang lebah, dimana lubang itu menjadi tempat tinggal pasukan binatang. Di tengah lorong ada tangga putar hingga mencapai lantai dua yang berjarak dari dasarnya dua ratus meter.


"Kami disini!" teriak Yu Bao saat melihat kebawah dari puncak menara.


He Hua dan semua orang segera terbang menyusuri lorong, kecuali Burung Gajah yang tetap berada di luar, mereka segera terbang ke puncak menara untuk melihat ciptaan penguasanya.


Saat berada di lantai dua puluh, semua wanita makin dibuat kagum akan interiornya, dimana ada banyak fasilitas untuk tempat tinggal.


"Ini pasti untuk kita!" tebak Meyleen yang sangat menyukainya lantai dua puluh.


"Ayo kita lihat puncaknya!" ajak He Hua yang naik anak tangga putar terlebih dahulu.


Saat tiba di puncak, mereka melihat Tian Zhi sedang membuat delapan pilar, setiap pilar itu puncaknya terdapat bola yang mengeluarkan energi petir.


"Apa ini akan menjadi pertahanan menara?" tanya Miao Jiang kepada Yu Bao yang selalu menemani Tian Zhi.


"Benar. Bola itu mampu berputar 360° dan menyerang target yang terbang. Meriam disetiap lantai yang kalian lihat tadi juga pertahanan menara ini!" jelas Yu Bao.


Tian Zhi tersenyum melihat semua istri, lalu dia berkata, "kalian diskusikan nama yang cocok untuk menara ini," pinta Tian Zhi dengan menepuk-nepuk kedua tangannya yang terlihat membara setelah seharian mengeluarkan Api Asyura.


Segera semua wanita berdiskusi untuk membuat nama. Danau yang tak bernama diberi nama Danau Mistik, untuk menara logam baja diberi nama Menara Kaisar Api Asyura sesuai dengan kasta yang dimiliki Tian Zhi, untuk pilar diberikan nama Pilar Petir.


Setelah selesai berdiskusi, semua wanita terbang untuk mengukir nama Kaisar Api Asyura di empat sisi dinding luar menara.


"Raja Fung, lubang besar itu adalah pintu masuk kalian dan juga tempat tinggal. Paman Sun Yao, Paman Ma Xiu dan Paman Hei Bao segera atur tempat tinggal kalian masing-masing," ujar Tian Zhi kepada keempat jenderalnya.


"Long De, kamu pilih tempat yang cocok," imbuhnya.


Segera semua pasukan binatang bergerak untuk memilih tempat tinggalnya yang dibuat oleh Tian Zhi.


Kini pusat wilayah Surga Kematian telah memiliki Menara Kaisar Api Asyura sebagai markas bagi keluarga besar Tian Zhi. Fungsi Menara akan mengawasi Benua Dewa, menjadi perlindungan dan juga pertahanan.