
Chapter 249. Masa Lalu.
Saat berada di dalam Istana Giok, Tian Zhi melihat ruang utama istana sudah berantakan, banyak bercak darah kering dimana-mana, bau busuk menyengat hidung dan banyak kerangka manusia berserakan.
Lalu Tian Zhi melihat ke singgasana, dimana duduk seseorang yang telah menjadi kerangka dengan menggunakan mahkota, dia menduga jika itu adalah Kaisar Giok.
Di depan Kaisar Giok berlutut seseorang wanita dengan kedua tangan dan kaki dirantai, rantainya terikat di empat tiang. Dan, wanita itu terlihat masih hidup, pakaian compang-camping dan rambut panjang putih yang kumal.
Tian Zhi menduga jika itu adalah Jiang Chen Mei, dia segera mendekat untuk memastikan dugaannya benar. Ia telah berada di depan wanita yang dirantai dan tebaknya benar di depannya adalah Jiang Chen Mei.
Sayangnya, wajah cantiknya berubah tua dan mengerikan, dimana banyak goresan di wajah, tubuh kurus dan mata cekung, kulit wajah putih pucat dan samar-samar dari tubuhnya mengeluarkan racun. Walaupun wajahnya sudah tua dan banyak bekas luka, kecantikan Jiang Chen Mei di masa muda masih terlihat.
"Putri Raja Mayat Hidup!" panggil Tian Zhi.
Rantai berdentangan dan spontan Jiang Chen Mei membuka mata, dia menatap tajam ke arah sumber suara, akan tetapi tidak melihat wujud Tian Zhi yang berubah menjadi udara, lalu dia melihat sekitarnya dan tidak menemukan siapapun.
"Siapa kamu...? Keluar!" pinta Jiang Chen Mei dengan nada lirih, tampak dia sangat lemah.
Tubuh Jiang Chen Mei yang lemah dikarenakan tidak pernah makan, minum dan berkultivasi selama ribuan tahun, dia bisa bertahan hidup selama ini berkat energi spiritual milik Kaisar Giok yang selalu memelihara tubuhnya.
"Begitu besar cintanya kepada Jiang Chen Mei! Sayangnya, cinta itu tidak berakhir indah!" batin Tian Zhi yang membicarakan Kaisar Giok yang sangat mencintai Jiang Chen Mei, dia ikut terharu akan nasib Kaisar Giok.
Ya, memang Kaisar Giok sangat mencintai Jiang Chen Mei, walaupun istrinya telah menghancurkan kekaisaran dan juga membunuh banyak orang, termasuk sebagian keluarga Guang, ratu dan ratusan selirnya.
"Cinta begitu membutakan hati!" kata Tian Zhi sambil memperhatikan Jiang Chen Mei yang kembali tertunduk lemas.
Karena cinta, Kaisar Giok menjadi buta segalanya, pikiran, hati dan menghilangkan segala kebajikan. Saat menyadari, semuanya telah terlambat dan berakhir mengenaskan.
"Cinta tidak buta, anak muda, tapi cara kita bersikaplah yang membutakan rasionalitas!" sahut Jiang Chen Mei sambil melirik tempat Tian Zhi yang tidak terlihat.
"Anda benar, terkadang cinta membuat seseorang menjadi bodoh. Awalnya melihat, pikiran bekerja dan mulut menanggapi, namun hati naluri diabaikan. Jadilah orang yang haus cinta menjadi bodoh, tidak lagi menggunakan logika, meninggalkan istri dan anak, mengorbankan segalanya... Benar-benar konyol mereka!"
Tian Zhi dan Jiang Chen Mei membicarakan tentang pelaku pecinta yang terkadang banyak terlalu berlebihan dalam menggunakan perasaan. Dan sayangnya cinta, tidak pandang bulu saat bersemi di hati.
Tian Zhi mampu memiliki banyak istri dikarenakan saling membutuhkan, melengkapi dan mampu berbuat adil serta merata kepada semua istrinya, tapi tidak menggunakan perasaan yang berlebihan.
Sedangkan Kaisar Giok menggunakan perasaan yang berlebihan, itu mengakibatkan kerugian besar bagi keluarganya dan berimbas kepada seluruh penduduk.
"Siapa kamu, anak muda?" tanya Jiang Chen Mei.
"Aku? Seandainya aku adalah pelaku yang memusnahkan seluruh Ras Mayat Hidup di Benua Cahaya, apakah kamu percaya?" jawab Tian Zhi dan bertanya balik untuk mengetahui responnya.
"Hahaha!" Jiang Chen Mei tertawa kecil dan jelas tidak mempercayai ucapan Tian Zhi, setelah itu dia berbicara, "Dewa Binatang... Bukannya mati di tangan pria busuk itu (Wei Yan)? Anak muda, apakah kamu pemuja Dewa Binatang? Salah kamu memujanya!"
Jiang Chen Mei sangat membenci Master Wei Yan, entah apa alasannya dan membuat Tian Zhi penasaran dengan bertanya, "iya, anggap saja aku pemuja Dewa Binatang! Kenapa kamu begitu membenci si Wei Yan?"
Jiang Chen Mei melihat lagi Tian Zhi yang masih belum menunjukkan wujudnya. "Jangan bersembunyi, aku ingin melihat wajahmu dan jangan khawatir akan racun ini!" pintanya dengan nada lembut.
Tian Zhi akhirnya mengabulkan permintaan Jiang Chen Mei, terlihat wujudnya sedang duduk dibawah kaki kerangka Kaisar Giok.
Jiang Chen Mei mengamati wajah Tian Zhi dan tersenyum setelahnya. "Ras Asyura, cukup tampan dan jauh jika dibandingkan dengan kerangka dibelakang mu!"
Tian Zhi tidak tersenyum tipis dirinya dibandingkan dengan Kaisar Giok, lalu dia memejamkan mata untuk menunjukkan wajah aslinya saat menjadi Dewa Binatang.
Jiang Chen Mei terbelalak melihat wajah asli Tian Zhi yang lebih tampan dari Kaisar Giok. Sontak rantai berdentangan dan berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan. Jiang Chen Mei sangat marah kepada Tian Zhi yang ternyata adalah Dewa Binatang.
"Bangsatt... kamu?! Kenapa kamu memusnahkan seluruh keluarga ku, hah?!" bentak Jiang Chen Mei dengan kemarahan yang meluap-luap dan rantai makin keras berdentangan, dia mengeluarkan aura kekuatan tingkat Sang Void level 32.
Namun, Tian Zhi tidak merasakan tekanan kekuatan milik Jiang Chen Mei, tetap duduk bersila dengan bibir tersenyum, dia senang melihat Jiang Chen Mei marah.
"Salahkan si Wei Yan!" dalihnya yang tidak mau disalahkan atas perbuatan masa lalu.
"Kamu yang memusnahkan keluarga ku dan kenapa harus Wei Yan yang disalahkan?" tanya Jiang Chen Mei dengan nada tinggi.
"Lalu kenapa kamu terlihat membenci sesaat yang lalu?" Tian Zhi bertanya balik dan akan menjawab alasannya, tapi setelah Jiang Chen Mei menjawab pertanyaannya.
Jiang Chen Mei makin marah dengan berusaha sekuat tenaga lepas dari ikatan rantai, usahanya membuahkan hasil, dimana tiang beton mulai mengeluarkan retakan.
"Kamu bukan lawan ku!" jelas Tian Zhi dengan mengeluarkan basis kultivasinya yang berada di Half Alfa level 7.
"Jika kamu tidak menjawab pertanyaan ku, aku akan segera mengakhiri hidupmu! Kenapa kamu membenci Wei Yan?" sekali lagi Tian Zhi mengulangi pertanyaannya.
"Hahaha! Bunuh saja, bunuh dengan cepat!" tawanya dan malah menantang.
"Tentu, setelah aku puas menyiksamu!" sahut Tian Zhi dan mengeluarkan Lightning God Sword, "ceritakan, bagaimana kamu bisa berada di Alam Semesta Aurora? Juga, hubunganmu dengan Wei Yan?"
Jiang Chen Mei ketakutan dengan kekuatan petir yang akan menyambarnya. "Baik... Baik! Aku akan bicara!" Akhirnya, dia menyerah daripada disiksa menggunakan petir.
Tian Zhi menyimpan kembali Lightning God Sword, lalu dia mengeluarkan Pil Pemulih Energi dan Penyembuh. Ia mendekati Jiang Chen Mei dan membuka paksa mulutnya untuk memasukkan dua butir pil.
Jiang Chen Mei menatap wajah Tian Zhi dengan perasaan bingung, kenapa pemusnah keluarganya tidak seperti yang dikatakan oleh si Wei Yan, mau memberikan pil yang sangat berharga.
Dengan kecepatan mata, fisik Jiang Chen Mei mulai pulih, rambut putih kembali hitam, wajah yang banyak bekas luka juga perlahan mulai menghilang, tubuh kurus dan mata cekung juga mulai pulih sediakala.
"Huff!" Jiang Chen Mei membuang nafas dan keluar asap hitam dari mulutnya.
Tian Zhi mengangguk puas melihat wajah asli Jiang Chen Mei yang memang cantik. Pantas saja Kaisar Giok tergila-gila akan kecantikannya, yang sebanding dengan He Hua dan istrinya yang lain.
Dentangan...
Tian Zhi melambaikan tangan kanannya dan terpotong rantai yang mengikat kedua tangan dan kaki Jiang Chen Mei. Perbuatan Tian Zhi sekali lagi mengejutkan Jiang Chen Mei.
"Kenapa dia begitu baik ... Aku kan musuhnya?" batinnya yang makin bingung, dan menduga jika Wei Yan telah berbohong.
Tian Zhi mengeluarkan teko air teh hangat, lalu menuangkannya ke dalam cangkirnya dan untuk Jiang Chen Mei. "Minumlah terlebih dahulu dan mulai berbicara," katanya dengan menyodorkan cangkir teh hangat.
Jiang Chen Mei menerima cangkir teh, lalu menyesap air teh dengan perasaan. Dia terlihat sangat menikmati rasa teh yang sangat lama tidak lagi dia rasakan.
"Benua Cahaya adalah tempat kelahiran ku...," kata Jiang Chen Mei setelah puas merasakan teh hangat, lalu dia pun menceritakan awal dirinya bisa ada di Alam Semesta Aurora.
Saat itu, Tian Zhi masih menjadi Dewa Binatang dan telah berada di Benua Cahaya. Setelah Wei Yan memprovokasi Raja Asyura, dia menemui Raja Mayat Hidup untuk bersiap melawan Dewa Binatang.
Saat berada di istana milik Raja Mayat Hidup, Jiang Chen Mei berada bersama kedua orang tuanya untuk menyambut si Wei Yan. Wei Yan terlihat menyukai Jiang Chen Mei, dia tanpa basa-basi meminta kepada Raja Mayat Hidup agar Jiang Chen Mei menjadi istrinya.
Akan tetapi Jiang Chen Mei menolak lamaran si Wei Yan karena dia tidak mencintainya. Namun, Raja Mayat Hidup memaksanya karena Wei Yan memberikan Buah Suci tingkat Dewa. Mau tidak mau si Wei Yan membuat Jiang Chen Mei pingsan dan memenjarakannya di kantong spasial.
Setelah Jiang Chen Mei pingsan, Raja Mayat Hidup dan Wei Yan bergegas menghadang jalan Raja Cahaya yang akan mencegah Dewa Binatang memusnahkan seluruh Ras Asyura di Benua Api...
Jiang Chen Mei sadarkan diri saat berada di Galaksi Kelahiran, tepatnya di Benua Shen Zhou. Lalu si Wei Yan menceritakan kepadanya, jika Dewa Binatang memusnahkan seluruh anggota keluarga dan bangsa mayat hidup.
Namun, Jiang Chen Mei tidak mempercayai ucapan Wei Yan, tapi dia tidak berontak agar bisa kabur. Disaat Wei Yan mengira Jiang Chen Mei sudah patuh, dia memberikan sedikit kebebasan. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Jiang Chen Mei untuk kabur.
Sayangnya, para penjaga mengetahuinya saat keluar dari kamar, penjaga yang diperintahkan untuk melumpuhkan Jiang Chen Mei jika kabur, langsung menyerang dan pukulan berenergi mengenai punggungnya.
Jiang Chen Mei yang takut mati dan bingung harus kabur kemana, dia secara tidak sengaja menemukan lubang portal dimensi. Tanpa pikir panjang, Jiang Chen Mei masuk ke dalam portal dimensi yang mengirimnya ke Alam Mahadewa.
Saat itulah di Alam Keabadian bertemu dengan Kaisar Giok yang lebih tampan dan jauh jika dibandingkan dengan si Wei Yan yang sudah berumur, apalagi hanya tubuh kesadaran dan bukan aslinya.
Kaisar Giok begitu lembut, penyayang dan membuat hati Jiang Chen Mei terbuka untuk menerima cintanya. Lalu sebelum menikah dengan Kaisar Giok, Jiang Chen Mei mendapatkan kabar jika keluarganya benar telah dibantai oleh Dewa Binatang, bahkan Benua Cahaya juga menghilang.
Jiang Chen Mei pun menaruh dendam kepada Dewa Bintang...
"... Karena berita menghilangnya Galaksi Cahaya dan juga Galaksi Kelahiran, maka aku berniat menguasai wilayah Kekaisaran Giok dan membentuk kekuatan pasukan mayat hidup untuk melawan Dewa Binatang. Sayangnya, rencana ku gagal ... Dan, disinilah aku sekarang, entah sudah berapa ribuan tahun aku di sini!" setelah panjang lebar menceritakan masa lalu, Jiang Chen Mei tertunduk lesu dan menuangkan teko ke dalam cangkirnya.
"Lalu apa alasanmu memusnahkan keluarga ku?" tanya Jiang Chen Mei dengan nada lembut dan tidak terdengar marah, karena dia yakin pasti Dewa Binatang memiliki alasan yang tepat hingga bertindak berlebihan.
"Karena keserakahan Raja Asyura dan Raja Mayat Hidup yang ingin menguasai Benua Kelahiran, semua juga karena Wei Yan yang memberikan mereka berdua sumber daya melimpah dan mematuhinya... Seperti kamu yang dijual oleh ayahmu sendiri...," jawab Tian Zhi yang kini bercerita tentang masa lalunya...
Bersambung...
(Author: halo sobatku! Maaf, saya baru menyapa Anda semua, dikarenakan saya juga sibuk di dunia nyata. Sambil bekerja, saya menyempatkan menulis di kantor dan segera mungkin untuk up di NT. Saat malam hari ingin membaca komentar dan membalasnya, tapi saya selalu ketiduran.
Legenda Pasukan Wanita, God Of Beast 1 dan Trigrams Chaos saling berhubungan, jika sobatku tidak mengikutinya mungkin kebingungan ... Jadi, saya buat setiap bab sesederhana mungkin!
Alam Tianwu juga kelanjutan dari God Of Beast 1, jadi jangan lewatkan petualangan Zhi Shimo si Dewa Binatang di Alam Tianwu. Sehat selalu, bahagia dan banyak rejekinya. Salam.)